
Putra Putri Pasundan - wangsit siliwangi
walem|Bersambung
- Jumlah kata
- 68.1K
- Popular
- 942
- Subscribe
- 147
- Jumlah kata
- 68.1K

walem|Bersambung
fauji, seorang pria bijaksana namun keras kepala, adalah putra seorang ulama dari Desa Sindangsari, selatan Jawa Barat. Meski lahir dari keluarga sederhana, ia mewarisi khodam keturunan Pajajaran bernama Putra, yang memberinya kemampuan untuk merasakan makhluk gaib melalui aroma dan firasat. Ketika ayahnya, Kiai Hasan, meninggal dunia, Fauji terpaksa hidup berpindah-pindah antara rumah ibunya dan keluarga ayahnya. Kehidupannya semakin kacau setelah jatuh ke pergaulan bebas hingga akhirnya ia tersadar dan bertekad untuk berubah. Di sisi lain, Laisya adalah seorang wanita ceria dan pemberani yang berasal dari Desa Kendal, utara Jawa Barat. Ia keturunan langsung Prabu Siliwangi dan Prabu Brawijaya, yang menjadikannya pewaris darah biru dari dua kerajaan besar. Laisya memiliki khodam bernama Putri, yang dapat berkomunikasi dengan roh leluhur dan makhluk halus. Namun, kehidupan Laisya berubah drastis setelah pernikahan pertamanya yang gagal dan ekonomi keluarganya runtuh. Ia harus menjadi TKW untuk menghidupi dua anaknya, Kiran dan Karin. Takdir mempertemukan Fauji dan Laisya melalui media sosial. Keduanya menikah, dan pada malam pernikahan, para karuhun Pajajaran dan Majapahit hadir untuk memberkati mereka. Mereka menyampaikan wangsit bahwa Laisya akan melahirkan seorang pemimpin Nusantara yang adil, Satria Piningit atau Ratu Adil, yang akan membawa perubahan besar bagi negeri ini. Pernikahan itu tidak mudah. Mantan suami Laisya, Karsim, terus mengganggu mereka. Para siluman seperti Dewi Larasati pun mengincar khodam Fakhri, putra kedua mereka, karena kekuatan luar biasa yang diwarisinya. Setiap anak Fauji dan Laisya—Aini, Fakhri, Zul, Syila, dan Syira—memiliki khodam pendamping yang menuntun mereka, tapi juga mengundang bahaya dari dunia gaib. Setelah kelahiran Aini, ujian demi ujian datang bertubi-tubi. Fauji dan Laisya sempat menjadi gelandangan di kota, hidup di jalanan selama berbulan-bulan. Fauji hampir putus asa, namun Laisya tetap tabah dan terus menguatkannya. Hingga akhirnya, bantuan leluhur datang berupa harta pusaka dan dukungan gaib dari Prabu Siliwangi, Prabu Kian Santang, Sabdo Palon, hingga para wali tanah Jawa. Hidup mereka berangsur-angsur membaik.
1 ulasan
1917515566658891776
18/5/25 10:35
bagus alur ceritanya ok... tingkat kan terus karya mu biar semakin berkembang biar banyak pengikut dan like novel ini
malam itu, angin berhembus kencang di Desa Sindangsari, sebuah desa kecil di selatan Jawa Barat. Fauji duduk termenung di beranda rumah kayunya yang sederhana. Matanya menatap langit kelam tanpa bintang. Hanya cahaya bulan sabit yang menyinari wajahnya yang lelah.
“Ayah, apakah Ibu akan datang malam ini?” tanya Fauji kecil, memeluk lututnya erat. Di sebelahnya, Kiai Hasan, ayah Fauji, mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
“Insya Allah, Nak. Ibumu sedang sibuk di kota. Jangan terlalu berharap. Fokuslah pada hafalanmu,” jawab Kiai Hasan lembut namun tegas.
Fauji mengangguk pelan. Dalam hati, dia merasakan kerinduan mendalam pada ibunya yang pergi setelah perceraian. Tapi, Fauji tahu, ayahnya adalah sosok yang kuat. Kiai Hasan adalah ulama yang disegani di desa itu. Meski hidup sederhana, ia memiliki kharisma yang luar biasa.
Malam itu, udara semakin dingin. Kiai Hasan memejamkan matanya. Dalam benaknya, ia merasakan kehadiran makhluk gaib. Bau anyir menyengat tercium di sekitarnya. Kiai Hasan membuka mata, menatap gelapnya malam.
