
- Jumlah kata
- 12.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Hidupnya bak mimpi yang menjadi nyata - sampai akhirnya, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk. Saat Aleena bertemu Julian Alexander, ia merasa telah menemukan kunci menuju kebahagiaan. Julian adalah sosok sempurna: kaya raya, memiliki penthouse mewah, dan yang terpenting, pria itu tidak pernah bertanya tentang masa lalu Aleena. Tidak sama sekali. Aleena merasa aman. Ia yakin apa yang Julian tidak ketahui, tidak akan pernah menyakitinya. Ia sudah siap memainkan peran sebagai istri idaman dan mengubur jati dirinya yang asli sedalam mungkin. Namun, Aleena tidak menyadari bahwa Julian bukanlah pria yang naif. Julian hanya sedang menunggu waktu yang tepat. Ia tahu siapa Aleena sebenarnya. Ia tahu dosa apa yang pernah Aleena lakukan. Di balik kemewahan itu, jebakan mulai menutup. Ketika rahasia-rahasia gelap terungkap, Aleena harus memilih: lari kembali ke masa lalunya, atau menghadapi konsekuensi mematikan dari kebohongannya sendiri.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
2019
"Satu vanilla latte besar, ekstra panas, dan susu untuk nona Dian?"
Aku merasakan lesung pipitku tertarik dalam seiring senyum yang kupaksakan bertahan lebih lama dari biasanya. Aku sampai harus mengulang pesanan itu dua kali sebelum akhirnya si pemilik nama melangkah maju. Ponsel masih melekat di tangannya, persis seperti saat dia mengantre tadi.
Aku memperhatikannya lekat-lekat saat ia mengulurkan tangan. Matanya, meski tersembunyi di balik kacamata hitam besar, tak sedikit pun beralih dari layar ponsel-tengah sibuk mengagumi foto selfie yang baru saja ia ambil di bawah siraman matahari pagi.
Benar saja, sebuah senyum tipis perlahan terukir di wajahnya begitu ia melihat namanya sengaja salah kutulis di dinding gelas. Aku baru saja memalingkan muka saat kudengar tawa kecil yang khas itu, disusul bunyi klik dari kamera ponselnya.
Aku tidak peduli jika si "Si Dian" ini menganggap otakku agak lambat atau sebuah kenyataan kalau ini adalah variasi nama keempat yang ia dapatkan sejak jadi pelanggan tetap di sini. Yang penting, perusahaan akan puas dengan hasil kerjaku dan tentu saja keriuhan media sosial yang dipicu oleh unggahannya.
Memang terasa seperti kemenangan kecil tapi itulah yang membuatku bangga dan aku rasa-dalam hati, aku memang sedikit menikmatinya. Alasan apapun sangat aku butuhkan untuk bisa bertahan melewati hari ini, dan kalau memang begini caranya, biarlah.
Aku melempar senyum singkat pada Ana sambil melangkah kembali ke barisan mesin kopi. Antrean mulai mengular. Aku menghela napas panjang sembari mulai meracik pesanan berikutnya. Shift-ku baru berjalan dua jam tapi beban hari ini sudah terasa begitu menekan pundak.
Aku bukannya tidak menikmati dan bersyukur dengan pekerjaan ini. Aku menikmatinya... ya, setidaknya di beberapa bagian tertentu. Ana adalah bagian terbaik yang bisa aku rasakan. Dia jauh lebih berpengalaman dibanding kami berdua meski sebenarnya dia baru mulai bekerja di Thanks A Latte! beberapa minggu sebelum aku diterima.
Awalnya aku merasa gugup di dekatnya. Rasa percaya dirinya yang tinggi sempat membuatku terintimidasi. Namun dia selalu memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan menawarkan tumpangan pulang setelah sif pertamaku habis. Setelah satu minggu penuh bekerja hanya berdua dengannya, kami menjadi akrab dengan cepat. Kini aku menganggapnya sebagai sahabat terbaikku.
Memang masih mudah bagiku untuk merasa terintimidasi oleh Ana-dan aku masih terlalu sering membandingkan diriku dengannya-tapi aku bersyukur memiliki teman yang bisa kuandalkan, apalagi kami bisa sering bertemu seperti ini. Aku harus bergantung pada kemenangan-kemenangan kecil seperti ini demi bisa bertahan sampai akhir hari; sebuah mantra yang hampir setiap hari sepanjang bulan ini terus kuulang dalam hati.
Dan tentu saja ada keuntungan yang lain lagi tapi tidak ada yang membuat pekerjaan ini terasa sepadan selain kehadiran Ana. Diskon karyawan yang royal untuk minuman dan kue-kue memang tidak bagus untuk lingkar pinggangku namun hal itu aku anggap sebagai kemenangan kecil lainnya yang bisa kunikmati setelah hari yang melelahkan. Belakangan ini, hari-hari yang panjang seolah sudah menjadi makanan sehari-hari dan aku akan menyambar kenyamanan apa pun yang bisa kudapat selama delapan jam menghabiskan waktu di sini.
Ana dan aku sudah berdebat dengan Abduh, sang manajer, berkali-kali tentang betapa kami butuh bantuan tambahan di pagi hari. Selalu saja hanya kami berdua yang bertugas saat shift pagi dan tekanan itu mulai benar-benar menggerogoti fisik maupun mental kami.
Ana begitu mahir dalam pekerjaan ini dan aku ingin percaya kalau aku pun cukup bagus tetapi jumlah pelanggan yang kami layani terus bertambah setiap harinya. Panjang antrean yang mengular di beberapa pagi belakangan mulai benar-benar menguras kewarasan kami berdua.
Aku tidak pernah menunjukkan sikap "kurang warasku" di depan pelanggan tapi aku tahu Ana mulai merasa semakin frustrasi. Sebenarnya wajar saja, mengingat betapa tingginya rasa percaya diri yang Ana miliki. Dia bahkan sudah berkali-kali kena semprot Abduh gara-gara sikapnya-meskipun kami selalu berargumen kalau para pelanggan sebenarnya diam-diam menikmati "kejudesannya" itu. Itulah satu hal yang selalu membuatku takjub: kemampuan Ana untuk menghina pelanggan yang menyebalkan secara terang-terangan namun membungkusnya dengan rapi dalam kedok pelayanan standar.
"Maaf ya Pak, atas berat badannya!"
Aku tersenyum kecil sambil mencuri dengar pesanan pelanggan sementara tanganku sibuk meracik minuman. Sejujurnya, meski aku sangat ingin ada orang lain yang membantu kami di pagi hari, aku tahu siapa pun orang baru itu nantinya hanya akan merusak keseruan kecil yang biasa aku dan Ana bangun. Kami punya daftar panjang bahasa kalbu dan kode-kode rahasia yang jumlahnya terus bertambah. Rasanya mustahil bisa mengajak orang baru masuk ke dalam "lingkaran" kami-setidaknya tidak tanpa pelatihan mental yang luar biasa.
"Aleena ada teh panas di belakangmu!"
Secara refleks aku langsung mendongak begitu Ana meneriakkan kode favorit kami. Itu adalah frasa rahasia yang kami sempurnakan sejak awal bekerja dan seperti yang sering kami sepakati, inilah keuntungan terbaik bekerja di tempat ini. Tentu, awalnya kami agak ceroboh saat menggunakannya tapi sekarang segalanya sudah berjalan sangat mulus dan terencana.
Di konter belakang kami memang selalu ada teh yang sudah diseduh di atas pemanas. Sesuai protokol perusahaan, teh itu harus diganti setiap setengah jam sekali. Jadi, wajar saja kalau kami punya alasan kuat untuk saling berteriak setiap kali waktunya mengganti teh. Namun, apa yang tidak mungkin diketahui oleh para pelanggan adalah: kalimat itu juga merupakan kode rahasia yang selalu kami serukan setiap kali ada pria ganteng yang melangkah masuk ke kafe.
