Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
CEO ABADI DARI DUNIA PARALEL

CEO ABADI DARI DUNIA PARALEL

Lia Lintang | Bersambung
Jumlah kata
25.8K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / CEO ABADI DARI DUNIA PARALEL
CEO ABADI DARI DUNIA PARALEL

CEO ABADI DARI DUNIA PARALEL

Lia Lintang| Bersambung
Jumlah Kata
25.8K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiPertualanganKonglomerat
Adrian Wijaya hanyalah seorang karyawan jenius yang hidupnya hancur dalam satu malam. Dikhianati oleh Vanessa, wanita yang ia cintai selama bertahun-tahun. Dipermalukan oleh Nicholas Hartono, pewaris konglomerat terbesar di negeri ini. Lalu dibuang dari puncak Hartono Global Tower setinggi 88 lantai untuk menutupi kejahatan mereka. Namun kematian tidak datang. Saat tubuhnya terjatuh, Adrian justru terseret ke sebuah dunia paralel yang misterius. Di sana, ia hidup selama 7000 tahun. Ketika akhirnya kembali, dunia asalnya bahkan belum melewati satu detik. Kini Adrian membawa pengetahuan, pengalaman, dan rahasia yang melampaui peradaban modern. Dari teknologi masa depan hingga strategi bisnis yang mampu mengguncang dunia, semua berada dalam genggamannya. Sementara orang-orang yang pernah mengkhianatinya masih menganggapnya sebagai pria lemah yang bisa diinjak kapan saja. Mereka tidak tahu, jika pria yang kembali dari dunia paralel itu telah hidup lebih lama daripada sejarah manusia itu sendiri dan kali ini, Adrian tidak akan kehilangan apa pun. Karena permainan yang mereka mulai dengan pengkhianatan, akan ia akhiri dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.
Bab 1. Dibuang dari Puncak Menara

"Adrian, laporan kuartal ketiga harus selesai malam ini!"

"Adrian, revisi proposal investasi ini!"

"Adrian, buatkan presentasi untuk rapat direksi besok pagi!"

"Adrian, cepat sedikit! Apa kau mau perusahaan rugi gara-gara kelambananmu?"

Bentakan demi bentakan menghujani telinga Adrian Wijaya sejak pagi.

Pria berusia dua puluh lima tahun itu hanya mengangguk dan terus bekerja di depan tiga monitor sekaligus. Jari-jarinya menari di atas keyboard tanpa henti. Matanya merah karena kurang tidur. Sejak tiga hari terakhir, ia bahkan belum sempat pulang ke apartemen sempit yang disewanya.

Sementara itu, di luar jendela kaca, langit kota mulai menggelap.

Sedangkan di dalam Hartono Global Tower, gedung pencakar langit 88 lantai milik konglomerat terbesar di negeri ini, Adrian masih terjebak dalam tumpukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh beberapa divisi sekaligus.

Anehnya, semua hasil kerja keras itu tidak pernah mencantumkan namanya.

Proposal yang ia buat menjadi prestasi manajernya. Strategi investasi yang ia susun menjadi pencapaian direktur.

Presentasi yang ia kerjakan semalaman menjadi kebanggaan para petinggi perusahaan.

Sedangkan Adrian? Ia hanya karyawan biasa yang menerima gaji pas-pasan. Tidak ada penghargaan. Tidak ada pengakuan. Tidak ada yang peduli.

Hari ini tiba-tiba perutnya berbunyi pelan.

Baru saat itu Adrian menyadari bahwa sejak pagi ia belum makan apa pun. Ia membuka dompet miliknya. Kosong.

Hanya tersisa beberapa lembar uang receh.

Gajinya bulan ini habis untuk membayar biaya rumah sakit ibunya yang sedang sakit ginjal. Mengenaskan bukan?

Adiknya juga masih kuliah dan membutuhkan biaya hidup. Setiap bulan Adrian bekerja seperti mesin hanya untuk memastikan keluarganya bisa bertahan hidup, tercukupi dan baik-baik saja.

Tapi ia tidak pernah mengeluh. Karena masih ada satu alasan yang membuatnya terus bertahan. Seorang perempuan berparas cantik bernama Vanessa.

Wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama tiga tahun terakhir. Setiap kali hidup terasa terlalu berat, Adrian selalu mengingat senyum Vanessa.

Ia percaya semua pengorbanannya akan terbayar suatu hari nanti. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Vanessa muncul di layarnya.

Wajah lelah Adrian langsung sedikit cerah.

