Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PEWARIS GENIUS YANG TERBUANG

PEWARIS GENIUS YANG TERBUANG

Raga Senja | Bersambung
Jumlah kata
73.9K
Popular
1.9K
Subscribe
138
Novel / PEWARIS GENIUS YANG TERBUANG
PEWARIS GENIUS YANG TERBUANG

PEWARIS GENIUS YANG TERBUANG

Raga Senja| Bersambung
Jumlah Kata
73.9K
Popular
1.9K
Subscribe
138
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeSi GeniusZero To HeroMiliarder
Arga Adiwangsa adalah aib bagi keluarga konglomerat penguasa Nusantara. Di saat saudara-saudaranya menduduki kursi direktur dan mengakuisisi perusahaan, Arga justru dicap sebagai anak yang tidak berguna, dan hanya bisa menghabiskan miliaran rupiah untuk barang-barang rongsokan dan teknologi yang tak masuk akal. ​Puncaknya, dalam sebuah rapat besar keluarga, Arga terancam terhapus dari daftar ahli waris. Sebagai bentuk penghinaan terakhir, sang ayah mengasingkannya ke sebuah pulau terkutuk bekas reruntuhan perang yang kini hanya menjadi tempat pembuangan mayat.Tak ada kehidupan modern disana, hanya ada kabut kematian dan segelintir penduduk lokal yang hidup dalam ketakutan. ​"Dunia menganggapku bodoh karena aku tidak mengikuti aturan mereka. Maka, aku akan membangun duniaku sendiri di atas tanah kematian ini."
Vonis Pengasingan

Gedung Adiwangsa Tower berdiri angkuh di tengah jantung Kota besar Jakarta, menembus awan dengan kemewahan yang dingin. Di lantai paling atas, di balik kaca anti peluru yang menghadap ke seluruh kota, sebuah takdir sedang diputuskan.

​Ruang rapat itu senyap. Aroma kopi mahal dan parfum jutaan rupiah memenuhi udara, namun suasananya lebih mencekam daripada ruang sidang pengadilan.

​Di ujung meja marmer sepanjang sepuluh meter, duduklah Sang Patriark, Baskara Adiwangsa. Matanya yang tajam seperti elang menatap tumpukan laporan di depannya, lalu beralih ke sosok pemuda yang berdiri di ujung meja lainnya.

​Arga Adiwangsa. ​Berbeda dengan saudara dan iparnya yang mengenakan setelan jas custom made dari Italia, Arga hanya mengenakan jaket hoodie hitam dan celana kargo. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya tampak lelah karena barisan kode yang ia bedah semalaman.

​"Dua puluh tujuh tahun," suara Baskara memecah keheningan. Berat dan penuh otoritas. "Usia di mana kakekmu sudah membangun pelabuhan pertamanya. Usia di mana kakakmu, Kris, sudah mengakuisisi dua perusahaan manufaktur. Dan kau..."

​Baskara melempar sebuah tablet ke tengah meja. Layarnya menunjukkan grafik pengeluaran Arga yang fantastis. ​"Lima puluh miliar dalam satu tahun. Untuk apa? Chip yang tidak bisa dijual? Server yang hanya memakan listrik? Dan kau melewatkan rapat merger dengan keluarga Wijaya hanya untuk mengutak-atik rongsokan di garasimu?"

​Arga menarik napas pendek. Ia mencoba tetap tenang, meski dadanya bergemuruh. "Itu bukan rongsokan, Ayah. Itu adalah prototipe quantum link. Jika sistem ini selesai, kita tidak butuh lagi infrastruktur kabel atau satelit sewaan. Kita bisa menguasai seluruh lalu lintas data di Nusantara secara mandiri."

​Tawa meremehkan pecah dari sisi kanan meja. Itu Kris, kakak tertua Arga. ​"Data? Arga, bangunlah!" Kris mencibir sambil menyesap kopinya.

"Keluarga kita membangun gedung, menguasai tanah, dan menambang nikel. Dunia ini nyata, bukan virtual. Kau menghamburkan uang perusahaan untuk fantasi anak kecil. Kau tahu apa yang dikatakan orang-orang di luar sana? Mereka bilang putra kedua Baskara Adiwangsa adalah seorang idiot yang memiliki kelainan mental."

​"Aku bukan idiot," suara Arga mendatar, tapi matanya berkilat. "Kalian hanya terlalu buta untuk melihat bahwa masa depan tidak lagi berada di bawah tanah, tapi di dalam frekuensi."

​BRAK!!

​Baskara menggebrak meja. Semua orang tersentak, kecuali Arga. ​"CUKUP!" teriak Baskara. "Aku sudah cukup sabar. Selama ini aku membiarkanmu karena kau membawa nama Adiwangsa. Tapi hari ini, dewan direksi dan keluarga besar telah sepakat. Kau adalah beban bagi keluarga dan juga stabilitas saham perusahaan. Tingkah lakumu yang dianggap 'sakit' dan 'bodoh' oleh publik telah merugikan kita."

