
Glitch in Academic World: Login Pertama Rian
Safira Lazuardi|Bersambung
- Jumlah kata
- 82.1K
- Popular
- 111
- Subscribe
- 4
- Jumlah kata
- 82.1K
- Popular
- 111
- Subscribe
- 4
Sinopsis
Bagi Rian Pratama, kehidupan sekolah hanyalah rutinitas membosankan tentang nilai ujian, nongkrong di kantin, dan bermain game survival bersama Bagas. Namun, sebuah insiden aneh mengubah hidupnya selamanya. Saat jaringan game-nya mengalami pembekuan (freeze), seluruh realitas di sekitarnya ikut berhenti. Dari retakan dimensi yang retak seperti piksel komputer rusak, ancaman dari dunia bawah tanah mulai menyeruak ke alam manusia. Di tengah kepanikan itu, Rian tidak membangkitkan elemen sihir biasa seperti api atau angin. Ia mendapatkan akses System unik yang tidak terdaftar dalam database manapun: Glitch Coder. Dengan kemampuan melihat garis kesalahan (Error Detection) dan meretas aturan sihir (Code Alteration), Rian bersama Bagas si Shield-Bearer dan Maya sang analitis nekat mendaftar ke Akademi Astra, sekolah elit tempat para Awakener dilatih untuk bertaruh nyawa di Dungeon. Di antara persaingan faksi murid kaya, monster dengan stat terlarang, dan organisasi rahasia Null Byte yang berusaha menghapus tatanan dunia, Rian harus memanfaatkan setiap eror dan glitch untuk bertahan hidup. "Jika dunia ini berjalan di atas sistem yang tidak adil, maka aku yang akan meretas kodenya."
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: SERANGAN GLITCH DI KANTIN
Bel istirahat kedua SMA Nusa Bangsa baru saja berbunyi sepuluh menit lalu, dan tempat ini sudah berubah menjadi arena bertahan hidup bagi perut-perut yang kelaparan. Ratusan siswa saling berdesakan memperebutkan deretan mangkuk mie, es teh manis, dan piring nasi goreng.
Aku tidak mempedulikan sekelompok siswi kelas sebelas yang tertawa renyah di meja sebelah, ataupun seruan nyaring ibu kantin yang berteriak memanggil pemesan mie instan telor. Mata dan kedua ibu jariku terkunci sepenuhnya pada layar ponsel berukuran 6,7 inci yang terpasang horizontal di genggamanku. Fokusku terhisap penuh ke dalam ruang virtual.
Di layar itu, grafik game survival battle royale terkini sedang berada dalam kondisi paling krusial. Karakter virtualku, seorang prajurit bersenjatakan senapan serbu taktis, sedang bersembunyi di balik tembok beton yang hancur.
"Rian! Fokus, dong! Musuh sudah push dari arah jam dua! Jangan malah diam di balik tembok seperti patung!" seru Bagas yang duduk tepat di depanku.
Bagas, sahabatku sejak SMP yang berbadan bongsor dengan rambut potong cepak, mengetuk-ngetuk layar ponselnya dengan kecepatan yang gila. Ibu jarinya bergerak seperti mesin ketik tua, memicu ketukan ritmis yang konstan di atas meja kayu kantin.
"Sabar, Gas. Ini jaringan di kantin lagi lag parah. Ping aku mendadak melonjak ke angka tiga ratus," balasku tanpa mengalihkan pandangan. Keringat dingin mulai menetes di pelipisku. "Aku memutar ke belakang gedung, kamu tahan mereka dari depan."
"Jangan lama-lama! Health point milikku sudah tinggal separuh nih!" gertak Bagas, nadanya terdengar panik bercampur gregetan.
Aku menggeser analog virtual di layar sebelah kiri, mengarahkan karakterku untuk merayap menyusuri semak-semak virtual. Namun, tepat ketika aku menekan tombol untuk melontarkan granat asap ke arah musuh, pergerakan di layar mendadak tersendat. Karakter musuh yang tadinya berlari patah-patah mendadak kaku di tempat dengan posisi melayang beberapa inci dari tanah.
