
Dendam Tabib Dari Penjara
Dewi Fortuna|Tamat
- Jumlah kata
- 1.3M
- Popular
- 187.2K
- Subscribe
- 5.2K
- Jumlah kata
- 1.3M
- Popular
- 187.2K
- Subscribe
- 5.2K
Sinopsis
Tujuh tahun hidup di balik jeruji besi karena fitnah, akhirnya Arga Wibisana menghirup udara bebas. Ia keluar dengan bekal warisan ilmu pengobatan dari sang guru legendaris, Dewa Medis Tangan Hantu, dan tekad kuat untuk mengungkap dalang di balik kematian orang tuanya. Tapi kebebasan ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Cap sebagai mantan napi membuatnya dipandang rendah. Di tengah ejekan, konflik keluarga, dan rahasia yang mulai terkuak, Arga dituntut untuk menentukan jalan hidupnya: menepati amanat gurunya, melindungi orang-orang yang ia cintai, atau menuntut balas atas masa lalu yang merenggut segalanya.
Ulasan
16 ulasan
makanbang4
23/6/26 14:24
Mau lihat orang dapet kutukan mematikan tapi malah bikin harem di dalamnya? berjudul ( TEROR GODAAN MALAM: MEMBANGUN LABIRIN HAREM DI RUMAH HANTU) Atau... Mau lihat orang dikasih mukjizat regresi 50 tahun tapi malah milih jadi parasit elit? berjudul:(REGRESI 50 TAHUN CUMA BUAT JADI BEBAN ELIT BOSS) Dua novel. Dua protagonis dengan moral yang patut dipertanyakan. buruan Baca sekarang!
Nagawana
19/6/26 11:28
izin promosi ya author baik!! Judulnya : Panggilan Dari Sunggut cerita yang aku tulis akan sangat berbeda dibandingkan milik orang lain disini. jika kamu kritis dan pembaca akut, Kamu pasti menyukainya. tapi jika kamu tidak suka sejarah dan pemikiran, coba baca sedikit dan beri tanggapanmu!!
Bab 1.
Di penjara Kota Cempaka, udara lembab bercampur bau karat besi dan lumut yang menempel di dinding-dinding tebal. Malam merayap masuk ke celah jeruji, membawa bayangan yang bergetar di lantai batu. Di dalam sel nomor **0**, sebuah ruang yang lebih menyerupai makam hidup, seorang pemuda berlutut. Tubuhnya tegap, sorot matanya tajam namun menyimpan luka yang dalam—dialah Arga Wibisana.
Di hadapannya, seorang lelaki tua dengan rambut seputih salju duduk bersila di atas ranjang besi. Wajahnya keriput, namun sorot matanya masih menyimpan wibawa seorang legenda. Tangannya kurus, namun seolah pernah menggenggam ribuan nyawa manusia antara hidup dan mati. Dialah lelaki yang dulu dijuluki Dewa Medis Tangan Hantu.
“Guru,” suara Arga bergetar, namun tegas. “Saya akan segera bebas.”
Alis lelaki tua itu sedikit terangkat. “Bebas?” suaranya lirih namun penuh kekuatan. “Bukankah masih ada setengah tahun lagi masa hukumanmu?”
Arga menunduk. “Saya… membantu menyembuhkan penyakit seorang tokoh besar. Pihak pengadilan memberi pemotongan hukuman enam bulan. Dan, besok hari saya bebas.”
Senyum tipis muncul di wajah sang guru. Tentu dia senang mendengar kabar bahagia itu, namun matanya justru meredup. Seakan kabar bahagia yang baru saja ia dengar, akan beriringan dengan hal yang menyedihkan. “Kalau begitu, pergilah lebih dulu. Carikan aku tempat yang tenang… sebulan lagi, kembalilah untuk mengurus jasadku.”
Arga terdiam. Dadanya seperti diremas. Ia tahu, ucapan itu bukan sekadar keluhan seorang tua. Itu adalah pesan perpisahan. Gurunya tidak mungkin sembarangan mengatakan sesuatu. Apalagi hal seperti itu. Arga yakin, itu adalah sesuatu yang akan benar-benar terjadi.
