
Aku Dewa Obat Dari Masa Lalu
Super Rich Man|Bersambung
- Jumlah kata
- 94.8K
- Popular
- 4.9K
- Subscribe
- 496
- Jumlah kata
- 94.8K
- Popular
- 4.9K
- Subscribe
- 496
Sinopsis
[Cerita 21+] [Ilmu Medis Kuno] [Keabadian] [Wanita Cantik] Setelah bermeditasi selama 100 tahun di sebuah gunung terpencil, Dika turun gunung untuk melihat seberapa maju ilmu pengobatan di zaman modern. Namun, penampilannya yang seperti pengemis membuat semua orang jijik padanya. Semua itu mulai berubah setelah Dika menyembuhkan seorang pasien yang oleh dokter-dokter profesional dinyatakan tidak memiliki harapan hidup lagi. Namanya mulai dikenal dan menarik perhatian para dokter, pengusaha, hingga orang-orang berbahaya. Dan bukan hanya itu, dia pun membuat wanita-wanita cantik yang semula meremehkannya jadi bertekuk-lutut padanya. Ilmu pengobatan dan wanita? Dika adalah rajanya!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
01. Terbangun Di Masa Depan
Desahan napas yang terengah-engah memecah keheningan kamar mewah. Cahaya lampu samar dari luar jendela memantulkan bayangan dua tubuh yang saling bertaut erat di atas ranjang.
"Dika! Dika, aku mohon! Jangan sekarang!" jerit Melisa melengking, air mata ketakutan dan keputusasaan yang sungguhan kini benar-benar menetes deras membasahi pipi gadis itu.
"Dika! Aku... aku mengaku salah! Aku meralat semua perkataanku tadi siang! Kamu tidak impoten!” seru Melisa melengking, matanya membelalak menatap Dika.
"Kata-kata saja tidak cukup untuk menghapus tuduhan sekeji itu, Melisa," bisik Dika tepat di samping leher Melisa, hembusan napas hangatnya membelai kulit halus gadis itu.
"Dika, pelan-pelan! A-aku... aku belum pernah—" ucap Melisa lirih, suaranya mendadak tenggelam dalam kepasrahan.
"Aaaah! Dikaaa!" jerit Melisa pasrah sembari memejamkan matanya erat-erat.
Melisa seorang gadis cantik kaya raya dengan rambut hitam panjang, serta ukuran buah dada E cup sedang mencengkeram erat bahu tegap Dika. Kulit Dika yang tampak halus berkeringat tipis, memancarkan aura kejantanan yang begitu memikat.
"Kenapa? Kamu sudah tidak kuat? Bukannya kamu bilang aku ini laki-laki impoten dan punya kemaluan kecil? Hem?"
Dika menatap mata Melisa yang sayu dan berkaca-kaca karena hasrat. Bagaikan aliran energi alam yang murni, setiap sentuhan dan dorongan dari tubuh Dika tidak hanya membakar gairah. Namun juga mengalirkan kehangatan ajaib yang menjangkau hingga ke sumsum tulang wanita itu.
"Dika... aah! Dika! Sudah... aku tidak kuat lagi!" jerit Melisa histeris. Seluruh syaraf di tubuhnya berguncang hebat.
Tiba-tiba, gelombang kenikmatan dahsyat menghantam kesadaran Melisa. Otot-otot area sensitifnya menjepit milik Dika dengan sangat ketat, dan tubuh mulusnya berguncang hebat saat ia mencapai pelepasan pertamanya.
"Aaahhhh!" Melisa melengkungkan punggungnya, mendesah keras sembari memejamkan mata rapat-rapat saat puncak kenikmatan menyapu bersih seluruh akal sehatnya.
Tak pernah ada yang menyangka mereka akan sampai pada titik ini, mengingat sebelumnya wanita itu memandang Dika seperti sampah busuk. Kisah mereka ini bermula pada suatu malam beberapa waktu yang lalu.
