

Dua pemuda kembar tak seiras itu sama-sama terkejut ketika mendengar pernyataan tak terduga dari orang kepercayaan ayahnya. Pasalnya pria usia matang itu mengatakan bahwa harta warisan ayah mereka--Darman-- tak dapat dibagikan semuanya, hanya sebagian kecil harta yang akan mereka dapatnya. Satu-satunya harta warisan yang mereka dapatkan adalah sebuah kedai kopi dan rumah yang mereka tinggali dahulu. Rumah sederhana di sebuah perkampungan yang ada di Jakarta. Oleh sebab itu, si kembar dan Pak Bondan berdebat di ruang tengah rumah besar Pak Darman.
"Nggak bisa gitu dong, Pak. Kami adalah anak kandung dari ayah kami. Nggak ada anak lain lagi selain kami. Jadi hanya kami yang berhak atas warisan itu, Pak!" lontar Khani.
"Bener itu, Pak. Masa iya kami hanya mendapatkan kedai kopi dan rumah di kampung. Seandainya rumah ini sih mending. Kami bener-bener butuh penjelasan Pak Bondan sekarang juga," timpal Jerris dengan nada bicara lebih lembut dari saudara kembarnya.
Pak Bondan menghela napas pasrah. Beliau membuka tas hitamnya, lalu memberikan sebuah surat kepada si Kembar. "Ini surat yang tulis Pak Darman ketika memberi saya amanah untuk memberikan kalian kedai kopi dan juga rumah di kampung. Katanya, kalian pasti bakal protes dan bertanya-tanya. Jadi, saya disuruh memberikan surat ini pada kalian. Saya nggak tau isinya apa, tapi saya yakin isinya adalah alasan Pak Darman hanya memberikan kalian sedikit warisan. Kalau begitu saya pergi dulu. Permisi." Pak Bondan pun beranjak pergi ketika saudara kembar itu berebutan ingin membuka surat itu lebih dulu.
"Gue aja yang buka,'' ujar Khani.
"Gue yang ambil duluan. Gue yang buka," protes Jerris kembali merebut surat itu.
Khani menarik paksa surat itu dari tangan Jerris yang siap membuka surat. "Gue aja! Gue abang," lontarnya.
"Beda sepuluh menit!"
"Tetap aja duluan gue liat dunia."
Khani pun membuka kertas itu. Ada rentetan panjang tulisan ayahnya di sana. Jerris menggeser tubuhnya lebih mepet dengan Khani agar bisa ikut membaca surat tersebut yang berbunyi ;
================================================================
Teruntuk, Khani dan Jerris
Ayah menuliskan surat ini ketika Ayah merasa tak akan lama lagi menemani kalian di dunia ini. Ayah tak bisa mengatakannya secara langsung pada kalian karena Ayah takut kalian akan menuntut suatu penjelasan lebih atau bahkan malah memaksa Ayah untuk mengajari kalian sesuatu yang tidak baik.
Jerris, Khani ... demi membuat kehidupan kita enak dari sebelumnya, Ayah telah mengambil langkah besar yang salah dengan mengaji ilmu berbahaya dari nenek moyang kita dulu. Keberhasilan Ayah membuka Gerbang Setan adalah awal dari kekayaan kita. Semuanya tak Ayah dapatkan karena Ayah pintar berbisnis, tetapi karena bantuan dari makhluk lain yang tentunya menuntut imbalan atas semua yang mereka berikan pada Ayah. Namun, Ayah akhirnya sadar jikalau perbuatan Ayah ini sangat salah dan bisa membahayakan kehidupan kalian berdua. Oleh sebab itu, Ayah amanatkan pada kalian berdua agar melakukan ritual penutupan Gerbang Setan yang masih terbuka, sebab Ayah tak mampu melakukannya sendirian. Pergilah ke kamar Ayah dan ambil sebuah buku kuno yang ada di bawah ranjang. Di sana terdapat panduan untuk ritual penutupan Gerbang Setan.
Mungkin setelah gerbang itu tertutup, kalian akan jatuh miskin karena semua harta kita akan lenyap sekitika. Hanya kedai kopi dan rumah kita di kampung yang tersisa, sebab dua tempat itu adalah milik kita. Maaf telah membebani kalian dengan tugas ini. Ayah harap, kalian akan menunaikan amanah Ayah ini. Maafkan Ayah dan terima kasih untuk segalanya.
Dari, Ayah Jerris dan Khani
==================================================================
Keduanya sangat syok dengan fakta menakutkan yang baru saja mereka baca. Ternyata ayah mereka telah menyembunyikan rahasia besar ini sendirian. Nyaris semua kekayaan yang mereka miliki selama ini ternyata hanya ilusi saja yang bisa hilang kapan saja. Jelas mereka kecewa dan marah, tetapi di sisi lain mereka juga merasa bersalah. Sebab demi membuat hidup mereka berdua enak, ayah nekat melakukan sesuatu yang sangat berbahaya. Tindakan terlarang ini harus segera dihentikan.
