
Sofia : Astron Stellae
Fujōride hiwaina pen|Bersambung
- Jumlah kata
- 37.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 37.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Di masa awal peradaban, lahirlah Sofia, dewa bintang terunggul yang menguasai segalanya, kecuali satu hal: perasaan. Dengan kekuatan yang tak tertandingi dan hati yang kosong, ia bukanlah dewa yang baik, apalagi berhati mulia. Perjalanannya dipenuhi kehampaan, sebuah pencarian tragis untuk menemukan emosi di tengah reruntuhan jiwanya sendiri.Inilah kisah dewa yang tak bisa mencintai, tak bisa berempati, dan tak bisa merasa. Sebuah tragedi filosofis tentang eksistensi, di mana sang dewa justru harus berhadapan dengan kehampaannya sendiri.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Vol.0 Chap.1 Prologue.
Aku melihat api membara di depan wajahku, mayat beberapa dewa dengan kepala terpenggal, dan sebagian dalam kondisi sedang terbakar.
Bau busuk dari daging dewa yang sudah terbakar, atau sedang terpanggang memenuhi hidungku. Ada beberapa manusia yang juga mati, terutama yang menyembah, bergantung, atau menjadi pengikut dewa yang dibunuh. Api juga memenuhi rumah-rumah di medan tempur ini.
Ini agak menyesakkan jika aku bukan dewa.
Terkadang.. aku berpikir.. apa itu hidup? Tentang semua itu.. aku benar-benar tidak tahu.
Dewa-dewi pernah mendefinisikan tentang apa itu hidup. Sebagian besar dari mereka memberikan alasan, tapi tidak ada yang benar-benar menyusuri, tentang apa itu hidup sebenarnya.
Mereka bilang, kalau dewa dan dewi dari golongan Theon Cosmos itu tidak hidup dan tidak pula mati. Tapi, mereka bisa mati dan bahkan terbunuh. Usia mereka memang sangat amat panjang, tapi definisi yang benar tentang hidup selalu aneh.
Beberapa ahli di bidang ilmu filsafat para dewa, mengungkapkan kalau hidup adalah tentang mencari alasan. Beberapa diantara yang lain mengatakan kalau hidup adalah untuk menjaga sesuatu. Yang lain mengatakan kalau hidup adalah untuk menemukan sesuatu. Ada juga yang mengatakan kalau hidup adalah ketika kamu berusaha melakukan sesuatu yang membuatmu berlari dari kematian. Ada pula yang mengatakan kalau hidup adalah untuk berjuang dan berjalan tanpa terhenti, kecuali oleh kematian.
Tapi, diantara sekian banyak definisi itu. Tidak ada satupun jawaban yang tepat untuk menggambarkan tentang apa itu hidup. Apakah para penjaga langit sana, dan sang penguasa suci langit disana, sengaja tidak memberikan jawaban?
Tidak ada yang tahu.
Aku tidak akan mengerti mereka, karena mereka adalah entitas suci, sedangkan aku bukan. Aku tidak akan menyentuh eksistensi mereka, dan itu tidak berubah.
Karena, disaat aku masih berkutat dengan arti kehidupan, mereka sudah menontonku. Begitulah.
Aku menghela nafas dan perlahan berjalan meninggalkan tempat ini.
*****
–Knowledge is the gateway to enter the real world.–
-Σοφία-
*****
{?}
400 years ago. Disuatu tempat melayang, hampir mewah, sangat amat raksasa, 1 dari 4 akademi dewa, Theon Academia.
"Aro, Anda sedang mengamati apa?" Tanya seseorang dewa dengan jubah berwarna silver dengan rambut panjang yang juga berwarna silver terurai hingga punggungnya.
"Tidak, Sirius.." Jawab seorang dewa dengan jubah berwarna kehitaman dengan rambut berwarna putih dan hitam. "Dewa baru akan lahir. Telurnya mengarah kemari."
"Sang bintang?" Tanya salah satu dari mereka yang menggunakan jubah merah.
"Aku tidak tahu." Jawab Aro. "Ramalan itu tidak akan meleset, tapi aku ragu kalau waktunya adalah sekarang."
"Begitukah?" Tanya Sirius. "Dewa ini menarik juga."
"Aku paham, tapi aku memang kurang tertarik untuk menelusuri kilas takdir dia." Aro menghela nafas. "Hyouga, tidak ada pendapat?"