Namun ketika membuka pesan itu, darahnya seakan membeku.

"Adrian, tolong aku! Aku terkunci di rooftop! Aku takut! Cepat datang!"

Jantungnya langsung berdetak keras.

Rooftop?

Kenapa Vanessa ada di sana? Tanpa berpikir panjang, Adrian segera berdiri.

"Ke mana kau?" tanya atasannya.

"Ada keadaan darurat."

"Kerjaanmu belum selesai!" hardiknya, lagi.

Ya, dia kerap diperlakukan tidak baik.

"Saya akan kembali," sahutnya sambil berlalu pergi.

"Kalau kau pergi sekarang, jangan salahkan aku kalau bonusmu dipotong!" seru salah seorang atasan pemuda itu.

Adrian tidak peduli.

Ia langsung berlari menuju lift. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Vanessa mungkin dalam bahaya. Mungkin ada yang mengganggunya, atau bahkan sedang terjadi kecelakaan.

Semakin ia memikirkan kemungkinan itu, langkahnya semakin cepat. Kini lift berhenti di lantai delapan puluh delapan.

TING!

Pintunya mulai terbuka.

Adrian pun langsung berlari keluar menuju rooftop.

Namun begitu pintu besi terbuka sepenuhnya, langkahnya langsung terhenti.

Suasana di sana sangat aneh. Beberapa eksekutif muda perusahaan berdiri membentuk setengah lingkaran. Mereka semua tersenyum. Bukan senyum ramah seperti yang biasa orang tampakkan. Melainkan senyum yang membuat bulu kuduk meremang.

Kevin Pratama, tangan kanan Nicholas Hartono, melangkah maju sambil bertepuk tangan pelan.

"Akhirnya datang juga."

Adrian langsung mengernyit heran mendengarnya.

"Di mana Vanessa?" tanyanya dengan raut cemas.

Kevin hanya membalas dengan tersenyum lebar.

"Dia ada di sana." Ia menunjuk ke sebuah lounge pribadi di ujung rooftop.

Entah kenapa, perasaan tidak enak mulai muncul di dada Adrian. Tetapi ia tetap berjalan. Selangkah, dua langkah, tiga langkah. Semakin dekat. Dan kemudian ...

Ia mendengar suara dari dalam ruangan.

Suara yang membuat dunianya runtuh.

"Ahh... Nicholas...."

Tubuh Adrian membeku. Suara itu.

Ia mengenalnya. Vanessa. Wanita yang dicintainya selama tiga tahun. Lutut Adrian terasa lemas seketika.

Namun suara berikutnya menghantamnya lebih keras.

"Kau benar-benar luar biasa."

Terdengar tawa seorang pria asing di sana.

"Tentu saja. Jauh lebih baik daripada pecundang miskin itu."

Vanessa ikut tertawa. Tawa yang selama ini selalu membuat hati Adrian hangat. Kini terasa seperti pisau yang menusuk dadanya.

"Jangan sebut Adrian lagi."

"Tiga tahun kau pacaran dengannya."

"Lalu?"

"Kau tidak mencintainya?"

"Cinta?" Vanessa tertawa lebih keras.

"Aku hanya memanfaatkannya."

Dunia Adrian seakan berhenti berputar mendengarnya.

"Apa maksudmu?"

"Semua laporan, presentasi, dan proyekku selama ini dikerjakan olehnya. Tanpa Adrian, aku tidak mungkin naik jabatan secepat ini."

Nicholas tertawa puas.

"Jadi dia hanya alat?" tanyanya seakan mencibir.

"Tentu saja."

"Kau kejam sekali."

"Aku realistis," sahutnya.

"Kau tidak merasa bersalah?" tanya Nicholas yang seakan disengaja.

"Sama sekali tidak."

Setiap kata menghancurkan hati Adrian sedikit demi sedikit.

"Tapi sekarang kau memilihku."

Vanessa mendesah manja.

"Tentu saja. Kau pewaris Hartono Global Group. Sedangkan Adrian? Dia bahkan kesulitan membayar biaya rumah sakit ibunya," cetusnya.

Tawa mereka bergema di dalam ruangan dan sesuatu dalam diri Adrian akhirnya hancur.

Pintu lounge terbuka.

Vanessa keluar. Rambutnya terlihat berantakan. Kancing bajunya bahkan belum terpasang sempurna.

Sementara itu, di belakangnya berdiri Nicholas Hartono dengan senyum kemenangan.

Ketika melihat Adrian, Vanessa langsung membeku.

