
Bunga Di Aspal Berduri
Tinta_Hitamm|Bersambung
- Jumlah kata
- 31.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 31.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Di usia ketika sebagian remaja sibuk memikirkan mimpi dan masa depan, Alya justru belajar bertahan hidup lebih cepat dari seharusnya. Seragam sekolah tak mampu menyamarkan beban ekonomi yang menekan keluarganya, sementara tuntutan usia remaja terus datang tanpa kompromi. Demi membantu orang tuanya, Alya mengambil keputusan-keputusan kecil yang perlahan mengubah arah hidupnya—termasuk menerima pekerjaan paruh waktu yang tampak sederhana. Sebuah tawaran babysitting dari keluarga kaya terdengar seperti jalan keluar yang ia butuhkan. Tanpa banyak bertanya, Alya melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing baginya. Namun, pekerjaan itu segera memperlihatkan sisi yang tak pernah ia bayangkan. Tugas yang seharusnya mudah berubah menjadi ujian mental dan emosional ketika ia menyadari bahwa “anak” yang harus dijaganya bukanlah bayi, melainkan seseorang yang berada di usia yang sama dengannya. Di titik inilah kehidupan Alya mulai bersinggungan dengan dunia kemewahan, privilese, dan rahasia yang tersembunyi di balik dinding rumah megah. Novel ini mengajak pembaca menyelami perjuangan seorang remaja yang dipaksa dewasa lebih cepat, menghadapi benturan antara kemiskinan dan kekayaan, serta belajar memahami bahwa tidak semua luka terlihat dari luar.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: Nasib Sial dan Cowok "Red Flag"
Aku benci pagi hari. Bukan karena mataharinya, tapi karena kenyataan bahwa setiap detiknya adalah perjuangan.
"Alya! Cepat! Angkotnya sudah klakson dari tadi!" suara Ibu melengking dari dapur, bersaing dengan bunyi penggorengan.
"Iya, Bu! Berangkat!" aku berteriak sambil menyambar tas ranselku yang salah satu talinya sudah mulai lepas jahitannya. Aku tidak sempat sarapan, perutku hanya diisi segelas air putih untuk mengganjal lapar.
Aku berlari sekuat tenaga. Sepatu sekolahku yang sudah menipis solnya menghantam aspal dengan ritme yang memburu. Di ujung gang, aku melihat angkot hijau itu sudah mulai melaju.
"Mang! Tunggu, Mang!" aku berteriak histeris.
Untungnya, Mang Asep melihatku dari spion. Aku melompat masuk ke dalam angkot yang pengap, langsung disambut aroma keringat dan asap rokok. Aku duduk di pojok, mencoba mengatur napas yang rasanya mau putus. Aku melirik jam di pergelangan tangan—jam pasar loak yang sering mati.
Sial, tinggal sepuluh menit lagi.
Di tengah kemacetan lampu merah, sebuah motor sport merah mengkilap berhenti tepat di samping jendela angkot yang kusam. Pengendaranya memakai jaket kulit hitam dan helm full-face yang harganya mungkin bisa membayar kontrakan rumahku selama setahun.
Aku melihat logo di bahunya. SMA Pelita Harapan.
Oh, teman senasib, pikirku lega. Kalau anak sultan itu telat, setidaknya guru piket bakal sibuk mengurusinya dan aku bisa menyelinap masuk.
Tapi ekspektasiku terlalu tinggi.
"Pak Satpam, please... sekali ini saja. Tadi angkotnya mogok, Pak," aku memelas di depan gerbang besi yang sudah tertutup rapat.
"Nggak bisa, Neng Alya. Perintah Pak Arman makin ketat sekarang," Pak Satpam memasang wajah tidak tega.
"Alya Kirana. Rekor baru, ya? Ini kali ketiga kamu telat dalam seminggu," suara bariton Pak Arman muncul dari balik pos. Beliau berdiri sambil memegang penggaris kayu, matanya menatapku tajam di balik kacamata.
"Pak, saya tadi bantuin Ibu dulu..."
"Hukuman tetap hukuman. Ke lapangan sekarang! Berdiri di sana sampai jam pertama selesai!"
Aku menghela napas pasrah. Saat aku melangkah menuju tengah lapangan yang mulai terasa panas, aku menyadari aku tidak sendirian. Di sana, sudah berdiri cowok motor merah tadi. Dia sudah melepas helmnya, menampakkan wajah yang—aku benci mengakuinya—sangat tampan, tapi ekspresinya luar biasa sombong.
Aku berdiri di sampingnya, menjaga jarak sekitar satu meter.
"Nggak usah liat-liat. Aku tahu aku ganteng. Nggak usah segitunya," ketusnya tiba-tiba tanpa menoleh sedikit pun.
Aku hampir tersedak ludah sendiri. Hah? Pede banget ini orang?
"Sorry? Aku cuma heran ada murid baru yang langsung dapet tiket VIP di lapangan," balasku sinis.
Dia melirikku dari sudut mata, menatap seragamku yang sedikit kusut dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Kepo."
"Dih, galak banget. Santai kali, aku cuma nanya. Nama kamu siapa?"
"Nggak penting."
Oke, fiks. Cowok ini adalah definisi Red Flag berjalan. Aku memilih diam daripada kena darah tinggi sebelum jam pelajaran dimulai.
Setelah satu jam dipanggang matahari, aku masuk ke kelas dengan langkah gontai. Sahabatku, Salsa, langsung menyambutku dengan rentetan pertanyaan.
"Al! Lo dihukum bareng siapa tadi? Sumpah, anak barunya cakep banget tapi auranya kayak es kutub!" seru Salsa heboh.
"Ganteng doang, otaknya nggak ada sopan-santunnya," gerutu aku sambil membanting tas ke meja.
Tiba-tiba, Bu Sarah masuk kelas. Di belakangnya, sosok menyebalkan itu mengekor.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid pindahan dari Jakarta. Ray, silakan perkenalkan diri."
"Rafhael Leonardo Alaric. Panggil Ray," ucapnya singkat, datar, dan seolah-olah dia terpaksa berada di sini.
"Baik, Ray. Kamu duduk di kursi kosong sebelah Alya, ya. Sisil, kamu pindah ke depan," perintah Bu Sarah.
Duniaku rasanya runtuh. Dari sekian banyak kursi, kenapa harus di sebelahku?
Ray berjalan menuju kursinya. Saat dia duduk, aroma parfum mahal yang elegan langsung menyerbu indra penciumanku, sangat kontras dengan bau matahari yang menempel di tubuhku. Aku mencoba bersikap dewasa dan menyodorkan tangan.
"Halo Ray, aku Alya. Maaf ya soal di lapangan tad—"
"Gue nggak suka sentuhan dari orang asing," potongnya dingin, mengabaikan tanganku yang menggantung di udara.
Aku menarik tanganku kembali, mengepalkannya di bawah meja. Sabar, Al. Orang sabar pantatnya lebar... eh, maksudnya disayang Tuhan.
Tapi sabarku ada batasnya. Di tengah pelajaran, aku melihat Ray dengan santainya mengeluarkan sebungkus keripik kentang impor dari tasnya. Dia makan dengan suara pelan, tapi aromanya memenuhi area meja kami.
"Woi, jangan makan di kelas. Bu Sarah galak," bisikku memperingatkan.
Dia tidak peduli. Malah, saat Bu Sarah berbalik dari papan tulis, dengan gerakan secepat kilat Ray melempar bungkus keripik itu ke atas mejaku dan pura-pura menulis.
BRAK!
"Alya Kirana! Sudah telat, sekarang kamu malah makan di kelas?!" teriak Bu Sarah.
Aku melongo menatap bungkus keripik di depanku. "Loh? Bukan saya, Bu! Ini punya Ray!"
Ray menoleh padaku dengan wajah paling polos yang pernah kulihat. "Al, kalau lapar ya bilang, jangan nuduh aku."
Darahku mendidih sampai ke ubun-ubun. "Lo... lo bener-bener ya!"
"Alya! Keluar! Berdiri di depan kelas sampai pelajaran saya selesai!" bentak Bu Sarah tak mau dengar penjelasan.
Aku bangkit dengan perasaan ingin meledak. Saat melewati Ray, aku bisa melihat seringai tipis di bibirnya. Benar-benar tipis, tapi penuh kemenangan.
"Awas lo, cowok bangke," desisku pelan sebelum keluar pintu.
Hari ini resmi jadi hari terburuk dalam hidupku. Dan ini baru jam sepuluh pagi.
Berdiri di koridor kelas itu rasanya seperti dipajang di etalase kegagalan. Sesekali, guru lain lewat dan menatapku dengan gelengan kepala yang seolah berkata, “Alya lagi, Alya lagi.” Aku hanya bisa menunduk, menatap ujung sepatuku yang bagian depannya sudah mulai mangap—aku menyebutnya ‘sepatu bicara’ karena saking seringnya lemnya terlepas.
“Awas kau, Rafhael,” bisikku pada angin. “Kalau aku sampai dipanggil ke ruang BK dan beasiswaku terancam, aku bakal pastikan ban motor sport merahmu itu kempes di empat sisi.”
Aku tahu itu ancaman kosong. Jangankan menyentuh motor mahalnya, melihat kunci kontaknya saja mungkin aku sudah gemetar karena takut ganti rugi kalau lecet.
Setelah hampir satu jam yang terasa seperti satu abad, bel pergantian pelajaran berbunyi. Bu Sarah keluar dengan wajah masih ketat. Beliau berhenti di depanku, merapikan kacamata, lalu menghela napas panjang.
“Alya, Ibu tahu kondisi keluargamu tidak mudah. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk jadi pemberontak. Kamu anak pintar, jangan sampai nilai perilakumu merusak masa depanmu,” ucapnya, sedikit lebih lembut namun tetap menusuk.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah. “Iya, Bu. Maafkan saya.”
Begitu Bu Sarah menghilang di belokan koridor, aku langsung masuk ke kelas dengan langkah penuh amarah. Targetku cuma satu: cowok dengan nama sepanjang kereta api itu.
Ray sedang duduk santai, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memainkan ponsel lipat terbaru yang harganya mungkin bisa membiayai makan keluargaku selama setahun. Teman-teman sekelas, terutama para siswi, mulai mengerumuninya seperti semut menemukan gula.
“Eh, Ray, lo pindahan dari Jakarta ya? Sekolah di mana dulu?”
“Ray, motor lo tadi keren banget, parkir di mana?”
Ray hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas atau sekadar anggukan malas. Dasar sok misterius.
“Minggir!” aku menerobos kerumunan itu.
Salsa dan Sisil mencoba menahanku, tapi aku sudah terlanjur panas. Aku menggebrak meja tepat di depan Ray.
BRAK!
Ponsel di tangannya hampir terlepas. Dia mendongak, menatapku dengan mata elang yang dingin. Suasana kelas mendadak hening.
“Maksud lo apa tadi?” tuntutku dengan suara bergetar. “Gue nggak kenal lo, gue nggak punya urusan sama lo, tapi kenapa lo malah ngejebak gue?”
Ray menaruh ponselnya di meja. Dia berdiri pelan-pelan, dan aku baru sadar kalau dia tinggi sekali. Aku harus mendongak untuk menatap matanya.
“Lo berisik,” ucapnya datar.
“Berisik? Gue cuma ngingetin lo jangan makan di kelas! Itu aturan sekolah ini!”
Ray maju satu langkah, membuatku refleks mundur hingga punggungku menabrak meja belakang. Dia merunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telingaku. Bau parfum oud dan leather yang mahal kembali menyengat, membuatku pusing seketika.
“Dengar, Alya... atau siapa pun nama lo,” bisiknya, suaranya rendah tapi penuh ancaman. “Gue nggak suka diatur. Apalagi sama cewek yang seragamnya bau deterjen murah kayak lo. Anggap aja tadi itu salam perkenalan.”
Setelah itu, dia tegak kembali, menyambar jaket kulitnya, dan berjalan keluar kelas begitu saja tanpa mempedulikan guru pelajaran selanjutnya yang baru mau masuk.
Aku terpaku di tempat. Jantungku berdegup kencang—bukan karena baper, tapi karena terhina. Bau deterjen murah?
“Al, lo nggak apa-apa?” Salsa mendekat, mengusap bahuku.
“Dia keterlaluan, Sal,” suaraku serak. “Dia pikir dunia ini milik dia cuma karena dia punya uang?”
“Sabar, Al. Orang kayak gitu biasanya nggak lama di sini. Pasti cuma mampir lewat doang,” hibur Sisil.
Tapi firasatku mengatakan hal yang berbeda. Ray bukan sekadar mampir. Dia adalah badai yang sengaja dikirim untuk menghancurkan sisa-sisa ketenanganku.
Siang harinya, sepulang sekolah, perutku sudah benar-benar protes. Bunyinya lebih keras dari mesin angkot Mang Asep. Aku berjalan menuju gerbang, berharap bisa menemukan sisa uang di kantong untuk sekadar beli cilok.
Namun, langkahku terhenti saat melihat kerumunan di dekat tempat parkir motor. Di sana, Ray sedang dikelilingi oleh tiga orang cowok kelas dua belas yang badannya besar-besar. Sepertinya mereka adalah ‘penguasa’ sekolah yang tidak suka ada saingan baru.
“Eh, anak baru. Belagu banget lo bawa motor ginian ke sekolah,” ujar salah satu dari mereka, sambil menendang ban motor Ray.
Aku berdiri di kejauhan, tersembunyi di balik pilar. Harusnya aku senang melihat Ray dalam masalah. Karma is real, right? Tapi, saat aku melihat Ray hanya diam sambil menatap mereka dengan pandangan kosong—seolah mereka adalah sampah yang tidak layak diajak bicara—aku merasa ada yang aneh.
Dia tidak takut. Dia hanya... bosan?
“Woi! Ditanya malah bengong!” Cowok kelas dua belas itu menarik kerah seragam Ray yang masih licin.
Ray melepaskan tangan itu dengan sekali sentakan kasar. “Jangan sentuh gue dengan tangan kotor lo,” ucapnya dingin.
Hampir saja terjadi adu jotos jika Pak Arman tidak muncul dari kejauhan. Para preman sekolah itu langsung bubar. Ray hanya merapikan kerahnya, memakai helmnya, dan memacu motornya keluar gerbang tanpa menoleh sedikit pun.
Aku menghela napas. Cowok itu benar-benar magnet masalah.
Aku mulai berjalan kaki menuju tempat kerjaku—sebuah laundry kiloan dekat pasar. Ini adalah rutinitasku setiap siang agar bisa menambah uang saku dan membantu Ibu membeli beras. Sambil berjalan, aku teringat ucapan Ray tadi. Deterjen murah.
Aku melihat tanganku yang kasar karena terlalu sering terkena air sabun. Memang benar, aku berbau deterjen murah. Tapi deterjen inilah yang menyambung hidupku.
Sesampainya di laundry, Mbak Lastri, pemiliknya, langsung menyambutku dengan wajah cemas.
“Al! Kamu kok baru datang? Ini ada pesanan antar ke perumahan Elit Graha. Harus sampai sebelum jam lima sore. Orangnya cerewet banget, nggak mau telat sedikit pun!”
“Siap, Mbak! Mana alamatnya?”
Aku menyambar kantong plastik besar berisi pakaian-pakaian mewah yang harumnya sangat aku kenal. Wangi ini... mirip dengan parfum Ray.
Sambil menggowes sepeda bututku menuju perumahan elit itu, aku membayangkan bagaimana rasanya hidup di balik tembok tinggi rumah-rumah megah tersebut. Pasti mereka tidak pernah tahu rasanya deg-degan dikejar penagih utang atau bingung mencari uang untuk bayar SPP.
Aku tiba di depan sebuah rumah dengan gerbang hitam raksasa. Alamatnya benar. Aku memencet bel.
Tak lama, seorang wanita paruh baya dengan pakaian asisten rumah tangga yang rapi membukakan pintu kecil di samping gerbang.
“Laundry ya? Masuk, Neng. Langsung ke teras belakang saja, ya. Ibu lagi ada tamu,” ujarnya ramah.
Aku berjalan masuk, terpukau dengan luasnya halaman rumah itu. Ada kolam renang yang airnya biru jernih, dan deretan mobil mewah di garasi. Saat aku melewati ruang tengah yang dibatasi kaca besar, langkahku terhenti.
Di dalam sana, duduk seorang wanita cantik yang terlihat sangat stres, sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
“...Iya, pokoknya saya butuh pengasuh secepatnya! Saya nggak peduli berapa bayarannya. Rafhael makin tidak terkendali sejak pindah ke sini. Dia butuh seseorang yang bisa mengawasinya 24 jam!”
Langkahku membeku. Rafhael?
Apakah ada Rafhael lain di lingkungan ini? Ataukah dunia memang sesempit itu hingga menyeretku ke pusaran hidup cowok bangke yang tadi pagi menjebakku?
Aku segera menaruh cucian itu dan lari keluar dengan jantung berdebar. Jika benar Rafhael yang dimaksud adalah si Ray menyebalkan itu, aku bersumpah tidak akan pernah mau menginjakkan kaki di rumah ini lagi.
Tapi, saat aku sampai di rumah dan melihat Ibu duduk di lantai sambil menghitung recehan untuk membayar cicilan koperasi yang menunggak, aku tersadar.
Aku tidak punya kemewahan untuk memilih.
Daftar bab
24 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








