

Rasa anyir darah langsung memenuhi rongga mulut Raka Dirgantara.
Kepalanya membentur lantai beton yang dingin dengan suara hantaman keras. Pemandangannya berputar, kabur oleh campuran keringat dan air mata yang tertahan.
"Tanda tangani suratnya, Raka. Jangan membuatku membuang waktu berhargaku."
Suara berat dan penuh arogansi itu menggema di dalam gudang olahraga sekolah yang terbengkalai. Aroma debu tebal dan lumut kering menusuk hidung Raka setiap kali dia mencoba menarik napas.
Raka terbatuk hebat. Dia mencoba menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat.
Namun, sebuah sepatu pantofel hitam mengkilap menginjak punggung tangannya dengan kejam. Terdengar bunyi gemeretak tulang yang mengerikan.
"Argh!" Raka mengertakkan gigi, menahan jeritan yang hampir pecah dari tenggorokannya.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pergelangan tangan hingga ke bahunya. Otot-ototnya menegang ekstrem, merespons siksaan fisik yang sudah berlangsung selama hampir setengah jam.
Pemilik sepatu itu adalah Bima. Anak dari donatur terbesar SMA Garuda, sekaligus penguasa tak resmi di sekolah elit ini.
Di belakang Bima, tiga orang anak buahnya tertawa merendahkan. Suara tawa mereka terdengar seperti dengungan lalat bangkai di telinga Raka.
"Keluargamu sudah hancur, Raka. Ayahmu mati meninggalkan utang, dan ibumu sedang sekarat di rumah sakit." Bima berjongkok, menarik rambut Raka hingga wajah pemuda itu terangkat paksa.
Mata Bima menatap Raka dengan kilat kebencian bercampur kepuasan. "Serahkan sertifikat tanah kedai tua milik keluargamu itu. Atau besok, adik perempuanmu yang manis itu tidak akan pernah sampai ke sekolahnya dengan selamat."
Mendengar ancaman itu, jantung Raka seakan berhenti berdetak sesaat. Darahnya yang semula terasa dingin, kini mendidih hebat.
Adiknya, Maya, adalah satu-satunya alasan Raka masih bertahan hidup dan menelan semua penghinaan ini setiap hari. Bima baru saja menyentuh garis batas mutlak yang tidak boleh dilewati siapa pun.
"Jangan pernah..." Raka berbisik parau. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, membasahi kerah seragamnya yang sudah sobek.
"Apa? Aku tidak dengar. Kau mau melawan?" Bima tersenyum miring. Dia memberi kode dengan gerakan kepala ke arah anak buahnya.
Detik berikutnya, sebuah tendangan keras menghantam tulang rusuk Raka dari samping. Udara di dalam paru-parunya terpaksa keluar seketika.
Raka terpental sejauh dua meter. Tubuhnya menabrak tumpukan matras bekas hingga debu pekat beterbangan ke udara.
Napasnya tertahan. Dadanya terasa seperti dihimpit batu raksasa.
Setiap kali dia mencoba bernapas, rasa sakit yang tajam seperti tusukan jarum menembus dadanya. Kemungkinan besar ada satu atau dua tulang rusuknya yang retak.
Ini sungguh tidak adil. Pikiran Raka menjerit dalam diam.
Dia selalu bekerja keras, belajar hingga larut malam, dan mengambil tiga pekerjaan paruh waktu hanya untuk menebus obat ibunya. Mengapa dunia begitu kejam pada orang miskin yang tidak punya kekuasaan?
"Habisi dia sampai dia tidak bisa jalan. Nanti biar aku yang paksa adiknya untuk menandatangani surat itu malam ini." Suara Bima terdengar sayup-sayup, seolah datang dari lorong yang sangat panjang.
Tiga bayangan besar mulai mendekati Raka. Langkah kaki mereka terdengar seperti ketukan palu kematian di telinga pemuda yang sudah sekarat itu.
Raka menatap langit-langit gudang yang bocor. Cahaya matahari sore yang redup masuk melalui celah atap, menyinari wajahnya yang babak belur.
Apakah ini akhirnya? Apakah dia harus mati di tempat kotor ini sebagai pecundang?
Rasa putus asa yang gelap mulai menelan kesadarannya. Rasa sakit di tubuhnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa dingin yang mematikan di ujung jari-jarinya.
Tiba-tiba, saat kesadaran Raka berada di titik paling kritis, dunia seakan berhenti berputar.
Suara tawa anak buah Bima menghilang. Suara angin yang berhembus melalui celah jendela terhenti total. Bahkan debu yang melayang di udara tampak membeku di tempatnya.
Suhu di dalam gudang anjlok drastis. Raka merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulangnya.
Di tengah keheningan absolut itu, sebuah suara mekanis yang tidak memiliki emosi bergema langsung di dalam otaknya. Suara itu begitu jernih, mengalahkan rasa sakit yang menderanya.
[Kondisi Inang telah mencapai titik kritis kematian.]
[Detak jantung di bawah ambang batas minimal. Kerusakan organ dalam mencapai tingkat yang fatal.]
Raka melebarkan matanya. Halusinasi macam apa ini? Apakah malaikat maut menggunakan suara robot sekarang?
[Memindai gelombang otak... Mendeteksi kebencian ekstrem, keputusasaan mendalam, dan tekad bertahan hidup yang meluap.]
[Kriteria terpenuhi. Inisiasi Sinkronisasi Jiwa dimulai.]
Sebuah layar transparan berwarna biru neon tiba-tiba muncul tepat di depan wajah Raka. Cahayanya berpendar lembut, mengusir kegelapan di sudut pandangnya.
Raka mencoba berkedip, tetapi layar itu tetap ada di sana. Layar itu bahkan mengikuti arah pandangan matanya.
[Selamat datang di Sistem Dominasi Absolut.]
[Apakah Anda ingin menolak takdir sebagai pecundang dan mengambil alih kendali atas dunia ini?]
[Peringatan: Menolak penawaran ini berarti kematian instan dalam waktu tiga puluh detik.]
Tangan Raka yang gemetar perlahan mengepal keras. Kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangannya sendiri hingga berdarah.
Pecundang? Kematian? Jangan bercanda. Dia tidak akan membiarkan Maya hidup sendirian di dunia yang memuakkan ini.
Bahkan jika dia harus menjual jiwanya kepada iblis sekalipun, dia akan melakukannya. Selama dia bisa menghancurkan orang-orang yang menginjak keluarganya.
"Aku... terima," bisik Raka dalam batinnya dengan sisa tenaga terakhir.
[Konfirmasi diterima. Menautkan Sistem ke dalam jiwa Inang.]
Saat kalimat itu muncul di layar, sebuah aliran energi yang luar biasa panas meledak dari pusat dada Raka. Energi itu menyebar ke seluruh pembuluh darahnya seperti aliran lahar gunung berapi.
Rasa sakit akibat patah tulang menghilang dalam sekejap. Sel-sel di tubuhnya seakan dihancurkan dan dirajut kembali dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
[Sinkronisasi berhasil. Level Inang saat ini: 1.]
[Mendeteksi luka fatal pada tubuh Inang. Memulai protokol pemulihan darurat.]
Cahaya biru samar menyelimuti tubuh Raka. Bima dan ketiga anak buahnya tiba-tiba terdiam, langkah mereka terhenti oleh fenomena aneh yang terjadi di depan mata mereka.
"Bos... apa itu? Kenapa badannya bersinar?" Salah satu anak buah Bima menunjuk dengan jari gemetar.
Bima mengerutkan kening tajam. Jantungnya entah mengapa berdetak lebih cepat. Naluri primalnya memperingatkan adanya bahaya yang mengancam nyawa.
"Jangan banyak tanya! Cepat injak kepalanya!" teriak Bima panik, berusaha menutupi ketakutan yang tiba-tiba menyergap hatinya.
Namun, sebelum ada yang sempat bergerak, cahaya biru itu meredup.
Dari balik tumpukan matras bekas itu, Raka perlahan bangkit berdiri. Gerakannya tidak lagi gontai atau lemah seperti sebelumnya.
Punggungnya tegak lurus. Otot-otot di balik seragamnya yang sobek tampak sedikit lebih padat dan kokoh.
Raka menunduk, menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan tidak percaya. Dia mengepalkan dan membuka tangannya berulang kali.
Kekuatan ini... sangat nyata. Dia bisa merasakan energi murni mengalir di setiap serat ototnya.
[Sistem Dominasi Absolut telah aktif.]
[Menghadiahkan Inang: Paket Pemula Pembalasan Dendam.]
[Apakah Inang ingin membuka Paket Pemula sekarang?]
Sudut bibir Raka perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang sangat dingin dan asing. Senyuman yang tidak pernah dia tunjukkan selama hidupnya sebagai siswa penurut.
Waktu untuk menjadi mangsa sudah habis. Sekarang, giliran dia yang menjadi predator.
"Buka," perintah Raka di dalam kepalanya.