Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Berkat Sistem, Aku Bisa Bertahan Hidup

Berkat Sistem, Aku Bisa Bertahan Hidup

Arif Cyclone | Bersambung
Jumlah kata
135.0K
Popular
340
Subscribe
25
Novel / Berkat Sistem, Aku Bisa Bertahan Hidup
Berkat Sistem, Aku Bisa Bertahan Hidup

Berkat Sistem, Aku Bisa Bertahan Hidup

Arif Cyclone| Bersambung
Jumlah Kata
135.0K
Popular
340
Subscribe
25
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalZombieSistemMisteri
Di hari pertama kuliah, hidup Arka berubah selamanya. Hujan misterius yang hanya berlangsung sepuluh menit mengubah dunia menjadi neraka ketika siapapun yang terkena tetesannya berubah menjadi zombie. Saat berusaha mencari tahu apa yang terjadi, sebuah kecelakaan membuat Arka kehilangan kesadaran. Ketika membuka mata, dia berada di sebuah ruang virtual dan memperoleh sebuah sistem. Sistem misterius yang memberinya kesempatan untuk bertahan hidup di dunia yang telah runtuh. Di tengah kepungan zombie, pengkhianatan manusia, dan perebutan sumber daya. Mampukah Arka memanfaatkan sistem untuk bertahan hidup dan membangun tempat berlindung bagi mereka yang masih tersisa..?
Bab 1 Pertama masuk kuliah

Langkahnya tegas, penuh percaya diri. Hampir terlihat arogan bagi yang tak tahu isi hatinya. Namun di balik setiap jejak sepatu yang menginjak aspal kampus megah itu, ada beban perjuangan yang diam-diam dia kubur rapi di dadanya. Arka Wisesa, dua puluh lima tahun. Usia yang terbilang terlambat untuk memulai kuliah, tapi baginya ini adalah kemenangan paling nyata. Tanpa orang tua, tanpa saudara yang menghampiri, dia membiayai dirinya sendiri dari keringat dan kerja keras. Intinya yang halal dan bisa dia kerjakan.

Kakinya terasa ringan, tapi dadanya penuh dengan rasa haru yang coba dia pendam. Hari ini, akhirnya, dia resmi menjadi mahasiswa.

Mahasiswa lain berlalu lalang di sekitarnya. Banyak yang berpakaian rapi dan baru, sementara Arka hanya mengenakan celana jeans biru dan kaus oblong biru yang sudah sedikit lusuh di bagian kerah. Rambutnya disisir rapi, tas kecil tersandang di bahu, dan koper kecil di tangan kirinya. Dia mungkin terlihat sederhana, bahkan mungkin dianggap ketinggalan zaman, tanpa rasa malu sedikitpin.

"Katanya, kampus ini menyediakan tempat tinggal langsung, hmmm di bagian mana ya?" gumamnya pelan. Sambil melirik ke segala arah, matanya menyapu gedung-gedung yang tinggi menjulang.

Lalu pandangannya tertuju pada sebuah mobil mewah yang baru saja berhenti. Seorang mahasiswa baru turun dengan koper besar, langsung dipeluk erat oleh ibunya. Sang ayah menepuk pundak anaknya sambil tersenyum bangga. Arka menatap pemandangan itu, dan sesuatu di dadanya terasa sesak. Bukan iri dirasakannya, tapi dia sudah terbiasa tidak memiliki itu.

Arka menghela napas, lalu mengalihkan pandangan. Matanya berkilat, menahan sesuatu yang tak mau dia akui. Dia tersenyum hangat senyum yang dia pelajari untuk selalu dia berikan ketika hatinya sedang tidak baik-baik saja.

Tanpa banyak basa-basi, dia melangkah mendekati pos penjagaan. Bapak penjaga tua yang duduk di sana, bernama Pak Tono, menyambutnya dengan tatapan ramah. Arka mengeluarkan secarik kertas kecil yang bertuliskan kode: E16.

"Permisi pak, saya mau nanya," ucapnya, suaranya sedikit bergetar karena degup jantungnya yang tidak karuan.

Pak Tono menerima surat itu, mencermatinya, lalu mengangguk paham. "Oo, kamu mahasiswa baru ya? Ayo sini, saya antar. Kalau dilihat dari depan, tidak bakalan ketemu. Soalnya gedung-gedung di sini besar dan menutupi area dalam. Ada delapan gedung kelas sebelum tempat tinggalmu menutupinya."

Arka mengangguk, namun jari-jarinya menggenggam erat tali tasnya. Rasanya hampir tak percaya ada seseorang yang mau repot-repot membantunya. Biasanya, dia selalu mengurus segalanya sendiri.

"Ayo naik sepeda listrikku," kata Pak Tono sambil menepuk jok belakang. "Saya anter ke sana."

"Ehehe, iya sih pak, gedung-gedungnya sangat besar. Hmmm, aduh... gak enak aku pak diantarin," jawab Arka dengan nada setengah menolak, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. kebiasaan lamanya saat dia merasa terlalu menerima kebaikan orang lain. Tapi matanya berkaca-kaca sesaat. Hanya sesaat. Sebuah kehangatan asing merambat di dadanya, membuatnya ingin berlama-lama menikmati kebaikan sederhana ini. Akhirnya dia melangkah naik ke sepeda listrik tersebut.