Saat itu suara gemuruh halus bergema dari dalam Goa Kemuning, disusul terangkatnya sebuah batu besar yang menutup mulut goa selama satu abad terakhir. Udara luar yang segar menyapu wajah seorang pemuda berparas rupawan dengan kulit seputih porselen dan mata bening bak telaga jernih.
"Rasanya seperti ada yang berbeda?"
Mahardika Kusuma atau orang-orang biasa memanggilnya Dika, menghela napas panjang. Udara yang dihirupnya kini terasa berbeda, tidak seperti seratus tahun lalu, dan memiliki aroma aneh yang sulit ia kenali.
Dika menatap telapak tangannya. Meskipun usianya di atas kertas telah melampaui 800 tahun sejak era kerajaan-kerajaan kuno Nusantara. Penampilannya tidak berubah sedikit pun. Ia tetap terlihat seperti pemuda berusia dua puluh tahun awal. Sebagai seorang ahli pengobatan legendaris yang memadukan teknik penyembuhan kuno dan pemurnian energi alam, tubuhnya telah mencapai taraf keabadian fisik.
"Mungkinkah, sudah seratus tahun?" gumam Dika pelan. Suaranya terdengar merdu, dan bergema tenang.
"Pertapaan kali ini terasa begitu cepat. Aku penasaran bagaimana keadaan dunia di bawah sana. Terakhir kali aku turun gunung pada tahun 1920an kalau tidak salah, orang-orang sudah menggunakan mobil dan menggunakan lampu listrik."
Ia memandangi pakaian yang melekat di tubuhnya. Jubah kain tenun tradisional berwarna gelap yang ia kenakan kini sudah sangat lusuh, berdebu tebal, dan di beberapa bagian tampak terkoyak akibat lapuk dimakan waktu. Namun, Dika tidak terlalu memikirkannya. Baginya, pakaian hanyalah pelindung dari dingin.
Dengan langkah santai, Dika berjalan menyusuri jalan setapak menuruni bukit. Ia mencari tumpangan, agar bisa pergi ke pusat kota.
Setelah mendapat tumpangan dari warga sekitar yang hendak ke kota, Dika merasa semakin lama semua tampak semakin berbeda. Hingga akhirnya, Dika menapakkan kakinya di kota yang penuh dengan gedung-gedung bertingkat.
"Apa itu?" Dika menghentikan langkahnya tepat di tepi jalan raya beraspal mulus.
Mata jernihnya melotot tak percaya. Di hadapannya, mobil-mobil meluncur cepat. Bentuknya meliuk aerodinamis, sebagian besar berjalan tanpa suara raungan mesin. Sesuatu yang benar-benar berbeda dari mobil-mobil yang pernah ia lihat seratus tahun lalu.
"Dulu sepertinya mobil tidak seperti ini bentuknya?"
Singkat cerita, Dika mendapat tumpangan untuk pergi ke kota. Orang yang memberi tumpangan pada Dika tidak banyak bertanya, dan hanya merasa kasihan.
Beberapa saat kemudian, di depan mata Dika menjulang gedung-gedung pencakar langit terbuat dari kaca dan baja, menembus awan. Dinding-dinding gedung itu memancarkan gambar bergerak raksasa dengan warna-warna menyala yang menyilaukan mata.
"Tahun berapa ini sebenarnya? Lupa tadi tidak nanya," gumam Dika penuh rasa kagum. Ia mengedarkan pandangan, merasa sangat asing di tanah kelahirannya sendiri.
Dika terus berjalan menyusuri trotoar pusat kota. Ia tampak seperti benda purba yang tiba-tiba terlempar ke era futuristik 2026. Langkahnya pelan, matanya menengadah menatap papan iklan digital bertuliskan Jakarta Smart City 2026.
"Dua ribu dua puluh enam?" gumam Dika pada dirinya sendiri. "Artinya aku sudah bermeditasi selama seratus tahun. Luar biasa. Manusia zaman ini bisa menciptakan istana dari kaca dan burung besi tanpa nyawa."
