
Legenda Kaisar 3 Kehidupan
Tian Di|Bersambung
- Jumlah kata
- 47.2K
- Popular
- 1.2K
- Subscribe
- 90
- Jumlah kata
- 47.2K
- Popular
- 1.2K
- Subscribe
- 90
Sinopsis
Dihina, dikeroyok, dan diracuni di tubuh barunya. Desta Mahendra harus memulai segalanya dari nol! Namun, jiwa yang bangkit dalam tubuh pemuda lemah itu bukanlah orang biasa. Melainkan seorang mantan Jenderal Agung dan kultivator puncak yang pernah ditakuti di seluruh kekaisaran!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Sampah Bernama Desta
“Anak-anak nakal! Apa yang sedang kalian lakukan?!”
Seorang perempuan berlari tergopoh menuju tanah lapang berlumpur.
Di sana, seorang pemuda tergeletak. Tubuhnya dipenuhi luka lebam, sementara sekelompok remaja masih mengeroyoknya.
“Sial! Bibi Mirna datang! Cepat pergi!”
Mendengar teriakan itu, para remaja tersebut kocar-kacir, meninggalkan sosok yang sudah babak belur di atas tanah.
Perempuan itu bergegas menghampiri, lalu berlutut di samping sang pemuda.
“Desta! Kamu baik-baik saja?”
Pemuda yang terbaring itu perlahan mengerjap.
Pandangannya kabur tertutup lumpur dan darah, tetapi dia masih bisa menangkap siluet wanita yang bersimpuh.
“S–siapa...?” Bibirnya bergetar mencoba merangkai kata, tetapi sekujur tubuhnya terasa remuk.
Sesaat kemudian, gelap merenggut kesadarannya.
Ketika kelopak mata itu kembali terbuka, Desta mendapati dirinya berbaring di atas ranjang kayu di sebuah kamar asing.
Ingatan terakhir yang melekat di benaknya bukanlah hantaman di tanah tadi, melainkan kilatan cahaya menyilaukan dan rasa sakit saat sebuah tombak ilahi menembus jantungnya.
Namanya Desta Mahendra.
Di kehidupan lampau, dia adalah salah satu Jenderal Agung Kekaisaran Araditya sekaligus kultivator puncak yang ditakuti.
Namun, takdir mempermainkannya. Alih-alih binasa, kesadarannya justru masuk ke raga seorang manusia fana bernama sama.
Lebih sial lagi, sebelum sempat memahami situasinya, raga ini sudah harus menerima hantaman bertubi-tubi dari sekelompok berandalan.
Instingnya mengerahkan kesadaran untuk memindai kondisi fisik, tetapi keningnya langsung mengerut dalam.
Tidak ada secercah pun aliran energi spiritual yang terasa.
Desta lantas mengambil posisi bersila di atas ranjang, memejamkan mata untuk memeriksa bagian internal tubuhnya.
Sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat dalam senyum getir. Kondisinya jauh lebih mengenaskan daripada bayangannya.
Seluruh meridiannya tersumbat endapan pil, sementara dantian-nya terbungkus selaput kabut hitam tipis yang melumpuhkan potensi apa pun.
Pantas saja raga ini begitu rapuh. Jangankan melawan kultivator berilmu, menahan hantaman anak kemarin sore saja sudah hampir merenggut nyawanya.
Bagi seorang mantan Jenderal Agung, akar masalah ini sangat jelas.
Meridian adalah penyalur energi; jika jalurnya tersumbat kotoran, mustahil seseorang menapaki jalan kultivasi.
Sebelum memikirkan cara membalas dendam atau kembali ke puncak, langkah yang harus dia ambil adalah membersihkan tubuh ini.
Kik.
Suara derit engsel memecah keheningan. Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan cemas.
Begitu sosok itu mendekat, gelombang memori asing berkelebat ke dalam benak Desta.
Wanita itu adalah Mirna, bibi dari pemilik raga asli, satu-satunya keluarga yang memperlakukannya dengan tulus di kediaman tersebut.
“Desta, kamu sudah sadar?” Mirna langsung duduk di tepi ranjang, matanya memindai lebam di wajah keponakannya dengan ngeri.
“Astaga! Apa anak-anak kurang ajar itu memukulmu separah ini?”
Desta menatap wanita itu sekilas, lalu mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja, Bibi.”
Respons datar itu kontan membuat Mirna membeku. Alisnya bertaut, diliputi keheranan mendalam.
Keponakannya selama ini dikenal sebagai sosok penakut dan kerap gagap jika diajak bicara. Perubahan pembawaan yang drastis ini semakin membuatnya cemas.
Belum sempat Mirna melontarkan pertanyaan lanjutan, langkah kaki pelan terdengar di ambang pintu.
Seorang wanita tua berdiri di sana, menunduk hormat sembari membawa nampan kayu.