"Tidak ada." Hyouga tersenyum sambil merentangkan jubah dia.
"Biarkan aku yang mengambil dia." Aro mendekat ke pagar penghalang Theon Academia. "Aku sudah lama tidak menyambut tamu."
"Kamu berniat menjadikan dia sebagai famili mu?" Tanya Sirius, agak penasaran.
"Tidak. Aku penasaran. Hanya itu." Ucap Aro sebelum terbang perlahan, dan kemudian agak cepat meninggalkan mereka.
"Mau urus bagian lain?" Tanya Sirius.
"Tentu saja." Hyouga terkekeh, hampir terdengar sarkas.
...
{Aro POV}
Menarik.. kekuatan ini aneh. Aku tidak pernah merasa kalau ada kekuatan begini. Tipe gabungan, ya?
Aku menangkap telur itu, lalu telur itu menetas ditanganku. Bahkan, tidak ada lendirnya.
Matanya biru, memiliki pola bintang, dan aneh. Tipe apa dia?
Dia aneh.
Aku berjalan, kemudian kembali masuk kedalam Theon Academia. Lalu, berjalan kearah kamar pembesaran, tingkat A.
Apakah dia akan kesulitan? Ini seharusnya berisi para unggulan dari sekian banyak unggulan. Apakah bocah ini mampu?
Menarik, dia adalah objek eksperimen yang menarik.
Aku membaringkan bayi dewa itu di kasur. Lalu, keluar meninggalkan dia.
---
Pada hari pertama, dewa itu menangis.. menangis, tak berhenti.
Tidak ada satupun yang datang menenangkan dia. Dewa dan dewi lain, tidak banyak yang menangis.. mereka lebih tenang.
Hari kedua.. dewa itu masih menangis. Air matanya mengalir tidak henti-hentinya, sampai lelah, dan tertidur karena kelelahan. Masih tidak ada satupun yang mau memeluk dia, atau menenangkan dia.
Hari ketiga masih sama. Hingga 2 minggu berlalu, dia berhenti menangis. Ia benar-benar tidak lagi menangis sama sekali.
Pelatihan dimulai 1 minggu setelah itu.
---
Satu minggu berlalu.
Aku, diberi nama Sofia.. oleh seseorang yang bernama Aro. Suatu nama asing yang belum pernah digunakan sebelumnya untuk penamaan dewa.
Mungkin aneh, tapi, aku ingin bertanya.
Apa yang membuatku harus menjalani ini? Lalu, kenapa aku harus lahir sebagai dewa?
*****
Sekitar satu tahun berlalu. Pelatihan benar-benar membuat kita kehabisan dewa dan dewi di tingkat A. Ada yang turun tingkat, dan ada pula yang dibuang. Strata sosial mulai tampak diantara kita semuanya.
"Para grandmaster akan datang." Ucap salah satu dewi terlemah di tingkat A, dia mungkin akan terbuang sebentar lagi, seperti yang lain.
Lalu, para grandmaster. Keempatnya, dimulai dari Aro, Cyronette, Emerenette, dan Sirius datang dan masuk ke ruangan ini.
"Semua dewa dan dewi disini adalah bibit unggul untuk Theon Academia." Aro tersenyum tipis sambil masih berjalan berdampingan dengan ketiga dewa yang lain.
"Jadi, apa yang kamu rencanakan pada mereka?" Tanya Sirius sambil menoleh ke Aro.
"Menjadikan mereka kokoh. Kamu tahu, kan? Ramalan itu nyata." Cyronette menghela nafas, lalu tatapan dia mengarah padaku. "Dia.."
"Dia adalah subjek paling unggul disini. Bisa dibilang: 'anak ajaib yang paling berbakat'." Emerenette tersenyum sambil menatap Cyronette.
"Tapi.. bukankah dia nampak kosong? Seperti sudah cacat eksistensi." Cyronette menatapku lebih seksama.
"Sayangnya, itu bukan cacat eksistensi. Lebih seperti kehilangan esensi." Aro menghela nafas sambil menatapku. "Lebih disayangkannya, dia bukan makhluk hidup yang harus mencari esensi. Dia adalah dewa. Theon Cosmos."
Suara para dewa itu, tidak terdengar olehku. Mereka memakai pembatas suara, suatu sihir yang menekan ruang disekitar mereka, agar suara tidak keluar.
"Lalu, mengapa dia bisa kehilangan esensi?" Tanya Cyronette.
