

"Sini, Pakde. Biar Maya lap keringatnya. Nanti kelilipan, lho, apalagi tangan Pakde kotor kayak gitu…"
Sebuah tangan mungil dan wangi menyodorkan handuk kecil ke wajah Heru. Heru menoleh perlahan. Di sebelahnya, berjongkok Maya—salah satu anak kosnya, mahasiswi tingkat dua yang merantau dari kota seberang.
Karena merasa gerah, Maya hanya mengenakan daster rayon bermotif bunga matahari yang kainnya sangat tipis dan sudah menyusut di atas lutut. Posisinya yang berjongkok tepat di sebelah Heru membuat kerahnya sedikit melorot.
Heru berjongkok di atas tanah becek, tangannya yang kapalan sibuk mengencangkan mur pipa paralon yang bocor, tepat ketika Maya datang.
Di usianya yang menginjak tiga puluh sembilan tahun, tubuh Heru masih jauh dari kata reyot. Kaus singletnya sudah ia lepas dan tersampir di jemuran, memamerkan punggung tegap dan otot lengan yang liat, hasil tempaan bertahun-tahun kerja kasar di proyek sebelum akhirnya ia bisa membangun "Kos Putri Mekar Sari" dengan sepuluh kamar ini.
Keringat mengucur deras dari dahi Heru, pedih mengenai matanya.
Pemandangan kulit dada yang berkeringat dan belahan yang tercetak jelas langsung membuat Heru menelan ludah. Susah payah ia menahan fokus matanya agar tidak terus-terusan melirik ke bawah.
"Udah, Nduk. Nanti dastermu kotor kena lumpur," tegur Heru halus, mengambil alih handuk itu sebelum imajinasinya meliar ke mana-mana.
"Nggak apa-apa, Pakde. Pakde kan udah capek-capek benerin air buat kita mandi," sahut Maya tersenyum manis. Tangannya diam-diam masih bertumpu di bahu telanjang Heru, membelai pelan otot pria itu seolah memberi kekuatan. "Pakde udah makan siang? Nanti Maya masakin telur dadar ya. Pakde jangan sedih terus mikirin Tante Lastri."
Mendengar nama itu, rahang Heru langsung mengeras. Tangannya tanpa sadar meremas kunci Inggris erat-erat.
Lastri, istrinya.
Heru rela banting tulang, tidur hanya tiga jam sehari, memakan tempe basi demi mengirim uang agar Lastri bisa merintis bisnis katering.
Tapi apa balasannya?
Setahun lalu, Maya dan anak-anak kos lainnya menyerahkan sebuah foto kepada Heru.
Di foto itu, Lastri tampak tertawa kegirangan di sebuah lobi hotel, bergelayut manja di lengan seorang pemuda tanggung berjaket mahal. Uang hasil keringat darah Heru ternyata dipakai untuk menyewa brondong. Parahnya lagi, brondong itu adalah Raka, kakak tingkat Maya di kampus.
Seketika, dunia Heru hancur. Harga dirinya sebagai pria dewasa diinjak-injak. Namun, anak-anak kos inilah yang menemaninya begadang, menyeduhkannya kopi, dan menghiburnya agar tidak nekat mengakhiri hidup.
"Brak!"
Suara bantingan pagar besi depan yang teramat keras memecah lamunan Heru. Suara langkah kaki berhak tinggi beradu kasar dengan paving blok halaman, disusul teriakan melengking yang sangat familier.
"Heru, keluar kamu! Nggak usah ngumpet di belakang pantat anak-anak kosmu itu!"
Heru menghela napas panjang. Ia bangkit berdiri, meraih kausnya, lalu berjalan ke halaman depan. Maya mengekor rapat di belakangnya dengan wajah cemas, tangannya refleks memegangi ujung belakang kaus Heru.
Di teras depan, berdiri Lastri. Wanita berusia awal tiga puluhan itu memakai kacamata hitam besar, lipstik merah menyala, dan gaun ketat yang sangat mencolok untuk ukuran warga desa pinggiran seperti mereka.
Dan yang membuat darah Heru mendidih hingga ke ubun-ubun, tepat di sebelah Lastri berdiri Raka. Pemuda bau kencur itu menyeringai meremehkan, tangannya dengan santai melingkar di pinggang Lastri di depan mata Heru langsung.
"Ada apa, Las? Belum puas kamu menghabiskan uangku?" Suara Heru berat dan serak, menahan amarah yang meletup-letup.
Lastri mendecih, melipat tangannya di dada. "Uang apa? Uang recehmu itu? Heh, Heru, sadar diri. Kamu itu cuma kuli bau tanah! Aku butuh modal 50 juta hari ini juga buat buka cabang katering. Kalau kamu nggak punya cash, serahkan sertifikat tanah kos-kosan ini. Biar aku yang gadaikan ke rentenir!"
Maya yang berdiri di belakang Heru tak tahan lagi. "Tante ini nggak tahu malu, ya? Udah selingkuh sama brondong pakai uang Pakde, sekarang mau merampas kosan ini juga?!"
Raka, si brondong, maju selangkah. Matanya menatap Maya dari atas ke bawah dengan tatapan cabul, menjilat bibirnya sesaat, sebelum beralih menatap Heru penuh ejekan.
"Halah, diam lu, bocah," potong Raka songong. Ia lalu menunjuk tepat ke hidung Heru.
"Denger ya, Pak Tua. Lu itu udah reyot, loyo, nggak bisa muasin Mbak Lastri. Wajar dong dia nyari yang lebih perkasa, yang bisa bikin dia menjerit tiap malam. Kosan ini kan atas nama Mbak Lastri, jadi mending lu serahin suratnya dan angkat kaki aja sekarang, jadi gembel di jalanan!"
Hinaan itu meluncur tajam, disaksikan oleh beberapa penghuni kos lain yang mulai mengintip dari balik pintu kamar. Tetangga sebelah yang sedang menyapu halaman pun berhenti untuk menonton.
Harga diri Heru benar-benar dikuliti habis-habisan di siang bolong ini.
Direndahkan di depan anak kosnya sendiri, dihina kelaki-lakiannya oleh bocah yang umurnya setengah dari umurnya.
Napas Heru memburu. Tangan kanannya perlahan mengangkat kunci Inggris besi yang sejak tadi ia genggam. Hanya butuh satu ayunan kasar untuk meremukkan rahang songong bocah ingusan di depannya ini.
Lastri melihat kunci Inggris itu dan malah tertawa meremehkan, mencondongkan dadanya menantang. "Apa? Mau mukul? Pukul! Pukul sini! Biar aku panggil polisi dan busuk kamu di penjara! Pria miskin nggak berguna!"
Namun, di sepersekian detik sebelum emosinya meledak, otak Heru bekerja jauh lebih cepat.
Heru ingat betul informasi yang diam-diam ia korek dari preman pasar kenalannya semalam.
Raka bukanlah anak orang kaya atau pebisnis katering. Bocah ini adalah pecandu judi slot kelas berat yang sedang dikejar-kejar rentenir kejam dari kota. Semua bisnis yang Lastri banggakan itu palsu, justru uang Lastri disedot oleh Raka untuk menutupi utang judinya.
Heru menelan amarahnya bulat-bulat. Kunci Inggris di tangannya perlahan turun, lalu jatuh ke tanah berdebu dengan bunyi thud yang pasrah. Ia menundukkan kepala, membiarkan bahunya merosot turun, memainkan peran sebagai pria paruh baya yang kalah total dan tak berdaya.
"Ya sudah," ucap Heru pelan, pura-pura gemetar dan memalingkan wajah, menyembunyikan matanya. "Akan kuambilkan sertifikatnya, tapi dengan syarat, jangan buat onar di sekitaran kos lagi. Sampai ada onar lagi…"
Belum sempat Heru menyelesaikan ucapannya, Maya langsung merangkul lengan Heru. Dadanya sesak melihat pria sekuat Heru harus menuruti keinginan pengkhianat seperti Lastri. "Pakde... jangan... jangan ngalah..."
“Tidak ada jalan lain, Nduk, kamu ikut aja ya. Ini urusan Pakde, yang penting kamu sama anak-anak kos lain aman di sini.” Heru melepas genggaman tangan Maya, seraya berjalan masuk ke dalam.
Saat melewati pintu-pintu kamar kos, Heru tak sengaja melihat celah kecil dari kamar Dina, yang bersembunyi di balik pintu. Tatapan keduanya bertemu, dan Heru paham betul bahwa Dina sedang mengkhawatirkannya, sama seperti Maya tadi.
Heru hanya memberi kode dengan anggukan, sebelum dia berjalan masuk ke dalam rumahnya, yang berada di bagian paling belakang kos tersebut.
Saat membuka lemari, pikiran Heru masih cukup pusing seputar apakah dia harus memberikan sertifikat ini sebagai jaminan.
“Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan saat anak-anak pulang nanti, baiknya aku nekat saja. Dampak dari sertifikat itu, bisa kupikir nanti,” batin Heru bulat.
Dan ketika dia menuju dekat lemari, hal yang pertama ia lihat adalah foto istrinya saat mereka baru menikah dulu. Sungguh-sungguh mesra! Tapi, di samping foto itu, ada sebuah…
Stopmap cokelat yang sengaja diletakkan di dekat foto mesra Heru dan Lastri.
Alasan kenapa keduanya diletakkan sejajar adalah karena kos ini adalah cita-cita bersama Lastri dan Heru, sejak dahulu kala.
“Ah, Lastri, kenapa malah jadi begini ending-nya…” Heru menghela napas berat, kemudian melempar foto itu. Entah terbang ke mana foto tersebut, ia tak terlalu peduli dan keluar membawa stopmap cokelat itu.
Sekali lagi, Heru melewati pintu kamar Dina dan Dina ternyata tidak kuat menahan air matanya. Sembari sesenggukan, Dina lantas mengangguk, seperti memberi kode bahwa Heru pasti bisa melewati semua ini.
Heru pun sama, membalas anggukan itu, lalu kembali menatap arah pintu keluar dengan badan tegap dan mata yang siap menghadapi semua masalah ini.
Begitu Lastri melihat Heru, wanita itu tertawa melengking, merasa menang telak. Ia mencubit dagu Raka dengan genit. "Tuh kan, Sayang. Kubilang juga apa, si tua ini gampang dijinakkan."