

Kabut tipis menyelimuti jalan setapak yang membelah hutan di kaki Gunung Kematian.
Langkah kaki Raka Vardhan terdengar pelan di antara dedaunan kering. Angin gunung berhembus lembut, membawa aroma tanah lembap yang sudah terlalu lama ia kenal.
Sepuluh tahun lamanya ia hidup di wilayah terlarang itu. Gunung Kematian bukan hanya tempat tinggalnya selama ini. Itu adalah penjara alam untuknya.
Namun kini 'penjara' itu telah terbuka.
Raka berjalan tanpa menoleh ke belakang. Jalan setapak yang ia lalui perlahan berubah menjadi jalur batu kuno yang hampir tertutup lumut.
Di ujung jalan itu berdiri sesuatu yang tak terlihat oleh mata orang biasa.
Sebuah array ilusi raksasa.
Array tersebut membentang seperti tirai tak kasat mata yang memisahkan dua dunia:
Dunia cultivator… dan dunia manusia biasa.
Raka berhenti beberapa langkah di depan batas itu. Matanya yang berwarna emas kemerahan menatap lurus ke depan.
Di permukaan udara yang tampak kosong, gelombang tipis energi spiritual bergetar pelan seperti permukaan air.
Array itu sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Para cultivator membangun penghalang itu untuk memastikan dunia manusia tidak mengetahui keberadaan mereka.
Raka mengangkat tangan kanannya.
Ujung jarinya menyentuh udara kosong di depannya. Sekejap kemudian, permukaan ilusi itu beriak, seperti kain tipis yang tersentuh angin.
"Masih sama seperti dulu," gumamnya pelan sambil mengingat waktu dulu ia datang.
Tanpa ragu, ia melangkah maju.
Tubuhnya menembus array tersebut.
Sesaat, dunia di sekitarnya berubah.
Kabut energi spiritual yang biasanya menyelimuti Gunung Kematian menghilang.
Energi alam terasa berbeda.
Lebih tipis.
Lebih... biasa.
Beberapa detik kemudian, pemandangan baru terbentang di hadapan Raka.
Di kejauhan tampak jalan aspal yang ramai dilalui orang-orang. Perumahan berdempet seperti orang berdesakan, tampak pula bangunan gedung yang tinggi menjulang seperti menggapai langit.
Raka menatap ke arah barat, di mana sebuah desa terdekat berada. Tampak olehnya gerobak kayu yang ditarik sapi bergerak perlahan, pedagang berjalan membawa barang dagangan, dan suara manusia berbicara terdengar jelas.
Meski jaraknya dua kilometer dari posisinya, semua itu dapat terdengar dan terlihat jelas olehnya.
Bau makanan dari warung-warung kecil terbawa angin, mulai merasuki indra penciumannya.
Raka berdiri di tepi hutan, memperhatikan semuanya dari kejauhan dengan tenang.
"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihat kehidupan seperti ini."
"Tanpa aura kultivasi, tanpa tekanan energi spiritual. Hanya manusia biasa yang menjalani hidup mereka dengan 'sederhana'."
Ia berjalan keluar dari hutan dan memasuki jalan berbatu menuju desa kecil itu. Tak lama kemudian, ia mencapai jalan utama.
Tak lama, sebuah kendaraan dengan bak terbuka yang membawa belasan ekor kambing melintas. Kendaraan yang dikendarai pria tua itu berhenti tepat di depannya.
"Anak muda, butuh tumpangan ke kota?" ujar sang pria tua dengan ramah.
Raka mengangguk mengiyakan.
Melihat sang pria tua pergi bersama dengan tiga orang cucunya, Raka akhirnya menumpang di belakang, duduk di antara kawanan domba berbulu lebat tersebut.
Sang pria tua menoleh ke belakang. Ia melihat penampilan Raka yang hanya memakai kaos tangan pendek, celana jeans usang, serta menggendong sebuah tas lusuh dan datang dari pegunungan, sehingga ia menebak kondisi Raka.
"Anak muda, mau mencari pekerjaan di kota?" tanyanya hati-hati.
"Kurang lebih seperti itu," jawab Raka dengan sopan.
Sang pria tua tersenyum pada Raka.
"Tubuhmu berisi dan terlihat kuat, sangat khas pemuda dari desa. Dengan tubuhmu yang terlihat gagah, pastinya tidak akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan bangunan di kota."
Sang pria tua kembali fokus menatap ke depan sambil menjalankan kendaraannya.
"Apa kau memiliki kenalan di kota?" tanyanya tanpa menoleh pada Raka.