"Dia hanya rusak saja dari dalam. Bukan hal yang serius." Aro menjelaskan sambil berjalan menjauh. "Ayo kita melihat-lihat yang lain saja."
"Baiklah." Sirius tersenyum kecil sambil melirik kearahku, sesaat wajahnya masam kemudian dia berjalan menjauh bersama dengan Aro, Cyronette, dan Emerenette.
Sehabis itu, aku hanya mengamati semuanya saja. Tidak banyak yang bisa aku ketahui karena mereka memakai sihir penghalang agar tidak ada yang bisa menguping.
Tapi, aku paham akan satu hal. Mereka ada di titik yang jauh dariku yang sekarang. Sangat jauh.
Sehingga, aku tidak berniat untuk melawan tanpa persiapan.
Aku jadi teringat dengan sesuatu yang dikatakan beberapa waktu lalu oleh salah satu dewi disini.
---
"Setiap dari kalian bebas untuk menentukan pilihan untuk melawan siapa. Tapi, kegagalan fatal bisa membuat kalian mati. Karena, dewa dan dewi itu bisa saling membunuh satu sama lain." Egestisa mengatakan itu dengan seringai kecil.
"Semua kehancuran berasal dari kekalahan. Maka, kalian adalah entitas dunia terkuat, mutlak dan hampir tidak terkalahkan, kecuali oleh bagian dari diri kalian sendiri."
---
Dengan semua ini, aku paham kalau perbedaan kekuatan ini bisa membuat dewa dan dewi menjadi paling kuat. Tapi, mereka ada sebagai satu-satunya entitas yang bisa menghancurkan satu sama lain.
Mereka berempat menempati peringkat tertinggi. Jadi, aku tidak mungkin bisa ada di posisi yang sama dalam waktu singkat.
*****
4 tahun pertama. Tempat ini mulai semakin sepi. Dari 2.000 dewa dan dewi yang ditempatkan dikalangan A. Hanya ada 300 yang tersisa. 1.000 lebih mati terbunuh atau bunuh diri. 700 lainnya dibuang.
Semuanya sekarang dihadapkan di arena. Suatu arena yang membentang raksasa di daerah Theon Academia. Jika digambarkan, Theon Academia adalah dataran raksasa yang melayang dengan luas wilayah 189 hari perjalanan untuk berjalan dari ujung sisi kanan ke sisi kiri. Sementara untuk mencapai ujung depan ke belakang memerlukan waktu 1278 hari perjalanan normal.
Disalah satu sisi ada daerah terpisah disebut sebagai "Calystrix Oratorium Theonis". Suatu tempat sakral yang disucikan oleh para dewa dan dewi. Ditengahnya ada tempat bernama Oloranthium Theonexus, suatu arena pertarungan antar dewa dan dewi, tempat yang nampak sangat klasik karena temboknya raksasa, mengelilingi tempat ini dengan bentuk lonjong yang besar, lalu ditengahnya ada arena utama.
Arena utama adalah lapangan tempur, tempatnya nampak sejuk. Terdapat rumput yang tumbuh subur disana, bunga-bunga juga banyak disana. Tapi, dibalik tempat asri itu, darah dewa dan dewi banyak yang tumpah disana.
Hari ini, aku akan diuji melawan dewa yang dikatakan setara denganku. Eris.
Famili kita sama-sama dari Aro, yang artinya kita di adopsi atau diangkat sebagai turunan dari Aro.
Semua dewa dan dewi memiliki famili utama. Tapi, isi famili Aro baru hanya aku dan Eris.
Eris adalah dewa maskulin yang memiliki tubuh yang atletis. Dia lebih muda dua tahun dariku. Dengan kata lain, dia masih berusia 2 tahun.
Tapi..
Aku menghela nafas sambil menatap ke Eris diujung arena.
Aro menyuruhku melawan dia. Apakah dia lupa kalau semua lawan yang aku lawan hanya memiliki dua pilihan tersisa: kalah telak, atau hancur?
Tapi, Eris nampak tidak gentar berdiri dihadapanku.
Kupikir, ia akan mudah untuk gentar. Tapi, aku baru ingat kalau Eris itu tidak sama dengan dewa lain.
Dia berdiri tegap, kupu-kupu es mengelilingi dia. Wajahnya hampir datar, dingin, namun bukan tanpa emosi sepertiku. Dia lebih seperti pendiam yang berdarah dingin.
