
Nyonyaku yang Pengertian
Itsme_Tata|Bersambung
- Jumlah kata
- 100.1K
- Popular
- 19.1K
- Subscribe
- 1.1K
- Jumlah kata
- 100.1K
- Popular
- 19.1K
- Subscribe
- 1.1K
Sinopsis
"Yudha... ini terlalu besar, aku nggak sanggup, ahh...." *** Aku yang hanya bekerja sebagai supir, tiba-tiba mendapatkan tawaran gila untuk memuaskan Nyonya majikanku yang bahenol dan cantiknya luar biasa. Awalnya Nyonya majikanku meremehkanku yang hanya pria desa. Tapi setelah merasakan tusukan milikku yang perkasa, dia justru menggila dan menjerit-jerit tak berdaya.
Ulasan
4 ulasan
Ror Krakatau
17/10/26 05:42
welcome di cerita sepakbola😂😂,seru ges MC nya pemain bola timnas Indonesia,bnyk ilmu sepak bola disini,wkwk cocok buat lthan bola😂
Ror Krakatau
17/10/26 05:40
ilang mood kebanyakan "pemain bola",wkwk banyak cincong😂,hrus bgt ya ada pemain bola??? sekalian jadiin cerita sepak bola
Sayang, Aku Belum Puas!
“Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh....”
Sudah tiga kali Yudha mendengar Nyonya Maya, istri bosnya menyalahkan sang suami yang tak bisa memberinya kepuasan batin.
Yudha ingin acuh tak acuh seperti dua hari sebelumnya, mengingat dia baru bekerja selama satu bulan di sini. Apalagi niatnya bekerja adalah demi anak semata wayangnya yang jatuh sakit.
Bocah itu adalah Namira.
Namira sendiri berusia 6 tahun dan hanya dibesarkan Yudha seorang diri karena mendiang istri Yudha meninggal dunia saat melahirkan Namira.
Awalnya, Yudha bekerja sebagai sopir pick-up di malam hari, sembari memiliki pekerjaan tetap sebagai instruktur sepak bola di sekolah desa di sana. Akan tetapi, ketika anaknya sudah mulai sakit-sakitan setahun lalu, Yudha akhirnya terpaksa mencari pekerjaan di ibukota.
Beruntung Yudha memiliki kenalan dari salah satu orang tua anak yang ia latih, lalu diarahkan untuk menghubungi suatu nomor.
Tanpa pikir panjang, Yudha akhirnya video call dengan asisten Tuan Aryo dan dinyatakan diterima, mengingat fisik Yudha yang bagus, skill mengemudi mumpuni, dan keluguan Yudha, mengantarkan dirinya jadi sopir pribadi Tuan Aryo.
Saat melamun, tiba-tiba Yudha mendengar suara lagi…
“Sayang, masa kamu berangkat kerja, sih? Kita baru masuk 3 menit dan kamu crot gitu aja? Sa-sayang… hmm….”
Suara Nyonya Maya barusan kembali menghantui pikirannya sehingga ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi?
Yudha mengintip dari celah pintu. Pemandangan di depan matanya seketika membuat darahnya mendidih. Nyonya Maya, yang usianya sudah menginjak kepala tiga namun memiliki tubuh sangat ramping dan menggoda, tampak sedang berbaring di atas ranjang king size.
Nyonya Maya tampak seperti wanita yang depresi karena saat ia butuh kepuasan batin, suaminya justru tak pernah bisa memberikannya.
“Aduh, Nyonya kasihan banget. Andai Nyonya jadi istri saya, sudah saya buat Nyonya seperti ratu di sini. Sayang banget Nyonya dapat pria seperti Tuan Aryo,” rutuk Yudha, lalu kembali mengintip.
Karena diabaikan oleh sang suami yang ingin berangkat bekerja, sang Nyonya akhirnya memuaskan dirinya sendiri. Jari-jari lentiknya bergerak liar meredam hasratnya yang tak tersalurkan.
