

BRAK!! BAMM!!
Tinju telanjang Narendra Wirayudha menghantam bongkahan batu sebesar kerbau.
Ledakan keras mengguncang hutan, dan batu itu meledak menjadi ribuan keping kerikil yang melesat ke segala arah.
Narendra lalu memutar tubuh hingga kaki kanannya menyapu udara dan menghantam batang beringin raksasa.
Gelombang benturan menggetarkan tanah sebelum meninggalkan retakan panjang di batang pohon.
Di tengah lebatnya Hutan Gunung Naga, Narendra berdiri tanpa terengah sedikit pun. Otot-ototnya dipenuhi bekas luka, sementara tatapannya setajam bilah pedang.
Tahun ini usianya hampir dua puluh enam tahun.
Selama dua puluh tahun terakhir, tubuhnya ditempa hingga mampu menghancurkan batu dengan tangan kosong dan merobohkan pohon raksasa hanya dengan satu tendangan.
Namun, ingatannya sebelum memasuki hutan seolah lenyap tertutup kabut.
Yang tersisa hanyalah sekelebat ingatan tentang kobaran api yang membakar langit dan guncangan orang lari membawanya pergi dari pembantaian keluarga Wirayudha.
Syuuuut!
Tiba-tiba saja saat Narendra baru sempat mengambil napas, suara desingan tajam merambat di udara.
Sesuatu melesat menembus semak dan langsung menuju kepala Narendra. Kecepatannya setara dengan kecepatan peluru senapan mesin.
Tanpa menoleh sedikitpun, tangan Narendra bergerak secepat kilat. Dua jarinya berhasil menjepit benda itu tepat tepat di depan matanya.
Kening Narendra berkerut. Ternyata, itu adalah secarik kertas putih biasa yang sudah dialiri tenaga dalam tingkat surgawi menengah sehingga menjadi sekuat baja.
Begitu Narendra menyentuhnya, energi itu buyar. Kertasnya kembali lemas dan lecek akibat teknik pemecah energi yang ia gunakan.
"Ternyata reaksimu sudah cukup lumayan ya, Bocah!" Ucap seorang pria tua berjubah putih yang mendekat dengan ilmu peringan tubuh.
Dia adalah Jayendra Suryanaga, pria yang memungut Narendra dari ambang kematian dua puluh tahun lalu.
Melihat kedatangan pria itu, Narendra segera berdiri tegak dan menundukkan kepala dengan hormat. "Guru Suryanaga."
Suryanaga mengangguk. Ia menatap Narendra dalam-dalam sebelum berdiri tepat di hadapannya.
"Ada kabar baik untukmu," ujar Suryanaga sambil menyingkirkan dedaunan yang menutupi tubuh Narendra.
"Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan cara untuk menembus sebagian tabir yang menyelimuti masa lalumu tanpa diketahui pihak yang menyembunyikannya."
Suryanaga menatap Narendra dengan sorot mata serius.
"Artinya, sudah tiba saatnya kau mengetahui kepingan pertama tentang dirimu dan keluargamu, Nak.
Napas Narendra tertahan. Selama ini ingatannya tentang masa lalu hanya menyisakan suara hujan, napas yang tersengal, dan suara lembut seorang wanita.
Setiap kali berusaha mengingat lebih jauh, kepalanya selalu terasa seperti dihantam sesuatu. Seolah-olah ada segel yang mengunci ingatannya, terutama ingatan mengenai keluarganya.
"Apa yang berhasil Guru temukan?" tanya Narendra kemudian.
"Keluargamu sudah tidak ada." Suryanaga terdiam sejenak. "Kamu bisa hidup karena ayah dan ibumu mengorbankan nyawa untuk memberimu kesempatan melarikan diri ke hutan ini."
"Mereka tewas di malam aku menemukanmu."
Mendengar itu, rahang Narendra mengeras. Terdengar suara gemeretak tulang dari kepalan tangannya.
Fakta bahwa orang tuanya dibunuh kala melindunginya membuat emosi yang selama ini ditahan langsung meledak.
Aura membunuh di sekitar Narendra sontak memancar, membuat batu-batu kerikil di sekitarnya bergetar.
"Siapa yang melakukannya, Guru?" desak Narendra, suaranya sedingin es.
"Tabirnya masih terlalu tebal untuk kulihat semua. Siapa pelaku sebenarnya dan apa motif pastinya sengaja dihapus oleh kekuatan yang sangat besar," jawab Suryanaga.
"Tapi firasatku mengatakan, kematian orang tuamu berkaitan erat dengan sebuah rahasia pusaka kuno yang selama ini dijaga ketat oleh ayahmu. Kau harus mencari tahu kebenaran itu sendiri di luar sana."
Suryanaga memberi jeda sejenak, membiarkan Narendra mencerna informasi itu. Lalu dia menunjuk kertas lecek di tangan sang murid. "Informasi terbaru yang kutemukan ada di sana."
