

Lampu-lampu gantung restoran perlahan diredupkan, menyisakan pijar kuning temaram yang memantul di atas lantai keramik bersih. Deru mesin pendingin ruangan berpadu dengan keheningan malam yang pekat setelah pintu kaca depan dikunci rapat dari dalam. Di sudut dapur restoran yang luas dan steril, udara terasa panas dan pengap, dipenuhi detak jantung yang berpacu cepat dan napas memburu yang saling berkejaran.
Ratih bersandar lekat pada meja preparation stainless steel yang dingin, sementara Harto mengurungnya dengan tubuh kekar berbalut kemeja gelap yang separuh berantakan. Ciuman mereka berlangsung liar, menuntut, dan tanpa jeda. Bibir Ratih terbuka lebar, mendesah pelan saat ciuman panas itu turun menelusuri leher jenjangnya, membakar setiap jengkal kulit yang tersentuh bibir basah Harto. Tangan Ratih yang gemetar mencengkeram erat bahu pria itu, meremas kain kemeja dengan kuat seiring gelombang panas yang mengalir deras di antara tubuh mereka.
Sentuhan tangan Harto bergerak liar menelusuri lekuk pinggul Ratih yang berbalut kain ketat seragam pelayan restoran. Kain tipis itu sama sekali tidak menjadi penghalang bagi kehangatan kulit yang saling bergesekan. Ratih melenguh tertahan, membiarkan tubuhnya semakin menempel erat tanpa sisa jarak. Desahan napas mereka berbaur menjadi satu, menciptakan melodi sunyi yang sarat akan hasrat purba. Batang besi milik Harto, yang mengeras sempurna di balik celananya, mendesak kuat menekan perut Ratih, memberikan sensasi sengatan listrik yang langsung merayap ke seluruh saraf tubuh wanita itu.
Sentuhan-sentuhan itu terasa semakin intens dan mendesak, menuntut penyerahan seutuhnya di tengah sunyinya malam restoran. Tidak ada lagi batas antara atasan dan bawahan, yang tersisa hanyalah dua insan yang terbakar oleh kebutuhan tubuh yang mendesak. Ratih memejamkan mata rapat-rapat, merasakan setiap jengkal tubuhnya dikuasai sepenuhnya oleh ritme panas yang diciptakan Harto, menyatu dalam keintiman yang menghapus seluruh akal sehat.
Setelah badai gairah itu mereda dan menyisakan napas yang masih memburu di dalam ruangan yang temaram, Harto merapikan pakaiannya lalu menyandarkan punggung ke tepi meja kasir. Ia menatap lurus ke depan, merenungkan kembali jalannya takdir hidup yang telah membawanya pada lingkaran kelam ini. Sebagai seorang pengusaha yang dulunya nyaris bangkrut, Harto terpaksa mengambil jalan pintas demi menyelamatkan usahanya dari jurang kehancuran total. Ritual pesugihan gairah yang dijalaninya menuntut sebuah harga yang sangat mahal dan mengikat dengan aturan yang jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan orang lain.
Syarat dari perjanjian gaib itu tidak hanya sekadar menuntut keintiman, tetapi juga membawa konsekuensi logis yang membuat kepalanya hampir pecah setiap pekan. Dalam waktu tepat satu minggu, Harto sama sekali tidak boleh mengulang hubungan dengan wanita yang sama. Aturan gaib itu mewajibkannya untuk memutar otak dan membagi jadwal secara cermat di antara para karyawati yang bekerja di restorannya. Setiap dua hari sekali, ia harus mencari mangsa berganti-ganti, memastikan siklus ritual pesugihannya terus berjalan mulus tanpa ada aturan yang terlanggar barang sedikit pun.
Aturan ketat tersebut memaksa Harto untuk memanfaatkan berbagai sudut tempat usahanya sebagai arena ritual yang tersembunyi. Hubungan badan tidak pernah dilakukan di atas tempat tidur yang layak, melainkan berpindah-pindah tempat demi menghindari kecurigaan orang lain. Kadang kala ritual panas itu harus dituntaskan di sudut dapur restoran di antara tumpukan panci yang berkilau, bergesekan dengan panasnya sisa uap oven. Di lain waktu, ketika situasi mendesak dan malam semakin larut, meja kasir yang dingin menjadi saksi bisu pergelutan nafsu mereka. Dimanapun lokasinya, asalkan masih berada di dalam area restoran, ritual itu harus tetap terlaksana tanpa kompromi.
Kebetulan pada malam ini, giliran Ratih yang harus memenuhi syarat tersebut karena kondisi keuangannya yang selalu berantakan. Gaji yang diterimanya setiap bulan sebenarnya tidak kecil, namun semuanya selalu ludes tak tersisa demi menuruti gaya hidup konsumtif, nongkrong di kafe mahal, dan membeli barang-barang tren terbaru demi menjaga penampilan di media sosial. Akibatnya, ketika kebutuhan mendadak datang menghimpit, Ratih selalu terjebak dalam lilitan utang dan ancaman penagihan.
Tadi pagi, Ratih datang menghampiri meja kasir dengan wajah tertunduk gelisah, memohon pertolongan karena gajinya sudah habis dan ia terancam diusir dari tempat kos. Melihat celah kerentanan itu, naluri gelap Harto langsung bergejolak. Di satu sisi ia harus memenuhi rotasi mingguan pesugihannya dengan karyawati yang berbeda, dan di sisi lain ia melihat peluang emas untuk memanfaatkan situasi tersebut.
Harto lantas meminta Ratih untuk tetap tinggal di restoran dan menunggu hingga jam operasional malam ini selesai setelah karyawan lain pulang. Di dalam area dapur yang senyap, Harto membuka amplop berisi segepok uang tunai pecahan besar untuk melunasi masalah finansial Ratih, bahkan ditambah dengan uang ekstra untuk memuaskan gaya hidup wanita itu.
Ketika Ratih hendak meraih amplop tebal tersebut, tangan Harto dengan cepat menahan pergelangan tangannya dan mengajukan syarat terlarang berupa penyerahan diri di atas meja dapur. Ratih sempat terkejut dan terdiam sesaat, namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sama sekali tidak merasa keberatan atau jijik.
Meskipun usia atasannya sudah memasuki paruh baya, penampilan Harto sama sekali tidak mencerminkan angka usianya. Pria itu memiliki daya tarik tersendiri; tubuhnya tetap terlihat kekar dan berotot dengan gaya maskulin yang kental, ditambah aroma parfum khas cowok macho yang selalu menguar setiap kali ia mendekat. Di balik rasa kagetnya, ada percikan desir aneh yang diam-diam menyelinap di dada Ratih.
Dengan kesadaran penuh dan sedikit rasa penasaran yang dibalut kebutuhan materi, Ratih akhirnya mengangguk pelan menerima syarat tersebut. Pada malam inilah, tepat setelah resto tutup, hubungan terlarang antara Harto dan Ratih resmi dimulai di atas meja dapur yang dingin, menjadi bagian dari rantai ritual panjang yang terus berputar setiap dua hari sekali dengan wajah-wajah karyawati yang berbeda demi melanggengkan kekayaan sang pengusaha.
Kini, setiap kali Ratih melayani pelanggan di ruang makan dengan senyuman ramah dan balutan seragam pelayan yang menggoda, tidak ada seorang pun yang tahu rahasia kelam di balik kesuksesan restoran tersebut. Di balik kemegahan bangunan dan ramainya pengunjung, ada pertaruhan harga diri, keringat, dan gelora nafsu yang terus menuntut korban bergantian setiap minggu tanpa kenal ampun.
Harto berdiri dari duduknya di dekat meja kasir, merapikan letak kerah kemejanya sambil menghela napas panjang. Ia tahu persis bahwa rotasi mingguan dengan wanita-wanita berbeda ini akan semakin menguras energi dan kewarasannya. Godaan semakin besar, dan hasrat liar di dalam dadanya semakin sulit untuk dikendalikan oleh akal sehat. Harto hanya bisa menjalani hari-hari berikutnya sebagai seorang pengusaha sukses yang telah menggadaikan seluruh sisa nuraninya demi kepuasan duniawi yang mematikan.