Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dari Desa Menjadi Miliader

Dari Desa Menjadi Miliader

segelas kopi | Bersambung
Jumlah kata
44.7K
Popular
1.5K
Subscribe
362
Novel / Dari Desa Menjadi Miliader
Dari Desa Menjadi Miliader

Dari Desa Menjadi Miliader

segelas kopi| Bersambung
Jumlah Kata
44.7K
Popular
1.5K
Subscribe
362
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHarem21+Pria Miskin
Surip adalah gambaran nyata dari keteguhan di tengah keterbatasan. Sebagai pemuda yatim piatu yang hidup dalam kemiskinan, ia menghabiskan waktu setelah sekolah bukan untuk bermain, melainkan memeras keringat di ladang sayur milik Pak Basuki. Meski hidupnya serba sulit, kecerdasan Surip tetap bersinar di kelas, menciptakan kontras tajam antara status sosial dan potensi intelektualnya.Titik balik hidupnya dimulai saat Surip memberanikan diri terjun ke dunia perdagangan sayur bersama Pak Basuki. Ketekunan dan strategi cerdasnya perlahan mengubah nasib, membawa kemapanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun, kesuksesan ini menarik dinamika baru dalam kehidupan asmaranya. Surip kini terjebak di antara wanita, pedagang wanita gigih yang mengagumi kegigihannya, wali kelasnya yang menaruh hati pada kedewasaannya, dan gadis yang dulu kerap merendahkannya namun kini justru berbalik mengejar cintanya. Di antara aroma tanah ladang dan hiruk pikuk pasar, Surip harus memilih arah masa depannya.
1. Di Balik Kabut Gunung

Udara pegunungan pagi itu terasa seperti jarum jarum es yang menusuk kulit, namun bagi Surip, dingin adalah kawan lama. Pemuda berusia 18 tahun itu berdiri di depan cermin retak di rumah bambunya yang mungil. Ia merapikan kerah seragamnya yang sudah menguning. Sebagai yatim piatu sejak usia lima tahun, Surip belajar bahwa satu satunya orang yang bisa ia andalkan adalah bayangan di cermin itu.

"Hari ini pembagian rapot, Rip. Fokus," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya serak, khas remaja yang baru bangun tidur namun membawa beban dewasa.

Ia melangkah keluar, mengunci pintu kayu yang sudah lapuk, lalu menaiki sepeda tuanya. Kayuhan kakinya yang kuat terbentuk karena bertahun tahun mencangkul di kebun sayur milik Pak Basuki membuat sepeda itu berderit ritmis.

Sesampainya di sekolah favorit di kota kecamatan itu, riuh rendah suara siswa lain menyambutnya. Surip merasa asing. Di sini, ia adalah si anak kebun.

"Surip, kemari sebentar!" Panggilan itu datang dari Bu Ani, wali kelasnya yang selalu menatapnya dengan binar keibuan.

Surip mendekat, aroma parfum bunga mawar dari Bu Ani terhirup oleh hidungnya, kontras dengan bau matahari yang melekat di bajunya. "Iya, Bu?"

Bu Ani menopangkan dagu di atas tangannya yang halus, menatap Surip dalam dalam. "Gimana kabarmu, Rip? Sendirian di rumah terus, nggak kesepian?"

Surip tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata tapi cukup untuk sopan santun. "Alhamdulillah baik, Bu. Sudah biasa, kan sepi itu teman makan saya setiap malam."

Bu Ani menghela napas, dadanya naik turun perlahan. Ia mengeluarkan amplop putih tebal. "Ini untukmu. Hadiah karena nilaimu selalu sempurna. Peringkat satu lagi, Rip. Konsisten sekali kamu."

Surip tertegun. Jarinya yang kasar dan kapalan menyentuh amplop itu. "Eh, apa ini, Bu? Saya nggak bisa terima..."

"Terima, Rip. Ini hasil kerja keras otakmu. Jangan ditolak, atau Ibu marah," ucap Bu Ani dengan senyum manis yang menenangkan.

"Makasih banyak, Bu. Ini... ini sangat berarti buat biaya makan saya selama liburan."

Namun, kehangatan itu menguap saat ia sampai di parkiran. Desi, gadis paling cantik sekaligus paling tajam lidahnya, berdiri di sana bersama gengnya. Kulitnya putih bersih, sangat kontras dengan Surip yang kecokelatan terbakar sinar gunung.

"Apa lihat lihat, Rip?" tanya Desi, matanya menyipit sinis. "Matamu itu nggak pantes natap sepatu aku, apalagi mukaku."

Surip menunduk, mencoba melewati celah sempit. "Eh, nggak kok, Des. Kebetulan aja kita papasan."

"Halah! Orang miskin kayak kamu itu harusnya tahu diri. Sudah miskin, bau keringat, bau tanah lagi. Hih, menjauh sana!" Desi menutup hidung dengan gaya dramatis.

Surip mencoba melangkah pergi dengan cepat, namun tiba tiba kaki Desi terjulur. Gubrak! Surip tersungkur. Lututnya menghantam batu tajam di parkiran. Perihnya luar biasa, darah merah segar mulai merembes dari balik celana abu abunya yang tipis.

"Astaga! Makanya kalau jalan pakai mata, bukan pakai dengkul miskinmu itu!" Desi tertawa melengking, suara tawanya seperti pecahan kaca yang menyakitkan telinga. Ia pergi begitu saja, meninggalkan debu yang terhirup masuk ke paru paru Surip.

"Sial..." gumam Surip, menahan denyut di lututnya.