Aku mungkin harus sedikit serius melawan dia.
"Kakak, bukan?" Tanya Eris sambil menatapku. Mata birunya nampak seperti aura es yang mulai mengelilingi dia.
"Kenapa bertanya begitu?" Aku menatap dia sambil agak memiringkan kepalaku sedikit.
"Hanya memastikan saja." Jawab dia dengan singkat. Suara denting es terdengar setelah itu.
Suaranya berdecit, lalu suatu bongkahan es tajam terbentuk cepat didepan mataku untuk menusuknya dengan cepat.
Aku dengan cepat menghantam itu dengan kekuatan cahayaku. Tapi, secara mengejutkan tanganku membeku bersama dengan es itu.
Eris tersenyum kecil dan dingin, sebelum dia tiba-tiba hilang. Tidak, dia bergerak dengan cepat kesini.
Saat kaki dia menendang kearah kepalaku, aku mengarahkan tanganku yang membeku untuk menghalangi serangan Eris.
Dentuman kecil terjadi bersamaan dengan lepasnya tanganku dari segel es itu.
Aku mengarahkan pukulan ke arah Eris, tapi dia menghindari itu dengan cukup lihai. Gerakan dia halus seperti kabut.
Aku melayangkan serangan lain, tapi Eris dengan cepat menepis tanganku. Lalu menarik itu untuk membantingku.
Tapi, saat aku sudah terbanting, aku berusaha untuk mendarat dengan kakiku.
Tadi hampir saja.
Eris langsung mengarahkan tendangan ke arah kepalaku.
Itu gerakan bela diri yang sudah pasti tingkat tinggi.
Dengan cepat, aku mencoba menjaga jarak dengan melompat kebelakang menjauhi dia.
Eris sekarang, meluruskan tangan kanan dia. Jari-jarinya lurus kearahku, seperti bilah pedang. Sementara, tangan kirinya mengepal disamping pinggangnya.
Ini teknik serangan naga. Biasanya, dewa atau dewi tidak akan mampu menepis itu. Yah, memang bukan serangan yang bisa ditepis jika dia sudah menguasai itu.
Serangan itu datang, mengarah ke dadaku. Lurus dan sangat cepat.
Tanganku dengan reflek membuat bentuk menyilang dari bawah, kemudian mendorong keatas saat serangan itu sudah sangat dekat.
Akibatnya, serangan itu terpental, namun respon adaptif Eris adalah mengarahkan tinjunya yang mengepal kearahku dengan sangat cepat.
Disaat tangan kiriku masih mendorong tangan dia tadi, tangan kananku langsung menahan lengan Eris.
Tapi, suatu tendangan kuat mendarat mulus di perutku membuat kita terpisah dan aku terpental mundur.
Batuk kecil keluar bersama dengan darah dari mulutku.
Sesuai dugaan. Tidak bisa ditangkis sepenuhnya.
Sementara, Eris kembali berdiri dengan tegak dihadapanku. Tubuh dia tenang, nampak menunggu. Aura es mengelilingi dia.
"Kamu boleh menyerah jika mau." Eris menatapku dingin.
"Aku bukan sesuatu yang bisa dihentikan dengan hal begitu." Jawabku dengan tenang.
Sedetik. Eris menghantam dari atas kepalaku.
Aku mendorong tubuhku dengan cepat menggunakan tanganku. Saat tumbukan itu mendarat, banyak tanah yang berhamburan.
Es menjalar disekitar area yang dihantam oleh Eris.
"Kupikir, kamu menghancurkan hal yang penting di tempat ini." Aku menatap Eris.
"Tempat ini tidak memiliki hal yang penting, sayangnya." Eris berdiri tegak lagi. "Setiap entitas disini yang hari ini masih ada, besok bisa dibuang atau hancur."
"Kamu mungkin benar." Jawabku sambil bergerak cepat melayang serangan ke Eris.
Tapi, dia menangkap tanganku, menahannya, lalu dia membalas menghantam perutku. Suara udara yang dilalui tangan dia berbunyi seperti dentuman.
Aku menarik salah satu tanganku dan mendorong tangan dia kesamping.
"Itu hampir saja, adik. Tapi, mari kita bermain lebih serius sekarang." Aku langsung bergerak cepat menjauhi dia. Tapi, suatu pecahan es yang berbentuk bilah pisau mengarah kepadaku saat aku menjauh.
Es-es itu sangat cepat.
