Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Pengembalian 10X Lipat

Sistem Pengembalian 10X Lipat

Ansop | Bersambung
Jumlah kata
230.8K
Popular
10.2K
Subscribe
223
Novel / Sistem Pengembalian 10X Lipat
Sistem Pengembalian 10X Lipat

Sistem Pengembalian 10X Lipat

Ansop| Bersambung
Jumlah Kata
230.8K
Popular
10.2K
Subscribe
223
Sinopsis
FantasiFantasi TimurSilatPedangDewa
Candra terlahir kembali ke dunia ilmu silat Nusantara sebulan yang lalu. Tanpa pembimbing dan kekuatan istimewa, ia terpaksa menjalani hidup sepi di sebuah dusun terpencil di kaki pegunungan belantara. Suatu hari, seorang pemuda yang hanya setingkat Pendekar Tingkat Tiga, yang baru saja ditinggalkan dalam perjanjian pertunangan, tersesat hingga ke tempat tinggalnya.Jaka Samudra salah mengira Candra sebagai seorang guru sakti yang tak tertandingi, dan bersikeras ingin menjadi muridnya, tak mau pergi meski ditolak. Awalnya Candra berniat menolak, namun Sistem tiba tiba aktif,bila menerima Jaka sebagai murid. Maka, dengan santai ia merancang sendiri sebuah pelatihan keabadian yang biasa dia baca di zaman modern, lalu memberitahu Jaka bahwa inilah jalan menuju keabadian, sambil diam-diam bersiap untuk pergi menjauh setelahnya. Namun tiba-tiba, sebuah suara bergema jelas di dalam benaknya: "Ding! Muridmu Jaka Samudra telah menguasai ajaran yang kau susun. Kau menerima hadiah pengalian sepuluh kali lipat kekuatan, dan telah menembus ke tingkat tertinggi Pemurnian Tenaga Dalam!"  
Bab 1: Dia Disangka Sebagai Petapa yang Menyendiri Sejak Awal!? Ta

Di tanah Sabuk SelatanTerhampar di ujung benua, deretan gunung berapi dan bukit yang tak terhitung jumlahnya saling berangkulan, membentuk benteng alami yang melingkungi seluruh wilayah ini. Seperti sebuah pulau raksasa yang terpisah dari dunia luar, wilayah ini berdiri kokoh.

Itulah sebabnya tanah ini disebut Tanah Sabuk Selatan. Tidak ada yang tahu apa yang ada di seberang rangkaian gunung yang berkabut itu. Tak ada satu pun orang yang berhasil menembus tembok alam tersebut untuk melihat apa yang tersembunyi di baliknya.

Bagi penduduk yang tinggal di sini, dunia yang terbentang di antara ribuan gunung ini adalah satu-satunya dunia yang mereka miliki. Di hamparan tanah yang luas ini, berdiri Lima Kerajaan Besar: Kerajaan Mataram Agung, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Sunda, Kerajaan Makassar, dan Kerajaan Ternate.

Kelima kerajaan ini memerintah bersama-sama, menjadi penguasa mutlak yang memegang kendali atas hidup dan mati seluruh makhluk. Bagai lima puncak gunung suci, kekuasaan mereka menjulang tinggi dan tak tergoyahkan. Bahkan pendekar terhebat sekalipun tak pernah mampu mengguncang kedudukan mereka.

Selain kekuatan kerajaan, Tanah Sabuk Selatan juga dihuni oleh berbagai Keluarga dan Perguruan Silat. Banyak pendekar yang berlatih sesuai aturan yang ditetapkan oleh para penguasa dan para guru besar.

Tingkatan kemampuan bela diri di sini dibagi menjadi tujuh jenjang, dari yang paling rendah hingga paling tinggi:Pendekar Tingkat Tiga,PendekarTingkat Dua,Pendekar Tingkat Satu , Pendekar Sejati, Pendeta, dan Pendeta Agung. Hierarki ini sangat tegas dan sulit untuk dilompati.

Seorang pendekar tingkat Pemula atau Murid dianggap setara rakyat biasa. Kebanyakan dari mereka hanya bisa bekerja sebagai pengawal kafilah atau petugas keamanan desa, melakukan pekerjaan berat dan berisiko.

Sedangkan Pendeta Agung berada di puncak kemampuan. Kedudukan mereka sangat istimewa, dihormati oleh rakyat jelata, bahkan Raja, Bangsawan, dan Pemimpin Padekan pun menyambut mereka dengan penuh penghormatan, berusaha mengundang mereka sebagai penasihat utama.

Jarak antara keduanya bagaikan langit dan bumi.

"Itulah sebabnya setiap pendekar berjuang mati-matian untuk naik tingkatan," gumam seseorang.

"Hhh..."

Candra menghela napas panjang, merasa bosan membaca catatan yang sama berulang kali.

Di wilayah Kerajaan Sunda, di jalur perdagangan dekat Kota Donggala, terdapat hutan jati yang lebat dan purba. Hutan ini sangat dikenal oleh penduduk setempat sebagai tempat yang angker.

Pepohonan tinggi menjulang menutupi cahaya matahari, mengelilingi seluruh sisi Kota Donggala. Binatang buas seperti harimau belang, beruang, dan babi hutan besar sering berkeliaran di pinggirannya, membuat orang biasa tak berani mendekat. Bahkan pendekar tingkat Pemula pun hanya berani masuk ke bagian paling luar, tak pernah berani melangkah lebih dalam.

Karena itu, hutan ini sudah lama ditinggalkan dan dianggap sebagai kawasan terlarang.

Namun, jauh di dalam kedalaman hutan yang sunyi itu, berdiri sebuah gubuk sederhana berbahan kayu dan daun rumbia.

Di dalamnya, seorang pemuda duduk bersila di atas tikar pandan, membolak-balik lembaran lontar yang tersedia. Candra menutup lembaran itu, menghela napas, lalu melangkah keluar.

Ia memandang sekeliling hutan yang rimbun, tatapannya penuh kebingungan. Sebulan yang lalu, ia tiba-tiba datang ke dunia ini, dan terbangun tepat di tengah hutan yang sunyi ini.

Hutan ini penuh bahaya. Harimau belang, macan dahan, dan kawanan anjing hutan terus mengintai. Terutama saat malam tiba, sepasang mata yang bercahaya tampak berkilauan di balik kegelapan. Jika ia tidak pandai menjaga diri, mungkin sudah lama ia menjadi santapan binatang buas.

Namun ada keberuntungan di balik kesulitan itu. Saat melarikan diri, Candra menemukan gubuk tua ini, terlindungi oleh pohon-pohon besar. Tempat ini sangat tersembunyi dan aman.

Awalnya tinggal di sini cukup nyaman. Tidak ada binatang yang berani mendekat, dan ia bisa memenuhi perutnya dengan berburu rusa atau burung merak.

Tapi...

Mata Candra menelusuri semak belukar di depannya dengan hati-hati. Meskipun tampak tenang, ia tahu bahwa bahaya mengintai di balik setiap bayangan. Jika ia melangkah sembarangan, nyawanya bisa melayang seketika.

Candra menopang dagu, ragu-ragu. Ia berjalan mondar-mandir dengan gelisah.

"Haruskah aku mengambil risiko?"

"Apakah aku harus selamanya terkurung di sini menunggu ajal?"

Tempat ini aman, tapi sunyi senyap. Tak ada siapa-siapa untuk diajak bicara. Bagi pemuda yang jiwanya berasal dari dunia yang ramai, kesepian ini sungguh berat.

Belum lagi masalah makanan. Berburu tidak selalu berhasil. Jika hanya menunggu, ia pasti akan kelaparan!

Saat ia sedang berpikir keras, ia tak menyadari ada sosok yang perlahan mendekat dari balik pepohonan.

Pemuda itu menelan ludah, matanya waspada ke kiri dan kanan. Sambil berjalan masuk lebih dalam, ia bergumam seolah menyemangati diri sendiri:

"Di catatan kuno tertulis, para Petapa atau Guru Besar yang menyendiri suka tinggal di tempat yang sunyi dan angker."

"Di tempat mereka tinggal, binatang buas tak berani mendekat, dan roh jahat pun tak berani mengganggu..."

"Kalau aku bisa menemukan salah satu dari mereka..."

Ucapannya terhenti tiba-tiba. Matanya berbinar penuh sukacita!

Di kejauhan, di tengah hutan yang lebat, berdiri sebuah gubuk kecil yang rapi.

Lalu pandangannya turun ke bawah. Ia menahan napas karena takjub:

"Ketemu!"

Di depan gubuk itu, berdiri seorang pemuda berpakaian sederhana dari kain tenun berwarna abu-abu, mengenakan sandal dari kulit kayu. Ia berdiri dengan tangan di belakang punggung, memandang awan yang bergerak. Wajahnya tenang dan damai, bagaikan pohon beringin tua yang tak tergoyahkan badai.

Pemuda itu segera mengeluarkan sebuah buku kuno yang sampulnya sudah menguning dari ikat pinggangnya. Jari-jarinya gemetar membukanya, lalu ia membandingkan tulisan di sana dengan pemandangan di depannya:

"Tinggal sendiri di tengah hutan purba, berpakaian sederhana, jauh dari keramaian, namun memiliki kekuatan yang melindungi sekitarnya."

"Ini dia! Ini dia seorang Petapa yang menyendiri!"

Petapa yang hidup terasing, menjauh dari urusan dunia, namun memiliki kekuatan besar. Di sekelilingnya tak ada satu pun binatang buas yang berani mengganggu. Semua cocok dengan deskripsi di buku itu!

Buku itu tidak bohong! Benar-benar ada orang sehebat ini!

Matanya berkilau penuh semangat. Tanpa ragu sedikit pun, ia melempar bukunya ke tanah. Rasa takutnya hilang seketika, seolah lupa bahwa ia berada di tempat paling berbahaya.

Tanpa rasa gentar, ia berlari kecil mendekat. Sebelum pemuda itu berbalik, ia langsung berlutut dengan hormat, matanya berbinar:

"Namaku Jaka, putra Bupati Kota Donggala!"

"Jaka memberi hormat kepada Guru Besar, dan dengan rendah hati memohon agar Guru sudi menerima saya sebagai murid!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca