
Tangan Dingin Panglima Naga
Dream Catcher|Tamat
- Jumlah kata
- 565.5K
- Popular
- 132.8K
- Subscribe
- 2.7K
- Jumlah kata
- 565.5K
- Popular
- 132.8K
- Subscribe
- 2.7K
Sinopsis
Delapan tahun menghilang di medan perang, Elvin Wardino, Sang Panglima Tertinggi dari Utara, akhirnya kembali pulang. Namun kedatangannya bukan disambut sukacita, melainkan tragedi mengerikan. Sebulan sebelumnya, pada hari pernikahan kakaknya, kedua orang tua angkatnya dan kakaknya tewas mengenaskan, menyisakan hanya Silvina Lasta, sang pengantin perempuan. Saat kembali ke kediaman keluarga, Elvin dikejutkan dengan orang-orang yang ingin merebut harta keluarga dan mencoba menodai kehormatan Silvina. Diliputi kemarahan, Elvin memanggil ratusan pria berpakaian hitam dengan lencana Naga, mengungkapkan bahwa dirinya bukanlah tentara biasa, melainkan pemimpin Pasukan Naga Rahasia. Dengan kekuatan, strategi, dan tekad yang membara, mampukah ia merebut kembali kekuasaan Keluarga Wardino yang kini diperebutkan oleh empat kekuatan besar?
Ulasan
18 ulasan
Andi Gumi
2/9/26 08:57
skip aja dulu ah sampe tunggu tamat...gak sabar liat ceritanya...pemeran utama jd kyak figuran..makin lama koq makin ruwet story nya
Andi Gumi
2/9/26 08:54
makin lama makin tambah bikin emosi jalan ceritanya....bertele tele...kelamaan klo cuma ngadepin satu musuh aja dibikin njelimet...20 episode bru kelar satu musuh..belum yg lain....hadeeeh thor2
Kembalinya Sang Panglima
Rintik hujan membasahi jalanan Kota Lamino di bulan September. Di tengah kabut tipis, sebuah mobil off-road hijau militer melaju. Elvin Wardino, Panglima Tertinggi di Utara, berada di dalam mobil. Ia menatap keluar jendela mobil. Setelah 8 tahun meninggalkan rumah, kini ia kembali.
Mobil berhenti di depan gerbang besar kediaman Keluarga Wardino. Rumah yang dulu megah dan penuh kehangatan itu kini terlihat sangat berbeda. Elvin turun dari mobil, berdiri diam beberapa saat, membiarkan hujan membasahi mantelnya yang hitam.
Sebulan lalu, kakaknya Kaiven Wardino menikah. Upacara yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi tragedi berdarah. Dalam resepsi pernikahan itu, orang tua angkatnya dan Kaiven tewas secara mengenaskan. Satu-satunya yang selamat hanyalah pengantin wanita, Silvina Lasta.
Tak lama setelah itu, Grup Lubex, perusahaan besar yang didirikan ayah angkatnya, dibagi-bagi oleh empat konglomerat besar di Kota Lamino. Dalam waktu sebulan, semua yang pernah dibangun keluarga Wardino lenyap seolah tak pernah ada.
Elvin menatap rumah di depannya. Delapan tahun ia tak pulang. Delapan tahun berjuang di medan perang, menanggung darah dan kematian, demi nama negaranya. Tapi saat akhirnya kembali, dunia yang ditinggalkannya telah berubah total.
Ia menarik napas panjang, tapi dada yang terasa sesak membuatnya batuk keras. Wajahnya memerah, tubuhnya sedikit goyah. Dua orang yang berdiri tak jauh darinya segera menghampiri — seorang perempuan berambut hitam panjang bernama Ellina, dan seorang pria bertubuh tegap bernama Benny.
“Jenderal, Anda belum pulih sepenuhnya. Lebih baik kita istirahat dulu,” ucap Ellina khawatir.
“Aku baik-baik saja,” jawab Elvin. “Kalian tunggu di sini. Aku masuk sendiri.”
Benny ingin membantah, tapi pandangan tajam Elvin membuatnya menelan kata-katanya. Bersama Ellina, ia berdiri tegak dan memberi hormat. “Baik, Jenderal.”
Keduanya tahu siapa yang mereka hadapi. Elvin Wardino bukan prajurit biasa. Ia masuk militer pada usia delapan belas, dan dalam waktu kurang dari delapan tahun, ia menjadi Panglima Utara, pemimpin ribuan pasukan elit.
Tiga bulan lalu, ia bahkan mengalahkan lima ahli teratas sendirian dalam satu pertempuran besar, sebuah pencapaian yang membuat namanya dijuluki Dewa Perang dari Utara.
Namun hari ini, legenda itu tampak rapuh. Di balik ketenangannya, ia menahan amarah dan duka yang hampir tak tertahankan.
Dengan langkah berat, Elvin melewati gerbang dan masuk ke halaman rumah. Di dalam kediaman yang dulu megah itu, suara berisik terdengar — suara perabot diseret, peti dibuka, dan orang-orang berteriak memberi perintah.
Beberapa pria berjas sibuk mengangkut barang-barang: setelan mahal, perhiasan, peralatan elektronik, hingga furnitur impor. Mereka memperlakukan rumah itu seperti gudang barang bekas.
“Cepat! Angkut semua, jangan sisakan apa pun!” teriak seorang pria paruh baya dengan jas abu-abu. Namanya Andrew Marlan, mantan direktur penjualan Grup Lubex.
Di sisi lain ruangan, seorang wanita berdiri di ambang tangga, wajahnya pucat namun matanya tajam. Silvina Lasta. Wanita cantik itu mengenakan gaun panjang yang membalut sempurna lekuk tubuhnya yang sempurna. Ekspresinya yang sedih dan panik tidak menutupi kecantikannya.
“Berhenti!” teriaknya. “Kalian tak punya hak menyentuh apa pun di rumah ini!”
Andrew tertawa sinis. “Hak? Keluarga Wardino sudah tak ada. Kaiven mati, orang tuanya juga. Grup Lubex sudah dipecah. Kau pikir siapa yang masih akan melindungimu, Silvina?”
“Kaiven mempercayaimu seperti keluarga. Dan sekarang kau datang untuk merampok sisa peninggalannya?”
Andrew melangkah mendekat, wajahnya berubah sinis.
“Kaiven mempercayai banyak orang, tapi lihat hasilnya. Sekarang dia hanya abu. Kau pikir jadi janda membuatmu berkuasa?”
“Diam!” seru Silvina dengan marah. “Kau tidak tahu malu!”
Andrew mendengus. “Tidak tahu malu? Justru kau yang ingin jadi istri kaya, tapi nasibmu berubah. Sekarang, kau hanyalah janda tanpa nama.”
Ia mendorong Silvina keras hingga tubuh wanita itu terjatuh ke lantai. Roknya sobek tergores oleh pecahan kaca di bawahnya, menampakkan kedua kaki jenjangnya yang sempurna.
Andrew mengeluarkan selembar uang seratus ribu, melemparkannya ke lantai. “Kau datang demi uang Wardino, kan? Nah, ambil ini. Anggap saja bayarannya.”
Air mata menetes di pipi Silvina. Ia menunduk, menggenggam lantai yang dingin.
“Kalian akan menerima balasan atas perbuatan ini,” katanya pelan tapi tegas.
Andrew menatap sekeliling, lalu menunjuk sebuah foto besar di dinding — foto keluarga Wardino di hari pernikahan Kaiven. Dengan jijik, ia melepas bingkai itu, melemparnya ke lantai, lalu menginjak foto tersebut di depan Silvina.
“Ini semua masa lalu,” katanya dingin.
Silvina berlari kecil untuk mengambil foto itu. Tangannya terluka karena pecahan kaca, darah menetes di lantai.
“Kaiven tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun. Kalian tidak takut akan karma?”
Andrew menatapnya dengan tatapan meremehkan. “Karma? Dunia ini milik orang kuat. Dan Kaiven terlalu lemah untuk bertahan.”
Ia membungkuk, meraih dagu Silvina, “Sayang sekali, Kaiven tak sempat menikmati wanita secantik dirimu.”
Tangannya bergerak menyusuri garis leher Silvina, terus bergerak ke bawah. Sebelah tangannya memegangi bahu Silvina dengan kuat.
“Sialan! Lepaskan aku!” seru Silvina, tetapi dia tidak cukup kuat untuk melepaskan diri.
Namun seketika terdengar suara berat dan dingin dari arah pintu.
“Sentuh dia, dan kau tidak akan hidup cukup lama untuk menyesalinya!”
Semua orang menoleh untuk melihat siapa yang bicara. Seorang pria tak dikenal berada di depan pintu. Dia tinggi dan memiliki garis wajah yang tegas. Mantel hitam yang dikenakannya sedikit basah oleh air hujan.
“Kalian benar-benar akan menyesali apa yang terjadi hari ini!” serunya lagi.
Daftar bab
563 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
563 bab