Sekarang aku harus mematahkan serangan dia.
Saat cahaya-cahaya kuarahkan untuk menangkap serangan es itu, cahaya itu semua membeku serentak.
Tapi, dengan cepat aku melayang tendangan bebas kearah es-es itu membuat retakan yang membuat cahaya yang ku lontarkan bisa memecahnya dan keluar dari sana, untuk melakukan serangan balik pada Eris.
Dia langsung memasang tembok es. Saat seranganku sampai, dampaknya hanya membuat tembok es itu meleleh sebagian.
Aku berlari, kemudian meloncat. Dan, kakiku lurus kearah tembok es itu. Saat kakiku menghantamnya, tembok es itu runtuh berantakan.
Eris tidak ada dibalik tembok itu.
Aku menoleh ke kanan, ada molekul salju yang menyatu disana.
"Kamu hampir membunuhku jika aku tidak menghindari itu." Eris muncul dari sana. "Itu terlalu kejam, bukan, kakak?" Suara dia dingin lebih seperti sarkastik.
"Kamu juga sama, bukan?" Aku berdiri tegak lagi.
Kita berjalan mendekat satu sama lain.
"Kamu bersifat seperti sudah diatas angin." Lanjutku sambil menatap dia. "Aku mengapresiasi semua teknik barusan. Kamu adalah pekerja keras yang baik."
"Kamu juga memiliki bakat yang baik." Eris tersenyum kecil dan dingin.
Lalu, kita berdua sama-sama memacu kecepatan gerakan kita yang membuat kita bertabrakan di tengah. Tangan kita saling tangkis.
Eris mendorong tubuhku dengan kaki dia, membuat jarak kita kembali jauh.
Sepersekian detik. Dia langsung melancarkan serangan lagi, kali ini keseluruhan tangan dia bergerak selayaknya pedang yang memotong udara disekitarnya.
Gerakannya mengarah ke leherku.
Aku langsung agak jongkok, lalu menggunakan kaki kananku untuk menjatuhkan Eris.
Saat Eris jatuh, aku mengambil posisi diatas tubuh dia. Awalnya dia memberontak, tapi saat aku sudah sepenuhnya di atas tubuh dia. Eris mulai memasang pertahanan, dengan tangan dia yang diselubungi es.
Aku menghajar dia berkali-kali. Dentuman kecil terus terdengar saat es itu hancur, namun tidak lama kembali seperti semula seperti perisai.
Tanganku memerah. Mungkin karena dinginnya es itu. Tapi, darah juga mulai bercucuran dari tanganku saat tinjuan demi tinjuan kuarahkan ke Eris.
Disisi lain, Eris juga berusaha menarik keluar kaki dia dari bawah tubuhku. Saat salah satu kaki dia keluar dari sana, dia langsung menendang dadaku dan membuatku menjauh. Memberikan ruang agar dia bisa mundur.
Saat aku bergerak maju untuk mengejar dia.
"Pertandingan selesai." Aro mengatakan itu dengan tenang. "Sudah cukup."
Suara tepuk tangan dewa dewi yang menonton bergema.
"Hasilnya seri." Suara salah satu penonton yang bersorak.
Tapi, disisi lain ini menjadi perusak statistik pertandingan yang aku lalui.
Aku sudah melalui 25 pertempuran. 24 berisi kemenangan, tapi dengan Eris, hasil menang itu pecah. 1 hasil seri.
Aku berjalan ke tepi lapangan tempur. Tanganku perlahan sembuh dengan elemen cahayaku.
Angin mengiringi langkahku dengan meniup rambutku.
Eris sekuat yang diperkirakan.
Tapi, untuk setara denganku, kupikir dia masih memerlukan waktu.
Aku menghela nafas sambil meninggalkan lapangan tempur.
---
Di ruang putih, tempat dimana aku dibesarkan. Aku tetap tinggal pula disana. Aku paham, kalau ini adalah perkembangan yang diniatkan untuk menjadi diatas normal. Habisnya, ditempatku sekarang hanya tersisa 300 dewa dan dewi.
Mereka kebanyakan memang ditempa menjadi kuat, tapi belum diketahui apa tujuannya.
Aku hanya paham hal itu. Diluar ruang putih ini pun, tidak ada dewa dewi lain, selain kita, angkatan dibawah kita seperti Eris, dan dewa dewi Grandmaster dan Master.
Grandmaster dan Master memang ada sebagai guru disini.
