
Aku Raja Keabadian
Bonifasius|Bersambung
- Jumlah kata
- 236.2K
- Popular
- 7.8K
- Subscribe
- 298
- Jumlah kata
- 236.2K
- Popular
- 7.8K
- Subscribe
- 298
Sinopsis
Raja Keabadian Tanah Aruna, seorang Yang Mulia Ahli Pedang pada masanya. Demi menghalangi serangan Alam Iblis, dia seorang diri bertarung melawan enam Raja Besar Iblis, dan akhirnya gugur. Setelah bereinkarnasi dan terlahir kembali, dia kembali ke titik awal kehidupan sebelumnya: Alam Roh dan Bela Diri! Ketika ingatan kehidupan sebelumnya membanjiri benaknya, pada hari ini ratusan tahun kemudian, alam abadi, alam fana, semuanya akan menyambut perubahan menyeluruh karena dirinya terlahir kembali dalam kehidupan ini!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Saat itu gerimis turun terus-menerus.
Seluruh Kota Abhra juga dipenuhi kabut tipis.
Di dalam Rumah Judi Tulip di bagian barat kota, lampu menyala terang. Suara dadu dilemparkan dan kartu yang dikocok saling bersahutan. Terdengar juga suara teriakan taruhan yang dipasang. Ada tawa, makian, dan amarah bercampur.
Di luar rumah itu, Aji terkulai tak bertenaga di tengah gerimis. Dingin menusuk tulang, tubuhnya bahkan terasa sakit tak tertahankan.
"Dingin sekali ...."
"Tubuhku ... sama sekali tidak bisa bergerak ...."
Melihat rintik gerimis yang menyentuh punggung tangannya, Aji merasa kesadarannya perlahan mulai kabur. Napasnya juga mulai lemah, dan jari-jarinya yang masih gemetar juga perlahan berhenti bergetar.
"Aku ini, hampir mati ya?"
Tepat ketika ia mengira semuanya akan berakhir, cahaya mata Aji yang semula telah redup tiba-tiba berkilat terang.
Di dalam benaknya, beberapa gambaran jauh yang terasa pernah dikenalnya tiba-tiba muncul.
Bayangan itu adalah sebuah medan perang luar biasa tempat para raja keabadian dan iblis saling bertarung.
Di atas langit berwarna asing, ada seorang pria berbaju putih berdiri melayang di udara. Dia Seorang diri tanpa gentar menghadapi serangan gabungan enam Kaisar Iblis. Pedang panjang di tangannya mengalirkan aura jiwa yang agung, langsung menembus awan.
Dalam pertempuran ini, matahari dan bulan kehilangan cahaya. Bahkan langit sampai runtuh dan bumi retak.
Pada akhirnya, enam Raja Besar Iblis itu nyaris menghancurkan raga orang itu setelah tiga tewas dan dua terluka.
Tepat ketika roh pria itu terpisah dari tubuhnya, pedang ilahi takdir di tangannya tiba-tiba memancarkan cahaya yang menyilaukan, menggerakkan metode kelahiran kembali, dan menyerap rohnya ke dalamnya. Lalu terjadilah satu putaran reinkarnasi.
"Aku ... sudah mengingatnya ...."
Aji akhirnya tersadar sepenuhnya.
Orang ini adalah ... kehidupan laluku!
Dengan nama yang sama denganku. Yang Mulia Pedang Alam Abadi dahulu, seorang pemimpin Wilayah Abadi Tanah Aruna: Raja Besar Aji Candika.
Ingatannya berangsur jelas. Aji merasa aliran hangat memasuki kesadarannya. Saat itulah, dia mengetahui kehidupan sebelumnya menjadi Raja Besar Abadi.
Dengan meminjam ingatan Raja Besar Abadi yang terbangun, Aji menggerakkan beberapa mantra penyembuhan sederhana. Rasa dingin dan sakit perlahan menghilang, dan dia pun dapat duduk.
Dia mencoba mengalirkan tenaga menyusuri pembuluh nadi, tetapi kondisi tubuhnya yang buruk tak kuasa membuat Aji mengerutkan alis.
