
Pendekar Penentang Langit
Sharip|Bersambung
- Jumlah kata
- 752.6K
- Popular
- 165.5K
- Subscribe
- 1.6K
- Jumlah kata
- 752.6K
- Popular
- 165.5K
- Subscribe
- 1.6K
Sinopsis
Ia lahir tanpa bakat, dicemooh, disingkirkan. Hidupnya hanya penuh luka, jalan buntu, keputusasaan. Namun namanya Arka Pedja, pemuda yang berani menentang langit. Demi menegakkan kebenaran, ia rela mengorbankan segalanya, bahkan nyawanya sendiri. Saat takdir mempertemukannya dengan dewi berstatus agung, roda nasib pun mulai berputar. Dari titik terendah menuju puncak dunia, lahirlah seorang legenda yang tak pernah tunduk pada siapa pun…
Ulasan
19 ulasan
JACKBROWN
9/7/26 21:52
Izin promosi ya, Kak. Judulnya: Kebangkitan Dewa Pedang Dijamin seru dengan alur yang bikin penasaran, pertarungan epik! Jangan sampai ketinggalan!
Ranger Merah
9/7/26 16:33
permisi, ijin promosi tulisanku ya kak Author🙏 Judulnya: The Writers of Fate Genre: Fantasy, Transmigrasi, Regresi, Reinkarnasi, Imortal, Adventure Di dunia yang dipenuhi sihir, naga, dan reruntuhan peradaban kuno, empat sosok dengan takdir yang berbeda memulai perjalanan yang akan mengubah sejarah. Sang Transmigrator, pengembara dari dunia lain yang membawa pengetahuan yang tak seharusnya ada. Sang Regresor, jiwa yang kembali ke masa lalu demi mencegah masa depan yang penuh kehancuran. Sang Reinkarnator, seseorang yang terlahir kembali dengan kehidupan kedua serta kesempatan untuk menebus penyesalan masa lalunya. Dan Manusia Pertama, sosok misterius yang menjadi titik awal dari seluruh sejarah umat manusia. Mereka berasal dari jalan yang berbeda, mengejar tujuan yang berbeda, dan memikul beban yang berbeda pula. Namun, ketika takdir mempertemukan keempatnya, rahasia terbesar dunia perlahan mulai terungkap. Inilah kisah empat petualang yang akan menantang para dewa, mengguncang kerajaan, dan mengukir legenda yang kelak dikenang sepanjang zaman.
Bab 1
Judul: Pendekar Penentang Langit
Sinopsis:
Ia lahir tanpa bakat, dicemooh, disingkirkan. Hidupnya hanya penuh luka, jalan buntu, keputusasaan. Namun namanya Arka Pedja, pemuda yang berani menentang langit. Demi menegakkan kebenaran, ia rela mengorbankan segalanya, bahkan nyawanya sendiri. Saat takdir mempertemukannya dengan dewi berstatus agung, roda nasib pun mulai berputar. Dari titik terendah menuju puncak dunia, lahirlah seorang legenda yang tak pernah tunduk pada siapa pun…
"Keparat… kenapa selalu begini…"
Di dalam sebuah gubuk kecil yang sudah tua, tapi selalu disapu bersih, seorang pemuda duduk dengan kedua tangan mengepal. Wajahnya tegang, matanya menyiratkan rasa tidak rela. Suaranya keluar rendah, nyaris seperti geraman.
"Huuh… sekali lagi…" Ia menarik napas panjang, lalu kembali duduk bersila. Perlahan, raut wajahnya kembali tenang.
"Ingat, tarik napas…" gumamnya pelan. Kedua tangannya diangkat sejajar, ia menarik napas dalam-dalam, seolah hendak menyedot energi dari alam sekitar ke dalam tubuhnya.
"Jalankan…" pikirnya dalam hati. Mengikuti petunjuk dalam metode kultivasi yang diwariskan ibunya, ia mengendalikan energi tipis yang baru saja masuk ke tubuhnya. Dengan penuh kesungguhan, ia mengalirkan tenaga itu, memacu kekuatan dalam tubuh yang sudah lama penuh sesak. Energi itu berputar, mengikuti jalur meridian tubuhnya, mengalir satu putaran penuh, sebelum akhirnya diarahkan masuk ke pusat energi di perut bawah.
"Huuh…" Ia menahan napas. Wajahnya sedikit tegang, keringat tipis muncul di keningnya. Ia memaksa diri untuk tetap tenang sebelum melanjutkan.
"Kondensasikan!" serunya lirih. Dengan cepat, ia memutar energi yang terkumpul di dalam pusat energi. Pusaran itu semakin kencang, perlahan-lahan terkondensasi menjadi semacam gumpalan mirip kabut, tapi juga mirip cairan yang berbentuk seperti gelembung energi samar.
Sedikit demi sedikit, gelembung itu mulai terbentuk. Hanya tinggal sedikit lagi untuk benar-benar sempurna.
"Crak!"