Tapi, aku penasaran, kemana dewa dan dewi lain? Apakah kita adalah generasi pertama?
Tiba-tiba, ada seorang dewa yang masuk kedalam ruangan ini.
"Harap perhatian semuanya." Hyouga berjalan dengan tenang saat masuk. "Hari ini akan ada ujian spesial untuk menguji keberadaan kalian di strata tertinggi akademi."
Ujian spesial.. suatu ujian yang diadakan secara mendadak untuk benar-benar menguji kemampuan murni, tanpa membiarkan kita bersiap.
"Ujian spesial?" Gumam dewa dan dewi yang merasa trauma.
Bibir mereka memucat, pupil mereka mengecil, tangan mereka gemetaran. Sebagian bahkan bertekuk lutut karena kaki mereka gemetar parah.
"Ya. Ujian spesial." Hyouga tersenyum kecil. "Kali ini mudah. Ujian spesial ini menguji ketangkasan dan kecepatan kalian. Siapapun yang gagal, akan dikeluarkan dari strata A."
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya dewa disampingku.
Dia adalah Omega. Dewa yang kemungkinan tidak akan terpental keluar dari strata ini.
"Mudah saja." Hyouga berjalan pelan mendekati kita. "Cukup hindari serangan yang terjadi."
Sesaat setelah kalimat itu keluar. Hyouga memasang kuda-kuda serangan peleburan, kuda-kuda yang mematikan bagi dewa dan dewi.
Tangan dia mengepal, kakinya setengah jongkok, dan kedua tangannya diposisikan di sebelah pinggang dia.
Sedetik, serangan itu meluncur.
Aku dan Omega berhasil melewati itu. Sementara, dewa dan dewi yang tidak sempat menghindar langsung terpelanting.
Bibir mereka sobek, matanya nampak kosong seperti tidak punya kehidupan, tapi jari tangan mereka kejang-kejang.
Dia pasti sudah gila.
Serangan itu sekarang berfokus pada yang berhasil.
Ujian spesial selalu akan dilakukan sampai yang bertahan tidak lagi banyak. Tapi, Hyouga semakin serius. Pukulan yang dia layangkan semakin cepat dan mematikan.
Saat Hyouga mengarahkan itu ke aku. Aku menghindar berkali-kali, sesekali menangkis itu dengan mendorong tangan dia kesamping. Tapi, setiap kali aku mencoba menangkis, tanganku melepuh.
Sehingga, aku memilih meloncat ke samping, tepat dibawah tangan dia yang selalu terkunci di posisi kuda-kuda awal sebelum melontarkan serangan membabi-buta.
Satu kelemahan serangan ini.. adalah sekalipun terlihat mematikan. Serangan ini mampu dimatikan dengan cara mengincar titik buta penyerang.
Titik buta Hyouga selalu ada di rusuk dan di leher belakang.
Aku langsung memeluk salah satu tangan Hyouga yang terkunci diposisi kuda-kudanya. Lalu, menarik tangan dia untuk bergelayut, dan membuat Hyouga kehilangan posisi kuda-kuda dia.
Barulah, aku meloncat sekali lagi setelah menggunakan tangan dia untuk bergelayut. Karena terlalu cepat, aku jadi berputar di udara.
Tanganku membentuk posisi yang tenang dengan jari-jari rapat dan lurus membuka telapak tanganku. Lalu, aku mengarahkan telapak tanganku kearah leher belakang Hyouga.
Ini membuat dia batuk, sedikit mengeluarkan darah dan menghentikan dia.
Dia menoleh ke arahku dengan senyum kecil yang dingin.
"Kamu dewa kecil yang selalu mengejutkan." Hyouga berdiri tegak. "Keluarlah dari arena. Kamu lulus."
Aku berdiri tegak, kemudian berjalan dengan tenang meninggalkan ruangan ini.
Aku tidak berniat menonton apa yang akan dilakukan Hyouga kepada dewa dan dewi di strata A. Jadi, lebih baik aku keluar dari sini sebentar.
Belakangan ini, aku sering berjalan ke suatu tempat yang tenang di tepi Theon Academia. Yah, tentu saja aku tidak menghabiskan waktu berhari-hari untuk sampai, karena beberapa Relic Gateway sudah diaktifkan.
(One important piece of information is revealed :
Relic gateaway atau biasa disebut RG adalah suatu tempat teleport yang disediakan oleh pihak Theon Academia. Namun, diawal, RG tidak langsung terbuka, dikarenakan energi portal relic memerlukan ketergantungan energi untuk menyala kembali. Syarat untuk menyalakan portal ini masih dipertanyakan.)
Saat suatu RG sudah nampak di depan mataku, aku mulai memasukkan badanku kedalam sana. Batu relic mulai bereaksi, dan tubuhku mulai berpindah tempat.
Suatu pilihan muncul, untuk menentukan lokasi mana yang aku tuju. Aku langsung memilih RG lain yang berada di dekat bawah pohon. Tentu ada banyak, tapi aku memilih yang berada di tepi barat daya.
Di bawah pohon rindang, aku kembali keluar dari RG.
Aku menghela nafas pelan dan menyentuh pohon rindang itu. Daunnya sekarang berwarna keunguan. Memang tidak seperti kebanyakan pohon, karena warna daunnya berubah tergantung dengan musim atau energi mana disekitar pohon ini.
"Sedang melamun?" Suara seseorang dibelakang, suara ini cukup familiar.
Aku menoleh kebelakang, menatap dia.
"Tidak juga." Jawabku.
Dia adalah Omega.
"Kamu Sofia, bukan?" Tanya dia. Senyum kecil terbentuk di bibir dia.
"Ya. Kamu benar." Aku menjawab sambil mencoba membaca dia. "Kamu bukan dewa yang aku kenal."
"Oh. Tentu. Namaku adalah Omega." Dia berjalan mendekat kearahku. "Kita sama-sama lulus dari ujian spesial tadi. Aku penasaran, apa yang membedakan kita selain kepribadian, nama dan identitas."
Dia mencoba menantangku, ya?
"Aku tidak cukup mengerti dengan apa yang ada di pembicaraan ini."
"Kalau begitu, aku perjelas." Bisik dia. "Sofia. Ayo kita bertanding."
"Bertanding dalam hal apa?"
"Kamu pasti akan menyuruhku memilih, bukan?" Omega terkekeh pelan. "Aku tidak akan memilih. Tapi, mari kita lakukan itu dibeberapa hal sekaligus."
"Tapi, aku tidak akan bilang kalau aku akan menang–"
"Oh, kamu tidak ingin mencoba serius?" Tanya dia, suaranya tenang. "Aku akan menguburmu dengan senang hati kalau kamu tidak serius."
"Permasalahannya adalah apakah kamu bisa menguburku?" Tanyaku balik.
Jika aku dikalahkan oleh Omega disini. Itu adalah justifikasi bagiku untuk mengatakan kalau aku tidak sempurna dan memiliki cacat pada kemampuanku. Tapi, jika menang, maka artinya aku bisa cukup tahu kalau aku adalah Theon Cosmos yang diunggulkan.
"Soal itu tenang saja. Aku adalah pengubur bakat yang ahli." Jawab Omega. "Terutama bakat palsu yang diciptakan."
"Jika kamu bisa, datanglah dan cobalah hancurkan aku." Balasku.
Omega hanya terkekeh geli sambil berbalik arah. "Dengan senang hati, Sofia." Kata dia sambil berjalan menjauhiku.
Silahkan serang aku dari sisi manapun yang kau suka. Aku akan melayanimu dipanggung manapun yang kamu suka. Sekalipun mungkin, kamu mencoba menjegalku, aku akan menunggu saat dimana aku dikalahkan.
---
Di hari-hari berikutnya.
Tibalah saat, dimana strata A akhirnya tidak menyisakan dewa dan dewi lain. Hanya ada aku dan Omega.
Sisa dari mayat, dan kehancuran yang terjadi pada ujian spesial yang lalu.
Kita tersisa berdua di ruang putih ini.
Aku bisa mengatakan kalau sekarang keadaan menjadi lebih sepi. Strata A bisa dianggap runtuh dengan dinginnya sistem yang dijalankan oleh para master disini.
Kamilah yang lahir ditempat yang akan menjadi kosong. Tapi, pada saat ini, tidak semua mati di ujian spesial kemarin. Sebagian dari mereka diturunkan ke strata lain.
Ini membuatku sadar kalau ada strata lain selain strata A ini. Hanya saja, aku tidak pernah tahu dimana.
Tapi, lebih baik begini. Aku tidak mengenal mereka, dan mereka tidak mengenalku. Karena, semua ini dilakukan pasti dengan alasan yang kuat untuk menggerakkan GM untuk memberikan kebijakan ini.
