
Alfian Sang Pemijat Plus Plus
Danang Wiwoho|Bersambung
- Jumlah kata
- 68.0K
- Popular
- 672
- Subscribe
- 192
- Jumlah kata
- 68.0K
- Popular
- 672
- Subscribe
- 192

Danang Wiwoho|Bersambung
Sinopsis Novel: Alfian Sang Pemijat Plus Plus Kecelakaan maut yang merenggut nyaris seluruh kesadarannya bukanlah sebuah musibah kebetulan. Di hari kedewasaannya—di mana panti pijat dan rumah warisan orang tuanya resmi menjadi hak mutlak di bawah kendalinya—Alfian secara tidak sengaja memergoki rencana busuk sang paman, Om Broto, dan Tante Siska yang hendak merampas serta menjual aset tersebut. Tak ingin gagal, Om Broto nekat merencanakan kecelakaan maut yang melemparkan Alfian ke jurang curam. Namun, takdir berkata lain. Alfian diselamatkan oleh seorang master misterius—seorang ahli anatomi tubuh, teknik pemulihan tingkat tinggi, dan peracik ramuan herbal kuno. Selama sebulan dalam masa pemulihan, Alfian digembleng habis-habisan, tidak hanya dari segi fisik dan mental, tetapi juga dibekali ilmu sentuhan tangan rahasia yang luar biasa serta rahasia kelam masa lalu Tante Siska. Kembali ke rumah dengan topeng **amnesia total**, Alfian disambut keterkejutan luar biasa oleh Om Broto dan Tante Siska yang mengiranya sudah tewas. Memanfaatkan status amnesianya sebagai perisai, Alfian menantang waktu satu bulan untuk membuktikan bahwa panti pijat warisan orang tuanya bisa bangkit, sekaligus berjanji menyerahkannya jika gagal. Di balik tatapan polos dan senyum kepatuhannya, Alfian telah menjelma menjadi sosok pria berpostur tegap dan penuh wibawa. Ia siap menggunakan ilmu pijat rahasianya untuk menaklukkan para wanita di sekitarnya, membalikkan keadaan untuk melindungi warisannya, dan menghancurkan kebusukan keluarga pamannya dari dalam perlahan-lahan. Permainan baru saja dimulai. Di bawah kendali penuh Alfian, siapa yang akan bertekuk lutut lebih dulu?
# Bab 1: Kepulangan Sang Ahli Waris dan Topeng Amnesia
Langkah kaki Alfian terasa begitu berat, menyeret tubuhnya tanpa arah di bawah terpaan angin malam yang dingin. Pikirannya berkecamuk hebat, dihantam oleh pecahan kenyataan yang baru saja ia dengar secara tidak sengaja di balik pintu ruang kerja Om Broto.
Hari ini, usianya resmi menginjak batas kedewasaan secara hukum. Itu artinya, panti pijat dan rumah warisan mendiang orang tuanya sepenuhnya menjadi hak mutlak di bawah kendalinya. Om Broto tidak lagi memiliki celah hukum untuk menjual atau mengalihkan aset tersebut tanpa tanda tangan persetujuan darinya.
Namun, alih-alih menghormati hak kepemilikan tersebut, Om Broto dan Tante Siska justru merencanakan skenario busuk: menyingkirkannya malam itu juga agar kematiannya dianggap sebagai kecelakaan, sehingga mereka bisa memalsukan dokumen dan menguasai seluruh peninggalan orang tuanya tanpa hambatan.
Dalam keadaan linglung, syok, dan air mata yang menggenang, Alfian berjalan menyeberang jalan raya menuju arah tebing pinggiran kota. Namun, dari arah tikungan gelap, sebuah mobil melaju kencang tanpa lampu utama—menghantam tubuhnya dengan telak hingga terpental menembus pembatas jalan dan jatuh terjungkal ke dalam jurang curam di sisi lembah.
Itu bukan kecelakaan. Itu adalah eksekusi terencana yang disiapkan oleh Om Broto.
