
- Jumlah kata
- 1.0K

Arga berusia tiga puluh tahun. Ia mapan, berkarier baik, berpenampilan menarik, dan tak pernah kekurangan perempuan di sisinya. Hidupnya terlihat penuh—dipenuhi tawa, pesan manis, sentuhan hangat, dan janji-janji kecil yang selalu terdengar meyakinkan. Ia memiliki banyak pacar, banyak cerita cinta, dan banyak alasan untuk merasa bahagia. Namun di balik semua itu, Arga hidup dalam kesepian yang tidak pernah ia akui. Setiap perempuan mengenal Arga dengan versi yang berbeda. Ada yang melihatnya sebagai pria dewasa penuh pengertian, ada yang mengenalnya sebagai kekasih penuh gairah, ada pula yang percaya Arga adalah sosok yang siap membangun masa depan. Tidak satu pun dari mereka tahu bahwa mereka berbagi ruang di hati yang sama—hati yang tidak pernah benar-benar menetap. Arga bukan pria tanpa hati. Ia hanya terlalu takut untuk kehilangan. Masa lalu meninggalkan luka yang tak pernah sembuh sepenuhnya. Kepergian ibunya di usia muda mengajarkan Arga satu pelajaran pahit: orang yang dicintai bisa pergi kapan saja, bahkan tanpa penjelasan. Sejak itu, ia membangun dinding tak kasatmata—tidak mencintai terlalu dalam, tidak bergantung pada satu orang, dan selalu memiliki cadangan jika suatu hari ditinggalkan. Hingga suatu malam, pertemuan singkat dengan seorang perempuan asing mulai mengguncang keseimbangannya. Perempuan itu tidak datang dengan rayuan, tidak menuntut perhatian, dan tidak berusaha mengisi ruang kosong Arga. Justru sikap tenang dan jaraknya yang wajar membuat Arga mulai merasakan sesuatu yang asing—keinginan untuk mengenal, bukan sekadar memiliki. Untuk pertama kalinya, Arga tidak ingin berbagi. Ia ingin memilih. Seiring waktu, hidup Arga perlahan berubah. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia hindari mulai bermunculan: tentang kejujuran, tentang tanggung jawab, tentang cinta yang tidak bisa dibagi tanpa melukai. Hubungan-hubungan yang dulu terasa ringan mulai menuntut kepastian. Kebohongan kecil yang ia anggap aman mulai membesar, mengancam untuk menghancurkan semua yang ia bangun. Arga dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya—terus hidup dalam keramaian yang palsu, atau berani kehilangan segalanya demi satu cinta yang nyata. **Kesepian yang Ramai** adalah kisah tentang cinta modern, ketakutan akan komitmen, dan perjalanan seorang pria untuk memahami bahwa mencintai bukan tentang seberapa banyak hati yang bisa ia pegang, melainkan seberapa berani ia bertahan pada satu.
Arga berusia tiga puluh tahun, tinggal di sebuah apartemen di tengah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Dari balik jendela, ia memandangi lampu-lampu Jakarta sambil menggenggam secangkir kopi dan ponsel yang terus bergetar. Pesan-pesan masuk tanpa henti—kalimat rindu, keluhan manja, dan janji pertemuan. Semuanya berasal dari perempuan yang berbeda.
Arga tidak pernah sendiri. Namun entah sejak kapan, ia juga tidak pernah benar-benar merasa ditemani.
Di hidupnya ada beberapa perempuan, masing-masing mengenalnya dengan cara yang berbeda. Dengan Nadine, Arga adalah pria hangat yang pandai mendengar. Dengan Karla, ia menjadi sosok penuh gairah dan spontan. Bersama Mira, ia tampak dewasa dan tenang. Sementara dengan Sasha, ia seolah kembali menjadi lelaki muda yang percaya pada cinta.
Mereka tidak saling mengenal. Atau mungkin memilih tidak tahu.
Pagi itu Arga bertemu Nadine di sebuah kafe. Nadine memperhatikannya dengan tatapan lembut, namun menyimpan kegelisahan. Ia bertanya apakah Arga bahagia—pertanyaan sederhana yang membuat Arga terdiam. Ia menghindar dengan senyum dan candaan, seperti yang selalu ia lakukan. Nadine menerima jawaban itu, meski hatinya tidak sepenuhnya tenang.
Siang hari, Arga mengunjungi Karla. Hubungan mereka penuh sentuhan dan emosi yang menyala. Karla cemburu, tapi tidak pernah benar-benar menuntut. Selama Arga datang, selama ia hadir secara fisik, itu sudah cukup baginya. Arga tahu batas itu, dan ia memanfaatkannya.
Sore menjelang malam, Arga menghabiskan waktu dengan Mira di sebuah galeri seni. Mira tidak banyak bicara, tapi selalu tepat sasaran. Ia memandang Arga seperti seseorang yang bisa melihat lebih dalam. Ketika Arga menyebut hidup sebagai sesuatu yang indah namun rumit, Mira menjawab bahwa mungkin manusialah yang terlalu takut untuk jujur. Kalimat itu menetap lama di benak Arga.
Malamnya, pesan dari Sasha masuk. Sasha bermimpi Arga pergi dan tak kembali. Arga membalas singkat: *aku di sini*. Kalimat yang terdengar meyakinkan, meski kenyataannya Arga sedang sendirian di apartemennya sendiri.
Ketika pintu tertutup dan lampu dimatikan, keramaian menghilang. Tidak ada suara selain napasnya sendiri. Arga duduk di sofa, menatap kosong, dikelilingi kesunyian yang tak bisa diisi oleh banyaknya nama di ponselnya.
Ia mulai bertanya dalam hati—apakah ia benar-benar mencintai mereka, atau hanya takut pada kesepian? Ia selalu punya seseorang untuk diajak bicara, disentuh, atau ditemui. Namun tidak satu pun yang benar-benar ia biarkan masuk sepenuhnya.
Arga tahu orang-orang seusianya mulai bicara tentang masa depan, pernikahan, dan kepastian. Tapi baginya, satu pilihan selalu terasa berbahaya. Terlalu dekat berarti berisiko kehilangan. Terlalu mencintai berarti membuka luka lama.
Bab ini menutup dengan Arga yang terlelap dalam kebimbangannya sendiri—seorang pria yang hidup dikelilingi cinta, namun tidak tahu bagaimana caranya menetap. Ia belum menyadari bahwa hidupnya akan segera berubah, dan bahwa suatu hari nanti, satu perempuan akan datang bukan untuk mengisi kekosongan, melainkan memaksanya memilih.
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