Suara lonceng berbunyi.
"Silahkan duduk." Egestisa masuk sambil membawakan buku di lengan dia. "Oh, tersisa kalian berdua?"
"Ya." Omega mengangguk pelan. "Memang ini yang seharusnya terjadi, bukan? Yang terkuat akan tetap disini, sementara yang lemah akan keluar dari sini."
"Ya, itu tidak salah." Egestisa menyeringai sambil merapikan bawaan dia. "Kalau begitu, sudah aman untuk dijelaskan, ya?"
"Kupikir juga begitu." Hyouga berjalan masuk.
Untuk apa dua master ada disini? Mereka seharusnya tidak ada disaat yang bersamaan, bukan?
"Baiklah jika kamu bilang begitu." Egestisa tersenyum sambil mengusap papan tulis dengan jari dia.
Tertulis disana:
– Strata Theon Cosmos pada konsep Theon Academia. –
"Baiklah, kita jelaskan sekarang." Ucap Hyouga. "Sebelumnya, aku ingin mengapresiasi kalian berdua karena berhasil bertahan di strata A selama 4 tahun lebih ini. Tepuk tangan pada diri kalian."
Kita semua bertepuk tangan, tidak terkecuali Egestisa dan Hyouga.
"Selanjutnya, mari kita jelaskan semuanya." Egestisa menatap kita berdua. "Tapi, aku punya pertanyaan: apakah diantara kalian ada yang sudah mencoba menggali sistem strata pada Theon Academia?"
Suasana hening sejenak.
"Sepertinya tidak ada." Egestisa tersenyum agak licik dan mengejek. "Kalau begitu, silahkan jelaskan pada mereka."
"Pertama-tama, kami ingin menjelaskan kalau Theon Academia menjalankan strata sosial sejak awal dibangun–sekitar 80 abad yang lalu." Jelas Hyouga sambil berjalan disekitar papan tulis.
"Ini dilakukan untuk menyortir dewa dan dewi, mana yang unggul dan mana yang buangan. Karena, terkadang dewa dan dewi yang tidak di sortir malah keluar dari akademi dengan kondisi tercampur dan mengakibatkan dewa dan dewi sempat turun ke dunia dengan kondisi begini." Lanjut Egestisa, dia menghela nafas pelan.
"Awalnya, kami berniat hanya cukup dengan menyortir dari bakat yang nampak saat lahir. Tapi, itu tidak berhasil." Hyouga tersenyum kecil, lalu memegang papan tulis. "Maka akhirnya kalian dipecah menjadi strata A hingga F diawal, sebelum kalian dimasukkan ke kategori akhir berupa strata identitas kalian yang asli."
"Dengan sampai disini. Kalian sudah aman dengan posisi strata yang strategis diatas semua strata siswa dan siswi. Kalau dengan kata lain, kalian semua hanya berada dibawah GM dan Master." Jelas Egestisa.
"Jadi, sekali lagi. Selamat bagi kalian berdua telah mencapai posisi ini." Hyouga tersenyum manis. "Kalian diizinkan istirahat hingga tahun ke-5 dimulai. Karena, tidak ada lagi materi yang akan kami berikan lagi."
Omega mengangkat tangan.
"Pada tahun ke-5, artinya kami bebas?" Tanya Omega.
"Ya. Kalian bebas. Tapi, kalian tidak boleh keluar ke tempat strata lain. Jika perlu, beristirahat lah didalam sini tanpa pergi kemana-mana sebelum ujian penutup strata lain dimulai dan diakhiri." Jawab Hyouga dengan sedikit sinis. Tapi, mata dia fokus menatap kita berdua.
"Kalau begitu. Apakah ada pertanyaan lain? Dari Sofia, misalnya." Egestisa menoleh kearahku.
"Tidak ada." Jawabku. Hampir tetap dengan wajah datar dan nada suara yang nihil emosi.
"Baiklah. Kami senang jika kalian sudah mengerti." Egestisa mengangguk sambil tersenyum. "Kalau begitu, hari ini cukup sampai disini."
Setelah itu, Egestisa dan Hyouga keluar dari ruangan. Meninggalkan aku dan Omega berdua.
Dari sini. Aku paham kalau jalan ini akan berakhir sedikit lagi, sebelum tahun kelima nanti akan ada hal lain yang dilakukan oleh mereka.
Daftar bab
11 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








