
Kebo Lemu Kultivator Lemak
Bp. Juenk|Bersambung
- Jumlah kata
- 94.6K
- Popular
- 314
- Subscribe
- 30
- Jumlah kata
- 94.6K
- Popular
- 314
- Subscribe
- 30
Sinopsis
Pemuda Desa yang tidak memiliki kebiasaan Kultivasi pada umumnya akhirnya menemukan keunikan dalam metode berkultivasi yaitu dengan cara memakan makanan spiritual sebanyaknya. Lemak Ku Jalan Kultivasiku.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1.
Kabut tipis masih membungkus Desa Wanasava ketika semburat jingga pertama baru hendak merambat di ufuk timur.
Lembutnya angin pagi berhembus membawa aroma khas tanah basah, embun yang menetes dari dedaunan pinus, serta bau asap kayu bakar yang mulai membubung dari dapur-dapur rumah panggung warga.
Desa yang bersandar di kaki Pegunungan Wanasava itu masih tertidur lelap, tetapi di sebuah rumah berdinding kayu jati yang kokoh, kehidupan sudah mulai berdenyut sejak sejam sebelum fajar.
Di dalam dapur tua yang diterangi remang pelita minyak jarak, Kebo Lemu sudah sibuk menggerakkan alu batu di atas lumpang. Suara tumbukan halus yang berirama membentur dasar batu menjadi musik pembuka harinya.
Kebo Lemu, seorang pemuda berusia enam belas tahun dengan postur tubuh yang tegap dan pas, menyapu keringat tipis di dahinya menggunakan lengan baju kain kelimanya.
"Uleknya jangan terlalu ditekan, Lemu. Irisan rimpang temulawak dan akar kunyit angin itu harus ditumbuk pelan-pelan supaya minyak atsirinya tidak terbuang sia-sia," tegur sebuah suara lembut namun mantap dari arah tungku.
Ibu Ratri, ibunya, sedang berjongkok di depan tungku tanah liat, menata potongan kayu jati kering agar api menyala stabil. Kulit ibunya yang sawo matang memantulkan cahaya keemasan dari lidah api yang menjilat bagian bawah kuali tanah.
"Iya, Ibu," sahut Kebo Lemu seraya memperhalus ayunan tangannya. "Lemu cuma ingin selesai lebih cepat supaya bisa merebus air untuk Ayah."
Ibu Ratri tersenyum tipis, guratan halus di sudut matanya menegaskan kehangatan seorang ibu yang telaten.
"Ayahmu itu kalau belum membaui aroma seduhan daun teh pegunungan di pagi hari, matanya belum bisa terbuka sempurna. Biar Ibu saja yang meneruskan rebusannya, kamu selesaikan tumbukan jamu itu lalu saring ke dalam tempurung kelapa."
Nama "Kebo Lemu" yang melekat pada pemuda itu sejatinya adalah pemberian sang ayah saat ia lahir—sebuah doa agar ia tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat, dan berguna bagaikan kerbau yang subur serta penuh tenaga di ladang.
Meski tubuhnya saat ini masih tergolong proporsional dan belum menampakkan tanda-tanda kebesaran fisik seperti namanya, Kebo Lemu menjalani hari-harinya dengan ketekunan yang luar biasa.
Suara langkah kaki yang mantap dan berat terdengar menginjak lantai papan kayu dari arah ruang tengah. Seorang pria berbadan tegap dengan bahu lebar dan dada bidang melangkah masuk ke area dapur.
Bekas luka garis memanjang di pipi kirinya tidak mengurangi aura wibawa yang dipancarkannya. Pria itu adalah Ki Samudra, ayah Kebo Lemu, seorang pemburu veteran yang paling disegani di seluruh penjuru Desa Wanasava.
Ki Samudra membawa sebuah pedang berburu bertangkai kayu galih kelor dalam sarung kulitnya. Tanpa bersuara, ia duduk di atas balai-balai bambu dekat jendela dapur yang terbuka sedikit, membiarkan cahaya fajar membelah kegelapan ruangan.
Ia mengeluarkan asahan batu hitam yang sudah dibasahi air dan mulai menggesekkan bilah baja pedangnya.
Srrr... srrr... srrr...
Suara gesekan logam bernada konstan itu memenuhi dapur, menciptakan suasana yang tenang namun sarat makna.
"Bagaimana punggungmu, Kang? Masih terasa nyeri bekas cakar kera beracun minggu lalu?" tanya Ibu Ratri seraya meletakkan seangkring cangkir tanah liat berisi seduhan teh hangat beruap di samping balai-balai.
