
NUSWANTALA: Musnahnya Keabadian
iinz13|Bersambung
- Jumlah kata
- 201.5K
- Popular
- 1.8K
- Subscribe
- 162
- Jumlah kata
- 201.5K
- Popular
- 1.8K
- Subscribe
- 162
Sinopsis
Dikutuk akan menumpas seluruh saudara kandungnya dan membawa Nuswantala ke dalam kegelapan, Pangeran Abhipraya terpaksa 'dilenyapkan' dari muka bumi melalui kesepakatan rahasia dengan Dewa. Bertahun-tahun kemudian, ia hidup tanpa ingatan masa lalu sebagai seorang pemuda biasa. Namun, takdir berdarah tidak bisa dihindari selamanya. Ketika para pengkhianat dan musuh kerajaan mulai bergerak memburu pusaka keabadian, seluruh elemen energi dunia berguncang hebat dalam perang taruhan nyawa. Di saat pusaka yang menjadi incaran itu justru musnah tak tersisa, Sudanta menyadari bahwa dirinya bukan lagi sekadar pelarian yang tersesat. Di dalam raganya yang tampak kosong, tersimpan kunci takdir Nuswantala yang sesungguhnya. Di tangan pemuda polos inilah, masa depan dan takdir seluruh Nuswantala perlahan-lahan mulai dipertaruhkan.
Ulasan
3 ulasan
berryxixi
5/6/26 17:00
sering sering upload ya kakk, ceritanya seru. nggak sabar nunggu episode selanjutnya. semangat authorrr
Arim11
29/5/26 11:00
karyanya bagus kak, ijin promosi novel saya kak🙏 Judul: Sistem Pangeran! Dibuang karena dianggap tak layak, kini ia bangkit untuk menaklukkan takhta! Casanova Valerion, sang Pangeran kesembilan, harus menelan pil pahit dibuang oleh keluarganya sendiri karena World Blessing miliknya dianggap remeh. Tapi, takdir berkata lain. Dengan bantuan Sistem, perjalanannya bukan hanya tentang balas dendam, melainkan tentang melindungi rakyat yang menderita. Dapatkah seorang pangeran yang terbuang mengubah nasib kekaisaran?
Bab 1. Pertemuan
Tengah malam yang dingin, angin berhembus begitu kencang. Kilat dan petir datang silih berganti. Gemuruh guntur kian menggelegar, membuat siapapun yang terjaga malam itu ketakutan.
Badai yang datang memporak porandakan seluruh negeri, tanpa satupun tempat yang berhasil selamat dari bencana ini.
Anehnya, meski malam itu awan mendung menutupi bulan dan seluruh bintang yang berpancar, tak ada satu pun rintik hujan yang menetes.
Namun, seorang pria buta membuka pintu rumahnya dengan berani. Ia berdiri tegak dengan pakaian lusuh di rumahnya yang tak kokoh, dindingnya terbuat dari anyaman bambu.
“Celaka, yang ditulis takdir telah lahir,” kata pria buta itu.
…
Malam itu, istana tengah menyambut lahirnya seorang putra Raja, anak kelima Sri Maharaja Wira Ajiwicaksana, penguasa Nuswantala.
Namun, kenyataan pahit harus didengar sebelum kelahiran anak itu. Banyak peramal yang mengatakan bahwa dia adalah kekacauan yang tiada tara bagi negeri sang Raja.
Ia akan menumpas habis saudaranya. Pertempuran berdarah akan dilalui jika sang Ratu, Maharani Amandira Amirta tetap mempertahankan anak itu.
Begitu mendengar kabar tersebut, Raja duduk lemas di singgasananya dengan wajah pucat pasi. Peluh keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Panas tubuhnya menguap seraya kabar mengerikan itu tersiar.
Di tengah kacaunya pikiran sang Raja, Ratu berlari menembus norma yang seharusnya dijalankan. Ratu tidak lagi peduli dengan aturan kerajaan yang kaku. Ia mendobrak pintu raksasa pembatas antara dirinya dan sang suami.
Ratu berdiri tegak di hadapan Raja yang tahtanya tak terbantahkan. Sang Ratu menatap tajam tak bergeming. Tanpa sepatah kata pun, Raja tahu apa yang akan disampaikan kekasihnya.
Sambil terus memegang perut, Ratu perlahan merendahkan tubuhnya untuk bersujud di hadapan Raja. Ia memohon dengan penuh asa untuk membiarkan darah dagingnya hidup.
Air mata sang Ratu jatuh tanpa aba-aba, membasahi lantai aula singgasana Raja yang dingin seolah mengerti keputusasaan seorang ibu.
“(Raja memalingkan wajah) aku tak bisa membahayakan negeri ini, Ratuku,” kata Raja tegas.
“Lantas, bagaimana nasibku? Aku seorang ibu, dia anakku…,” kata Ratu sambil terisak.