"Lho? Kena freeze lagi?" gumamku keheranan.
Aku menekan tombol skill berulang kali. Tidak ada respons. Gambar di layar ponselku tidak hanya membeku, tetapi piksel-piksel grafisnya mulai pecah secara tidak wajar. Warna hijau rumput dan keabu-abuan beton di dalam gim mendadak terurai menjadi garis-garis tajam berwarna biru neon dan ungu terang.
BZZZZT!
Sensasi dingin bercampur sengatan listrik mikro tiba-tiba menjalar dari bodi belakang ponsel, menusuk langsung ke pusat telapak tanganku. Rasa sakitnya seperti ditusuk puluhan jarum halus sekaligus.
"Aduh!" refleksku menjerit kaget.
Aku mengibaskan tangan kanan yang terasa kebas dan panas, mengusap-usap pergelangan tangan yang mendadak berdenyut kencang.
"Kenapa kamu, Rian? Jangan bilang HP-mu mati saat momen krusial begini?" ejek Bagas tanpa mengangkat wajah. Tangannya masih sibuk menekan-nekan layar ponselnya sendiri. "Ayo balik ke area zone! Musuhnya tinggal—"
Bagas tidak pernah menyelesaikan kalimatnya.
Suaranya terputus di tengah jalan, bukan karena ia berhenti bicara secara sukarela, melainkan seolah-olah pita suaranya ditahan oleh kekuatan yang tak kasat mata.
Aku mendongak, Bagas membeku.
Bukan membeku dalam artian kaku karena terkejut, melainkan benar-benar berhenti bergerak secara harfiah. Aku menoleh ke sekeliling kantin, seluruh ruangan kantin mengalami hal yang sama. Suara bising ratusan murid, gemerincing sendok dan garpu, serta dengung kipas angin gantung mendadak lenyap total.
Hening. Keheningan yang begitu pekat, mutlak, dan tidak alami mengurung seluruh kantin SMA Nusa Bangsa.
"Bagas? Woy, Bagas!" panggilku dengan suara gemetar. Aku menggerakkan tangan, menepuk bahu tebal sahabatku itu.
Bahu Bagas terasa sekeras patung batu. Tidak ada kehangatan tubuh, tidak ada gerakan napas di dadanya. Ia benar-benar terkunci dalam satu titik waktu.
"Ini... ini mimpi? Aku ketiduran saat pelajaran Sejarah tadi?" bisikku pada diri sendiri, mencoba mencari penjelasan rasional. BZZZZT!
Suara dengung mekanis yang mirip dengan frekuensi radio rusak tiba-tiba bergema langsung di dalam kepalaku, bukan melalui lubang telinga. Rasa panas yang tadinya menjalar di telapak tanganku kini naik perlahan menuju otak, terkumpul tepat di belakang kelopak mataku.
Aku memegangi kepala, memejamkan mata erat-erat karena rasa pusing yang luar biasa. Ketika aku membuka mata kembali, penglihatanku tidak lagi sama.
Dunia di sekitarku tampak dilapisi pendar cahaya tipis. Di udara kosong tepat dua puluh sentimeter di depan wajahku, garis-garis cahaya berwarna biru neon mulai terurai dan membentuk kotak transparan. Tulisan demi tulisan bercetak tebal muncul satu per satu, terketik secara otomatis seolah ada papan ketik gaib yang sedang bekerja.
[System Reboot Complete...]
[Pengguna Terdeteksi: Rian Pratama]
[Kategori Keberadaan: Unassigned / Non-Awakener]
[Menganalisis Kompatibilitas Jiwa... 99,8%]
[Peringatan: Terjadi Kebocoran Ruang pada Server Lokal!]
[Protokol Anomali Diaktifkan: Membuka Interface Terlarang - Glitch Coder Level 1]
"Apa-apaan ini..." aku melangkah mundur hingga punggungku menghantam tepi meja kayu. Mataku menatap liar kotak teks yang mengambang di udara. "Sistem? Interface? Game apa yang sedang meretas mataku?"