Tiba-tiba, gelembung itu meletus. Suara pecahnya terdengar jelas, dan seketika energi yang hampir terkondensasi itu buyar, kembali tercerai-berai memenuhi tubuhnya.
Seluruh usahanya dalam satu jam terakhir hancur begitu saja.
"Kenapaaa!!" teriaknya. Matanya melebar, giginya terkatup rapat menahan amarah dan kekecewaan. Ia benar-benar tak bisa menerima kenyataan ini.
Ia lagi-lagi gagal menembus Tingkat Pertama Pelatihan Energi.
Bila tingkat pertama saja tidak bisa ia lewati, maka selamanya ia tidak akan bisa menapaki jalan kultivasi.
"Arka Pedja… ayo ikut kami cari obat!"
Suara dua anak kecil terdengar dari luar pintu, memanggilnya.
"Haah…" Arka Pedja, pemuda itu, hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, yang memanggil adalah dua sepupunya yang sudah lebih dulu berhasil menembus Tingkat Kedua Pelatihan Energi.
Namanya Arka Pedja, salah satu anak keturunan langsung keluarga Pedja. Dalam keluarga Pedja, seorang anak yang sudah berusia tiga belas tahun hanya diakui sebagai murid resmi bila berhasil menembus Tingkat Ketiga.
Apalagi, para penjaga keluarga Pedja saja rata-rata sudah berada di Tingkat Kedua, bahkan tidak sedikit yang mencapai Tingkat Ketiga.
Namun…
Hanya Arka Pedja, yang sejak usia empat tahun berlatih, sampai sekarang sepuluh tahun berlalu, bahkan Tingkat Pertama pun tak pernah berhasil ditembus. Ia sudah terkenal di seluruh kota kecil itu sebagai si sampah.
Meski begitu, kegagalannya selama sepuluh tahun justru membentuk keteguhan hati yang jarang dimiliki orang seusianya. Rasa kecewa hanya sesaat, setelah itu ia bisa cepat bangkit lagi. Dengan tenang, ia mengenakan pakaiannya, meraih keranjang bambu yang tergantung di belakang pintu, lalu melangkah keluar.
Di luar, dua anak laki-laki berusia sekitar sebelas atau dua belas tahun menunggunya dengan wajah ceria. Mereka berdua tampan, wajahnya berseri, jelas terlihat sebagai bibit unggul keluarga Pedja.
"Ayo, kita berangkat," kata Arka Pedja sambil tersenyum tipis pada dua sepupunya itu. Ia tidak banyak bicara.
"Lihat tuh, si sampah mau ke hutan lagi…"
Belum sempat mereka bertiga melangkah jauh, sebuah suara penuh ejekan terdengar dari arah halaman.
Arka Pedja menoleh. Seketika wajahnya mengeras, sorot mata penuh kebencian melintas sesaat sebelum ia buru-buru menahannya.
Seorang pemuda berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun melangkah maju. Pakaian mewah menempel di tubuhnya, wajahnya penuh kesombongan, diikuti beberapa pengikut yang tampak senang bisa ikut menyaksikan. Tatapannya langsung menancap pada Arka Pedja, penuh rasa puas.
"Irawan Pedja…" gumam Arka Pedja dengan nada dingin. Ia menatap pemuda itu sejenak, ada api kemarahan yang menyala di matanya. Tapi dalam sekejap ia menundukkannya, menggantinya dengan senyum pahit dan langkah tenang untuk berlalu.
Irawan Pedja adalah anak dari bibi keempat Arka Pedja, termasuk cabang samping keluarga Pedja. Sejak kecil ia tidak pernah akur dengan Arka Pedja, selalu mencari cara untuk menjatuhkan dan mempermalukannya.
Meski hanya keturunan cabang, kemampuan Irawan Pedja sudah mencapai Tingkat Ketiga Pelatihan Energi. Di kalangan generasi keempat keluarga Pedja yang berusia di atas tiga belas tahun, memang ia termasuk yang paling lemah. Tapi dibanding Arka Pedja, yang sepuluh tahun lebih berlatih namun tak kunjung menembus Tingkat Pertama, perbedaan itu bagai langit dan bumi.
"Hmph!" Senyum tipis di wajah Arka Pedja seketika sirna begitu melihat wajah congkak Irawan Pedja. Hatinya terasa berat. Sejak kecil ia selalu jadi sasaran ejekan, sementara dirinya kalah kemampuan, tak pernah bisa melawan balik. Maka ia memilih untuk memutar sedikit langkah, berniat menghindar.
Namun Irawan Pedja mana mungkin melepas kesempatan. "Hei, dasar sampah! Mau kabur, hah?" teriaknya, langsung menghadang di depan Arka Pedja.
"Menyingkirlah," ucap Arka Pedja dengan nada berat, berusaha menahan amarah yang sudah mendidih di dadanya.
"Hahaha! Aku tidak akan menyingkir. Kalau punya nyali, pukul aku! Ayo, pukul aku!" Irawan Pedja malah sengaja mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari Arka Pedja, penuh ejekan.
