
JARUM SAKTI SANG KAMPUNGAN
PURWANAGA|Tamat
- Jumlah kata
- 693.8K
- Popular
- 91.8K
- Subscribe
- 6.6K
- Jumlah kata
- 693.8K
- Popular
- 91.8K
- Subscribe
- 6.6K
Sinopsis
Julio Hernando turun gunung cuma bawa buntalan tua di punggung, ninggalin kuil yang udah hangus dilalap api. Dari luar, dia kelihatan kayak pemuda desa biasa dengan pakaian sederhana dan logat kampung. Tapi langkah pertamanya di Kota Labew langsung mempertemukan dia dengan Chika Tarana, pewaris sombong yang pura-pura nggak kenal ikatan lama, dan Vivi Wijaya, cucu konglomerat yang tanpa sengaja kebawa masuk ke pusaran takdir Julio. Dari desa terpencil sampai pusat kota yang penuh intrik, Julio cuma bawa jarum, buntalan tua, dan tekad baja. Siapa sangka, satu tusukan tangannya aja bisa bikin keluarga konglomerat bertekuk lutut.
Ulasan
11 ulasan
Blidek
19/9/25 09:34
cceritanya menarik... baru pembukaan aja udah bikin penasaran sama julio yg dari kampung tapi dengan kemampuan plus-plus. lanjut kk
PILIHANWisanggeni
27/3/26 20:58
Numpang promo boss, telah terbit novel yang enak dibaca menemani hari santai anda. Berjudul: BAGONG YANG KESOHOR Karya Wisanggeni.
bab 1
"Ahh… Uuuuh Ooooh pelan sedikit, Julio… sakit sekali…”
Felina Agreso, -sang janda cantik molek yang malam ini tubuh indahnya hanya ditutupi selembar kain sarung tipis itu meringis, kedua matanya yang Indah merem-melek merasakan sentuhan dari jari Julio yang menari-nari di punggung hingga ke pinggangnya. Di ruang sederhana rumah bata bagian selatan Desa Jamagara, suara napas janda itu naik turun tak beraturan.
Julio Hernando tersenyum tipis. Pemuda berwajah tampan dengan rambut hitam agak berantakan itu menunduk, jemarinya menekan titik-titik tertentu di sepanjang pinggang Felina yang halus dan putih tanpa noda.
“Tenang, Nyonya Felina. Untuk pertama kali memang akan terasa sakit. Tapi kalau sedikit saja saya pijat agak ke bawah dan tambah tenaga, hasilnya akan bagus. Otot-otot akan longgar, aliran darah lancar.”Ucap Julio sambil melirik gundukan daging yang besar dan padat di bawah pinggang Felina.
Felina menggigit bibir. Keringat tipis membasahi dahinya. Janda cantik itu terkenal di seantero desa karena kecantikannya, juga karena kisah tragisnya. Suami yang baru dinikahinya belum sebulan meninggal dalam kecelakaan. Sejak itu, banyak lelaki yang mengincarnya tapi, mereka hanya berani melirik dari jauh, termasuk Julio.
Julio ini memang Pemuda yang berbeda. Sejak kecil dia belajar ilmu pengobatan dari guru-guru wanitanya di kuil. Ilmu pijatnya terkenal, ditambah wajah tampan dan lidah Manisnya yang semanis gulali yang membuat banyak perempuan di desa tak kuasa menolak bila dia menawarkan jasanya.
“Ini… pijat ala Tamaram, ya?” tanya Felina lirih, mencoba mengalihkan rasa sakit serta gejolak hasrat kewanitaannya yang seketika bangkit atas respon dari setiap sentuhan yang dilakukan oleh pemuda setampan Julio.
Julio terkekeh sambil mengangguk. “Betul sekali. Saya belajar di kota saat dulu ikut guru. Kalau mau, saya bisa tunjukkan teknik lain, lebih… istimewa … Lebih enak?”