​Seorang asisten masuk membawa sebuah map hitam. Map itu berisi surat pengasingan. ​"Aku sebenarnya ingin menghapusmu dari struktur ahli waris," kata Baskara dingin, kata-katanya seperti belati yang menghujam jantung Arga. "Namun, karena darahku masih mengalir di tubuhmu, aku tidak akan membiarkanmu mati kelaparan di jalanan kota Jakarta. Kau akan dikirim ke Pulau Sagara."

​Mendengar nama itu, anggota keluarga yang lain di ruangan itu bergidik ngeri. Beberapa rekan direksi bahkan menyeringai puas, karena setidaknya saingan mereka berkurang satu.

​"Pulau Sagara?" Arga menyipitkan mata. "Tempat pembuangan mayat bekas perang itu?"

Baskara mengangguk, ​"Itu adalah tanah milik keluarga kita yang paling tidak berguna," lanjut Baskara tanpa ekspresi. "Sama sepertimu. Di sana ada sisa-sisa bunker perang dan radar tua yang sudah karatan. Kau suka teknologi, bukan? Hiduplah dengan rongsokan di sana. Jika dalam satu tahun kau tidak mati karena gila atau dimakan mitos di sana, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu tinggal di panti sosial."

Kris menyeringai, "Itu keputusan yang tepat Ayah." Ia melirik ke arah adik bungsunya itu, "Di sini kau hanya merusak dan mengamuk saat dilarang. Mungkin di pulau itu, hanya ada batu dan pohon yang bisa kau hancurkan tanpa merugikan siapa pun." Ujarnya mengejek.

​Arga mengepalkan tangannya di balik meja. Ia menatap ibunya yang duduk di samping ayahnya, berharap ada pembelaan. Namun, wanita itu hanya memalingkan wajah, seolah-olah melihat Arga adalah sebuah aib yang ingin ia hapus dari ingatannya.

Wajah Arga memerah padam, rahangnya mengatup rapat menahan badai amarah yang nyaris meledak di dadanya. Namun, sebuah sentuhan lembut mendarat di punggung tangannya. Kirana, kakak perempuannya, menepuk pelan jemari Arga yang gemetar karena emosi. ​"Kendalikan dirimu."

Bisikan Kirana itu cukup tajam untuk menembus kebisingan di kepala Adiknya. ​Arga menoleh, menatap wajah Kirana sekilas. Di tengah tatapan dingin keluarga Adiwangsa, hanya mata Kirana yang memancarkan sisa-sisa kehangatan.

Selama ini, hanya kakaknya itulah yang mampu membaca bahasa di balik pemberontakan Arga. Sekarang, ia harus meninggalkan satu-satunya orang yang pernah berpesan padanya, "Hiduplah dengan pilihanmu sendiri, Arga. Jangan menjadi bayangan mereka."

Pandangan Arga beralih ke arah ayahnya. "Baiklah," ucap Arga. Suaranya tidak lagi bergetar. Ada ketenangan yang menakutkan di sana.

​Semua orang di ruangan itu terdiam. ​"Aku akan pergi," Arga melangkah maju, mengambil map hitam itu tanpa ragu. "Tapi ingat satu hal ini, Ayah. Hari ini kalian membuangku karena kalian tidak bisa memahamiku. Kalian menganggapku bodoh karena aku tidak bisa menghitung uang receh yang kalian banggakan."

​Arga menatap Kris, lalu kembali ke Baskara.

​"Simpan gedung-gedung tinggi ini. Simpan nikel-nikel itu. Saat aku kembali nanti, aku tidak akan datang sebagai anakmu. Aku akan datang sebagai pemilik dari setiap bit data yang kalian gunakan untuk bernapas."

​Kris tertawa terbahak-bahak. "Dengar itu! Si idiot ini benar-benar sudah gila! Dia pikir dia bisa menaklukkan dunia dari pulau hantu!"

​Arga tidak membalas tawa itu. Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang rapat. Pintu otomatis terbuka, dan ia melangkah keluar dengan kepala tegak.

Pintu lift eksekutif berbahan logam krom itu terbuka lalu tertutup dengan denting halus. Arga masuk lalu berdiri sendirian di dalam ruang sempit yang dilapisi cermin di segala sisi.

Arga melihat dirinya sendiri dipantulan cermin itu, seorang pemuda yang baru saja kehilangan segalanya dalam hitungan menit. ​Tiba-tiba, bahunya bergetar. Sebuah suara tawa rendah lolos dari tenggorokannya. Semakin lama, tawa itu semakin keras, menggema di ruang lift yang kedap suara.

​"Pulau Sagara..." gumamnya di sela tawa.

​Ia tertawa bukan karena senang, tapi karena ironi yang luar biasa. Keluarga Adiwangsa mengira mereka bisa menghukumnya disana. Mereka pikir mereka bisa membuang dirinya ke tempat yang paling kotor.

​Arga menyentuh permukaan dingin cermin lift, menatap matanya sendiri yang berkilat tajam. Ia tak tahu harus merasa sedih karena dikhianati oleh keluarganya sendiri, atau justru merasa lega karena rantai emas yang selama ini mencekiknya telah putus dengan sendirinya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca