
Pendekar dari kegelapan
Bang Regar|Bersambung
- Jumlah kata
- 167.2K
- Popular
- 765
- Subscribe
- 61
- Jumlah kata
- 167.2K
- Popular
- 765
- Subscribe
- 61
Sinopsis
Disakiti dan kehilangan, membuat dirinya menerima kegelapan dalam dirinya, hingga dia menjadi manusia yang dipenuhi dengan dendam. Namun sesuatu mengubah dirinya, dari gelap menjadi cahaya kebenaran. Apakah itu?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Jeldaarrrr!!!
Suara petir di udara bersahutan, langit yang awalnya cerah berubah jadi gelap menghitam, seolah ada yang akan terjadi mayapada.
"Apa ini?" ucap mereka yang sedang bekerja di area persawahan.
Semuanya menatap ke arah langit, bingung dengan perubahan alam yang terjadi dengan sangat tiba-tiba.
"Apakah akan datang hujan?"
"Jika hujan datang, sudah jelas itu sebuah berkah untuk kita! Belasan purnama kita menunggu ini!" ucap mereka yang menanti akan turunnya berkah dari langit.
Namun, hingga rasa lelah akan penantian datang, satu titik air hujan pun tak datang dari langit. langit hanya memberikan harapan yang hampa pada mereka.
Whusssssssss!!
Dua buah cahaya melesat dari langit, cahaya putih dan cahaya hitam. Cahaya yang turun dari langit, dan meluncur sangat cepat.
Turun dua cahaya itu tak lepas dari perhatian para pendekar, pendekar yang berkecimpung di dunia persilatan, dan itu meyakinkan mereka kalau ada pusaka yang turun dari langit.
Dua cahaya itu terus meluncur cepat, dan bertahan sesaat di langit, hingga terus meluncur menuju sebuah pedukuhan.
***
Pedukuhan Tangkuban, di jalanan pedukuhan itu, beberapa anak kecil bermain dengan wajah polos tanpa tahu apa yang akan mereka hadapi di masa depan. Dan salah satunya adalah anak muda dengan usia sembilan belas tahun.
"Satria, apa kau akan diam saja? segera mainkan guli mu!"
"Tunggu dulu, aku masih memikirkan apakah aku akan menang!" jawab anak muda berusia sembilan belas tahun dan memegang guli ditangannya, seolah dia memikirkan cara untuk menang.
Guli yang ada ditangannya adalah guli terakhir yang ia miliki. dan jika ia kalah, maka dia akan kehabisan gulinya.
"cepatlah!" kata rekan-rekan Satria.
"Baiklah!"
Satria arahkan gulinya, dan akan lanjutkan permainan.
Jeldar!!
Tapi tiba-tiba saja, petir yang sangat keras menyambar di langit, dan itu kagetkan semua anak-anak yang sedang bermain itu.
Rasa takut terpancar di wajah mereka yang polos, dan langsung kabur karena rasa takut itu.
Aaaaaaa!!
Tiba-tiba saja, dari lima anak itu terdengar suara jeritan yang sangat keras. Jeritan yang kagetkan semua orang yang ada di desa itu.
"Satria tersambar petir, Satria disambar petir!" teriak semua orang.
"Putraku!" jerit seorang ibu tua.
Dia berlari dari rumahnya, dan menggendong tubuh besar satria yang sudah jatuh tak sadarkan diri.
"Tolong, tolong panggilkan tabib!" jerit perempuan tua itu.
Namun, tak ada satupun yang mau penuhi keinginan perempuan itu. Semua orang malah memilih masuk ke dalam rumahnya, dan sembunyi karena takut akan datangnya Sambaran petir yang lain.
"Satria! Satria! Bertahanlah, putraku! Ibu akan bawa kau pada tabib di tepi hutan!" kata perempuan itu.
Dengan kaki telanjang, dia berlari ke arah hutan, yang mana disana tinggal seorang tabib yang memiliki nama di Pedukuhan itu.
"Tabib, tabib, tolong putraku! Dia disambar petir!"
Tabib itu bangkit, dan membantu tubuh Satria, dan baringkan tubuh Satria yang tak sadarkan diri di tempat tidur.
Dahi tabib itu berkerut karena tak ada sedikitpun tanda-tanda di tubuh Satria, kalau dia baru saja disambar oleh petir.
"Nyai, putramu tak apa-apa. Tak ada luka di dalam tubuhnya!"
"Tapi kenapa dia tak sadarkan diri?"
