

Srettt! Bunyi lakban yang ditarik kasar memecah kesunyian gudang ekspedisi malam itu. Warno menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah lembab. Jam dinding menunjukkan pukul 7.30 malam, namun tumpukan paket di depannya yang sedang disortir seolah tak kunjung berkurang. Demi uang lembur untuk menebus obat stroke mertuanya, Warno rela punggungnya terasa mau patah.
"No, lihat ini sebentar," panggil Linda, rekan kerjanya, sambil menyodorkan layar ponsel tepat ke depan muka Warno.
“Apaan sih, Lin?”
Warno menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap layar ponsel Linda dengan saksama. Di layar itu, tampak sebuah unggahan medsos yang sedang viral. Foto seorang pria perlente dengan setelan jas abu-abu. Di bawahnya, tulisan "Imbalan yang Cukup bagi yang Menemukan" tampak bersinar di mata Warno seperti lampu hijau di tengah kemacetan hidupnya.
Warno hanya tersenyum tipis, matanya sekilas menatap wajah pria di foto itu. "Imbalan gede gitu biasanya urusannya ribet, Lin. Aku cuma mau lemburan cair lancar aja. Tapi, imbalan yang cukup itu kira-kira berapa ya, Lin?" tanya Warno pelan, suaranya hampir tenggelam di antara suara lakban dan aktivitas bongkar muat paket di kantor ekspedisi.
"Ya buat orang sekaya Retno, mungkin sepuluh atau dua puluh juta itu kecil, No. Tapi buat kita? Itu bisa buat bayar kontrakan setahun," jawab Linda sambil mengedikkan bahu.
Warno terdiam. Pikirannya langsung melayang ke rumah. Ia membayangkan wajah lelah Harum, istrinya, yang setiap hari harus mengurus ayahnya yang stroke. Ia teringat tagihan listrik yang sudah lewat jatuh tempo dan biaya fisioterapi mertuanya yang terus menunggak. Uang lembur di kantor ekspedisi ini memang membantu, tapi hanya cukup untuk menyambung napas dari hari ke hari, bukan untuk keluar dari jeratan kesulitan.
Kalau saja aku bisa ketemu orang ini, batin Warno sembari mengantongi ponselnya.
Baru saja ia akan melanjutkan kerja, ponsel butut di saku celananya bergetar hebat. Nama 'Harum', istrinya, muncul di layar.
"Halo, Mas? Kamu kapan pulang? Bapak sesak lagi, Mas. Obatnya habis total, aku belum ada uang buat beli ke apotek," suara Harum terdengar parau di seberang sana.
"Iya, Sayang. Ini Mas langsung pulang. Sabar ya," hati Warno mencelos.
Setelah jam lemburnya selesai, sekitar pukul 8 malam, Warno pulang dengan motor matiknya yang sudah mulai berisik mesinnya. Di tengah jalan, saat ia mampir ke sebuah SPBU untuk mengisi bensin. Saat sedang mengantre, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di jalur sebelah. Kaca mobil itu turun sedikit, memperlihatkan seorang pria yang tengah menelepon dengan wajah tegang.
Warno terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Wajah pria di dalam mobil itu, rahang tegasnya, tahi lalat kecil di dekat mata, sangat mirip dengan foto yang ditunjukkan Linda tadi. Pria itu seharusnya hilang, tapi mengapa dia ada di sini, mengendarai mobil mewah sendirian di jam segini?
"Totalnya lima belas ribu, Pak," tegur petugas pom bensin, membuyarkan lamunan Warno.
Warno buru-buru membayar. Saat pria di mobil itu kembali menaikkan kaca dan mulai melaju keluar dari pom bensin, Warno tidak langsung pulang ke arah rumahnya. Rasa penasaran dan bayangan imbalan besar demi kesembuhan mertuanya mendadak mengalahkan rasa lelahnya.
Warno menarik gas dalam-dalam, menjaga jarak aman agar tidak terlihat, lalu mulai membuntuti mobil misterius itu masuk ke kegelapan kota.
Detik berikutnya, mobil hitam itu melaju tenang, keluar dari pom bensin menuju area perumahan yang jauh dari hiruk-pikuk kontrakan Warno. Warno menjaga jarak aman agar tidak terlihat mencurigakan, meski lampu rem mobil itu sesekali membuatnya harus mengerem mendadak.
Namun, semakin jauh ia mengikuti, mobil itu justru masuk ke sebuah kawasan pergudangan sepi di pinggiran kota. Warno mulai merasa ada yang tidak beres. Mengapa pria kaya yang dicari istrinya itu berada di tempat seperti ini malam-malam?
Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar lagi. Nama ‘Istriku Harum’ muncul di layar. Warno bimbang. Jika ia mengangkatnya, ia bisa kehilangan jejak mobil itu. Namun jika tidak, Harum pasti akan semakin panik.
Warno menepi sejenak, menekan tombol jawab dengan cepat. "Halo, Rum? Aku lagi di jalan, sebentar lagi sampai ya."
"Mas, Bapak sesak napas lagi! Obatnya beneran habis, Mas. Uangnya mana? Kamu di mana sih?" suara Harum terdengar gemetar, hampir menangis.
"Sabar, Rum. Ini aku langsung ke apotek. Tenang ya, aku punya kabar baik nanti," ucap Warno berusaha menenangkan istrinya sebelum memutus sambungan.
Warno memacu motor matiknya perlahan, menjaga jarak sekitar sepuluh meter agar lampu depannya tidak mencolok di spion mobil sedan hitam itu. Di kepalanya, bayangan uang jutaan rupiah menari-nari. Ia menghitung cepat: jika imbalannya cukup besar, ia bisa melunasi utang di warung, menebus obat mertuanya untuk tiga bulan ke depan, dan mungkin membelikan Harum daster baru yang layak.
Mobil itu berbelok masuk ke sebuah area perumahan cluster yang cukup asri namun sepi. Warno sempat tertahan di gerbang penjagaan, tapi ia beralasan sedang mengantar paket kilat ekspedisi agar diizinkan masuk oleh satpam.
Akhirnya, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis yang lampunya temaram. Warno mematikan mesin motornya agak jauh dari sana, lalu mengendap-endap mendekat.
Dari balik pohon palem di trotoar, ia melihat pria itu turun. Wajahnya terpapar lampu teras rumah. Warno terkesiap, pria itu memang benar-benar suami Retno yang ada di postingan medsos. Namun, ada yang aneh. Pria itu tidak tampak seperti orang hilang yang tertekan atau diculik. Ia justru terlihat santai, bahkan mengeluarkan kunci rumah dari sakunya sendiri.
Saat pintu rumah terbuka, seorang wanita muda muncul dan langsung menyambut pria itu dengan pelukan hangat. Warno segera mengeluarkan ponselnya, tangan gemetar menahan kantuk dan adrenalin. Ia mengambil beberapa foto dan merekam video singkat sebagai bukti.
"Oh, Jadi dia nggak hilang? Dia cuma pindah rumah?" gumam Warno tak percaya.
Detik berikutnya, Warno memarkirkan motornya di bawah bayangan pohon kersen yang rimbun, sekitar dua rumah dari sasaran. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena adrenalin mengikuti orang, tapi karena bayangan wajah Harum yang sedang panik di rumah menanti uang obat. Ia melangkah sangat pelan, mendekati jendela samping rumah yang tirainya tidak tertutup rapat. Dari celah sempit itu, Warno mengintip.
Pria yang ia yakini sebagai suami Retno itu melepas jasnya, sementara si wanita yang tampak jauh lebih muda, mungkin baru awal empat puluhan dengan cekatan membawakan segelas air minum. Tidak ada ketegangan di antara mereka, yang ada hanyalah suasana hangat layaknya suami istri yang sudah lama tinggal bersama.
"Gimana di sana? Retno masih nyariin?" suara si wanita terdengar samar namun jelas di telinga Warno yang menempel ke dinding.
"Biarin aja. Dia cuma peduli sama saham perusahaan. Di sini aku tenang," jawab si pria sambil menghela napas panjang.
Warno tertegun. Jadi ini bukan penculikan. Pria berumur 50 tahunan ini sengaja menghilang untuk melarikan diri dari istrinya yang sah demi hidup tenang bersama wanita ini. Bagi Warno, informasi ini adalah ladang emas.
Jika ia melapor ke Retno, ia dapat imbalan. Tapi jika pria di dalam sana tahu keberadaannya, pria itu mungkin akan membayar lebih mahal agar Warno tutup mulut dan tidak menghancurkan, surga tersembunyi ini.
Krak!
Tiba-tiba, kaki Warno tak sengaja menginjak ranting kering.
Suasana di dalam rumah mendadak hening. Warno menahan napas, tubuhnya membeku menempel ke tembok.
"Siapa di luar?" suara berat si pria terdengar mendekat ke arah jendela.
Warno segera menjauh dari jendela dengan langkah seribu, kembali ke motor matiknya yang terparkir di kegelapan.
Sambil mengatur napas yang memburu, Warno menatap layar ponselnya, jika ia melapor pada Retno sekarang, ia mungkin mendapatkan uang malam ini juga, tapi ia juga sadar bahwa ia baru saja membuka rahasia perselingkuhan orang kaya yang mungkin berbahaya.