
Takhta Naga di Tanah Bugis
Tujo Me|Bersambung
- Jumlah kata
- 58.1K
- Popular
- 169
- Subscribe
- 45
- Jumlah kata
- 58.1K
- Popular
- 169
- Subscribe
- 45
Sinopsis
#Takhta Naga di Tanah Bugis -- Aku hanya nelayan biasa, sampai satu malam aku membunuh pamanku sendiri. Darah itu membangunkan naga laut, dan badik terlarang memilih tanganku sebagai tuannya. Takhta kerajaan Bugis yang telah runtuh ratusan tahun lalu menuntut bangkit kembali. Sumpah leluhur, siri’ yang berdarah, dan rahasia Lontara Naga menyeretku ke pusat perebutan kekuasaan, pengkhianatan, dan perang laut yang tak terhindarkan. Saat semua orang berlutut memanggilku ARUNG, aku sadar: takhta itu tidak memilih pemimpin yang siap, melainkan orang yang paling sanggup menghancurkan dirinya sendiri.
Ulasan
1 ulasan
duhwiwi
8/1/26 15:39
ceritanya bagus ka,keren banget bab ke bab menjadi penasaran deh,mampir ke novel ku juga ya ka " GANGSTA MA" ,subscribe 🤗👍👍 semangat menulisnya kak...
Bab 01 - Aku Membunuh Pamanku
Aku baru sadar hidupku benar-benar berubah saat darah menetes di lantai kayu rumah panggung itu.
Tetesannya jatuh pelan, satu… dua… tiga, menyusup ke celah papan seperti ingin menghilang. Tapi bau besi badik itu tidak bisa disembunyikan. Menyengat. Lengket di hidung. Lengket di ingatan.
“Akhirnya kau sudah membunuh, La Ode?” Tanya si kakek tua berambut putih itu dengan senyum manis.
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada ombak yang biasa memecah di bawah rumah panggung ini. Aku membeku. Tanganku masih terangkat. Badik di genggamanku bergetar, bilahnya basah, merahnya karena darah paman belum sempat menghitam.
Aku menoleh perlahan.
“Dia ingin mencuri pusaka badik Lontara ini,” jawabku pendek. Suaraku serak, seperti ada pasir di tenggorokan. “Dan ia berbohong atas nama leluhur.”
Korban di depanku -- pamanku sendiri -- sudah terkulai di dekat tiang utama rumah panggung. Tubuhnya melorot, punggungnya membentur kayu tua yang sudah menyerap terlalu banyak cerita darah masa silam. Matanya masih terbuka, memandangku dengan sorot yang tak lagi marah, hanya tak percaya.
“Kau…” bibirnya bergetar. “Kau membunuh aku -- pamanmu sendiri.”
Aku tidak menjawab. Aku masih sedikit shocked.
“Kau tahu akibatnya…” desisnya pelan. “Kau tahu apa yang kau bangunkan…”
Napasnya tersengal sekali lagi, lalu berhenti. Kepalanya terkulai ke samping. Ia meninggal dunia.
Sunyi.
Hanya suara angin laut yang akhirnya menyusup lewat celah papan, menggerakkan lampu minyak hingga bayang-bayang di dinding bergetar seperti makhluk hidup.
Aku mengalihkan pandangan. Di sudut rumah panggung itu, kakek tua itu masih berdiri. Rambutnya memutih seluruhnya, kulitnya keriput seperti peta yang dilipat berkali-kali, tapi matanya -- matanya setajam bilah badik Lontara yang baru diasah.
“Ini salahmu,” kataku akhirnya. Dadaku naik turun. “Kakek tadi bilang aku harus memilih.”
Ia melangkah maju pelan. Tongkat kayunya diketukkan ke lantai, tok… tok… tok, seolah menghitung waktu yang tersisa.
“Dan kau sudah memilih,” katanya tenang. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Tak ada jalan penyesalan, Arung.”
Aku mendengus, pahit. “Jangan panggil aku itu.”
Ia berhenti tepat di hadapanku, jarak kami hanya sejengkal. “Darahmu sendiri yang menyatakan kau Arung.”