Yudha langsung menelan ludah berat, matanya tanpa sengaja menjelajahi setiap jengkal kulit mulus Nyonya Maya. Belahan dadanya yang besar, padat, dan putih bersih mencuat ke mana-mana.
Sungguh tipe wanita yang sangat elegan dan idaman semua pria!
Wanita cantik itu hanya mengenakan gaun tidur sutra tipis yang nyaris transparan, membungkus liuk tubuhnya yang sangat menggairahkan.
Di bawah pendar cahaya kamar, lekuk tubuhnya yang tanpa bra terlihat begitu jelas, dengan tonjolan kecil yang semakin membuat Yudha tidak karuan.
“Sayang, bentar ya, ada telepon,” kata Tuan Aryo, yang lantas merapikan bajunya saat Nyonya Maya masih merintih belum mencapai puncak.
Dengan ekspresi murung, Nyonya Maya merengek lagi. “Sudah dua tahun kita seperti ini. Orang tuaku juga memaksaku punya anak. Apa tidak ada solusi lain yang bisa kita temukan, untuk anak, dan untuk nafkah batinku?”
“Sayang, aku juga usaha yang terbaik, tapi belum ada satu pun solusi yang cocok. Nanti, selepas aku dari kantor, kita ngobrol lagi ya.”
“Bagaimana dengan Yudha? Bagaimana karakternya? Sesuai yang kamu mau?” tanya Nyonya Maya.
Mendengar namanya disebut, Yudha langsung memalingkan kepalanya. Ia tidak tahu, rencana apakah yang disiapkan kedua majikannya itu.
Tepat ketika Yudha mencoba mengatur napasnya lagi, ia kembali mendengar suara Tuan Aryo. “Masih aku pertimbangkan, tapi sepertinya Yudha bisa jadi kandidat terbaik untuk ini.”
Untuk ini? Untuk apa?
Semenjak Tuan Aryo kecelakaan, tidak ada satu pun sopir yang bisa bertahan hingga satu bulan penuh. Hampir semua dipecat di minggu kedua atau ketiga, entah karena alasan apa.
Yudha masih berpikiran positif, mengingat ia adalah satu-satunya sopir yang bertahan setelah sebulan.
Di balik kesempurnaan rumah tangga mereka, Tuan Aryo memiliki rahasia menyedihkan, dia divonis tidak bisa memiliki keturunan akibat kecelakaan, dan kondisinya yang cepat keluar ketika bermain dengan wanita membuat Nyonya Maya tak pernah sekali pun puas walau hanya semalam.
Namun, di sinilah kualitas seorang Yudha diuji.
Meski gairahnya meronta, hati nuraninya lebih kuat karena ia ingat ia butuh uang. Dengan gerakan cepat, pria itu menepuk pahanya sendiri untuk menenangkan dirinya.
“Tidak boleh! Ingat, dia majikanmu yang ngasih uang kamu! Ingat, Yudha, jangan gegabah dan jangan berperilaku tidak tahu diri, apalagi sampai mengintip seperti itu!” tegur Yudha pada dirinya sendiri dengan rahang mengeras.
Yudha segera menundukkan wajahnya, memutus pandangan liarnya. Ia sadar bahwa dia hanya seorang pelayan rendahan.
Bagi Yudha, marwahnya sebagai ayah yang berjuang untuk anaknya adalah yang nomor satu, maka ia tidak mau kehilangan pekerjaan hanya karena nafsu sesaat.
Dengan langkah pelan yang diatur sedemikian rupa agar tak menimbulkan suara, Yudha mundur menjauhi kamar majikannya, lalu berjalan gontai menuju kamar pembantu di paviliun.
Tanpa sadar, ternyata setelah menelepon, Tuan Aryo mengatakan satu hal pada istrinya. “Sepertinya Yudha bisa kita andalkan untuk tugas itu.”
***
Sore harinya, terik matahari kota mulai meredup, berganti dengan semburat jingga di ufuk barat. Yudha yang merangkap tugas sebagai sopir pribadi baru saja selesai mengantar Tuan Aryo meninjau lokasi proyek.