Kedua tangan Arka Pedja mengepal kencang, buku jarinya sampai memutih.
"Irawan Pedja, jangan keterlaluan! Kalau Kak Shinta Pedja ada di sini, kau pasti sudah dihajar habis-habisan!" teriak dua sepupunya yang ikut bersama Arka Pedja. Mereka berusaha membela, meski wajah mereka mulai pucat.
"Huh! Shinta Pedja jauh di perantauan. Di sini dia tidak bisa menolongmu. Kalau kalian berdua berani banyak bicara lagi, kubikin kalian menyesal!" Irawan Pedja melirik tajam ke arah dua bocah itu, membuat mereka langsung ciut. Bagaimanapun, mereka hanya anak kecil, tak mungkin bisa melawan Irawan Pedja yang kekuatannya jauh di atas mereka.
"Kalau memang berani, lawan aku! Jangan tunjukkan keberanianmu pada mereka!" suara Arka Pedja rendah, tapi matanya menatap lurus pada Irawan Pedja.
"Hahaha… ternyata si sampah masih bisa melawan? Kau itu tidak lebih dari bangkai hidup! Satu tamparan dariku bisa bikin kau mati!" ejek Irawan Pedja sambil tertawa sinis.
Kedua tangan Arka Pedja bergetar, bunyi gemeretak terdengar jelas. Ia sudah tidak tahan.
Lalu Irawan Pedja menambahkan dengan nada penuh hinaan, "Oh ya, adik perempuanmu… makin hari makin cantik. Kalau kau rela menyerahkannya untuk melayaniku, mungkin aku bisa sedikit kasihan dan tidak mengganggumu lagi."
"Dasar bajingan! Kau bermimpi!" Arka Pedja langsung meledak, mengerahkan segenap tenaga, tinjunya berlapis tipis kekuatan energi yang baru saja dipelajarinya, menghantam ke arah Irawan Pedja.
Namun Irawan Pedja hanya tersenyum meremehkan. "Sampah tetaplah sampah!" Dengan gerakan ringan, ia menghindar lalu melancarkan serangan balasan.
"Gelombang Cakra!" serunya lantang. Dari telapak tangannya melesat riak energi tipis yang menghantam tepat di dada Arka Pedja.
"Ugh!" Darah segar langsung muncrat dari mulut Arka Pedja. Tubuhnya goyah, hampir ambruk kalau saja dua sepupunya tidak cepat menahan. Meski berhasil tetap berdiri, wajahnya pucat pasi dan napasnya tersengal, jelas luka di dalamnya cukup parah.
"Lihat? Sampah sepertimu berani melawan aku? Hahaha!" Irawan Pedja tertawa puas, suaranya menggema di halaman. Sebelum pergi, ia masih sempat berbalik menambahkan racun dalam kata-katanya, "Tunggu saja. Begitu adikmu dewasa, aku akan menjadikannya selirku!"
Arka Pedja menggertakkan gigi hingga hampir patah, tubuhnya bergetar hebat menahan amarah. Ia ingin menyerbu, tapi darah di dadanya bergejolak, membuat langkahnya goyah. Ia sadar betul, jangankan Irawan Pedja, bahkan para pengikut Irawan Pedja saja yang rata-rata sudah berada di Tingkat Kedua Pelatihan Energi pun masih terlalu kuat untuknya.
"Kenapa… kenapa aku begitu lemah…" gumamnya dengan suara serak, tangan mengepal hingga telapak berdarah. Di matanya, sosok Irawan Pedja yang meninggalkan halaman dengan tawa sombong seakan membakar hati dan harga dirinya.
"Bang Arka, kau baik-baik saja?" Dua sepupunya dengan panik memijat bahunya, mencoba menyalurkan sedikit kenyamanan.
"Aku tidak apa-apa…" Arka Pedja menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan sakit di dadanya. Padahal sebenarnya luka dalam akibat Gelombang Cakra itu cukup parah. Dari luar tampak tidak terlalu mengganggu gerakannya, tapi di dalam tubuhnya energi berantakan, nyeri menusuk-nusuk dan butuh waktu lama untuk pulih.
Irawan Pedja jelas sengaja menahan diri, bukan untuk menghabisinya, melainkan untuk menyiksa perlahan.
"Aku akan lapor pada Kakek!" salah satu sepupunya gemetar marah.
"Tidak! Jangan katakan pada siapa pun!" Arka Pedja cepat menghentikan mereka. Tatapannya keras, giginya terkatup rapat. Dulu, saat Kak Shinta masih ada di rumah, ia selalu melindungi dirinya. Tapi sekarang, Arka Pedja tidak mau lagi hidup hanya dalam lindungan orang lain.
Ia menunduk, kedua tangannya mengepal seakan hendak menembus kulit sendiri. Dalam hati ia bersumpah, dengan suara yang hanya bisa ia dengar sendiri:
"Cepat atau lambat, aku akan membalas semua ini. Satu per satu, semua akan kutagih kembali!"
Daftar bab
664 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
664 bab