"Inilah yang aku tak tahu, aku pun bingung dengan apa yang terjadi pada putramu?" jawab tabib itu.
"Itu tak mungkin, bagaimana mungkin kau tak tahu, kau adalah tabib yang hebat!" kata perempuan itu.
"Sebaiknya kita tunggu saja dulu, biarkan dia berbaring di sana!" kata tabib itu.
Ibu Satria masih menujukkan wajah yang gelisah, dan tak tahu harus bicara apa karena memikirkan kondisi putranya.
"Tolong tuan tabib, hanya dia harta yang aku miliki!"
"Aku juga tahu, dan mengenal putramu, hanya saja aku tak bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh dewa. aku juga manusia biasa!" kata tabib itu.
Tak tertahan, air mata jatuh dari mata perempuan tua itu. Dia menatap putranya dengan wajah yang menahan kesedihan.
"Satria putraku, bertahanlah. Ibu akan lakukan apapun demi dirimu!" ucapnya.
Tabib itu berkali-kali memeriksa kondisi Satria, tapi dia hanya bisa geleng kepala karena kondisi Satria sangat membingungkan baginya.
Yang dia lihat dan periksa, Satria tak alami apapun, tapi dia bingung, Satria tak sadarkan diri, seolah jiwanya diambil sesuatu.
"Apa sesungguhnya terjadi padamu, anak muda?" ucap tabib tua itu.
***
Sesungguhnya yang terjadi, saat petir itu menyambar Satria, anak muda itu langsung jatuh tak sadarkan diri karena merasakan akan adanya kegelapan dan cahaya putih yang masuk ke dalam tubuhnya.
Dan jauh di dalam pikiran Satria, anak muda berusia sembilan belas tahun itu berada di dalam sebuah dunia yang belum pernah ia masuki sama sekali.
Roh anak muda itu seperti terombang-ambing, dan berada di alam jauh dari alam manusia, alam yang tak bisa dipahami oleh bocah kecil itu.
"Aku dimana?" ucap anak muda yang berdiri menatap area itu dengan wajah yang diliputi oleh kebingungan.
anak muda berusia sembilan belas tahun itu hanya diam, menatap dan mencari jawaban untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul di pikirannya.
"Dunia apa ini?" ucap anak muda yang masih terus dilanda kebingungan.
Dunia yang ada di hadapannya, seluruhnya putih tanpa. seolah dia berada di atas awan. tanpa ada batas, dan tak ada ujungnya.
Bammm!
Satu ledakan yang keras terdengar di telinga anak muda itu, dan ia mendongak kepala menatap ke arah ledakan itu.
"Apa lagi ini?" ucap anak muda itu.
Di langit ada dua cahaya yang bertabrakan, dan itulah yang membuat ledakan keras itu terdengar.
Bammmmmmm!!
Lagi, dua cahaya hitam dan putih itu beradu kuat di langit. Ledakan itu mulai semakin keras, dan semakin keras lagi, membuat telinga bocah itu berdengung.
"Hentikan!" teriak anak muda itu dan menutup telinganya.
Ia merasa gendang telinganya akan pecah jika dua cahaya itu terus beradu kuat, dan itulah yang tak ia inginkan.
"Argggg! Sakit!" ucap anak muda itu dan jatuh ke permukaan pijakan kakinya yang berwarna putih.
"Hei bodoh, kau melukai anak muda itu!"
"Kau melukai dia, aku yang berusaha menjaganya!"
"Kau yang melakukan itu!"
"Kau!"
Dua cahaya itu ribut di langit, dan mereka berdua mulut karena Satria yang jatuh. Mereka ribut dan tak hiraukan apa yang terjadi pada Satria.
"Tolong aku!" lirih Satria.
Darah mulai mengucur dari telinganya, dan rasa sakit semakin mendera tubuh anak muda itu.
"Aku akan bantu dirimu, anak muda!" teriak satu suara.
"Tidak, aku yang akan bantu dia!"
Dua cahaya di langit, cahaya hitam dan putih itu meluncur cepat ke arah Satria, dan melayang-layang di atas kepala Satria.
"Apa kalian ini?" lirih Satria.
"Hahah, aku adalah cahaya kebenaran!"
"Dan aku cahaya kegelapan!"
"kebenaran dan kegelapan?" desis Satria.
"Anak muda, siapa yang akan kau pilih antara kami berdua?"
Daftar bab
143 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
143 bab