Aku menyeka darah segar di lengan dengan sarungku, gerakannya kasar. “Aku hanya nelayan. Anak pelaut biasa. Jangan bawa-bawa gelar Arung yang tidak kuinginkan.”
“Nelayan?” Ia tertawa pendek, suara kering seperti ranting patah. “Nelayan tidak mendengar suara naga saat bulan purnama.”
Aku terdiam.
Suara itu kembali terngiang di kepalaku -- dalam, berat, seperti datang dari dasar laut. Bukan suara telinga, tapi suara yang langsung menghantam dada.
"Bangkitlah!!!" Teriak suara entah dari mana.
Aku mengepalkan rahang. “Kau juga mendengarnya, bukan?” tanyaku.
Suara kakek itu kini lebih rendah. “Sejak malam kau dilahirkan, nak muda.”
“Aku kira itu mimpi,” balasku cepat, hampir membentak. “Aku kira semua orang mendengarnya.”
Ia menggeleng perlahan. “Tidak. Hanya pewaris.”
Aku meludah ke lantai. “Pewaris apa? Kerajaan itu sudah runtuh. Takhta itu cuma dongeng untuk menakut-nakuti anak kecil agar patuh.”
“Dongeng?” Ia melirik jenazah pamanku tanpa emosi. “Lalu mengapa ia berniat mencuri Lontara Naga?”
Aku membeku. Jantungku berdegup lebih keras.
“Kau tahu jawabannya?” tanyaku pelan.
“Tentu.” Ia mendekat lagi, suaranya diturunkan. “Ia ingin menjualnya pada orang luar. Pada mereka yang ingin membangunkan kembali takhta… tapi bukan untukmu.”
Dadaku sesak. “Aku tak pernah minta ini. Aku bahkan tak tahu apa-apa soal itu.”
“Takhta tidak pernah peduli pada keinginan,” jawabnya datar. “Takhta hanya mengenali darah.”
Aku tertawa getir. “Dan kau pikir aku mau duduk di singgasana khayalan itu?”
“Kau sudah duduk di sana,” katanya tanpa ragu. “Sejak badik Lontara itu menembus dada pamanmu lewat tanganmu.”
Aku memalingkan wajah. Tanganku gemetar lagi, kali ini bukan karena amarah, tapi sesuatu yang lebih dalam. “Aku membunuh untuk mempertahankan siri’. Itu saja.”
“Siri’ adalah akar kekuasaan Bugis,” katanya pelan, seolah mengajar anak kecil. “Dan kau baru saja menegakkannya dengan darah.”
Di luar, terdengar suara langkah kaki tergesa di tangga rumah panggung. Papan berderit keras.
“Arung! Arung La Ode!”
Aku mengenali suara itu bahkan sebelum sosoknya muncul. “Ramma.”
Seorang pemuda hitam, seusiaku, masuk tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipisnya.
“Kau… kau benar-benar melakukannya?” matanya melirik jenazah paman di lantai, lalu menatap badik Lontara di tanganku.
“Apa yang kau dengar?” tanyaku cepat.
“Desa gempar,” katanya tergagap. “Orang-orang bilang pamamu mati dibunuh… dan badik naga sudah memilih tuannya.”
Aku mengumpat pelan. “Cepat sekali menyebar.”
“Karena langit berubah,” katanya. “Kau tidak lihat?”
Aku menoleh keluar. Nafasku tercekat.
Awan hitam menggulung rendah di atas laut, berputar seperti pusaran raksasa. Petir merah menyambar tanpa suara, menerangi air yang mendadak gelap.
“Apa itu…?” bisikku.
“Naga Laut Selatan,” ujar lelaki tua di belakangku. “Ia terbangun.”
Ramma menelan ludah. “Mereka bilang… kalau naga bangun, darah keturunan telah menetes lewat tangan Arung.”
Aku memejamkan mata. “Aku bukan Arung. Aku bukan pewaris Raja.”
“Tapi kau Arung,” kata Ramma lirih. “Nama itu hanya diberikan pada satu garis darah.”
Aku membuka mata tajam. “Siapa yang mengajarimu itu?”
“Almarhum kakekku,” jawabnya tanpa ragu. “Sebelum ia mati lima tahun yang lalu… ia bilang, kalau suatu hari aku melihat langit retak, aku harus berdiri di sisimu.”
Aku mendengus. “Berdiri untuk apa? Mati?”
“Untuk menjaga takhta,” jawabnya mantap, meski tangannya gemetar.
Aku tertawa keras. “Takhta apa? Rumah panggung ini saja hampir roboh.”
Kakek tua itu mengetuk lantai dengan tongkatnya. “Takhta Naga tidak terbuat dari emas. Ia terbuat dari ketaatan.”
Aku menoleh padanya. “Atas dasar apa kakek bilang begitu?”
Ia tersenyum tipis. “Aku adalah penjaga sumpah.”
“Sumpah siapa?”
“Leluhurmu.”
Aku mengepalkan tangan. “Kalau kakek tahu semua ini, kenapa baru datang sekarang?”
“Karena sampai malam ini,” katanya, “kau belum memilih.”
Ramma mendekat. “Arung… orang-orang menuju ke sini.”
“Untuk apa?” tanyaku.
“Untuk memastikan,” jawabnya. “Apakah cerita itu benar.”
Aku menarik napas panjang. “Kalau mereka melihat ini--”
“Mereka akan bersujud,” potong kakek tua itu. “Atau menghunus badik mereka.”
Aku tertawa pahit. “Pilihan yang menarik.”
Suara teriakan terdengar dari kejauhan, makin dekat.
“La Ode! Buka pintu!”
Aku menoleh ke jenazah pamanku. “Aku membunuhnya karena ia ingin menjual badik Lontara ini. Menjual darah kita.”
“Dan sekarang kau harus siap memikul konsekuensinya,” kata kakek tua itu.
Aku melangkah ke tengah rumah panggung itu. “Kalau aku keluar, aku keluar sebagai nelayan. Bukan raja. Bukan Arung."
“Tak mungkin,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena naga sudah mengenalimu.”
Petir merah menyambar tepat di atas rumah panggung itu. Papan-papan bergetar hebat.
Ramma menutup telinganya. “Oh tidakkkk…”
Aku menelan ludah. “Kalau aku menolak?”
“Naga akan mengambilnya,” jawab lelaki tua itu. “Dengan cara yang lebih kejam.”
Aku tertawa pendek. “Jadi ini ancaman.”
“Ini takdir.”
Aku mengambil badik Lontara itu dari lantai. Bilahnya berkilau aneh, seolah menyimpan cahaya di dalamnya.
“Aku harus berbuat apa selanjutnya?” tanyaku.
“Badik Lontara itu harus kamu jaga,” jawabnya. “Karena hanya bisa digenggam oleh Arung sepertimu.”
Aku mencengkeramnya. Tak ada rasa panas. Tak ada luka.
Ramma menatap tak percaya. “Badik itu… tidak melukaimu.”
Aku menatapnya balik. “Sejak kapan badik melukai tuannya?”
Sunyi sesaat.
Di luar, pintu digedor lebih keras.
“La Ode! Kami tahu kau di dalam!”
Aku melangkah ke arah pintu. “Kalau aku keluar,” kataku pelan, “tak ada jalan pulang.”
“Takhta tidak mengenal pulang,” ujar kakek tua itu. “Hanya maju… atau mati.”
Aku membuka pintu.
Puluhan pasang mata menatapku. Badik-badik mereka terhunus. Wajah-wajah penuh curiga, takut, dan harap.
“Benar?” teriak seseorang. “Kau membunuhnya?”
Aku mengangguk. “Ia melanggar siri’.”
Mereka menyebar di dalam rumah panggung itu.
“Dan badik itu?” tanya yang lain.
Aku mengangkatnya. “Ia memilihku.”
Sunyi. Lalu satu per satu, mereka berlutut.
Dadaku bergetar.
“Aku tidak meminta ini,” kataku keras. “Aku hanya melindungi badik Lontara ini. Hasratku bergerak sendiri--menusuk paman."
“Kamu adalah Arung, Laode.” ucap seseorang gemetar.
Aku hanya menatap laut yang menghitam. “Aku masih belum percaya cerita dongeng ini. Yang aku tahu, aku telah membunuh pamanku sendiri."
Daftar bab
48 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