"Pembuluh nadi tersumbat oleh endapan, darah dan tenaga setipis benang, Raja Besar Abadi kehidupan sebelumnya, seorang diri dengan satu pedang bertarung melawan enam Raja Besar Iblis. Tak kusangka dalam kehidupan ini, aku malah menjadi orang tak berguna bertubuh lemah dan tidak bisa berkultivasi."
"Selama belasan tahun ini, menjadi menantu Keluarga Jayawangsa, benar-benar cukup memalukan ...."
Aji dalam kehidupan ini, dahulu adalah keturunan Keluarga Candika, keluarga ternama nomor satu di Kota Abhra. Ayahnya Yudha Candika dan ibunya Syanti Wijaya. Keduanya adalah ahli papan atas di dalam kota.
Keturunan mereka berdua seharusnya adalah anak kebanggaan satu generasi. Semua orang memberi harapan besar kepadanya.
Namun sayangnya Aji memiliki cacat bawaan dari langit. Sejak hari kelahirannya, dia kehilangan satu jiwa dan satu sukma. Hingga usia lima tahun, dia masih tidak bisa berbicara. Mencoba berkultivasi pun sama sekali tidak mengalami kemajuan sedikit pun.
Yudha dan Syanti sangat mencintai anak mereka. Mereka sampai tak segan meninggalkan harta keluarga, pergi ke perbatasan bagian barat untuk mencari gunung abadi dan tabib terkenal sampai kini mereka tetap tidak ada kabar sama sekali.
Sebelum berangkat, Yudha menyerahkan seluruh harta keluarga dan anak mereka, Aji kepada kepala Keluarga Jayawangsa, Tanto Jayawangsa.
Keluarga Candika dan Jayawangsa bersahabat secara turun-temurun. Yudha dan Tanto bahkan adalah sahabat yang mempertaruhkan nyawa. Ketika Aji dan tunangannya sekarang masih berada di dalam kandungan, mereka berdua sudah menunjuk perut untuk menjodohkan, dan saling berjanji untuk menjadi besan.
Seiring Aji tumbuh dewasa tahun demi tahun, penyakit cacat bawaan langit itu pun semakin jelas.
Aji mulai menjadi tinggi hati, sewenang-wenang dan tidak sopan. Sepanjang hari linglung dan kacau. Dia bahkan tertular kebiasaan berjudi dan menghamburkan banyak uang di depan dadu. Setiap orang di Kota Abhra menganggapnya sebagai seekor belatung yang dipelihara Tanto, yang bahkan tidak bisa ditempelkan ke dinding.
Banyak orang menasihati Tanto untuk melepaskan pernikahan ini, tetapi bagaimanapun itu adalah amanat saudara seperjuangan. Tanto tidak tega mengkhianati perjanjian pernikahan. Melati Jayawangsa juga sama sekali tidak mengeluh. Dia hanya berharap Aji dapat menahan diri.
Namun Aji sama sekali tidak tahu bertobat. Meski tanggal pernikahan sudah ditetapkan, dia tetap sama sekali tidak bisa menahan diri. Hari ini, dia kembali melangkah masuk ke rumah judi.
Pada akhirnya, bukan hanya seluruh modal judinya habis, dia juga berutang enam ribu keping perak pada pembukuan Rumah Judi Tulip ini. Ketika ingin menyangkal dan pergi, pemilik rumah judi ini memanggil orang untuk memukulinya habis-habisan, lalu melemparkannya ke luar pintu seperti seekor anjing yang sudah tidak berdaya. Membiarkannya menanggung derita langit dingin ini.
"Satu jiwa dan satu sukma yang hilang itu, rupanya adalah ingatan kehidupan sebelumnya ya ... kalau bukan karena ingatan tadi terbangun, aku khawatir kehidupan ini akan berakhir begitu saja ...."
Aji dengan santai meraup genangan air gerimis, mengusapkannya ke wajah, membuat dirinya lebih sadar beberapa bagian.
"Sudahlah, yang sudah berlalu biarkanlah berlalu, hari-hari memalukan ini ... sudah saatnya dibalik."
Di luar pintu rumah judi, terdengar derap ringkikan kuda yang tergesa.
Suara orang seketika menjadi jauh lebih meriah.