Namun, di tengah rasa takjubnya, Dika tidak menyadari bahwa penampilannya menarik perhatian banyak orang di sepanjang trotoar. Dengan jubah robek-robek berdebu, rambut hitam panjang yang terurai sepinggang, dan kaki beralaskan sandal kulit tua yang hampir putus, ia menonjol bagaikan noda di atas kain putih.
"Ih, bau banget! Baju apaan tuh?" celetuk seorang wanita muda berkacamata hitam yang melintas di sampingnya sambil menutupi hidung.
"Cosplay gembel atau gimana, sih? Zaman sekarang makin banyak orang aneh," timpal pria di sebelahnya sambil mengarahkan benda tipis berkilau ke arah Dika.
Dika menghentikan langkahnya ketika mendengar bisik-bisik dan cemoohan di sekitarnya. Beberapa anak muda tampak tertawa sambil mengarahkan ponsel pintar ke wajahnya.
"Liat tuh, mukanya padahal ganteng banget kayak artis Korea, tapi bajunya kayak baru ditarik dari tong sampah!"
"Palingan pengemis gaya baru buat konten social experiment. Jangan dikasih uang, Bro!"
"Gila ya, zaman 2026 gini masih ada yang keluyuran pake baju gembel era kolonial begitu?"
Dika mendengarkan semua kata-kata itu dengan telinga tajamnya. Bukannya marah, ia justru merasa bingung. Dalam ingatannya, orang-orang zaman dahulu selalu menyambutnya dengan hormat, menundukkan kepala saat mengetahui siapa dirinya. Kini, ia hanya dianggap sebagai pengemis gila.
"Nak," sapa Dika ramah kepada seorang pria berjas rapi yang sedang berdiri di depan sebuah kedai kopi modern.
Pria berjas itu menoleh dengan raut wajah jijik, langsung mundur dua langkah. "Heh! Mau ngapain kamu? Mau minta uang? Pergi-pergi! Nanti pelanggan kami kabur semua gara-gara liat gembel kayak kamu nongkrong di sini!"
Dika menatap pria itu dengan pandangan polos. "Saya tidak meminta uang, Nak. Saya hanya ingin bertanya, tempat apa ini? Dan mengapa tempat ini begitu terang padahal matahari masih ada?"
Pria berjas itu terperangah, lalu tertawa dengan nada mengejek. "Nak? Kamu manggil saya, Nak? Muka kamu aja masih kayak bocah belasan tahun gitu, sok-sokan manggil saya, Nak! Lagian kamu ini pura-pura gila, ya?"
"Saya sungguh-sungguh bertanya!" ucap Dika, yakin.
"Udah-udah! Jangan bikin malu di depan toko kami! Nih, ambil uang sepuluh ribu terus pergi jauh-jauh!" bentak pria itu sambil melemparkan selembar uang kertas ke tanah di depan kaki Dika.
Dika memandangi lembaran uang berwarna ungu itu. Gambar tokoh pahlawan di uang tersebut terlihat asing baginya. Ia tidak menyentuh uang itu sama sekali, melainkan menatap sang pemilik kedai dengan tenang.
"Terima kasih atas niat baikmu, Nak. Tapi saya tidak membutuhkan ini. Saya hanya merasa asing dengan tempat ini," ujar Dika lembut.
Tak lama kemudian, seorang petugas keamanan berseragam hitam-hitam dengan tongkat di pinggangnya mendekat dengan langkah tegap. Matanya menatap Dika dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh selidik.
"Ada apa ini? Ada keributan apa?" tanya petugas keamanan itu tegas.
Pria berjas langsung menunjuk Dika. "Ini nih, Pak Satpam! Ada orang gila atau pengemis ngaco yang ganggu pemandangan cafe saya. Dari tadi ngomongnya aneh-aneh mulu kayak orang zaman dulu. Usir aja, Pak! Malu-maluin kawasan modern kayak gini ada gembel keluyuran."
