

Beberapa pria berpakaian serba hitam mulai memejamkan mata. Ritual yang sejak tadi mereka persiapkan akhirnya telah siap. Di tengah ruangan kecil itu, sebuah kepala binatang dengan bentuk yang sudah tak lagi dapat dikenali dibakar di atas tungku. Asapnya mengepul pekat, bercampur dengan aroma busuk samar-samar yang memenuhi ruangan. Dinding-dinding ruangan dipenuhi berbagai benda aneh. Jimat, tulang, botol-botol kecil, serta benda-benda yang bentuknya sulit dikenali tergantung di setiap sisi. Tiba-tiba...
Api yang membakar kepala binatang itu membesar. Panas seketika menyelimuti ruangan. Asap hitam berputar semakin cepat sebelum sebuah sosok merah perlahan muncul dari dalamnya. Tubuhnya diselimuti aura seperti api. Matanya menyala merah terang, sementara taring-taring tajam terlihat dari mulutnya. Pria berpakaian hitam yang berdiri paling depan membuka matanya.
“...Akhirnya datang.”
---
Di sebuah tempat yang sangat jauh dari sana, seorang pria berjubah cokelat tampak berlari tergesa-gesa. Wajahnya terlihat gusar. Ia segera memasuki sebuah ruangan. Di dalamnya, seorang wanita berusia akhir tiga puluhan, namun masih terlihat cantik jelita meski ada kerutan usia di wajahnya, sedang berdiri dengan wajah tenang, seolah sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
“Sepertinya mereka sudah tahu,” ujar pria berjubah cokelat itu.
Wanita tersebut mengangguk.
“Ya. Aku juga merasakannya.”
Ia kemudian menatap ke arah pria itu.
“Aku sudah siap dengan semua ini.”
Belum sempat pria itu menjawab, asap hitam tiba-tiba memenuhi salah satu sudut ruangan. Sosok merah yang sebelumnya dipanggil oleh para pria berpakaian hitam muncul dari dalam kepulan asap tersebut. Namun kali ini ukurannya jauh lebih besar. Aura seperti api menyelimuti seluruh tubuhnya. Suhu ruangan meningkat drastis hingga membuat udara terasa membakar. Pria berjubah cokelat segera berdiri di depan wanita paruh baya itu. Ia menghunuskan sebuah tongkat yang diselimuti rune. Wanita itu juga mulai memancarkan aura biru yang sangat besar. Makhluk merah itu menggeram. Pertempuran pun pecah.
---
Pertarungan berlangsung sengit. Tanah di sekitar rumah hancur. Pepohonan tumbang dan udara dipenuhi panas dari aura makhluk merah. Pada akhirnya, mereka bertiga telah berada di luar rumah. Pria berjubah cokelat itu terbaring lemah. Satu tangannya telah terputus. Sementara wanita itu masih berdiri, meski tubuhnya telah dipenuhi luka parah. Di hadapan mereka, makhluk merah masih berdiri tegap. Tidak terlihat sedikit pun tanda-tanda kelelahan. Wanita itu mengangkat tangannya. Cahaya mulai muncul dari telapak tangannya.
“...Akhirnya selesai.”
Ia tersenyum tipis.
“Kali ini kau akan tamat.”
Wanita itu mengeluarkan sebuah kalung yang sejak tadi digenggamnya erat. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mengalirkan seluruh energinya ke dalam kalung tersebut. Kalung itu mulai bersinar. Perlahan, aura api yang menyelimuti tubuh makhluk merah mulai tersedot ke dalamnya. Makhluk itu mencoba bergerak. Namun tubuhnya membeku. Auranya terus terserap sedikit demi sedikit.
“ARGHH!” Makhluk merah itu menggeram.
Namun tiba-tiba, Cahaya pada kalung tersebut meredup. Warna kalung yang sebelumnya terang berubah menjadi hitam. Makhluk merah kembali dapat bergerak.Ia menatap kalung itu.
“Sepertinya kalung itu tidak cukup untuk menyerap seluruh kekuatanku.”
Dalam sekejap, makhluk tersebut menyerang. Wanita itu terpental jauh. Ia jatuh ke tanah sambil tetap menggenggam erat kalung hitam tersebut. Lukanya semakin parah. membuat kesadarkannya perlahan mulai lenyap.
Namun sebelum makhluk itu kembali menyerang. Seorang pria seusianya datang dari arah belakang. Ia membawa seorang anak kecil yang masih balita dalam gendongannya. Pria itu segera menghampiri wanita yang tersungkur. Ia menurunkan anak kecil tersebut, lalu berdiri di depan wanita itu.
“Jangan sentuh dia.”
Makhluk merah itu tidak menjawab. Ia langsung menyerang. Pria tersebut mencoba menghadang. Namun kekuatannya tidak sebanding. Dalam satu serangan, ia terpental dan jatuh bersama wanita paruh baya itu. Di depan mereka, anak kecil tersebut hanya mampu menatap kedua orang dewasa itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Lalu...Ia menangis.
“Waaaa...!”
Tiba-tiba sesuatu muncul dari tubuh anak kecil itu. Aura berwarna ungu mulai menjalar keluar. Awalnya hanya tipis. Namun dalam hitungan detik, aura tersebut semakin membesar. Tangisan anak itu perlahan berhenti. Api yang menyelimuti tubuh makhluk merah mulai bergetar. Makhluk itu mundur satu langkah. Ia terlihat ketakutan.
“Apa... itu?”
Aura ungu terus membesar. Kalung hitam di tangan wanita paruh baya tiba-tiba bergetar. Udara di sekitar mereka berubah. Dan untuk sesaat, seluruh dunia terasa seperti terdiam. Sisa-sisa kilauan cahaya di malam itu, menjadi suatu yang membekas dan terpatri dan akan berpengaruh di masa yang akan datang.