Aku mencoba mengibaskan tangan untuk mengusir kotak teks tersebut, tetapi jariku hanya menembus pendar cahaya transparan itu tanpa memberi efek apa pun. Layar itu mengikat penglihatanku, bergerak menguasai fokus mata ke mana pun aku menoleh.
Belum sempat otakku mencerna kepanikan ini, pendar warna biru pada kotak teks mendadak berkedip cepat sebelum berganti warna menjadi merah darah. Tulisan di dalamnya berubah menjadi deretan huruf kapital yang menyalakan sinyal bahaya.
[WARNING!]
[Dimension Shift Detected in Zone: Canteen A-12]
[Anomali Tingkat Rendah Memasuki Realitas!]
[Quest Darurat: Misi Awaken Pertama]
[Tujuan: Bertahan Hidup dari Serangan Monster Pertama atau ID Akun Anda Terhapus Permanen!]
[Waktu Tersisa: 00:59]
"Terhapus permanen? Maksudnya aku mati?!" teriakku histeris. Suaraku bergema memantul di antara patung-patung manusia yang membeku di sekelilingku.
CRACK!
Suara retakan nyaring memotong heningnya kantin. Sebuah garis vertikal sepanjang dua meter muncul melayang di udara. Garis itu tidak lurus, melainkan bergerigi dan patah-patah, persis seperti grafis game yang mengalami glitch parah atau piksel monitor yang rusak.
Dari dalam retakan berpendar keunguan itu, bau busuk menyerupai belerang dan daging terbakar menyeruak keluar, memenuhi udara kantin yang membeku.
Srrrtt... Srrttt...
Sebuah cakar raksasa berwarna hitam legam dengan permukaannya yang seperti retak-retak mengeluarkan cahaya merah, perlahan mencengkeram tepi retakan udara tersebut. Cakar itu memiliki empat jari panjang paling tajam, diselimuti oleh pendar piksel hitam yang terus terurai dan menyatu kembali secara tidak stabil.
Jantungku seperti berhenti berdetak. Seluruh sendi di tubuhku mendadak kaku saat melihat bagian kepala dari makhluk itu merayap keluar dari retakan dimensi.
Bentuknya menyerupai serigala tanpa kulit, tetapi ukurannya sebesar sapi dewasa. Tubuhnya terdiri dari gumpalan daging gelap yang dilapisi oleh armor berupa cangkang keras bergaris merah menyala. Yang paling mengerikan adalah bagian mukanya, tidak ada mata, hanya ada sebuah retakan lebar horizontal berisikan deretan gigi tajam yang meneteskan cairan korosif hitam. Di atas kepalanya, sebuah tulisan transparan berwarna merah melayang pelan:
[Monster: Glitched Crawling Hound (Level 3)]
[HP: 250 / 250]
[Status: Aggressive / Hunting Mode]
Makhluk itu memutar kepalanya yang tidak bermata ke kanan dan ke kiri. Tetesan cairan dari mulutnya jatuh menembus lantai semen kantin, memicu asap tipis dan lubang-lubang kecil berbau sangit.
Lalu, makhluk itu memiringkan kepalanya tepat ke arah tempatku berdiri.
Di matanya, atau lebih tepatnya di dalam persepsi indranya, hanya akulah satu-satunya objek yang memiliki warna, getaran, dan kehangatan di dalam dunia yang membeku ini.
ROAAARRR!
Raungan dahsyat yang membuat kaca-kaca jendela kantin bergetar merobek keheningan. Makhluk itu merendahkan badannya, otot-otot di kaki belakangnya mengencang, bersiap melompat menerjangku yang berdiri terpaku dengan napas memburu.
Angka di kotak teks merah di depan mataku terus menghitung mundur dengan kejam:
[Waktu Tersisa: 00:42]
Dunia yang kukenal sebagai rutinitas sekolah yang membosankan telah hancur dalam hitungan detik. Dan di hadapan monster yang keluar dari retakan realitas ini, aku menyadari satu hal: jika aku tidak bergerak sekarang juga, aku tidak akan pernah terbangun lagi.
Daftar bab
75 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