Di kediaman Om Broto, kabar kecelakaan maut itu menyebar cepat keesokan harinya. Meskipun tim pencari tidak pernah berhasil menemukan jasad Alfian di dasar jurang yang deras, keluarga itu langsung menarik kesimpulan gembira: Alfian sudah tewas.
Bagi Om Broto, berita itu adalah sebuah berkah besar. Dengan tewasnya Alfian tepat di hari kedewasaannya, ancaman gagal jual aset mendadak lenyap. Ia bisa segera memproses surat-surat warisan dan mengeksekusi penjualan panti pijat tanpa perlu meminta persetujuan siapapun.
Namun, ketenangan semu itu tidak berlangsung lama.
Tepat satu bulan kemudian, sebuah mobil asing berhenti di depan gerbang rumah Om Broto.
Seorang pria paruh baya berwajah tegas—seorang master ahli anatomi tubuh, teknik pijat tingkat tinggi, dan peracik ramuan herbal kuno yang menyelamatkan Alfian dari dasar jurang—membukakan pintu mobil. Dari dalamnya, keluar seorang pemuda dengan postur tubuh yang jauh lebih tegap, sorot mata tajam yang dingin, namun memancarkan kebingungan yang dibuat-buat.
Alfian kembali.
Om Broto dan Tante Siska yang melihatnya dari teras rumah mendadak membeku, seolah-olah melihat hantu di siang bolong. Wajah Tante Siska pias seketika, nyaris kehilangan kesadaran.
Sang master melangkah maju, menyerahkan dompet dan kartu identitas milik Alfian kepada Om Broto yang gemetar ketakutan.
"Kalian keluarganya?" suara pria itu menggema tenang penuh wibawa. "Dia ditemukan selamat di dasar jurang dalam keadaan kritis. Setelah sebulan penuh saya rawat, saya gembleng fisik dan mentalnya, serta saya ajarkan berbagai teknik pemulihan tubuh menggunakan ramuan herbal kuno... dia akhirnya pulih."
Pria itu melirik sekilas ke arah Alfian. "Sayangnya, benturan keras di kepalanya membuat dia mengalami **amnesia total**. Dia tidak ingat apa-apa, bahkan keluarganya sendiri. Saya mengantarkannya pulang berdasarkan alamat di kartu identitasnya. Rawatlah dia dengan baik."
Sebelum kembali, Alfian memang sengaja memanfaatkan masa pemulihannya di bawah bimbingan sang master untuk menyelidiki masa lalu keluarga pamannya. Berbekal jaringan koneksi sang master, ia berhasil membongkar rahasia kelam Tante Siska: fakta bahwa wanita itu sebenarnya sudah hamil dengan pria lain jauh sebelum menikah, lalu dengan licik menjebak Om Broto agar mengakui anak itu (Celine) sebagai darah dagingnya sendiri.
Sebuah kartu truf yang mematikan.
Setelah menitipkan pesan amnesia itu, sang master langsung berlalu pergi, meninggalkan Om Broto dan Tante Siska yang berdiri mematung di teras dengan keringat dingin bercucuran.
Om Broto menelan ludah susah payah, berusaha menyembunyikan kepanikan luar biasa di balik senyum kaku. Di dalam kepalanya, ketakutan melanda hebat: *Bagaimana mungkin anak ini bisa hidup kembali?! Rencana penjualan aset yang sudah di ambang pintu bisa gagal total!*
Di sisi lain, Alfian melangkah masuk melewati pintu gerbang dengan kepala sedikit tertunduk, memancarkan ekspresi kosong seolah-olah dirinya adalah korban kecelakaan yang tak berdaya.
Malam harinya, di dalam kamar tidurnya yang sunyi, Alfian mengunci rapat pintu kamarnya.
Ia mengeluarkan bungkusan rahasia berisi intisari tanaman obat dan akar purba yang diberikan oleh sang master sebelum mereka berpisah. Berbekal panduan teknik herbal kuno, ia meracik ramuan tersebut dengan presisi tinggi. Begitu ramuan itu diteguknya, sensasi hangat yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh aliran darah, membakar otot-ototnya, dan menyegarkan simpul-simpul sarafnya.