Petugas keamanan itu memegang pundak Dika atau setidaknya mencoba, sebelum ia merasa ada dorongan energi halus yang tak terlihat membuat tangannya tergelincir begitu saja dari bahu Dika. Petugas itu tertegun sejenak, tetapi segera menutupi rasa terkejutnya dengan bentakan.
"Mas, tolong tinggalkan area ini sekarang juga! Kawasan pedestrian ini khusus untuk pejalan kaki yang tertib. Kalau Mas mau mengemis atau bikin konten, bukan di sini tempatnya!" tegas petugas tersebut.
Dika menarik napas panjang. Ia sadar, penampilannya saat ini memang sangat tidak sesuai dengan zaman yang sudah berubah pesat ini. Melawan atau memperpanjang perdebatan dengan orang-orang ini hanya akan membuang energi dan menyalahi prinsip kehidupannya yang tenang.
"Baiklah," ucap Dika sambil membungkukkan badannya sedikit dengan sopan. "Maaf jika kehadiran saya mengganggu kenyamanan kalian."
"Halah, sok sopan! Pergi sana!" seru pemilik kedai kopi.
Dika membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri trotoar. Kerumunan orang yang tadi memperhatikan mulai membubarkan diri, masih dengan gumaman ejekan dan tawa samar.
Saat berjalan menembus hiruk-pikuk kota yang dipenuhi kilatan cahaya LED dan suara kendaraan, Dika mengamati refleksinya di sebuah dinding kaca toko pakaian mewah. Di dalam kaca itu, tampak seorang pemuda tampan bersinar dengan jubah robek-robek penuh debu.
Dika tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh makna yang menyimpan kearifan delapan ratus tahun.
"Dunia memang sudah berubah sangat jauh, teknologi mereka begitu maju, tapi jiwa dan tata krama mereka tampaknya makin tergerus."
Dika memegang simpul kecil di dalam jubahnya, tempat ia menyimpan beberapa botol pualam berisi pil-pil obat racikan tingkat tinggi yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit mematikan. Sisa dari karya terbesarnya sebelum ia masuk ke dalam goa.
"Di mana ada manusia, di sana pasti ada penyakit dan rasa sakit. Mari kita lihat, sejauh apa ilmu pengobatan zaman baru ini dibandingkan dengan apa yang aku miliki."
Saat ini, langit cukup cerah saat Dika menyusuri trotoar kota yang mulai dipadati pejalan kaki. Tanpa ada angin tanpa ada hujan, sebuah bayangan melintas cepat dari arah samping.
Seorang wanita berparas jelita dengan pakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Termasuk ukuran dada E cup yang begitu kentara tiba-tiba tersandung tumit sepatunya sendiri.
"Awas!" refleks Dika menjerit kecil.
Tubuh wanita itu hilang keseimbangan dan meluncur tepat ke arah Dika. Dalam hitungan detik, insting Dika bergerak murni untuk menolong. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar demi menahan tubuh wanita itu agar tidak terjerembap keras ke atas trotoar yang dingin.
Greb!
Benturan tak terelakkan. Dika berhasil menangkap tubuh sang wanita, tetapi posisi tangannya justru mendarat di area yang sama sekali tidak ia duga. Jemari tangan Dika refleks mencengkeram erat dua bongkahan empuk di dada wanita itu demi menahan bobot tubuh mereka berdua agar tidak roboh bersama.
Suasana trotoar mendadak hening seketika. Sensasi keempukan yang tak asing itu membuat Dika membeku, sementara sang wanita membelalakkan matanya yang jernih, menyadari sepenuhnya di mana jemari Dika bertengger.
Sensasi panas menjalar cepat ke pipi wanita itu sebelum akhirnya suara jeritan melengking memecah keramaian kota.
"Kyaaah! Dasar cabul!" pekik wanita itu sambil mendorong dada Dika sekuat tenaga. Ia berdiri memegangi dadanya sendiri, mukanya merah padam antara malu dan marah.
Daftar bab
82 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