Tatapan mata Julio menyiratkan sesuatu. Felina buru-buru mengalihkan pandangannya, pipinya memerah. Dia tahu betul reputasi Julio sebagai pemikat perempuan.
Meski begitu, tubuhnya yang Indah yang hanya ditutup selembar kain sarung tipis itu justru terasa hangat di bawah pijatan dan sentuhan Julio. Bahkan setiap sentuhan Julio mengingatkan Fellina pada sentuhan mesra mendiang suaminya di malam pertama pernikahannya. Sebuah sentuhan lelaki yang tak pernah ia rasakan lagi semenjak ia menyandang status janda.
Kebun rumputnya yang telah mengering seakan terangsang dan ingin disirami.Sentuhan Julio memang penuh keajaiban.
Namun sebelum suasana semakin dalam, bumi tiba-tiba terasa bergetar. Dan…
BOOM!
Suara ledakan keras tiba-tiba terdengar memekakan telinga. Dinding rumah bata pun terdengar sedikit berderak, lampu gantung bergoyang hebat.
“Apa itu?!” Felina menjerit panik.
Julio spontan menegakkan tubuhnya. “Gempa?” gumamnya, lalu tanpa berpikir panjang ia mengangkat tubuh Felina, menggendongnya keluar rumah.
Tapi Felina justru berbisik dengan wajah pucat, “Bukan gempa… Aku rasa, itu dari arah kuil tua!”
Julio mendongak. Dari kejauhan, langit malam memerah. Asap hitam tebal membumbung tinggi seolah menelan bintang. Seketika itu jantungnya berdegup kencang. Kuil Megatro!
“Itu… rumahku!” Julio spontan meletakkan Felina di tanah, lalu berlari sekuat tenaga tanpa menoleh lagi.
Felina hanya bisa menatap punggung Julio yang menjauh, tubuhnya masih bergetar. Setiap sentuhan dan tekanan jari Julio masih terasa membekas.
Tak lama kemudian, Julio tiba di kaki bukit, napasnya terengah dan nampak memburu. Sementara di hadapannya api berkobar melahap bangunan kuil. Suara kayu patah, genting runtuh, bercampur teriakan orang-orang desa yang juga telah berdatangan untuk ikut memadamkan api yang membakar Kuil.
Tanpa pikir panjang, Julio menerjang masuk ke dalam kobaran. Panas menyengat kulit, asap membuat matanya perih.
“Guru! Guru!” Julio berteriak, suaranya serak dan parau. Namun, tak ada jawaban, hanya suara api yang terdengar.
Setengah jam berlalu. Api akhirnya berhasil dikendalikan. Orang-orang desa kelelahan, mereka duduk terengah-engah. Sementara Julio berdiri di antara arang hitam dan puing-puing hangus.
Tak ada jejak dari lima guru wanita yang membesarkan Julio sejak usia empat tahun.
Namun Julio menggertakkan gigi. “Tidak… mereka tidak mungkin mati begitu saja. Aku yakin… mereka masih hidup!” rutuk Julio
Kepala Desa Jamagara, seorang lelaki tua berjanggut putih, menghampirinya. Dengan wajah serius, ia lantas menghampiri Julio dan menyerahkan sebuah buntalan kain lusuh. “Julio, sebelum kejadian … Gurumu Menitipkan ini. Katanya, bila kuil tertimpa masalah, buntalan ini harus kuberikan padamu.”
Tangan Julio bergetar saat menerima buntalan itu. Firasat buruk mulai merarajam kepalanya. Matanya berkaca-kaca. “Guru…”
Setelah orang-orang pergi, sunyi kembali menyelimuti kuil yang telah gosong. Julio membuka buntalan dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat beberapa benda, juga sepucuk surat panjang.
Tangannya gemetar saat membaca tulisan tangan yang begitu dikenalnya.
[Julio, muridku.