“Fauji, masuk ke dalam. Tidur di kamarmu,” perintahnya sambil berdiri.
Fauji mengangguk dan bergegas masuk. Baru saja ia menutup pintu, angin berdesir lebih kencang. Di halaman rumah, sesosok bayangan tinggi besar muncul. Matanya merah menyala, tubuhnya bersisik seperti ular. Kiai Hasan menatapnya tajam.
“Apa maumu?” tanya Kiai Hasan dengan suara berat.
Makhluk itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Kiai Hasan penuh kebencian. Tapi Kiai Hasan tak gentar. Tiba-tiba, ia menggumamkan doa. Seberkas cahaya putih muncul dari telapak tangannya. Bayangan hitam itu menjerit dan menghilang.
Kiai Hasan menghela napas berat. Ia tahu, ini baru permulaan. Fauji kecil masih belum menyadari bahwa dalam tubuhnya telah diwariskan khodam keturunan Pajajaran, Putra, yang akan menjadi pelindungnya hingga akhir hayat.
Keesokan harinya, Fauji terbangun lebih awal dari biasanya. Ia melihat ayahnya sedang berzikir di ruang tengah. Mata Kiai Hasan terpejam, bibirnya bergetar melafalkan ayat-ayat suci. Fauji duduk diam memperhatikan, merasa ada sesuatu yang berbeda pada ayahnya pagi itu.
“Kau lihat sesuatu tadi malam?” tanya Kiai Hasan tiba-tiba tanpa membuka mata.
Fauji terdiam. “Tidak, Ayah,” jawabnya pelan.
Kiai Hasan membuka mata dan menatap Fauji. “Jika suatu hari nanti kau merasa ada sesuatu yang menempel di tubuhmu, jangan takut. Itu adalah Putra. Dia akan melindungimu.”
“Putra? Siapa dia?”
“Khodam keturunanmu. Jangan takut. Doakan dia, jangan sakiti dia,” kata Kiai Hasan sambil tersenyum tipis.
Fauji hanya mengangguk. Dalam benaknya, ia tak sepenuhnya memahami apa yang baru saja dikatakan ayahnya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasakan sesuatu yang dingin merambat di punggungnya. Sesuatu yang tak terlihat, namun selalu hadir di sekitarnya.
Hari-hari berlalu, Fauji semakin terbiasa hidup bersama ayahnya. Kiai Hasan semakin sering berzikir di malam hari. Seringkali Fauji terbangun tengah malam dan mendengar ayahnya berbicara sendiri di ruang tengah. Namun, setiap kali ia mencoba mengintip, Kiai Hasan selalu menghentikan zikirnya dan menoleh ke arah Fauji.
“Tidurlah, Nak. Ini bukan saatnya bagimu untuk tahu,” ucap Kiai Hasan singkat.
Namun malam itu berbeda. Fauji terbangun oleh suara gemuruh di langit. Petir menyambar, angin bertiup kencang. Fauji keluar dari kamarnya dan melihat ayahnya berdiri di halaman rumah. Di hadapan Kiai Hasan, tiga sosok berjubah hitam berdiri. Wajah mereka tertutup kain, mata mereka merah membara.
“Kiai Hasan, serahkan khodam itu pada kami,” kata salah satu sosok berjubah.
“Tidak akan pernah,” jawab Kiai Hasan tegas.
“Kau tahu apa akibatnya jika menolak?”
Kiai Hasan tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi aku juga tahu bahwa kalian bukan tandinganku.”
Seketika, cahaya putih keluar dari tubuh Kiai Hasan. Tiga sosok berjubah itu menjerit kesakitan sebelum menghilang menjadi abu. Fauji tertegun. Ia tak pernah melihat ayahnya sekokoh itu. Saat Kiai Hasan berbalik, ia menatap Fauji.
“Ingat, Nak. Kau adalah pewaris kekuatan ini. Kelak kau akan tahu, dunia ini lebih luas dari yang kau bayangkan.”
Hari berlalu, Fauji semakin dewasa. Kini usianya 15 tahun. Ia sering mengikuti Kiai Hasan ke pengajian, mendengarkan ceramah-ceramah ayahnya. Namun, Fauji mulai merasa berbeda. Ia sering mendengar bisikan-bisikan samar di kepalanya. Suara itu terkadang memanggil namanya, terkadang memperingatkannya tentang bahaya.
Malam itu, Fauji kembali bermimpi. Kali ini ia berada di puncak gunung tinggi yang diselimuti kabut tebal. Di depannya, berdiri seorang pria gagah berpakaian perang kerajaan Pajajaran.