"Gue nggak nyangka Ayah bakal senekat ini biar kaya. Pantas, mana mungkin Ayah tiba-tiba jago bisnis dan bisa membangun perusahaan. Meski alasan beliau modal usaha dari teman, masa iya bisa dapat modal sebanyak itu dari sahabat? Bodohnya gue baru ngeh sekarang!" celoteh Jerris.
"Terus gimana nih? Lo percaya sama hal begituan? Gerbang Setan gimana?" sahut Khani.
"Ayah nggak mungkin mengada-ngada. Kita bakal tahu soal gerbang itu kalau udah liat buku kuno yang Ayah maksud."
"Eh, tapi kalau kita melakukan ritual penutupan Gerbang Setan, berarti kita bakal miskin dong?" tebak Khani dengan raut wajah tak terima, lalu menggeleng cepat. "Enggak. Gue nggak bisa hidup miskin lagi. Gue udah nyaman hidup kayak gini. Jer, kita nggak perlu lakuin ritual itu. Kita cuma harus fokus sama perusahaan ayah. Kita bisa kerjasama buat ngejalaninnya," ujarnya menyusun rencana.
Jerris nyaris mengumpat begitu mendengar perkataan Khani yang asal bicara. "Ck, kalo ngomong yang bener, Khan. Masa iya lo tega sama ayah? Ini amanat beliau, Khan. Pasti ajian sesat ini memberatkan kepergian ayah kita. Harusnya lo paham hal kek ginilah. KIta harus lakuin ritual itu berdua. Titik!" Jerri langsung meninggalkan ruang tengah untuk mengambil buku kuno di kamar ayahnya.
Jerris masuk ke dalam kamar sang Ayah. Setiap ujung kasur ia angkat untuk memeriksa adakah buku kuno di sana. Hingga akhirnya Jerris berhasil menemukan buku tersebut yang ada di bawah kasur. Ia ambil buku kuno bersampul warna cokelat itu, lalu duduk di sisi ranjang sambil memandatangi sampulnya. Pada sampul buku itu terdapat gambar sebuah gerbang besar, berwarna hitam, dan terlihat sangat menakutkan. Jerris berpikir, pasti itulah gerbang setan yang dimaksud.
"Dapat bukunya?" Tiba-tiba Khani masuk dan duduk di samping Jerris.
"Dapat nih. Gue baca dulu deh," sahut Jerris seraya membuka halaman pertama buku itu.
Keduanya melongo setiap membuka lembar demi lembar buku itu. Ternyata, letak gerbang setan itu ada persis di belakang rumah mereka yang sekarang. Gerbang Setan itu hanya akan muncul ketika mereka memanggilnya dengan melakukan suatu ritual ; membuat garis membentuk busur di sepanjang permukaan gerbang, menancapkan dupa yang menyala di tengah-tengah busur, lalu meneteskan setetes darah atasnya. Tentunya, darah dari keturunan leluhur pemilik Gerbang Setan tersebut.
Jerris berdecak sambil menjatuhkan dirinya ke belakang. Ia telentang di kasur dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Buru-buru Khani mengambil alih buku itu.
"Kenapa sih ayah harus melakukan hal sesat kayak gitu? Gini kan jadinya. Ini perbuatan gelap yang sama sekali nggak ada di kamus hidup gue. Gue paling males berurusan sama setan! Ayah malah deketin gue sama setan-setan itu. Terus pas kita berhasil liat gerbang setannya, kita musti gimana coba. Gimana kalau banyak setan yang berbondong-bondong keluar?" keluh Jerris dengan raut wajah yang teramat frustrasi.
Khani seperti menemukan sesuatu, ia lebih lebar membuka matanya begitu melihat tulisan yang membuatnya terkejut. Ia lirik Jerris sekarang tengah tengkurap untuk menenangkan pikirannya. Khani perlahan merobek halaman terakhir dari bab pertama, ia merobeknya dengan hati-hati sebelum mengantonginya.
Khani menepuk pantat Jerris dengan cukup kencang. "Eh, bangun! Nih, katanya mau menunaikan amanat ayah. Nih bab kedua ada ritual penutupan Gerbang Setan. Lo baca gih, nih. Gue ngikut aja. Bye, mau telepon pacar gue dulu di kamar." Khani melempar buku itu ke samping tubuh Jerris sebelum meninggalkan kamar ayahnya.
Barulah Jerris bangun. Ia membuka bab kedua buku itu. Benar, di sana tertulis dengan huruf tebal ''Cara Menutup Gerbang Setan'' yang tertulis pada bagian atas halaman. Dalam diamnya, Jerris mulai membaca dengan saksama apa saja yang harus ia lakukan untuk memulai ritual penutupan Gerbang Setan itu. Sampai ia sendiri yakin, bahwa ia memang harus melakukannnya sesegera mungkin bersama Khani.
"Ya, apapun yang terjadi gue dan Khani harus tutup Gerbang Setan ini. Nggak mungkin ayah perintah kami menutupnya kalau memang nggak berbahaya."