Sang Raja hanya diam tak memberikan jawaban jelas atas permintaan istrinya. Dengan wajah yang berpaling, Raja memerintah pengawalnya untuk membawa Ratu ke Pakuwon.
Meski begitu, kebimbangan ternyata menghampiri sang Raja yang dikenal tegas dan bijaksana itu. Di malam yang kelam, Raja hilang dalam penyamaran.
Laki-laki bertubuh tegap dengan bahu bidang itu pergi jauh ke dalam hutan. Berbalut jubah hitam yang jauh dari kesan penguasa, sang Raja membelah malam sunyi dengan suara ketukan kaki kuda.
Raja mengunjungi sahabat baiknya, pria buta bernama Pranawa yang tinggal jauh terasing.
Pranawa saat itu sama sekali tidak terkejut dengan kedatangan sang penguasa negeri. Ia berdiri siaga dengan tongkat kayu di depan gubuknya.
Raja pun menceritakan apa yang telah diramalkan para peramal tentang kehamilan sang Ratu. Namun, si buta memberikan jawaban yang tak lain dari para peramal.
“Aku hanya mencium aroma darah yang kuat, Paduka,” kata pria buta.
Jawaban dingin itu membuat Raja terpaku. Tak ada lagi harap yang bisa ditemukan, bahkan dari orang yang paling dipercayainya.
“Lalu, apa aku harus membunuhnya? Dia anakku …” kata Raja dengan suara yang tertahan di tenggorokan.
Pria buta tak memberi jawaban, dia hanya menundukan kepala. Ketika itu, tubuh Raja bergetar, ia meraung atas kemalangan nasib sang anak.
Patah hatinya sebagai seorang ayah disaksikan oleh sahabatnya. Raja yang tak kenal gentar, sekalipun musuh ada di depan ujung hidungnya, kini harus meratapi kesengsaraan yang dalam.
“Tolonglah aku– sebagai seorang sahabat,” pinta Raja.
Raja kembali dari penyamarannya. Ia bertandang langsung ke kamar Ratu. Namun, pintu kamar kekasihnya tertutup rapat dengan suara ratapan yang memecah keheningan.
Raja hanya memandang dari luar dengan tatapan pilu. Ia meminta para dayang untuk diam, tidak mengumumkan kedatangannya.
Sembilan bulan berlalu, kemurkaan Cakrawala datang. Hari yang diramalkan sebagai awal kehancuran itu akhirnya tiba.
Ratu berjuang dengan taruhan nyawa untuk melahirkan anak yang diizinkan hidup dalam kandungannya. Tanpa mengetahui nasib lain yang telah diambil Raja sebagai ganjarannya.
Malam itu lah, suara gong menggema merayakan lahirnya darah Raja. Namun, belum sempat hilang gema tadi, bendera kuning dengan panji kerajaan telah dikibarkan.
Kala itu, udara hampa memenuhi istana Ratu. Baru saja helaan napas ia rasakan lega, sudah datang nestapa. Sementara Raja, terlihat lesu tapi tegar di depan peti kecil yang terbaring sepi. Pangeran Wira Abhipraya telah berpulang demi kedamaian Nuswantala.
Sepuluh tahun berlalu, Nuswantala tetap berdiri tegak berkat pengorbanan seorang pangeran. Kisahnya menjadi cerita rakyat yang tersohor di segala sudut negeri.
Nama sang pengeran menggaung bukan karena pujian, melainkan menjadi tokoh dalam cerita mengerikan. Sosoknya digambarkan bak monster berbahaya yang mengancam keutuhan Nuswantala.
Topeng menyeramkan bahkan disiapkan untuk pertunjukan sang pangeran yang tersingkir. Bahkan, patung-patung menyeramkan juga dipajang sebagai cinderamata istimewa. Bukan untuk dibanggakan, tapi dibakar di penghujung malam.
Seolah menyetujui segala rumor tentang anaknya, kerajaan tak bergeming atas perayaan itu. Sang Raja tak sekalipun mengambil tindakan atas cemoohan yang dilakukan rakyatnya.
Sesekali Ratu yang menyamar, pulang dengan mata basah. Ia seolah dibungkam oleh keabu-abuan. Siluet wajah anaknya bahkan sudah terkikis dalam ingatan. Ia hanya mengingat tanda lahir dan mata yang indah milik sang pangeran.
Namun, kisah ini baru saja dimulai. Sebuah takdir membawa sebuah pertemuan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Di tempat yang tak terjangkau oleh bayang-bayang Istana Nuswantala, sebuah takdir mulai merajut kisahnya.
“AKKKHHHH!!!” teriakan jejaka kecil yang terperosok di lubang jebakan.
Sadar bahwa dirinya telah berada di dasar lubang, jejaka itu pun berusaha untuk memanjat pinggiran lubang.
Tanah yang gembur membuatnya kesulitan untuk naik. Begitu dipijak, remahannya langsung berguguran.
