
Hasrat Liar Sang Aktivis
Adam-AM|Bersambung
- Jumlah kata
- 95.7K
- Popular
- 686
- Subscribe
- 94
- Jumlah kata
- 95.7K
- Popular
- 686
- Subscribe
- 94

Adam-AM|Bersambung
Di tanah dingin Malino, Asdar tumbuh tanpa belaian orang tua, dibesarkan oleh kemiskinan dan kerasnya takdir. Yatim piatu sejak kecil, ia terpaksa menumpang di rumah orang lain demi melahap lembar demi lembar pendidikan dari SD hingga SMA, menukar keringat di bawah cemoohan orang-orang demi secangkir ilmu. Namun, di dalam dadanya yang kurus, mengalir deras prinsip Siri’ na Pacce falsafah Bugis-Makassar yang menempa harga dirinya agar pantang menyerah dan tak sudi ditindas. Langkah kakinya kemudian menginjak bumi Makassar, bergulat dengan sengatan matahari dan debu semen sebagai kuli bangunan demi mengumpulkan tiap rupiah untuk biaya kuliah. Di kampus, Asdar tak sekadar belajar, ia menemukan panggung perjuangannya melalui dunia organisasi mahasiswa. Berawal dari menjaga markas hingga mengkader para junior, wibawa dan ketajaman pemikirannya perlahan membentuknya menjadi figur yang disegani. Di antara riuhnya konsolidasi dan gemuruh pergerakan, takdir mempertemukannya dengan Gracia, mahasiswi muda asal Toraja yang memegang teguh tradisi keluarganya. Keteguhan dan ketegasan Gracia yang semula sulit ditembus perlahan luluh di hadapan karisma dan integritas Asdar, melahirkan benih cinta yang tumbuh di tengah kepulan gas air mata dan ketegangan aksi. Puncak perjuangan Asdar meledak saat suaranya menggema di atas mimbar bebas. Kepiawaiannya berorasi memimpin puluhan ribu gabungan mahasiswa sanggup melumpuhkan jalan-jalan protokol utama kota Makassar, menjadikannya ikon perlawanan yang dicintai rakyat kecil sekaligus ditakuti para elit. Seiring namanya yang makin tersohor, badai konspirasi, tawaran uang pelicin, hingga intrik politik mulai mengintai, memaksa sang aktivis mempertaruhkan idealisme, cinta, dan harga dirinya di atas panggung kekuasaan.
1 ulasan
rosihan Hasan
30/8/26 13:51
menarik novel ini, cerita nya sungguh bisa menghadirkan realita sosial yang ada disertai dengan penerapan kajian hukum dalam konteks keadilan dan kepastian hukum, menarik untuk di ikuti kelanjutannya
Kabut tebal Malino turun bagai tirai raksasa yang membungkus lereng-lereng pinus, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam dapur kecil beratap seng berkarat, aroma asap kayu bakar yang basah berbaur menyengat dengan bau kemiskinan yang telah lama mengendap.
Asdar bocah dua belas tahun dengan mata setajam elang gunung menatap mangkuk seng di hadapannya. Tidak ada ikan, tidak ada sayur hangat. Hanya ada segumpal nasi dingin disiram sedikit minyak kelapa bekas dan taburan garam kasar.
"Makanlah, Asdar," suara lirih Dg. Baco terdengar dari sudut dipan kayu lapuk, disela batuk parau yang mengocok dadanya. "Besok kau harus bangun sebelum Subuh. Daeng Hamzah tidak suka anak yang menumpang kerja datang terlambat. Sapi-sapinya harus diberi makan sebelum dia berangkat ke pasar."
Asdar menyuap nasi dingin itu tanpa bersuara. Setiap kunyahan terasa begitu alot di tenggorokannya. Sejak kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tragis di jurang tebing saat ia masih balita, kata kasihan telah dicoret dari hidupnya. Di Malino yang subur ini, anak yatim piatu yang miskin hanya diberi sisa-sisa pekerjaan berat. Namun, di balik kulit kusam dan tubuh kurusnya, mengalir kental darah Bugis-Makassar: Siri’ na Pacce falsafah harga diri dan rasa empati yang tertanam bukan lewat teori, melainkan lewat perihnya jalanan hidup.
"Aku tidak akan selamanya begini, Kakek," bisik Asdar penuh tekad, meremas pinggiran mangkuk sengnya. "Suatu hari, orang-orang di kampung ini tidak akan lagi memanggilku 'anak buangan' atau 'pembersih kandang'."
Dg. Baco menatap cucunya dengan mata rabun yang dilingkupi selaput putih. "Jangan takabur, Nak. Perutmu diisi dari upah mencuci piring dan membersihkan kotoran ternak. Siapa yang tidak memiliki rasa malu dan harga diri, dia bukanlah manusia. Tapi jangan biarkan harga diri membakarmu jadi abu."
"Justru karena aku punya Siri', Kakek," potong Asdar, matanya berilat di remang cahaya pelita. "Aku mau sekolah supaya tidak ada lagi orang yang bisa menunjuk muka kita dan mengusir kita seperti anjing!"
Pagi belum pecah di lembah ketika Asdar sudah berada di halaman belakang rumah panggung mewah milik Daeng Hamzah. Udara subuh merusuk bagai es. Jemari Asdar kaku memegang sekop berkarat, membersihkan kotoran di kandang sapi yang aromanya menyengat demi sejumput rupiah untuk membeli buku dan bayar iuran sekolah.
"Pagi, Asdar! Kau lambat sekali!"
Daeng Ruslan, anak Daeng Hamzah yang sebaya dengannya, berdiri di pintu kandang dengan seragam putih-merah bersih yang licin disetrika serta sepatu hitam mengkilap. Matanya menatap Asdar dengan jijik seraya menutup hidung.
"Cepat bersihkan bagian sana! Sepatuku bisa kotor kalau lewat!" perintah Ruslan penuh nada menghina. "Ingat ya, kalau bukan karena ayahku kasihan pada kakekmu yang sekarat itu, kalian sudah mengemis di jalanan! Tahu diri sedikit!"
Jemari Asdar memegang gagang sekop semakin mengetat hingga buku-buku jarinya memutih. Siri'-nya bergejolak hebat, mendesak tangannya untuk menghantamkan sekop besi itu tepat ke wajah sombong Ruslan. Namun, bayangan Dg. Baco dan Nenek yang menggigil di gubuk membendung amarahnya. Jika ia memukul Ruslan hari ini, keluarganya akan diusir malam ini juga.
"Iya, Ruslan. Aku bersihkan sekarang," jawab Asdar dengan suara dingin yang datar. "Bagus. Anak kuli tetap anak kuli. Sampai mati pun kau tak akan pernah setara denganku," cela Ruslan seraya meludah ke tanah, tepat di dekat sandal jepit tipis Asdar, lalu melangkah pergi sambil tertawa puas.
Asdar menatap punggung anak tuan tanah itu. Dengan seluruh sisa tenaga kemarahannya, ia menghantamkan sekop ke tumpukan kotoran basah hingga terbelah dua. "Lihat saja, Ruslan..." bisiknya tajam di keremangan kandang. "Suatu hari nanti, di mana pun kau berdiri, kau harus menengadah hanya untuk menatap mataku!"
Siang hari di SD Negeri Malino, saat anak-anak lain berhamburan ke kantin membawa uang saku, Asdar memilih duduk sendiri di bawah rindangnya pohon pinus tua di sudut lapangan. Dari dalam tas kain robek hasil jahitan tangan neneknya, ia mengeluarkan bekalnya: sepotong ubi kayu rebus yang sudah dingin dan keras. Ia mengunyahnya pelan sambil membolak-balik halaman buku Bahasa Indonesia yang sampulnya telah terlepas.
"Hei, lihat si pemakan ubi!"
Tawa renyah yang membakar telinga itu terdengar lagi. Ruslan datang memboyong tiga temannya, memamerkan botol minuman bersoda dingin dan sebungkus roti cokelat yang semerbak manis.
"Kau tidak punya uang untuk beli makanan di kantin, ya?" ejek salah satu kawan Ruslan. "Kasihan sekali. Asdar, kalau kau mau, ini ada sisa kulit rotiku, daripada dimakan anjing!" Ruslan tertawa gelak, lalu dengan sengaja melemparkan pinggiran roti cokelat yang keras ke tanah, tepat di atas sepatu kusam Asdar. "Ayo ambil, Asdar! Lumayan untuk menambah gizi otakmu yang kaku itu!"
Beberapa murid lain yang melintas mulai mengerumuni lokasi, menjadikan hinaan itu sebagai tontonan gratis. Ada yang tertawa meledek, ada pula yang menatap Asdar dengan pandangan iba dan bagi Asdar, tatapan iba orang lain jauh lebih merendahkan daripada deretan cemoohan Ruslan.
Asdar berhenti mengunyah. Pelan-pelan, ia meletakkan bukunya di rumput. Ia berdiri tegak. Tubuhnya yang terbentuk dari kerja kasar di kebun tampak tegang dan kaku. Udara di sekitar pohon pinus itu mendadak mengencang.
"Ambil rotinya, Ruslan," kata Asdar tenang, namun sarat akan tekanan. "Apa kau bilang?" Ruslan menaikkan alisnya, merasa kekuasaannya digugat. "Aku bilang, ambil rotimu yang jatuh itu," ulang Asdar seraya melangkah maju satu tindak. Tatapan mata elangnya mengunci manik mata Ruslan tanpa kedip. "Ibuku mengajariku, membuang makanan adalah perbuatan pemalas yang tidak menghargai rezeki. Kau yang punya roti, kau yang harus mengambilnya dari tanah!"
"Kau... kau berani memerintahku, Anak Kuli?!" wajah Ruslan memerah lantaran malu berhadapan dengan tatapan intimidatif Asdar. Ia maju dan mendorong dada Asdar sekuat tenaga. "Kau lupa siapa yang memberi makan keluargamu, hah?!"
Dorongan itu tak membuat tubuh kekar Asdar goyah sedikit pun. Di dalam dadanya, darah Maccini siri' meledak hebat. Malu ini bukan lagi sekadar urusan dirinya, melainkan tentang nama baik kakek dan kehormatan almarhum orang tuanya. Sebelum Ruslan sempat melayangkan pukulan kedua, Asdar bergerak secepat kilat.
Brak!
Tangan kapalan Asdar meluncur lurus, mencengkeram kuat kerah baju seragam bersih Ruslan, lalu memutarnya dengan tenaga kuli. Ruslan terhenyak kaget, tubuhnya terseret maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Asdar.
"Dengar baik-baik, Ruslan," bisik Asdar dengan suara berat bergetar oleh amarah yang tertahan bertahun-tahun. "Ayahmu membayar keringatku dengan uang, bukan dengan harga diriku! Aku bekerja untuk setiap rupiah yang kuambil, aku tidak mengemis! Sekali lagi kau lemparkan makanan ke kakiku, aku pastikan mulutmu memakan tanah!"
Ruslan gemetaran, napasnya tertahan oleh cengkeraman tangan Asdar yang seperti jepitan besi. Ia melihat kepedihan dan kegelapan di mata Asdar mata seorang anak laki-laki yang tak lagi memiliki apa pun untuk rugi. Keributan itu baru terhenti saat Pak Syamsul, guru olahraga, berlari melerai. Kendati Ruslan merengek dan memutarbalikkan cerita, Pak Syamsul yang paham tabiat buruk anak tuan tanah itu hanya membawa Asdar ke ruang kepala sekolah untuk diberi teguran tertulis.
Malam harinya, hukuman sesungguhnya yang menakutkan itu mendatangi gubuk mereka. Daeng Hamzah datang sendiri memboyong dua orang penjaganya yang bertubuh kekar. "Baco! Cucumu yang kurang ajar itu hampir mencelakai anakku di sekolah! Beraninya dia memegang kerah baju anakku! Apa kau tidak pernah mengajarinya sopan santun?!" bentak Daeng Hamzah, suaranya menggema membelah keheningan malam.
"Ampun, Tuan... ampunkan cucu saya..." Dg. Baco bersimpuh di lantai papan gubuk yang berderit, membungkukkan tubuh rentanya hingga dahinya hampir menyentuh kayu. "Asdar masih kecil. Dia khilaf... tolong jangan putuskan pekerjaan kami..."
Dada Asdar serasa teriris melihat satu-satunya pelindung hidupnya harus merendahkan diri sedemikian rupa di hadapan manusia sombong. Rasa Pacce perih melihat kehormatan keluarganya diinjak-injak membakar jiwanya hingga tak tertahankan. Ia meloncat maju, mencoba menarik bahu kakeknya.
"Kakek, jangan membungkuk padanya! Kakek tidak salah!" jerit Asdar.
"Diam kau, Asdar!" bentak Dg. Baco dengan air mata menetes membasahi pipinya yang kempot.
Daeng Hamzah tertawa sinis, menatap Asdar dengan tatapan penuh kebencian. "Lihat? Anak ini memang tidak tahu untung! Dengarkan aku baik-baik, Baco! Mulai besok, cucumu dilarang keras menginjakkan kaki di kebun dan kandangku! Dan ingat, tanah tempat gubuk lapukmu berdiri ini adalah milik keluargaku. Jika dalam tiga bulan kalian tidak bisa membayar sewa tanah ini, angkat kaki kalian dari sini!"
Tuan tanah itu berlalu meninggalkan gubuk menembus kabut, menyisakan isak tangis Nenek dan keheningan yang meremas dada. Asdar berlutut di samping kakeknya yang terengah-engah memegangi dada.
"Kakek... maafkan aku," bisik Asdar, air mata penyesalan akhirnya menetes di tangannya yang kasar.
Dg. Baco memegang jemari cucunya dengan tangannya yang dingin dan gemetar. "Asdar... darah di tubuhmu adalah darah orang berani. Tapi ingat, keberanian tanpa ilmu adalah kebinasaan. Kau marah karena harga diri kita diinjak-injak, kan?"
Asdar mengangguk pelan.
"Jangan pernah lawan mereka dengan otot atau amarah yang buta," Dg. Baco menunjuk dada lalu kepala Asdar. "Lawan mereka dengan ini. Belajarlah. Jadilah orang pintar dan besar yang suaranya didengar oleh seluruh negeri. Hanya dengan begitu Siri' keluarga kita bisa ditegakkan dengan terhormat."
Kata-kata itu mengkristal, terpatri abadi dalam jiwa Asdar. Malam itu, di bawah hembusan angin lembah Malino yang dingin menusuk, Asdar mengikrarkan janji suci: ia akan bertahan hidup, menuntaskan sekolahnya dengan keringat sendiri, dan kelak berangkat menaklukkan kota.
75 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.