Selera pria aku dan Ana itu bagaikan bumi dan langit. Bagi Ana, tempat ini mungkin terasa seperti surga. Karena Thanks a Latte! masih berskala kecil dan lokal, kami bertemu dengan berbagai macam tipe orang tapi sejauh ini, pelanggan yang paling mendominasi adalah kaum hipster.
Ana adalah penggemar berat pria berjenggot lebat dengan pilihan busana yang unik-sesuatu yang menurutku terpampang nyata dari gaya pribadinya sendiri yang hobi memakai sepatu bot dan rambut yang dicat warna-warni. Jadi, wajar saja kalau dia selalu nyambung dengan pria-pria yang datang ke sini. Jujur saja, aku tidak keberatan karena tip yang Ana kumpulkan selalu lebih tinggi daripada punyaku. Dia menyukai mereka dan juga sebaliknya, dan sering kali dia sudah punya jadwal kencan baru setiap minggunya.
Aku tidak menganggap Ana itu perempuan gampangan atau semacamnya. Dia hanya tipe yang suka bersenang-senang dan aku rasa cukup ahli melakukannya. Menurutku itulah salah satu alasan mengapa aku masih sering merasa terintimidasi olehnya, meski aku sangat bersyukur memiliki dia sebagai sahabat. Aku tidak habis pikir bagaimana dia bisa begitu percaya diri dengan dirinya sendiri dan begitu luwes saat berhadapan dengan orang lain.
Mungkin itu karena aku sendiri tidak punya cukup keyakinan pada diriku sendiri. Maksudku, bagaimana bisa? Lihatlah aku sekarang; terjebak di pekerjaan yang tidak punya masa depan tanpa gelar sarjana dan nyaris tidak punya keluarga yang bisa menyokongku. Tidak heran kalau aku harus mengandalkan kemenangan-kemenangan kecil hanya untuk bertahan melewati hari. Namun walaupun begitu, lagi-lagi Ana selalu jauh lebih "menang" dariku. Dia selalu bilang kalau aku harus lebih membuka diri pada orang lain dan dia sering mengkritik standar yang kupasang terlalu tinggi untuk diriku sendiri.
Ana tahu betapa besarnya keinginanku untuk menikah dan memiliki keluarga yang hangat. Dia tahu kalau hal itu sangat penting bagiku dan dia sangat mendukung impianku itu. Hal yang sama sekali tidak dia dukung hanyalah kebiasaanku yang terlalu sering menyalahkan diri sendiri atas hidup dan hubungan asmara yang kujalani. Aku memang tidak punya banyak mantan pacar, dan Ana selalu cepat mengingatkanku bahwa jika aku benar-benar ingin bertemu sosok The One, aku harus berani melangkah keluar dan menjemputnya. Dia tidak mengkritik kehidupan idaman yang kuinginkan. Dia hanya ingin aku keluar dan menemukan kebahagiaanku sendiri.
Sudah seharusnya aku mendengarkan dan menuruti isi dari khutbahnya dan berbuat lebih banyak untuk mencari kebahagiaan itu. Namun, melihatnya sedang asyik menggoda pria di depan mesin kasir mendadak merusak suasana hatiku. Pria itu tipe pelanggan standar kami meski harus kuakui tampilannya sedikit lebih mendingan. Dia memakai kemeja kotak-kotak dan punya jenggot panjang yang berantakan.
Aku tertawa kering dalam hati sambil menyapu pandangan ke arah beberapa orang yang tersisa di antrean. Aku bisa melihat rasa frustrasi mereka memuncak karena harus menunggu Ana yang sibuk menggoda. Mereka tidak tahu saja, meski saat ini aku sedang tidak berada di pihak Ana, aku juga tidak merasa ada di pihak mereka. Masa bodoh kalau mereka harus menunggu. Kopi ini dan aku tidak akan lari ke mana-mana.
Daftar bab
13 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








