
WARISAN DARI DASAR SUNGAI
bosjafar|Bersambung
- Jumlah kata
- 97.4K
- Popular
- 1.9K
- Subscribe
- 174
- Jumlah kata
- 97.4K
- Popular
- 1.9K
- Subscribe
- 174
Sinopsis
Faris Afghan seorang pemuda yang sabar, rajin dan pantang menyerah. Suatu hari setelah Faris bekerja serabutan dia dipukuli oleh Jatmika dan rekan rekannya, kemudian di lemparkan ke sungai yang airnya deras. Bukannya mati Faris malah dapat warisan seorang pertapa ratusan tahun silam di dasar sungai. Jadilah Faris menjadi orang yang punya kesaktian dan pengobatan yang tinggi.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 LELAKI YANG TAK PERNAH MENYERAH
Pagi belum sepenuhnya terang ketika Faris Afghan sudah meninggalkan gubuk kecilnya.
Udara masih dingin. Embun membasahi rerumputan di sepanjang jalan tanah yang membelah desa. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok, disusul bunyi pintu-pintu rumah yang mulai dibuka.
Faris berjalan cepat sambil membawa seutas tali dan sebuah karung kosong.
Hari itu ia belum tahu akan mendapatkan pekerjaan apa.
Tetapi seperti hari-hari sebelumnya, ia tidak terlalu memikirkannya.
Selama ada pekerjaan, sekecil apa pun, ia akan mengerjakannya.
Faris sudah terbiasa hidup seperti itu.
Mengangkat karung padi.
Membelah kayu.
Membersihkan halaman.
Membantu mengangkut hasil panen.
Kadang menjadi buruh angkut di pasar.
Kadang membantu memperbaiki pagar rumah warga.
Apa saja yang bisa menghasilkan beberapa keping uang, akan ia kerjakan.
Tidak ada pekerjaan yang menurutnya terlalu rendah.
Sebab bagi Faris, bekerja bukan sesuatu yang memalukan.
Tidak bekerja sementara masih mampu bergeraklah yang membuatnya merasa malu.
Orang tua Faris sudah lama meninggal.
Ayahnya meninggal ketika Faris masih remaja karena sakit yang tidak sempat mendapatkan pengobatan layak. Beberapa tahun kemudian, ibunya menyusul setelah tubuhnya semakin lemah.
Sejak saat itu, Faris benar-benar hidup seorang diri.
Tidak ada saudara yang bisa dijadikan tempat bergantung.
Tidak ada keluarga kaya yang datang menawarkan bantuan.
Tidak ada warisan.
Yang tersisa hanyalah sebuah gubuk tua peninggalan orang tuanya dan sebidang tanah kecil yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Namun Faris tidak pernah menyalahkan keadaan.
Ia masih mengingat pesan terakhir ibunya.
"Hidup mungkin tidak selalu memberimu apa yang kau inginkan, Ris. Tetapi jangan pernah berhenti berusaha."
Kalimat sederhana itu selalu ia ingat.
Setiap kali hidup terasa berat, Faris mengulanginya dalam hati.
Pagi itu ia sampai di rumah seorang petani bernama Pak Darsa.
“Faris!”
Faris berhenti.
Pak Darsa keluar sambil menunjuk tumpukan karung di depan rumah.
“Bantu aku pindahkan ini ke gudang.”
Faris langsung mengangguk.
“Baik, Pak.”
Ia tidak menanyakan upah terlebih dahulu.
Faris mengangkat karung pertama ke pundaknya.
Berat.
Namun ia terus berjalan.
Karung kedua.
Ketiga.
Keempat.
Keringat mulai membasahi dahinya meskipun matahari belum tinggi.
Pak Darsa beberapa kali memperhatikannya.
“Kau tidak pernah mengeluh, Ris.”
Faris tersenyum kecil.
“Kalau mengeluh karungnya tidak akan berpindah sendiri, Pak.”
Pak Darsa tertawa.
“Benar juga.”
Faris kembali bekerja.
Begitulah dirinya.
Sabar.
Rajin.
Dan pantang menyerah.
Bukan karena hidupnya mudah.
Justru karena hidupnya terlalu sulit untuk dijalani dengan menyerah.
Menjelang siang, pekerjaan itu selesai.
Pak Darsa memberikan beberapa keping uang kepada Faris.
“Ini upahmu.”
Faris menerimanya dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Pak.”
“Tidak perlu berterima kasih. Kau memang sudah bekerja.”
Faris memasukkan uang itu ke kantong bajunya.
Jumlahnya tidak banyak.
Namun ia sudah mulai menghitung dalam pikirannya.
Sebagian untuk membeli beras.
Sebagian untuk minyak.
Jika masih tersisa, mungkin ia bisa membeli obat untuk dirinya sendiri karena beberapa hari terakhir tubuhnya sering terasa kurang enak.
Faris kemudian berpamitan.
Ia belum ingin pulang.
Masih ada waktu sebelum sore.
Dan selama masih ada waktu, mungkin masih ada pekerjaan yang bisa dilakukan.
Langkahnya kembali menyusuri jalan desa.
Ia melihat seorang pedagang sedang kesulitan mendorong gerobak.
Faris langsung menghampiri.
“Biar saya bantu, Pak.”
Tanpa menunggu jawaban, ia mendorong bagian belakang gerobak.
Beberapa saat kemudian gerobak berhasil sampai di tempat yang dituju.
Pedagang itu memberikan dua keping uang.
“Ambillah.”
Faris sempat menolak.
“Tidak perlu, Pak. Saya hanya membantu.”
“Kalau begitu anggap saja ini ucapan terima kasih.”
Faris akhirnya menerimanya.
“Terima kasih.”
Ia kemudian melanjutkan perjalanan.
Tidak ada yang istimewa dari kehidupan Faris hari itu.
Tidak ada kejayaan.
Tidak ada kekayaan.
Tidak ada seorang pun yang menunggu kepulangannya.
Tetapi Faris tetap berjalan dengan kepala tegak.
Ia belum tahu bahwa kehidupan yang selama ini dijalaninya dengan sederhana akan segera berubah.
Ia juga belum tahu bahwa beberapa hari lagi, sebuah tuduhan akan membuat seluruh hidupnya berbalik.
Pemuda miskin yang selama ini tidak dianggap siapa-siapa itu akan kehilangan hampir segalanya.
Namun dari titik terendah itulah perjalanan Faris Afghan sebenarnya akan dimulai.
Perjalanan yang kelak akan membawanya menuju sebuah gua tersembunyi, seorang pertapa dari masa ratusan tahun silam, sebuah warisan yang tidak pernah diketahui dunia, dan seorang perempuan yang akan mengubah jalan hidupnya.
Daftar bab
93 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








