

“Sepuluh tahun bertapa, dunia bawah ternyata masih saja terasa pekat,” gumam Sakala pada diri sendiri.
Sakala menghentikan langkah kaki, lalu membetulkan letak bungkusan kain berisi pedang di punggungnya.
Selama satu dekade di puncak gunung, ia hanya mengonsumsi tanaman obat pahit dan air embun.
Sakala melangkah lagi, menuruni undakan batu menuju batas wilayah kota terdekat yang mulai terlihat di balik kabut.
Di ujung jalan setapak, berdiri sebuah kedai tuak sederhana dengan atap rumbia yang tampak sudah agak berlumut. Tiga orang lelaki berwajah bopeng sedang duduk di sana sambil menenggak arak murahan dari mangkok tanah liat.
Mereka adalah anggota Sekte Gagak Hitam, faksi bandit tingkat rendah yang biasa memeras pedagang keliling.
“Lihat itu, ada kelinci putih tersesat turun dari gunung,” celetuk salah satu bandit berkumis melintang sambil tertawa renyah.
Temannya yang bermata juling ikut terbahak, jemarinya yang kotor menunjuk-nunjuk kaftan sutra milik Sakala yang tampak mahal.
Sakala mengabaikan mereka, ia langsung melangkah menuju meja kayu di pojok kedai tanpa menengok kanan atau kiri.
“Pelayan, satu porsi daging lembu panggang dan secawan teh hangat!” ujar Sakala kepada pemilik kedai.
Pemilik kedai yang merupakan seorang pria tua berdahi keriput menatap pakaian Sakala dengan pandangan cemas. Ia segera menyiapkan pesanan, tangannya agak gemetar karena tahu tiga bandit di belakang Sakala mulai berdiri dari kursi mereka.
Bandit berkumis melintang melangkah maju, lalu menggebrak meja kayu di hadapan Sakala dengan telapak tangannya yang kasar.
“Heh, bocah panggung, punya perak tidak untuk bayar daging panggang?” tanya si bandit sambil menyeringai lebar. “Kawasan ini di bawah kekuasaan Gagak Hitam, setiap pendekar asing yang lewat wajib bayar upeti tiga keping perak.”
Sakala tidak bergeming, matanya masih fokus menatap cawan teh yang mulai memunculkan uap panas.
“Saya tidak punya uang perak, saya hanya punya ini,” kata Sakala datar.
Ia mengeluarkan sebuah koin emas kuno dengan ukiran lambang awan yang sangat rapi dari balik sabuknya. Koin itu adalah peninggalan terakhir yang diberikan mendiang gurunya sebelum peristiwa pembantaian besar itu terjadi.
Mata ketiga bandit itu langsung terbelalak lebar melihat kilauan logam mulia di atas meja kayu yang kusam.
Bandit bermata juling langsung merenggut koin itu dari meja, lalu menggigitnya untuk memastikan keaslian emas tersebut. “Emas murni, Bos! Kita bisa foya-foya di rumah bordil selama sebulan penuh!”
Si kumis melintang tertawa puas, ia merasa beruntung karena mendapat mangsa empuk yang tampak sangat polos.
“Bagus, koin ini kami sita sebagai biaya keamanan kepalamu,” ucap si kumis melintang sambil mengantongi koin tersebut. “Sekarang, cepat angkat kaki dari sini sebelum kami membuat tubuhmu cacat.”
Sakala membalikkan badan, posisi berdirinya kini sangat tegak sehingga kaftan putihnya sedikit berkibar ditiup angin malam.
“Koin itu untuk bayar daging panggang, kembaliannya baru ambil untuk kalian,” tambah Sakala dengan nada suara yang sangat tenang.
Si kumis melintang merasa terhina dengan ketenangan pemuda di hadapannya, ia langsung melayangkan pukulan mentah ke arah rahang Sakala. Tinjunya melesat cepat, membawa angin kencang yang sanggup memecahkan genting kedai jika meleset.
Sakala tidak menghindar, ia hanya menggeser kaki kirinya ke belakang sejauh tiga senti saja.
Pukulan besar itu meleset tipis, hanya melewati udara kosong di samping pipi Sakala yang tetap terasa dingin.