"Adrian...!"

Nicholas justru tertawa.

"Bagaimana rasanya?"

Adrian tidak menjawab.

Tangannya mengepal. Seluruh tubuhnya gemetar.

"Tiga tahun...." suaranya serak.

Vanessa menunduk.

"Adrian, dengarkan aku," kilahnya.

"Diam."

Satu kata itu membuat suasana menjadi sunyi.

"Aku bekerja siang malam untukmu!" desis Adrian, kesal.

"Adrian...!"

"Aku mengerjakan tugasmu," ungkap Adrian, dengan tatapan kesal.

"Adrian, ini tidak seperti yang kau pikirkan," rayu Vanessa.

"Aku mengorbankan hidupku demi masa depan kita."

Vanessa tidak mampu menatap matanya.

Sementara Nicholas justru tertawa semakin keras.

"Lihat dia. Menyedihkan sekali."

Dan itu menjadi pemicu terakhir.

BUGH!

Tinju Adrian menghantam wajah Nicholas. Suara tulang retak terdengar jelas. Nicholas bahkan sampai terlempar ke lantai.

Darah langsung mengucur dari hidungnya. Semua orang membelalak.

Tidak ada yang menyangka Adrian berani melakukan itu.

Namun Adrian belum selesai.

BUGH!

BUGH!

BUGH!

Pukulannya bertubi-tubi menghantam wajah Nicholas.

Tiga tahun penghinaan. Tiga tahun penderitaan. Tiga tahun pengkhianatan. Semua meledak dalam setiap pukulan.

"AAAAHHH!" Nicholas menjerit ketakutan.

"Tarik dia!" Kevin berteriak panik.

Delapan pria langsung menerjang Adrian. Pukulan menghujani tubuhnya dari segala arah. Tulang rusuknya retak, bibirnya pecah, darah mengalir dari pelipisnya. Tetapi Adrian tetap memukul. Dia tetap melawan, dan terus menghantam Nicholas.

Sampai akhirnya sebuah tendangan keras mengenai kepalanya. Dunia terasa berputar. Tubuhnya roboh, dan para eksekutif itu mulai mengeroyoknya tanpa ampun.

Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Tubuh Adrian berubah menjadi penuh luka.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah pukulan mereka. Melainkan pemandangan di depan matanya. Vanessa berlutut di samping Nicholas. Perempuan itu sedang menangis, memeluk pria itu.

Ia bahkan sama sekali tidak peduli pada Adrian. Seolah Adrian itu hanyalah sampah.

Seolah tiga tahun hubungan mereka tidak pernah ada. Kebencian memenuhi mata Nicholas yang wajahnya sudah mulai bengkak bercampur lebam.

"Buang dia!"

Kevin terdiam.

"Apa?"

"Lempar dia dari gedung!"

"Bos...."

"Aku akan mengurus semuanya." Nicholas menyeringai.

"Kita bilang dia bunuh diri karena putus cinta."

Keheningan sesaat muncul.

Lalu Kevin akhirnya mengangguk setuju.

Empat pria mengangkat tubuh Adrian. Mereka menyeretnya menuju tepi gedung. Angin malam berembus kencang.

Delapan puluh delapan lantai di bawah sana tampak seperti jurang tanpa dasar. Tubuh Adrian sudah tidak mampu bergerak. Darah menetes dari sudut bibirnya.

Namun kesadarannya masih ada.

Ia mendengar semuanya. Pria itu tahu apa yang akan terjadi.

Vanessa akhirnya menoleh.

Tatapan mereka bertemu untuk terakhir kalinya.

Tetapi wanita itu tidak menghentikan mereka. Tidak mengatakan apa pun, tidak juga melakukan apa pun.

Saat itulah Adrian benar-benar memahami kenyataan.

Ia sendirian. Benar-benar sendirian.

"Satu...."

"Dua...."

"Tiga!"

Tubuh Adrian dilempar melewati pagar pembatas.

Angin meraung di telinganya. Gedung raksasa itu menjauh. Tanah semakin dekat.

Kematian menunggu di bawah sana. Perlahan Adrian memejamkan mata. Air mata bercampur darah mengalir di wajahnya.

"Jika memang ada dunia lain..."

Suara hatinya bergema dalam keheningan.

"Biarkan aku pergi ke sana."

Dan tepat sebelum tubuhnya menghantam tanah ... sebuah cahaya keemasan tiba-tiba menyelimuti seluruh dunia.

ZHENNGGGGG!

Lanjut membaca
Lanjut membaca