Kami sudah lama sadar ada orang yang mengawasi kuil. Untuk itu, kami sengaja menyuruhmu tinggal di desa agar kau tidak ikut terlibat.
Dulu, aku pernah menyiapkan sebuah perjodohan untukmu. Dengan cucu Arya Tarana, pria yang kau selamatkan sepuluh tahun lalu. Cucu itu bernama Chika Tarana. Untuk menemuinya, bawalah Jarum Sakti Aruna. Itu bisa mengobati tubuh Arya.
Ingat, Guru KEDUA juga berpesan: jangan suka main perempuan. Bila ingin mencari pasangan, gunakan Token Pengendali Badai. Itu akan menjadikanmu tuan dari Paviliun Membalik Awan.
Pesan Guru Ketiga: hati-hati bertindak. Aku meninggalkan Cincin Penyelidik Naga untukmu. Latih bela dirimu tanpa lengah!
Pesan Guru Keempat: kuasai Kitab Jiwa Gawara. Gunakan Lencana Pejabat Surga yang kuberikan!.
Pesan Guru Kelima: bawalah Kartu Hitam Emas Dirgana.
Julio, Turun gununglah! Menikahlah lebih dulu. Setelah melatih Kitab Jiwa Gawara hingga tingkat ketujuh, barulah kau akan tahu kebenaran atas semuanya.
Jangan lupa, kau punya kakak seperguruan. Namanya Silvy, ia membuka Paviliun Jiwa Murni di Kota Labew.
— tertanda Gurumu.”]
Julio menutup surat itu perlahan. Hatinya campur aduk—sedih, bingung, marah, tapi juga penuh tekad dan kebingungan.
“Perjodohan? … Chika Tarana? …” gumamnya.
Nama seorang gadis yang wajahnya bahkan belum pernah ia Lihat, kini terpatri di benaknya.
Ia menggenggam Jarum Sakti Aruna. Lalu menatap satu per satu benda warisan para guru: Token Pengendali Badai, Cincin Penyelidik Naga, Lencana Pejabat Surga, Kartu Hitam Emas Dirgana.
Julio menarik napas panjang. “Baik, Guru. Aku akan berlatih… sampai tingkat ketujuh. Aku akan mencari kebenaran!”
Ia mengenakan cincin di jari manis, lalu memanggul buntalan di punggung.
Menghadap ke arah langit jauh, Julio berteriak lantang, “Dengarlah! Julio Hernando akan turun gunung! Dunia, bersiaplah!”
Dengan langkah tegas, ia pergi menuruni gunung untuk meninggalkan kuil yang telah hangus dan untuk menjalankan semua wasiat dari gurunya yang tertulis di surat.
Namun setengah jam setelah kepergiannya, tanpa Julio ketahui, bayangan lima wanita cantik paruh baya muncul dari balik reruntuhan. Wajah mereka dipenuhi kelelahan, namun tatapan mata mereka tetap tajam.
Guru Kedua menatap suram. “Apakah kita tak sebaiknya memberi tahu kebenaran pada Julio?”
Guru Pertama menggeleng. “Belum saatnya. Kekuatan Julio masih jauh dari cukup. Tunggu sampai ia mencapai tingkat ketujuh.”
Guru Kelima menggigit bibir. “Aku takut dia tidak sanggup. Dunia luar kejam, banyak yang ingin memanfaatkannya.”
Guru Keempat tersenyum tipis. “Jangan meremehkannya. Bakat Julio sangat tinggi. Ia murid terbaik kita.”
Guru Ketiga mengangguk. “Dengan kemampuan yang ia miliki sekarang, ia bisa melindungi diri. Sisanya biarkan dia belajar dari pengalaman.”
Guru Pertama menatap ke arah Julio yang telah pergi. Dalam hatinya, sebuah janji terukir. “Tunggu sampai kau membentuk kesadaran ilahi, Julio… Saat itu, kami akan memberitahumu seluruh kebenaran."
Daftar bab
446 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
446 bab