"Nona Melati, ada di dalam, kan? Orang dari keluargamu itu berutang enam ribu keping perak di rumah judiku, menurutmu perkara ini—"
Suara pria yang licin terdengar dari luar tembok. Aji mengenalinya. Itu adalah suara pemilik Rumah Judi Tulip, Wira Adijaya.
"Sari, berikan surat perak kepadanya."
"Tetapi Nona, ini—"
"Berikan kepadanya."
"Hm ... ambil!"
"Bagus! Nona Melati memang tegas, benar-benar berbeda dengan orang tak berguna itu!"
Di luar pintu tembok, lipatan wajah gemuk Wira bertumpuk menjadi satu, memperlihatkan senyum mengejek yang tidak mudah terlihat.
Pintu rumah judi terbuka, sesosok bayangan cantik buru-buru melangkah masuk ke dalam pintu. Itu adalah seorang wanita berambut hitam dan berpakaian putih, matanya seperti anggrek sunyi, riasannya dingin. Gerimis tipis yang beterbangan seolah menjadi pengiringnya. Begitu indah hingga tak terlukiskan.
"Eh? Bukankah itu Nona Melati dari Keluarga Jayawangsa? Dia datang lagi ke depan pintu rumah judi ini untuk memungut orang tak berguna itu?"
"Sungguh tidak tahu dosa macam apa yang dilakukan Keluarga Jayawangsa, sampai harus mengambil orang busuk seperti itu menjadi menantu. Kalau menurutku, biarkan saja dia mati kedinginan di depan pintu rumah judi ini, supaya nanti tidak lagi membuat wajah keluarga Jayawangsa ternoda!"
"Benar, apa bagusnya orang busuk ini sebenarnya? Menganggur dan bermalas-malasan, tidak melakukan pekerjaan dengan benar. Di dalam otaknya selain bermain, ya berjudi. Meli menikahi orang seperti ini, sungguh tidak tahu dosa apa yang dia lakukan di kehidupan sebelumnya, sayang, sayang sekali ...."
Para pejalan kaki yang datang dan pergi satu demi satu berhenti di sana untuk menonton.
Sindiran, ejekan, dan desahan iba, terdengar satu per satu masuk ke telinga. Aji menganggapnya seolah tidak mendengar, tetapi hati Melati justru terasa tercekik erat.
Melihat Aji yang duduk di tanah, di dasar mata wanita itu tanpa sadar muncul beberapa bagian kekecewaan.
"Tap!"
Sehelai mantel bulu lebar jatuh di tubuh Aji. Mantel itu baru saja dilepas Melati dari tubuhnya. Di atasnya masih membawa sedikit kehangatan.
Aji melihat wanita di hadapannya ini. Ingatan masa lalu yang pernah diabaikan olehnya seketika membanjiri hatinya, hingga membuatnya sedikit kehilangan kesadaran.
Sebenarnya, dia menyimpan rasa terima kasih kepada Melati.
Sejak orang tuanya meninggalkan kota Abhra, dia telah melakukan banyak perbuatan kurang ajar. Meskipun Melati bersikap dingin terhadap dirinya dan cukup banyak mengeluh, tetapi sebagai tunangan, ia selalu diam-diam membereskan masalah yang ditimbulkan Aji berulang kali, hingga sekarang.
Selama tahun-tahun ini, Melati selalu memperlakukannya tidak buruk.
"Bangunlah," kata Melati pelan. "Ikut aku pulang."
Dia mengulurkan tangan, menepis air gerimis di rambut Aji, lalu membantunya berdiri.
"Aji? Kau masih hidup?" Wira yang berdiri di belakang melihat Aji berdiri, matanya mendadak membesar.
Aji menoleh ke arah suara itu. Tanpa sadar, ia tertawa ringan. "Kenapa? Membuat Pemilik Rumah Judi Tulip kecewa, ya?"
Kini Aji sudah bukan lagi orang bodoh yang tidak bisa membedakan benar dan salah, hitam dan putih. Melihat sikap Wira seperti ini, lalu mengingat betapa beratnya orang-orang bawahannya baru saja menyerang, bagaimana mungkin Aji tidak mengerti bahwa Wira memang sengaja ingin mencelakainya.