“Aku Putra. Aku adalah khodammu,” ujar pria itu sambil tersenyum. “Kelak, kau akan menghadapi musuh-musuh yang tak terlihat. Jangan pernah ragu. Aku akan selalu bersamamu.”
Fauji terbangun dengan keringat dingin. Pikirannya kacau. Tapi ia merasa ada yang berubah. Kini, ia mulai merasakan kehadiran Putra. Di dalam tubuhnya, ada kekuatan yang mulai bergerak.
setelah sholat subuh, seperti biasa, Kyai Hasan sedang mengajar mengaji di langgar kecil samping rumah. Fauji duduk di serambi, memperhatikan anak-anak kampung yang tekun menyimak pengajian ayahnya. Meski hidup sederhana, Kyai Hasan selalu menekankan pentingnya ilmu agama dan menjaga akhlak. Namun, Fauji sering merasa hampa, seperti ada kekosongan yang tidak bisa diisi hanya dengan kegiatan sehari-hari di desa.
Setiap beberapa minggu sekali, Fauji pergi ke kota. la naik angkutan umum, menyusuri jalan berdebu dan berliku hingga tiba di rumah kontrakan ibunya di pinggiran kota.
Rumah itu kecil, berdinding kayu tua yang mulai rapuh. Fauji selalu membawa oleh-oleh dari desa, entah itu buah-buahan hasil kebun atau sayuran yang dipetik sendiri.
"Fauji! Akhirnya datang juga!" sapa Siti, kakak sulungnya, sambil menyeka keringat. la baru saja selesai mencuci pakaian di belakang rumah. Rina dan Jubaedah menyusul keluar, menyambut adik bungsu mereka dengan pelukan hangat.
Ibunya, Fatimah, duduk di ruang tengah sambil mengipasi nasi yang sedang ditanak. Wajahnya letih, namun ia tersenyum lega melihat Fauji. "Bagaimana kabar ayahmu, Ji?"
"Alhamdulillah sehat, Bu. Tapi beliau semakin tua. Batuk-batuknya makin parah," jawab Fauji.
Fatimah menunduk, sorot matanya sendu. la merindukan Kyai Hasan, mantan suaminya, tapi perpisahan mereka sudah lama terjadi. Kini ia hanya bisa berharap Fauji bisa menjaga ayahnya.
Di kota, Fauji mulai mengenal lebih banyak orang. Teman-teman kakaknya sering datang ke rumah, membawa cerita-cerita tentang kehidupan kota yang keras. Mereka bercerita tentang pekerjaan kasar di pabrik, pergaulan malam yang bebas, hingga pertarungan antar gang. Fauji tertarik mendengarkan, tapi ia masih merasa canggung.
"Ji, kalau kamu mau kerja, bisa ikut saya di pasar," kata Toni, salah satu teman Rina. "Jadi kuli angkut. Gajinya lumayan buat bantu-bantu ibu."
Fauji mengangguk, meski dalam hatinya ia ragu. la belum pernah bekerja fisik seberat itu. Namun, demi membantu ibunya dan kakak-kakaknya, ia mencoba.
Hari pertama bekerja sebagai kuli angkut, Fauji merasakan betapa kerasnya hidup di kota. la harus mengangkat karung-karung beras beratnya puluhan kilo, berjalan bolak-balik dari truk ke gudang. Peluh bercucuran, otot-ototnya tegang. Sementara itu, di sekelilingnya, para pekerja lain merokok sambil tertawa-tawa. Fauji merasa asing.
Saat malam tiba, Fauji duduk di depan kontrakan bersama kakak-kakaknya. Rina menyuguhkan segelas teh manis. "Ji, kamu kenapa diam aja?"
"Gak apa-apa, cuma capek aja," jawab Fauji, memandang langit malam yang penuh bintang. "Di desa, aku gak pernah seberat ini."
"Kamu harus kuat, Ji," kata Jubaedah. "Ibu sudah terlalu tua buat kerja berat."
Fauji mengangguk lagi. Di dalam hatinya, ia merasa semakin jauh dari kehidupan spiritual yang diajarkan ayahnya. Setiap kali kembali ke desa, Kyai Hasan selalu mengingatkannya untuk menjaga zikir dan doa. Tapi di kota, suara azan nyaris tak terdengar, tertutup bisingnya kendaraan dan teriakan orang-orang.
55 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