“Guru…” suaranya pecah.
Dewa Medis Tangan Hantu mengangkat tangan, memberi isyarat agar muridnya tidak larut dalam kesedihan. Dari balik bantal tipis, ia mengeluarkan sebuah giok berwarna hijau tua, mengkilap meski cahaya lampu redup. Ia meletakkannya di telapak tangan Arga.
“Ilmu pengobatan, sudah kuturunkan padamu. Ingatlah, jarum bukan sekadar alat, melainkan jembatan antara tubuh dan jiwa manusia. Namun…” suaranya meluruh, “untuk jalan bela diri, aku tak bisa membimbing. Setelah keluar, carilah Bagas Wiradipa. Sekarang dia seharusnya sudah menjadi Pendekar Agung. Tunjukkan giok ini. Dia akan tahu kau muridku, dan mengajarimu. Jangan lupa pesan terakhirku, Arga.”
Arga meraih giok itu dengan tangan gemetar. Ia menunduk dalam-dalam, bersujud tiga kali di lantai dingin. Suara kepalanya membentur batu bergema lirih, seperti sebuah janji yang menembus malam.
“Guru… saya bersumpah akan menuntaskan semua amanahmu.”
Ketika ia berdiri, langkahnya tegar, meski hatinya hancur.
Di koridor menuju gerbang, saat melewati kantin penjara, puluhan napi berdiri rapi. Wajah-wajah yang keras, penuh bekas luka kehidupan, kini menunduk hormat. Ini bagai upacara penyambutan, atau perpisahan yang berkesan. Menyambut kehidupan baru untuk Arga, dan perpisahan yang bisa saja akan membuat mereka tidak akan pernah saling bertemu lagi.
“Selamat untuk kebebasan Bang Arga!” teriak mereka serempak.
Sorak itu menggema, bukan ejekan, melainkan penghormatan. Bagi mereka, Arga bukan hanya seorang tahanan, melainkan sosok yang pernah menolong, menasihati, bahkan menyembuhkan luka mereka.
Arga mengangkat tangan, suaranya lantang namun teduh. Dia berdiri sejenak, menatap wajah mereka satu persatu.
“Kalian semua… jangan sia-siakan hidup kedua yang kalian miliki di sini. Waktu di penjara adalah ujian. Kelak, ketika keluar, jangan lagi menengok ke belakang. Berubahlah, demi keluarga kalian… demi masa depan kalian.”
Sebuah petuah mampu mengobarkan semangat mereka. Sorak dukungan bergema lagi. Mata beberapa napi bahkan memerah, karena mereka tahu ucapan itu lahir dari luka dan pengalaman. Arga memang cukup disegani di lapas itu. Arga berjalan, perlahan pergi meninggalkan semua kenangan di belakangnya. Suara riuh dari teman-temannya perlahan meredup.
Tak lama, pintu besi terakhir terbuka. Arga sudah berganti pakaian sipil, hanya membawa tas sederhana. Kepala penjara, Budi Santoro, menepuk bahunya dengan mata penuh makna.
“Jagalah dirimu di luar, Arga. Dunia di luar lebih kejam dari tembok ini.”
Arga menunduk hormat, lalu melangkah keluar. Udara bebas menampar wajahnya, membawa aroma kebebasan yang sudah tujuh tahun tak ia hirup. Dadanya bergetar.
“Tujuh tahun… akhirnya aku bebas.”
***
Di luar gerbang, seorang pria berjas rapi berlari kecil menghampirinya. Seolah memang sudah lama menunggunya. Wajah pria itu tampak gagah, lebih matang, dengan senyum lega. Saat kedua bola mata mereka bertemu, ada perasaan rindu yang dalam.
“Arga!” serunya.
Arga berhenti, matanya berair. “Kak… Darma!”
Mereka berpelukan erat, tubuh bergetar oleh tangis tertahan. Rasa rindu yang sudah tertahan bertahun lamanya, akhirnya terbalaskan.
“Maafkan aku,” bisik Darma Wibisana, kakak keduanya. “Harusnya aku lebih keras membelamu dulu. Harusnya aku ada saat kau dijatuhkan…”
Arga menggeleng, tersenyum getir. “Sudahlah, Kak. Yang penting aku masih bisa melihatmu sekarang.”
Mereka berdua terdiam sejenak, hanya mendengar suara angin dan desir dedaunan. Hingga akhirnya Arga bertanya lirih, “Kenapa Kakak perempuan kita tidak datang?”
Darma menarik napas panjang. “Dia ada urusan mendadak. Tapi… dia menitipkan salam.”
Arga hanya mengangguk. Lalu, dengan suara mantap, ia berkata, “Kak, sebelum kita pulang… aku ingin ke makam Ayah dan Ibu.”
“Tentu. Ayo,” ajak Darma bersemangat.
---
Mobil mereka melaju ke pinggiran kota. Senja telah turun, langit berwarna jingga pucat. Di pemakaman, Arga berlutut di depan dua nisan sederhana. Angin sore berhembus, membuat rerumputan bergoyang pelan.
“Ayah, Ibu…” suaranya pecah. Air mata jatuh ke tanah basah. “Maafkan anakmu yang tak berbakti. Baru sekarang aku bisa datang menjenguk kalian…”
Kenangan tujuh tahun lalu menyeruak. Fitnah keji yang menjeratnya atas tuduhan pemerkosaan. Hingga membuatnya harus masuk ke jeruji besi yang menjeratnya bertahun-tahun lamanya. Lalu tidak hanya sampai di situ saja. Tak lama berselang, kabar maut datang. Kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan. Semua itu bagai mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.
Darah merembes di dahinya karena berlutut terlalu keras di tanah berbatu. Namun ia tidak peduli. Dengan suara bergetar, ia bersumpah,
“Aku pasti akan menemukan dalangnya… dan membalaskan dendam untuk kalian!”
Ia tahu, kematian itu bukan kebetulan.
---
Sore merambat menjadi malam. Mobil berhenti di sebuah kompleks villa mewah. Rumah besar menjulang dengan lampu berkilauan.
Dari dalam, seorang perempuan anggun keluar, rambut hitam panjangnya tergerai. Senyumnya lembut, meski matanya tampak lelah. Dialah Nadine Putriwangsa, istri Darma.
“Ini Arga?” Nadine mengulurkan tangan. Menyambut kedatangan adik iparnya dengan hangat.
Arga menjabat, namun seketika tubuhnya bergetar. Tangan itu begitu dingin, seolah darah tak mengalir dengan baik. Ia menatap Nadine sekilas, hatinya bertanya-tanya tentang kondisi tubuh sang kakak ipar.
Namun sebelum sempat berkata, sebuah suara nyaring terdengar.
“Hm! Jadi ini orangnya?”
Seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh riasan, mengenakan perhiasan berkilauan, melangkah mendekat dengan sorot mata penuh penghinaan. Dialah Ratna Sari, ibu Nadine.
“Pemerkosa yang dulu menggemparkan Kota Cempaka, Arga Wibisana!” suaranya bagai cambuk yang memecah udara. Ia menepis tangan putrinya dari genggaman Arga. “Nadine, jangan berjabat tangan dengan orang seperti ini. Nanti sial menempel!”
Arga terdiam, tak paham kenapa wanita ini begitu membencinya padahal baru pertama bertemu. Bahkan dia tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Tapi, sudah melemparkan kalimat pedas padanya.
Namun Darma segera berdiri di depan adiknya, wajahnya menegang.
“Bu, cukup! Ketahuilah, adik saya itu difitnah. Jangan pernah mengulang kata-kata itu di rumah ini.”
Udara di halaman villa itu mendadak tegang. Ratna Sari melipat tangan di dada, mendengus dingin. Sementara Arga, menatap tanah, menahan gelombang amarah dan luka di dadanya.
Dalam hatinya ia berbisik, Perjalanan baru saja dimulai…
Daftar bab
747 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
747 bab