"Ada, namun sudah lama aku tidak bertemu dengannya," jawab Raka.
Sang pria mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Itu lebih bagus. Tanpa kenalan akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan, meski memiliki kemampuan dan kekuatan," ujarnya penuh arti.
Raka tentu paham maksud perkataannya. Secara tidak langsung, sang pria tua sedang memberitahunya situasi rumit dan kerasnya hidup di perkotaan.
Perbincangan ringan pun terjadi di antara mereka, yang membuat suasana semakin cair dan mengakrabkan keduanya.
Sang pria tua, Rustam, kembali akan berkata, namun tiba-tiba sebuah sedan berkecepatan tinggi melesat dari belakang lalu menyusul dari samping kanan, yang membuat sang pria tua terkejut sehingga menginjak rem dengan kuat.
Raka menatap ke arah depan. Tampak olehnya sedan mewah berwarna merah dengan lambang kuda jingkrak tersebut berada di jalur kanan dan berhadapan langsung dengan sebuah kendaraan sedan hitam yang datang dari arah berlawanan.
Dengan kecepatan tinggi, sedan merah itu tentunya akan sulit menghindari tabrakan dengan sedan hitam di depannya.
Ckiiit… duaakk.
Pengemudi sedan merah membanting setir ke kiri untuk menghindari tabrakan. Meski pengemudi kendaraan sedan merah berhasil menghindari tabrakan besar, namun tindakan manuvernya itu membuat sedan hitam kehilangan kendali.
Sedan merah berputar beberapa kali di jalan dan baru berhenti dengan posisi kendaraan melintang di tengah jalan, sedangkan sedan hitam yang terpental ke bahu jalan menabrak pembatas jalan lalu terguling setelahnya. Kendaraan sedan hitam yang dalam posisi terguling itu tepat berada di samping kendaraan sang pria tua.
Raka yang melihat kejadian itu tanpa ragu turun dari kendaraan untuk memberikan pertolongan.
Sedan hitam yang dalam kondisi terbalik itu tampak ringsek di bagian depan dan sisinya.
Raka berjongkok untuk melihat kondisi di dalam mobil yang terbalik. Tampak olehnya seorang wanita dan seorang balita berusia tiga tahunan berada di dalamnya.
Keduanya terlihat selamat karena terlindung oleh sabuk pengaman yang dikenakan. Hanya ada beberapa luka kecil di area pelipis serta tangan dan kaki sang wanita, meski begitu keduanya terlihat tak sadarkan diri.
"Anak muda, cepat keluarkan mereka!" seru sang pria tua dengan nada khawatir sambil menunjuk ke satu arah.
Raka menoleh ke arah yang ditunjuk sang pria tua. Percikan api mulai muncul di dekat tangki bahan bakar.
"Tuan tua, menjauhlah!" tegas Raka dengan cepat.
Rustam segera menjalankan kendaraannya untuk menjauh dari area tersebut.
Di saat bersamaan, Raka melihat mobil sedan merah yang dalam posisi melintang di tengah jalan mulai melaju dan meninggalkan tempat kejadian.
"Langsung kabur setelah membuat orang lain celaka," ucapnya dingin.
Melihat situasi yang sepi, segera Raka mengambil tindakan. Pintu kendaraan yang rusak dan ringsek itu ditarik olehnya.
Pintu terbuka.
Ia segera melepaskan sabuk pengaman sang wanita, lalu menarik wanita tersebut dari kursi pengemudi.
Ia kemudian membopong sang wanita dan membaringkannya di area bahu jalan yang aman.
Segera ia kembali ke kendaraan untuk menyelamatkan gadis kecil yang ada di kursi penumpang.
Pintu kendaraan yang rusak parah itu dengan mudah ditarik olehnya. Dari sana ia segera mengeluarkan gadis kecil yang tubuhnya cukup kurus untuk anak seusianya itu.
"Gadis kecil ini… dia–"
Raka menatap sang gadis kecil berusia sekitar 3 tahun itu untuk beberapa saat.
"Anak muda, cepat pergi dari sana!"
Teriakan sang pria tua mengalihkan perhatiannya. Tampak olehnya api mulai membakar sebagian kendaraan itu.
Raka dengan sigap memangku sang gadis kecil ke area tempat sang wanita berada.
Dboom.
Baru saja ia sampai, dentuman keras menggema di telinga, diiringi lesatan gelombang panas yang menyebar ke segala arah.
Segera Raka mengambil sikap setengah berlutut untuk melindungi anak dan ibu tersebut dari terjangan gelombang panas yang membawa serpihan tajam dari kendaraan yang meledak.