Sebelum si bandit menyadari apa yang terjadi, jari telunjuk Sakala sudah mengetuk urat nadi di pergelangan tangan musuhnya. Plak! Suara ketukan itu terdengar sangat renyah, seperti suara ranting pohon yang patah karena kering.
Lelaki berkumis itu langsung menjerit histeris, seluruh lengan kanannya mendadak lemas dan terkulai layu seperti sayur matang.
Dua temannya yang melihat kejadian itu langsung naik pitam, mereka mencabut golok besar dari balik pinggang masing-masing. “Bocah sialan, berani kamu bermain trik sihir di depan kami!”
Mereka menerjang bersamaan dari arah kiri dan kanan, mengincar leher dan perut Sakala tanpa ampun.
Pemilik kedai langsung jongkok di balik tempat pembakaran daging sambil menutup kedua telinganya dengan rapat karena ketakutan.
Sakala menarik napas pendek, ia menggerakkan tangannya yang masih memegang sumpit bambu dari atas meja kedai.
Seni Pedang Kekosongan Sunyi tidak membutuhkan pedang asli untuk mematikan lawan, energi murni dari tubuh Sakala sudah mengalir ke ujung sumpit. Dalam satu gerakan melingkar yang sangat halus, sumpit bambu itu memukul punggung golok kedua bandit secara bergantian.
Ting! Ting!
Dua bilah besi tajam itu langsung patah menjadi tiga bagian, serpihannya menancap dalam di tiang kayu kedai.
Kedua bandit itu terkejut setengah mati, telapak tangan mereka robek dan mengeluarkan darah segar akibat getaran energi yang luar biasa kuat. Mereka mundur beberapa langkah, menatap sumpit bambu di tangan Sakala seolah benda itu adalah senjata pusaka milik dewa.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanya si kumis melintang yang kini wajahnya sudah pucat pasi menahan sakit di tangannya.
Sakala meletakkan kembali sumpit bambu itu ke atas meja dengan posisi yang sangat rapi, tidak miring sama sekali.
“Nama saya Sakala, murid dari Sekte Alam Sunyi yang kalian jarah sepuluh tahun lalu,” jawabnya dengan artikulasi yang sangat jelas.
Mendengar nama sekte itu disebut, ketiga bandit tersebut langsung gemetar hebat hingga lutut mereka berbenturan satu sama lain. Cerita tentang Sekte Alam Sunyi yang musnah dalam semalam adalah legenda berdarah yang sangat ditakuti oleh seluruh pelaku dunia bawah.
Mereka tidak menyangka bahwa salah satu korbannya kini kembali dengan kekuatan yang sangat tidak masuk akal.
“Ampun, Pendekar Luhur! Kami hanya menjalankan perintah dari ketua cabang kami di kota!” seru si bandit juling sambil berlutut pasrah.
Ia melempar kembali koin emas milik Sakala ke atas meja, tangannya bergetar hebat seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
Sakala mengambil koin emasnya, lalu menyerahkannya kepada pemilik kedai yang masih mengintip dengan mata terbelalak. “Pak tua, ini untuk bayar makanan saya, tolong ambil saja semua kembaliannya.”
Pria tua itu mengangguk cepat, ia segera menyajikan piring berisi daging panggang yang mengepulkan uap harum ke hadapan Sakala.
Sakala duduk dengan tenang di bangku panjang, lalu mulai menyantap daging panggangnya dengan sangat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Ketiga bandit itu masih berdiri mematung di sana, mereka tidak berani kabur sebelum mendapatkan izin dari sang pendekar. Aroma daging yang harum kini bercampur dengan bau keringat dingin dari tiga orang penjahat lokal tersebut.
Setelah menghabiskan makanannya tanpa sisa, Sakala menyeka bibirnya dengan sapu tangan putih miliknya.
Ia menatap ketiga bandit itu secara bergantian, tatapannya membuat mereka merasa seperti sedang diincar oleh harimau lapar.
“Kembali ke markas kalian sekarang, katakan pada ketua cabang Gagak Hitam bahwa utang darah sepuluh tahun lalu mulai ditagih hari ini,” ucap Sakala tegas.