Dari ingatan yang ada, wanita itu adalah Bibi Mei, kepala pelayan yang memegang kendali atas urusan dapur.
Bibi Mei melangkah masuk tanpa suara, lalu menyodorkan mangkuk keramik berisi cairan hitam pekat kepada Desta.
“Ini ramuan obat harianmu, minumlah selagi hangat.”
Desta menerima mangkuk tersebut. Namun, saat uap dari cairan itu menyentuh hidungnya, gerakannya terhenti.
Aroma itu familier bagi seseorang yang hidupnya pernah dikelilingi intrik istana.
Desta mengangkat wajahnya.
“Masih terlalu panas. Biar kuhabiskan nanti saja.”
“Jangan!” potong Bibi Mei cepat, nada suaranya sedikit meninggi hingga membuat Mirna menoleh kaget.
“Obat itu harus diminum selagi hangat agar khasiatnya tidak hilang, Tuan Muda.”
Mirna mengerjap, menatap pelayan setianya dengan sebelah alis terangkat.
“Ada apa denganmu, Bibi Mei? Biarkan dia mendinginkannya sebentar.”
Desta tidak memedulikan perdebatan kecil itu. Dia meletakkan mangkuk ke atas nampan, tatapannya beralih menajam pada sang kepala pelayan.
“Ini masih mendidih, Bibi Mei. Apa kau sengaja ingin lidahku melepuh?”
Bibi Mei tampak tersentak, kilatan panik melintas di matanya sebelum ia lekas menunduk.
“Kalau begitu... biar saya bantu dinginkan, Tuan.”
Wanita tua itu hendak meraih mangkuk, tetapi tangan Desta yang lebih dulu menahan dasarnya. Cengkeraman itu begitu mantap.
Desta tahu betul, pelayan ini tidak akan menyerah sebelum melihat racun itu masuk ke perutnya.
Tapi itu bukan masalah besar. Permainan licik seperti ini sudah khatam dilahapnya di kehidupan lampau.
“Tidak perlu, Bibi Mei. Aku bisa melakukannya sendiri.”
Tanpa ragu, dia mengangkat mangkuk itu, meniup permukaannya tipis-tipis, lalu meneguk obatnya hingga tandas.
Melihat mangkuk itu kini kosong, ketegangan di wajah Bibi Mei mengendur. Ia lantas mengambil nampan dari hadapan Desta.
“Kalau begitu, saya permisi membereskan dapur.”
“Istirahatlah Desta, aku juga harus keluar,” ucap Mirna sebelum menyusul Bibi Mei.
Begitu punggung Mirna menghilang di balik pintu, Desta tidak membuang waktu.
Dia langsung turun dari ranjang, mengatur napas, lalu menekan beberapa titik krusial di dada dan perutnya.
Uhuk!
Seteguk cairan cokelat menyembur keluar dari mulutnya.
Seringai dingin terukir di sudut bibir Desta.
Ingin melumpuhkanku lewat racun? Sayang sekali... jiwa yang menempati raga ini sudah melampaui perhitungan kalian.
Mengunci pintu kamar, Desta kembali duduk bersila di atas lantai dingin. Dia memejamkan mata, menyatukan kedua tangan di depan dada, lalu mulai melakukan Pembersihan Meridian Jalur Surga.
Jam demi jam berlalu. Sekitar tengah malam, Desta membuka matanya perlahan. Uap hitam pekat mengepul dari bibirnya, diiringi helaan napas yang menyiratkan ketidakpuasan.
“Sial... batasan raga ini terlalu lemah.”
Meskipun menggunakan teknik kelas dewa, endapan racun yang telah berakar di meridian Desta sejak usia enam tahun ternyata jauh lebih keras kepala dari perkiraannya.
Hasil malam ini baru mampu membersihkan sebagian kecil sumbatan tersebut.
Kendati demikian, dalam proses pembersihan tadi, Desta sempat menangkap kejanggalan lain di dalam struktur internal tubuhnya, sebuah potensi luar biasa yang selama ini ditekan secara sengaja.
Dalam dunia kultivasi, manusia normal terlahir dengan 36 meridian besar dan 100 meridian kecil.
Semakin banyak jalur yang terbuka sejak lahir, semakin tinggi pula bakat alami seseorang menyerap energi alam.
Di kehidupan masa lalu, Desta terlahir sebagai monster jenius dengan 15 meridian besar yang langsung terbuka sejak hari pertama menghirup udara dunia.
Namun raga Desta yang sekarang…
Tak!
Lamunannya buyar saat telinganya menangkap suara gesekan kain dari arah luar, suara seseorang yang barus saja melompati pagar halaman belakang.
Desta bangkit tanpa suara, merapat ke sisi jendela, lalu mengintip ke dalam pekatnya malam.
“Tikus yang bernyali besar.”
Daftar bab
43 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