Ki Samudra menghentikan sejenak gerakan tangannya, menyapu permukaan bilah pedang dengan kain lap basah untuk memeriksa ketajaman mata pisau.
"Sudah jauh lebih mendingan, Ratri. Ramuan oles buatanmu selalu ampuh. Lagipula, beberapa hari ini aku tidak akan masuk terlalu dalam ke rimba pegunungan."
Matanya yang tajam bak elang lalu beralih menatap Kebo Lemu yang sedang memindahkan hasil tumbukan jamu ke dalam kain saring. Tatapan tegas itu melunak, berganti menjadi sebuah pancaran kebanggaan dan harapan yang sangat dalam.
"Tiga hari lagi, kan?" tanya Ki Samudra pelan.
Kebo Lemu menghentikan tangannya sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Iya, Ayah. Ujian seleksi penerimaan murid baru di Akademi Kultivator Kota Kabupaten akan dimulai tiga hari lagi."
Ki Samudra menyunggingkan senyum tipis, merogoh kantong kain di pinggangnya, lalu meletakkan sebuah kantong kulit kecil bersulam benang perak di atas meja bambu. Suara denting logam yang cukup berat terdengar saat kantong itu menyentuh permukaan meja.
"Aku sudah menukarkan beberapa kulit binatang dan tanduk rusa spiritual hasil buruan bulan lalu ke pedagang Kota. Di dalam sini ada sepuluh keping perak dan beberapa keping perunggu," ujar Ki Samudra dengan nada suara yang tenang namun berat.
"Cukup untuk menyewa keraton kereta kuda paling nyaman dan membayar biaya pendaftaran tesmu nanti."
Ibu Ratri mendekat, mengusap bahu lebar Kebo Lemu penuh kasih sayang.
"Ayahmu bahkan rela menolak permintaan Kepala Desa untuk menjual tanduk itu padanya, Lemu. Ayah ingin memastikan kamu memiliki modal yang cukup dan tidak berkecil hati saat berada di antara anak-anak saudagar kota."
Melihat kantong uang tersebut, dada Kebo Lemu terasa berdesir hangat sekaligus berhimpit sesak. Ia tahu betul betapa kerasnya sang ayah berjuang di belantara Pegunungan Wanasava, bertaruh nyawa menghadapi binatang ganas hanya demi mengumpulkan kepingan perak tersebut.
Semua pengorbanan itu bermuara pada satu impian besar orang tuanya: melihat Kebo Lemu menjadi seorang Kultivator—seorang praktisi energi spiritual yang dihormati, mampu mengendalikan Qi alam, dan mengangkat martabat keluarga mereka.
"Terima kasih, Ayah, Ibu," kata Kebo Lemu, memaksakan sebuah senyuman paling tulus yang bisa ia sunggingkan.
"Lemu akan berusaha sebaik mungkin di tes nanti."
"Ayah tahu kamu anak yang tekun, Lemu," sahut Ki Samudra seraya menepuk bahu anaknya dengan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan.
"Bakat atau tidak, keringat yang kamu teteskan setiap pagi tidak akan pernah bohong. Kelak, saat kamu berhasil membuka pilar Qi pertama di akademis itu, seluruh Desa Wanasava akan bangga padamu."
Percakapan hangat itu berlanjut di selang sarapan sederhana berupa ubi rebus dan sambal totok rimpang. Setiap patah kata yang diucapkan ayahnya, setiap nasihat lembut dari ibunya, terasa seperti ukiran harapan yang kian tebal di pundak Kebo Lemu.
Matahari mulai merayap naik, mengikis sisa-sisa kabut pagi dan menyiramkan sinar keemasan di halaman belakang rumah.
Halaman itu bersih, dikelilingi oleh pagar bambu dan beberapa pohon buah lokal yang rindang. Di tengah halaman terdapat sebuah batu rata yang besar—tempat Kebo Lemu menghabiskan ribuan jam dalam hidupnya.
Setelah menyelesaikan tugas dapu, Kebo Lemu melangkah ke tengah halaman. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi yang segar, lalu melipat kakinya dan duduk bersila di atas batu datar tersebut.
Ia memejamkan mata, memposisikan kedua tangannya di atas pangkuan dengan jemari membentuk segel dasar pernapasan Qi—sebuah teknik meditasi paling standar yang diajarkan di seluruh wilayah negeri.
"Tarik napas... rasakan aliran hangat di udara... alirkan masuk melalui titik panca indra..." gumam Kebo Lemu dalam hati, menirukan setiap instruksi dari kitab panduan dasar yang dibelikan ayahnya tiga tahun lalu.