Padahal dia dan Wira tidak pernah bermusuhan. Bahkan dari waktu ke waktu dia datang ke rumah judi ini untuk mengantarkan perak kepadanya. Jelas, Wira tidak punya alasan untuk mencelakai dirinya. Jadi, dia yakin bahwa di balik ini, pasti ada orang yang menyuruhnya melakukan hal demikian.
Adapun siapa sebenarnya, Aji tentu akan menyelidikinya hingga jelas.
"Kecewa? Kenapa aku harus kecewa?" Daging gemuk di wajah Wira bergetar, bayang gelap dalam ekspresinya melintas sekilas.
"Kalau bicara tentang yang kecewa, seharusnya Nona Melati-lah yang kecewa. kudengar Tuan Tanto sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian berdua. Kau, calon mempelai pria ini, ternyata masih punya minat indah datang bersenang-senang di Rumah Judi Tulip milikku. Hari ini bahkan kau kembali membuatnya membayar enam ribu keping perak utangmu .... Keluarga Jayawangsa bisa memiliki menantu sepertimu, benar-benar berkah yang baik!"
Selesai berkata, Wira sengaja menggoyangkan surat perak di tangannya, maksud menghinanya semakin kuat.
Para pejalan kaki yang menonton di samping juga satu demi satu berdecak, lalu mulai memaki pelan.
"Penghambur harta."
"Menantu yang menumpang."
"Sampah."
Kata-kata yang dikatakan secara berulang di tengah kerumunan, cukup menusuk telinga.
Melati memalingkan kepala. Setelah mengerutkan alis dan menghela napas ringan, dia memberi perintah kepada pelayan di sisinya. "Sari, bantu dia naik ke kereta."
Kemudian, Melati pun berbalik pergi. Dia tidak ingin tinggal lebih lama.
"Oh ...." Sari menjawab dengan enggan, mengerucutkan mulut lalu berjalan ke arah Aji.
"Kau tidak perlu membantuku, aku masih bisa berjalan." Aji melihat wajahnya penuh ketidaksudian, dan dia tidak ingin memaksanya.
Selesai berkata, Aji menoleh melihat Wira yang tersenyum mengejek di satu sisi. Seberkas ketegasan melintas dari matanya.
Setelah sedikit merapikan pakaian di tubuhnya, Aji berjalan keluar dari pintu rumah judi dan naik ke kereta kuda Keluarga Jayawangsa.
Kerumunan yang menonton berceloteh tak keruan, lalu masing-masing bubar.
"Cih! Pengecut yang hanya bisa bersembunyi di belakang wanita." Wira meludahkan air liur ke arah kereta kuda yang pergi menjauh, lalu menunduk melihat surat perak di tangannya, seketika tersenyum lebar kegirangan.
"Uang pengecut memang mudah didapat, tapi sepertinya para bawahanku menyerangnya terlalu ringan, Aji ini ternyata masih bisa berjalan ... mungkinkah tampang setengah matinya tadi itu hanya pura-pura?"
Setelah bergumam pelan, wajah Wira tampak agak bingung.
Setelah berpikir sebentar, dia memanggil orang kepercayaannya, membisikkan beberapa kalimat di telinganya, lalu bersenandung kecil dan masuk ke dalam rumah.
…
Kereta kuda bergoyang-goyang.
Melati dari waktu ke waktu mengangkat mata melihat Aji yang duduk di seberangnya. Dia beberapa kali membuka mulut, tetapi tidak bersuara.
Di dalam kereta, selain suara berderit roda menggilas tanah, hanya tersisa keheningan.
Tak lama kemudian, kereta pun tiba di pintu kediaman Keluarga Jayawangsa.
"Aji." Melati membelakangi Aji. Telapak tangannya tersembunyi di dalam lengan bajunya. Dia sedikit menggenggam erat, ekspresinya tampak sangat rumit.
Di kedalaman sepasang mata yang dingin tetapi membawa kelembutan itu, ada kekecewaan, ada rasa bersalah, juga kelelahan yang dalam.
"Kita ... batalkan saja pertunangannya."
Daftar bab
178 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
178 bab