Narendra membuka lipatan kertas itu. Ada deretan tulisan tinta hitam bertuliskan 'Jalan Merpati Putih No. 8 Kota Jayakarta.'
'.
"Pada malam pembantaian itu, bibi pelayan keluargamu berhasil menyelundupkan satu nyawa lain menembus hujan deras. Menyelamatkan adik perempuanmu yang saat itu baru lahir. Dia masih hidup, Narendra."
Jantung Narendra seakan berhenti berdetak. Matanya melebar.
"Adik? Aku punya adik? Keluargaku belum habis?"
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Narendra merasa dirinya tidak lagi hidup sebatang kara.
"Ya," jawab Suryanaga menghela napas. "Tapi hidupnya menderita. Tabir yang menyembunyikan eksistensinya sengaja dibuat oleh ahli tingkat tinggi dan berlapis sehingga informasi tentangnya sangat terjaga.
Selama ini, adikmu menumpang di rumah kerabat pelayan itu yang miskin dan serakah.
Pamannya menganggap adikmu sebagai benalu. Setiap hari dia diinjak-injak dan disiksa secara mental maupun fisik."
BOOM!!
Aura membunuh Narendra yang tadinya sempat tertahan seketika meledak kembali membuat dedaunan di sekitarnya hancur berkeping-keping.
Tatapannya langsung berubah buas layaknya iblis pencabut nyawa.
Adiknya sendiri, satu-satunya keluarga yang tersisa, telah hidup menderita sementara ia digembleng menjadi monster di gunung ini tanpa tahu apa-apa!
"Turunlah ke kota sekarang juga," perintah Suryanaga mutlak.
"Temukan adikmu di alamat itu. Bawa dia pulang dan telusuri jejak darah masa lalu keluargamu. Kalau ada yang menghalangi jalanmu..."
"Akan kucabut nyawa mereka," potong Narendra tanpa ampun.
Narendra segera memasukkan secarik kertas lecek itu ke saku celana kargonya.
Dengan satu hentakan kaki yang membuat tanah padas pijakannya retak, tubuh Narendra melesat menembus kabut tebal Gunung Naga.
Ia tidak berlari di atas tanah seperti manusia biasa.
Sambil menggunakan teknik gerak ringan tingkat tinggi yang digemblengkan gurunya selama belasan tahun, tubuh Narendra melayang seringan kapas.
Kakinya hanya menjejak ujung dedaunan dan dahan pohon, meluncur bagaikan hantu yang membelah lebatnya hutan belantara.
Jarak lima ratusan kilometer antara puncak gunung dan batas peradaban dipangkasnya hanya dalam waktu kurang dari tiga jam.
Begitu menjejakkan kaki di perbatasan Kota Jayakarta, suasana seketika berbalik seratus delapan puluh derajat.
Hutan rimbun berganti menjadi hutan beton. Panas aspal kota langsung menembus sol sepatu usangnya, sementara bising klakson kendaraan menggantikan suara serangga hutan.
Di tangannya, secarik kertas lecek itu kini memuat alamat yang jauh lebih jelas di matanya.
Narendra menyimpan kertas itu dan berjalan menyusuri trotoar jalan raya yang sibuk.
Matanya menatap datar ke depan, mengabaikan tatapan aneh orang-orang kota yang melihat pakaian dan rambut gondrongnya.
Fokus Narendra cuma satu: menemukan adiknya secepat mungkin.
Namun, saat Narendra sedang menyeberang di sebuah tikungan perempatan, sebuah SUV Maybach hitam pekat melaju ugal-ugalan menerobos lampu merah.
Supir mobil itu panik melihat ada pejalan kaki di tengah jalan dan langsung menginjak rem dalam-dalam.
CKIITTT!!!
Suara rem berdecit tajam memekakkan telinga.
SUV mewah itu banting setir dengan kasar, ban mobil itu berdecit terbakar gesekan aspal, dan berhenti tepat hanya dua sentimeter dari lutut Narendra.
Asap tipis mengepul dari ban mobil.
Di tengah kepanikan orang-orang di sekitar perempatan, Narendra justru berdiri tak bergeming sedikit pun.
Matanya menatap sangat dingin ke arah kaca mobil yang gelap. Ia bahkan tidak berkedip.
Pintu belakang SUV itu terbuka kasar. Keluar seorang pemuda parlente dengan gaya tengil.
Kemeja sutra mahal yang sengaja dibuka tiga kancing atasnya, kacamata hitam, dan wajah merah padam menahan murka.
Tiga pengawal berbadan gorila berpakaian jas rapi ikut melompat keluar dari mobil pengawal di belakangnya, berlari mengelilingi majikan mereka.
"Bangsat! Matamu buta ya, gembel sialan?!" maki pemuda itu, menunjuk lurus ke wajah Narendra.
"Kalau mau mati jangan di depan mobilku! Lecet sedikit mobil ini, nyawa busukmu seratus kali lipat tak akan cukup untuk menggantinya!"