Ia mengheningkan cipta. Suara gesekan daun, cicit burung gereja, hingga deru angin yang menerpa pepohonan di sekelilingnya terdengar sangat jelas di telinganya. Kepekaan inderanya luar biasa.
Namun, ketika ia mencoba melangkah lebih jauh—mencoba merasakan Qi atau energi spiritual alam yang dituturkan dalam cerita-cerita—ia hanya mendapati kegelapan dan kehampaan yang dingin.
Menurut kitab kultivasi, seorang yang memiliki bakat spiritual akan merasakan getaran halus seperti arus air hangat yang mengalir masuk melalui pori-pori kulit saat bermeditasi, lalu berkumpul di pusaran bawah perut yang disebut pusat Dantian.
Tetapi bagi Kebo Lemu, jangankan aliran air hangat, setitik percikan energi pun tidak pernah singgah di tubuhnya.
Kebo Lemu mengencangkan rahangnya. Ia tidak menyerah. Ia mencoba mengubah pola pernapasan: menahan napas selama sepuluh hitungan, memaksa konsentrasinya terpusat sepenuhnya di area dada dan perut. Ia memvisualisasikan energi alam masuk ke dalam tubuhnya.
Satu menit... lima menit... setengah jam berlalu.
Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. Dadanya terasa sesak akibat menahan napas yang dipaksakan. Perutnya mulai melilit tegang, tetapi tidak ada aliran Qi apa pun.
Meridian di dalam tubuhnya bagaikan pipa kayu yang tersumbat total oleh tanah liat kering—tidak ada sedikit pun celah bagi energi spiritual alam untuk mengalir.
Hah... hah... hah...
Kebo Lemu akhirnya menghembuskan napasnya secara mendadak, tubuhnya membungkuk ke depan seraya memegang dadanya yang naik-turun memburu. Matanya terbuka, menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar.
Kosong.
Tidak ada aura, tidak ada getaran energi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Qi.
Rasa kecewa yang sangat familier kembali menusuk dadanya, sebuah perasaan pahit yang telah menyertainya selama lima tahun terakhir.
Sejak usia sebelas tahun, ketika anak-anak seusianya di desa mulai menunjukkan tanda-tanda sensitivitas energi, Kebo Lemu sudah menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya.
Tubuhnya menolak Qi alam. Sekeras apa pun ia berlatih, seberapa malam pun ia duduk bermeditasi di atas batu ini hingga tubuhnya membeku oleh embun malam, hasilnya tetap sama, nol.
Ia mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya tertuju ke arah jendela dapur, di mana tampak bayangan ibunya yang sedang sibuk merapikan perkakas, dan di halaman samping, ayahnya yang sedang membelah kayu bakar dengan sekali tebasan bertenaga.
Orang tuanya telah mempertaruhkan segalanya. Tabungan bertahun-tahun, rasa hormat warga desa, dan impian besar mereka, semuanya digantungkan pada pundaknya.
Ayahnya begitu yakin bahwa ketekunan Kebo Lemu akan membuahkan hasil di batu pengukur akademi nanti. Ibunya selalu menyajikan jamu terbaik setiap malam agar kesegaran tubuhnya terjaga.
Bagaimana bisa ia menyampaikan kenyataan pahit ini? Bagaimana bisa ia merusak binar harapan yang menyala di mata ayahnya tadi pagi?
Kebo Lemu menghela napas panjang, meredakan gejolak emosi dan rasa sesak di dadanya. Ia memejamkan mata sejenak, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin, lalu perlahan berdiri dari batu datar itu. Ia menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang kotor oleh debu batu.
Sambil melangkah kembali menuju rumah, Kebo Lemu mengukir senyuman paling cerah di wajahnya—sebuah senyuman yang sengaja ia siapkan agar orang tuanya tidak perlu merasa cemas sedikit pun.
"Lemu! Sini, Bantu Ayah memindahkan kayu-kayu ini ke samping tungku!" seru Ki Samudra dari samping rumah.
"Iya, Ayah! Lemu datang!" sahut Kebo Lemu dengan nada suara yang ceria dan mantap.
Ia menyembunyikan rasa pahit di dalam hatinya dalam-dalam, melangkah maju menyongsong hari yang tersisa, meski di dalam benaknya, bayang-bayang ujian tiga hari lagi terasa seperti badai besar yang siap meruntuhkan segalanya.
Daftar bab
80 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