Sementara majikannya sibuk di dalam gedung pertemuan, Yudha menunggu di area parkir basement. Pria itu bersandar di kap mobil mewah Tuan Aryo sambil menyalakan sebatang rokok kretek murah. Asapnya mengepul, membawa serta beban pikiran yang sedari tadi bersarang di kepalanya.
Yudha merogoh saku celananya yang agak lusuh, mengeluarkan ponsel pintar dengan layar yang sudah retak di ujungnya. Ia menekan tombol panggilan video, menyambungkannya ke nomor Paman Tarjo.
“Halo, Kang Tarjo,” sapa Yudha, memaksakan seulas senyum saat wajah kakaknya muncul di layar.
“Yud, kamu lagi sibuk ndak?” Suara Tarjo di seberang sana terdengar bergetar panik.
“Nggak, Kang, lagi nunggu majikan. Kenapa? Namira gimana demamnya? Udah turun?” tanya Yudha, merujuk pada anaknya yang sakit demam tak sembuh-sembuh.
Kamera ponsel di seberang tiba-tiba bergeser, memperlihatkan sesosok bocah perempuan kurus yang terbaring lemah di atas kasur tipis. Napas bocah itu terdengar sesak, disusul suara batuk kering yang sangat keras.
Setelah sebulan bekerja dan mendapat gaji pertama, Yudha berencana mentransfer uang itu kepada Tarjo, kakaknya, nanti sore.
Tapi melihat Namira batuk seperti itu, hati Yudha seketika tersentak.
Tarjo buru-buru menempelkan kain lap ke mulut anak itu. Saat kain itu diangkat, mata Yudha seketika membelalak lebar. Darah segar menodai kain lap yang sudah kusam tersebut.
Tarjo yang putus asa, menatap Yudha dengan tatapan pasrah. “Dokter puskesmas bilang harus segera dibawa ke rumah sakit kabupaten, harus ada tindakan, biaya rontgen dan rawat inapnya besar. Akang ndak pegang uang sama sekali, Yud, gimana ini?”
Rokok di sela jari Yudha terjatuh ke lantai beton. Lututnya mendadak lemas tak bertulang, membuat tubuh tegapnya merosot, bersandar pada ban mobil majikannya.
Sebagai seorang ayah dan duda anak satu yang merantau jauh demi mencari nafkah, melihat darah keluar dari mulut buah hatinya adalah hantaman yang menghancurkan dunianya, apalagi Yudha sangat menyayangi Namira.
“Namira...” Air mata Yudha tumpah begitu saja membasahi pipinya yang kasar. Tangannya bergetar hebat memegangi ponsel. “Kang, tolong bawa Namira ke rumah sakit sekarang! Berapa pun biayanya... aku... aku usahakan, Kang! Kalau perlu, aku transfer semua gajiku.”
“Yud… kamu beneran mau transfer semua? Kamu hidup di sana nanti gimana?” Tarjo juga kasihan pada adiknya. Meski ia tak memiliki anak, ia menganggap Namira adalah anaknya sendiri, sehingga ia benar-benar menyayangi Namira.
“Akang ndak perlu mikir aneh-aneh. Udah, ikutin semua omonganku, nanti uangnya aku usahain ada!”
Lagi dan lagi, Tarjo menyanggah. “Dibawa ke puskesmas kecamatan sebelah aja gi–”
“Kang!” Yudha langsung menyela ucapan kakaknya. “Sebelum jam enam aku transfer, pokoknya Kang Tarjo bawa Namira ke rumah sakit, sekarang!”
“Maaf, Yud, iya habis ini aku telepon Pak Mi’an buat pinjem mobilnya. Kamu hati-hati ndek sana.”
Tuutt!
Yudha mematikan panggilan itu dengan dada yang terasa sesak, apalagi wajah Namira yang batuk berdarah terus terbayang olehnya. Ia menunduk dalam, menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya.
Isak tangis seorang ayah yang merasa gagal tak bisa lagi ditahannya. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri, merutuki kemiskinan yang membuat anaknya harus menderita.
Daftar bab
91 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