"Astaga, Surip! Kamu kenapa?!" Sebuah suara lembut lain muncul. Dian. Gadis itu berjongkok di depan Surip tanpa rasa jijik.

Surip melihat tangan Dian yang halus menjulur ke arahnya. "Emm, nggak apa apa, Dian. Cuma tersandung tadi. Biasa."

"Apanya yang biasa? Itu darahnya banyak banget!" Dian dengan sigap membuka tasnya, mengeluarkan kotak P3K kecil yang selalu ia bawa. "Duduk di sini, jangan banyak gerak."

Dian mulai membersihkan luka itu dengan alkohol. Surip meringis, otot otot di kakinya menegang. "Aduh... pelan pelan, Yan."

"Maaf, maaf. Tahan dikit ya, Rip. Kamu itu kenapa sih bisa sampai nyungsep begini? Kayak dikejar hantu aja," ucap Dian sambil meniup pelan luka di lutut Surip. Hembusan napas Dian yang hangat terasa di kulit kaki Surip, membuat sensasi aneh menjalar ke tulang belakangnya.

"Hehe, tadi kurang fokus aja. Makasih ya, Yan. Kamu baik banget," jawab Surip, mencoba berdiri meski lututnya masih berdenyut.

Dian membereskan peralatannya, lalu menatap Surip dengan mata bulatnya yang jernih. "Iya, lain kali hati hati. Oh ya, liburan dua minggu ini mau ke mana? Main ke kota yuk sama teman teman?"

Surip menggeleng pelan, senyumnya pahit. "Nggak bisa, Yan. Aku sudah janji sama Pak Basuki mau panen full di kebun. Lumayan, upahnya buat nambah tabungan modal usaha nanti."

"Yah... nggak pergi jalan jalan gitu? Sekali kali nikmatin hidup, Rip."

"Hidupku ya di kebun itu, Yan. Maaf ya, aku harus segera pulang. Makasih sekali lagi buat obatnya." Surip menaiki sepedanya, mengayuh dengan satu kaki yang sedikit pincang.

Dian hanya berdiri mematung, menatap punggung Surip yang menjauh. "Dasar cowok nggak peka... atau memang terlalu mandiri?" gumamnya lirih.

Sore harinya, Surip sudah berada di kebun sayur Pak Basuki yang hijau membentang di lereng gunung. Matahari mulai condong ke barat, sinarnya yang keemasan menyapu dedaunan sawi yang segar.

"Rokok dulu, Rip! Habis makan kalau nggak ngerokok itu rasanya kayak sayur kurang garam," teriak Pak Tedi, buruh tani senior di sana.

Surip menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Makasih, Pak Ted." Ia mengambil sebatang rokok kretek, membakarnya, dan menghisapnya dalam dalam. Asap mengepul dari mulutnya, membawa rasa rileks yang merambat ke seluruh sarafnya yang tegang.

"Gimana rapotmu, Rip? Pasti juara lagi ya?" tanya Pak Basuki yang datang membawa teko berisi kopi hitam pekat.

"Ahh, masalah nilai jangan ditanya, Pak Bas! Surip ini juragan kelas, otaknya encer kayak santan!" sahut Pak Tedi sambil tertawa lebar.

Surip terkekeh. "Alhamdulillah Pak Bas, peringkat satu lagi. Doakan saja bisa sampai lulus nanti."

"Syukurlah. Kamu itu aset desa ini, Rip. Anak yatim piatu tapi semangatnya lebih besar dari gunung ini. Selesaikan rokokmu, terus bantu angkut sawi ke truk ya. Sudah ditunggu orang kota," ucap Pak Basuki menepuk bahu Surip dengan bangga.

"Siap, Pak Bas! Lapan enam!"

Setelah selesai bekerja, matahari sudah benar benar tenggelam di balik punggung gunung, menyisakan langit ungu yang magis. Pak Basuki menghampiri Surip yang sedang mencuci kaki di pancuran.

"Ini bayaranmu buat seminggu ini, Rip. Ada bonus sedikit karena kamu rajin. Dan ini, bawa sawi sama beberapa telur buat kamu masak di rumah," kata Pak Basuki menyodorkan amplop dan bungkusan plastik.

"Waduh, kebanyakan ini Pak. Makasih banyak ya," jawab Surip tulus.

Sesampainya di rumah yang sepi dan gelap, Surip menyalakan lampu minyak. Tidak ada siapa siapa yang menyambutnya. Tidak ada orang tua. Hanya suara jangkrik yang bersahutan di balik dinding bambu.

Ia merebus telur dan menumis sawi pemberian Pak Basuki. Aroma bawang putih memenuhi ruangan sempit itu. Setelah makan dengan lahap, Surip menyeduh kopi hitam, lalu duduk di teras depan.

Suhu gunung turun drastis, kabut mulai turun menyelimuti pelataran rumahnya. Surip membakar rokok terakhirnya hari itu. Ia menatap ke arah kegelapan hutan di depannya. Di bawah alam sadarnya, ia membayangkan masa depan. Apakah ia akan terus di sini, menjadi buruh kebun, ataukah nilai nilai di rapotnya itu akan benar benar menjadi tiketnya keluar dari kemiskinan ini?

Asap rokoknya menari nari ditiup angin malam. Surip memejamkan mata, merasakan detak jantungnya sendiri yang kuat. "Aku pasti bisa," bisiknya pada kegelapan. "Aku pasti akan sukses."

Malam itu, di bawah perlindungan gunung yang bisu, Surip tertidur dengan mimpi tentang sebuah kota besar yang menunggunya di balik kabut.

Lanjut membaca
Lanjut membaca