Angin berhembus di wajahnya saat mereka melaju. Arka menatap gedung-gedung kampus yang menjulang, rasa haru kembali mengoyak hatinya. Akhirnya... semuanya tercapai juga. Dalam hati, dia berbisik seperti mantra penenang.

Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah gedung berlantai sebelas. Mahasiswa berhamburan keluar masuk, sibuk dengan urusan masing-masing. Pak Tono menghentikan sepedanya dan menunjuk ke arah pintu masuk utama.

"Nanti ada denah di dalam. Kamu perhatikan baik-baik, cari bagian lantai E. Itu tempatmu," ujar Pak Tono lembut, dengan senyum yang terukir hangat di bibir tuanya.

Arka turun, menatap Pak Tono. Untuk beberapa detik, dia membisu, mencerna kebaikan orang asing yang baru ditemuinya beberapa menit lalu. "Aduh, terima kasih banyak, pak, sudah membantu saya. Lain kali saya traktir bapak, ya!" ucapnya, suaranya sedikit serak.

"Ahaha, anak baik. Tidak usah, kamu gunakan saja uang jajanmu untuk dirimu sendiri," tolak Pak Tono dengan nada lembut, lalu melambai dan pergi meninggalkan Arka dengan sepeda listriknya.

Arka berdiri di depan gedung, menggenggam erat koper kecilnya. Matanya mengikuti kepergian Pak Tono sampai menghilang. Di dadanya, tersimpan hangat yang asing. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, seseorang membantunya tanpa pamrih. Dia menelan ludah, menegakkan bahu, dan melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung.

Sesampai di lobi, langkahnya justru sedikit gemetar. Dia tidak tahu itu kenapa, mungkin perasaan pertama kali ini memang selalu membuatnya canggung. Matanya menatap peta lantai yang terpampang di dinding. Dia melihat ada lift yang tertera, dan juga tangga. Otaknya langsung menghitung. Lift lebih cepat. Tapi dadanya berdegup kencang saat menatap pintu logam itu. lalu memutuskan untuk menuju tangga. Karena dia tidak terbiasa dengan hal itu.

Satu lantai, dua lantai, tiga lantai... kakinya mulai terasa berat. Di lantai empat, dia berhenti sejenak untuk mengatur napas, dadanya memburu. Aku mampu. Dia menyemangati dirinya sendiri. Sampai akhirnya tibalah dia di lantai lima. Di koridor yang sunyi itu, dia melihat angka E terpampang. Hatinya berdebar, lalu mengikuti nomor di kertasnya. E16. Ternyata ruangannya lumayan jauh dari tangga, namun justru dekat dengan lift.

"Aduh... kalau tadi naik lift, aku sudah masuk ruangan dari tadi. Tapi gak papalah, sambil olahraga. Zizizi..." candanya lirih, berusaha mencairkan gugupnya sendiri.

Tangannya meraih gagang pintu. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, menenangkan debaran di dadanya. Pintu pun terbuka. Di dalam, teman sekamarnya sudah lebih dulu datang. Mereka tampak sibuk dengan barang-barang masing-masing, beberapa sedang memasang sprei, yang lain menaruh pakaian di lemari. Arka mengangkat tangannya, melambaikan tangan kanan dengan senyum yang ia paksakan agar terlihat ramah. "Hai, namaku Arka Wisesa. Aku di ruangan ini juga. Izin gabung, ya."

Suasana hening sejenak. Semua kepala menoleh, memandangnya. Mereka mengangguk serempak, beberapa tersenyum tipis, lalu kembali pada kesibukan masing-masing. Arka tidak keberatan. Dia memang terbiasa menjadi orang asing di ruang baru.

Dia melangkah menuju tempat tidur kosong di pojok. Tanpa banyak berpikir, melemparkan kopernya ke samping, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur yang masih terbungkus plastik tipis. Kepalanya membentur bantal, dia membaringkan diri, memejamkan mata. Dadanya naik turun, bukan hanya karena kelelahan fisik menerjang tujuh lantai tadi, tapi juga karena akhirnya berhasil sampai.

Rasa lelah yang menggumpal selama berbulan-bulan seakan meleleh dalam diam, tetapi juga ada rasa haru yang menyesak di tenggorokannya. Matanya terasa panas, namun dia menahannya. Bukan di sini, bukan sekarang. Dia menarik napas dalam-dalam lagi, menikmati langit-langit ruangan yang asing namun terasa begitu berarti.

Teman-teman sekamarnya melirik satu sama lain.

"Kelihatannya dia begitu kecapean," bisik salah satu pemuda bertubuh jangkung, dengan nada heran.

"Sepertinya begitu, bro," jawab pemuda yang lain, yang berwajah tampan dan paling menonjol di antara mereka, bahkan mengalahkan ketampanan Arka. "Dari tadi dia langsung jatuh begitu."

Lanjut membaca
Lanjut membaca