Meski begitu, tubuh kecil itu masih terus berusaha untuk terbebas dari jebakan rusa. Dia berulang kali mencengkeram tanah yang jelas jauh dari harapan. Keringat pun mengucur deras, membasahi seluruh tubuh mungilnya.
Baju bersih dengan jubah khas berwarna hijau rimba juga telah lusuh dan kotor dibaluri jejak perjuangannya keluar dari lubang jebakan.
Lelahnya pun datang. Si jejaka kecil itu mulai menyerah dan bersandar di pinggiran lubang. Sambil berpikir cara untuk keluar, langit justru perlahan mengundang mendung. Biru cerah mendadak berubah menjadi kelabu dengan iringan gemuruh-gemuruhnya.
Meski masih sangat muda, jejaka itu sama sekali tak memperlihatkan kegentaran. Matanya juga tidak basah. Hanya ada lembab keringat yang terperangkap di balik baju dan jubahnya.
Kali ini, tidak ada cara lain selain berharap seseorang menemukannya. Namun, terlintas dalam pikirannya tentang bagaimana orang akan menemukannya jika dia hanya diam seperti batu.
Si jejaka berjubah pun mulai berpikir untuk meniru rusa yang menangis hingga sang pemburu tahu bahwa jebakannya berhasil. Ia pun berteriak sekuat tenaga untuk memberitahu keberadaannya.
“(Jejaka berjubah berdengking melengking) eeee-iiikkkkk, eeee-iiikkkkk. Ada orang di sini. Di sini ada orang,” kata jejaka berjubah.
Tak lama kemudian, sebuah tangan yang ukurannya sama kecilnya dengan jejaka berjubah muncul dari atas lubang. Kepala jejaka kecil lainnya pun timbul menghadang mendung.
“Sedang apa kamu di bawah sana?” tanya jejaka pemburu.
“Bantu aku keluar dari sini,” pinta jejaka berjubah.
“Tidak. Aku hanya ditugaskan mengambil rusa. Sedang kamu bukan rusa,” jawab jejaka pemburu.
“Apa? Beraninya kamu–” kata jejaka berjubah.
Belum selesai perkataan jejaka yang terjebak di lubang, bayangan anak lain itu sudah menghilang. Sikap itu membuatnya frustasi. Mau tidak mau, ia memutar otak untuk menangkap jejaka pemburu yang dianggapnya serakah.
“Aku akan membayar rusamu,” kata jejaka berjubah.
Namun, umpan yang dilempar tidak membuat bayangan yang menjadi harapannya kembali. Helaan napas jejaka berjubah itu mengartikan akalnya yang telah pergi.
Ia pun kembali mencoba untuk naik ke permukaan, tapi itu semua sia-sia. Hasil yang didapatkan sama seperti awal.
Di tengah perjuanganya meninggalkan lubang, suara tawa hadir memecahkan konsentrasinya.
Jejaka pemburu itu ternyata tak jauh dari lubang sedari tadi. Dia pun mendekat dan menyaksikan jejaka berjubah yang tengah menempel di dinding lubang.
“Ck-ck-ck-ck… (jejaka pemburu menggelengkan kepala). Dasar bodoh. Ini tanah gembur, tak akan bisa dipijak,” kata jejaka pemburu dengan nada menggurui.
“Beri tawaran terbaikmu,” tambahnya.
“Jika kau beruntung, aku tidak hanya membantumu keluar, tapi juga akan memberimu bonus,” ocehnya.
Tawar menawar pun terjadi, mulai dari harga normal rusa seribu Kepeng (mata uang paling rendah yaitu perunggu) hingga lima kali lipat di atasnya. Namun, tawaran itu tidak membuat pertolongan datang.
“Lalu berapa yang kamu mau?” tanya jejaka berjubah.
“Emas, berilah bayaran itu,” kata jejaka pemburu..
“Emas? Bagaimana aku mendapatkan emas? Tidak masuk akal harga satu rusa sebanding dengan emas!” keluhan si jejaka berjubah.
“Baiklah kalau begitu, selamat berusaha,” kata jejaka pemburu.
“Tunggu…! Baiklah, satu emas. Setuju?” tawaran jejaka berjubah.
Dengan segera, tangga tali pun meluncur ke bawah. Akhirnya tawaran itu mencapai kesepakatan. Jejaka pemburu berdiri di atas sambil berkacak pinggang. Ia menunggu buruannya seharga satu emas sampai ke permukaan.
Namun, begitu sampai di hadapannya, jejaka berjubah itu langsung menyerang tanpa sentuhan. Jejaka berjubah tiba-tiba mengeluarkan kekuatan magis yang sama sekali tak dipahami lawannya.
Jejaka pemburu yang tak siaga, menerima serangan itu dengan baik hingga tubuhnya terpental jauh menabrak batang pohon.
Sambil menahan sakit, ia berusaha bangkit dengan pikiran yang penuh tanya, “siapa dia?” batinnya.
Daftar bab
174 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
174 bab