Perubahan itu terjadi seketika di luar nalar.
Dalam kurun waktu beberapa jam saja, struktur tulangnya terasa lebih kokoh, tubuhnya bertambah jangkung, dan otot-otot tubuhnya terbentuk dengan sempurna—memancarkan aura maskulinitas matang yang sangat kontras dengan penampilannya sebelum ia jatuh ke jurang.
Keesokan paginya, matahari baru saja merangk naik ketika ketukan keras tiba-tiba memecah keheningan.
*Tok! Tok! Tok!*
Suara gedoran kasar itu berasal dari luar kamar, disusul oleh suara serak Om Broto yang penuh tuntutan.
"Hei, pemalas! Cepat bangun! Sampai kapan kau mau berleha-leha di tempat tidur?"
Alfian membuka pintu kamar perlahan. Begitu pintu terbuka, Om Broto yang tadinya hendak melontarkan amarah mendadak tertegun, mengerjap beberapa kali. Pria tua itu merasa ada yang sangat berbeda dengan keponakannya—postur tubuh Alfian kini jauh lebih tinggi, bidang dadanya tampak tegap dan berwibawa, serta sorot matanya yang meskipun menampilkan kesan linglung amnesia, tetap memancarkan tekanan tersembunyi yang membuat nyali Om Broto ciut seketika.
"Kenapa... kenapa masih bermalas-malasan?" Om Broto mencoba menutupi rasa gugupnya dengan meninggikan suara. "Bukankah seharusnya kau segera pergi mengurus panti pijat warisan itu sekarang? Ingat, jika tempat itu terus merugi dan tidak memberikan pemasukan bulan ini, paman harus mulai mempertimbangkan untuk menjualnya!"
Mendengar ancaman itu, Alfian tidak melawan. Ia justru menampilkan ekspresi ragu, menyentuh pelipisnya seolah kepalanya sedang berdenyut sakit akibat sisa benturan di jurang.
"Paman... kepalaku masih sering sakit kalau memikirkan hal berat," ucap Alfian dengan suara pelan dan polos. "Tapi... aku ingat panti pijat itu adalah peninggalan Ayah. Tolong... jangan dijual dulu."
Om Broto mendengus sinis, berusaha mengabaikan aura intimidatif yang baru saja ia rasakan dari tubuh tegap Alfian. "Lalu mau disia-siakan begitu saja? Tempat itu terus merugi!"
"Berikan aku waktu," potong Alfian dengan nada yang perlahan berubah tegas namun tetap terkendali, menyiratkan keyakinan baru berkat gemblengan sang master. "Selama sebulan ke depan, aku akan mengurusnya dan membangkitkan panti pijat itu dengan caraku sendiri. Aku akan membuktikan tempat itu mendatangkan keuntungan. Tapi jika dalam batas waktu itu aku gagal... terserah Paman, silakan jual tempat itu."
Om Broto tertegun sejenak. Di satu sisi, tawaran itu memberinya celah; jika keponakannya yang bodoh itu gagal, ia punya alasan kuat untuk menjual aset tersebut secara legal. Di sisi lain, ada kilatan aneh di mata Alfian yang sempat membuatnya merasa risih. Namun, karena mengira Alfian menderita amnesia dan mudah dikendalikan, Om Broto akhirnya mengangguk meremehkan.
"Baiklah! Paman beri waktu satu bulan. Jangan menyesal jika nanti tempat itu tetap bangkrut!" maki Om Broto sebelum berbalik pergi.
Alfian menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Di balik topeng amnesia dan tatapan polosnya, tubuh tegapnya berdiri kokoh, dan sudut bibir Alfian terangkat membentuk senyuman miring yang sangat dingin.
*‘Kalian mengira aku bisa kalian setir sesuka hati setelah apa yang kalian lakukan? Tunggu saja tanggal mainnya, Om Broto... Panti pijat itu tidak akan pernah jatuh ke tanganmu, dan rahasia busuk keluarga ini akan segera menghancurkan kalian dari dalam.’*
57 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.