
Dendam Pewaris Tersembunyi
Genta Peristiwa|Bersambung
- Jumlah kata
- 210.6K
- Popular
- 2.3K
- Subscribe
- 105
- Jumlah kata
- 210.6K
- Popular
- 2.3K
- Subscribe
- 105
Sinopsis
Langit berguncang saat Kekaisaran Naga Azura runtuh oleh pengkhianatan. Surya, sang putra mahkota yang dibuang ke Dunia Bawah dengan akar spiritual kaisar yang tersegel, harus hidup sebagai sampah di Klan Dirgantara. Dihina, disiksa, dan dibiarkan mati, takdirnya berubah ketika darahnya membuka segel Liontin Pagoda 15 Tingkat peninggalan ibunya. "Jangan kembali sebelum kau mencapai puncak," pesan terakhir sang ibu terngiang di lautan kesadarannya. Bersama seekor anak harimau putih bersayap dan nyala api surgawi pembelah langit, Surya melangkah di jalan darah. Ia menginjak-injak para jenius arogan, membantai tetua sekte munafik, dan merobek langit untuk kembali ke Dunia Dewa. Mereka yang meremehkannya akan berlutut, dan mereka yang mengkhianati keluarganya akan musnah! Ini bukan kisah pahlawan pemaaf, ini adalah epik balas dendam sang pewaris sejati!
Ulasan
6 ulasan
Genta Peristiwa
27/8/26 16:10
Daily update : Senin-Sabtu ( 2 bab) jam 19.00 wib Minggu ( 3 bab) jam 11.00 wib dan 19.00 wib Libur Nasional ( 4-5 bab )
PILIHANOcha Ruby
14/9/26 08:28
kisahnya bagus di awal pembukaan konflik sudah terlihat jelas dan bikin penasaran pembaca. hook nya dapet
Bab 1 Darah Pewaris dan Dasar Jurang
KRAK!
Suara tulang rusuk yang patah memecah dinginnya udara malam di Puncak Paviliun Langit.
Darah segar menyembur mewarnai lantai batu pualam yang seputih salju. Tubuh Surya terlempar sejauh lima meter, terseret keras sebelum akhirnya menabrak pilar giok penyangga aula.
Rasa sakit yang luar biasa melilit sekujur tubuhnya. Delapan belas jalur tenaga dalam-nya terasa seperti disayat oleh ribuan pisau berkarat.
Belum sempat Surya menarik napas, sebuah sepatu bot berbalut zirah emas mendarat telak di atas dadanya. Menekannya kuat-kuat hingga paru-parunya serasa mau pecah.
"Katakan padaku, Surya. Bagaimana rasanya menjadi serangga?"
Di atasnya, berdiri Bayu. Tuan Muda Ketiga Klan Mahameru. Wajahnya setampan dewa, namun matanya memancarkan kekejaman iblis. Ujung jarinya memutar sebuah cincin giok, sementara bibirnya melengkung membentuk seringai jijik.
Surya menggertakkan giginya hingga gusi berdarah. Ia tidak menjerit. Matanya menatap lurus ke arah Bayu, menolak untuk tunduk.
"Kau pikir hanya karena pelayan tua klan kami memungutmu belasan tahun lalu, kau berhak bernapas di udara yang sama denganku?" Bayu mendengus, menekan sepatu botnya lebih dalam.
Uhuk!
Darah kembali merembes dari sudut bibir Surya. "Anak pungut tanpa asal-usul!" bisik Bayu tajam. "Pusat tenaga dalam-mu cacat sejak lahir. Kau bahkan tidak bisa menyerap setetes pun hawa murni. Kau hanyalah anjing penjaga yang kebetulan diberi makan oleh Klan Mahameru. Tapi kau... berani menatap tunanganku di aula siang tadi?"
Surya mengepalkan tangannya yang gemetar. Tunangan? Surya bahkan tidak melirik wanita itu. Bayu hanya mencari alasan untuk menyiksanya, sama seperti yang dilakukannya selama tiga tahun terakhir sejak pelayan tua yang merawat Surya meninggal dunia.
Bayu tidak pernah tahu rahasia di balik tubuh yang ia sebut 'cacat' ini.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik kemeja usangnya, menempel sebuah liontin giok hitam yang dingin. Liontin itu adalah peninggalan terakhir sang ibunda Permaisuri Agung dari Kekaisaran Naga Azhura di Alam Dewa. Surya bukanlah anak pungut. Ia adalah pangeran tunggal dari ras penakluk langit!
Pusat tenaga dalam-nya tidak cacat. Itu sengaja disegel oleh ibunya agar energi naga di dalam tubuhnya tidak terdeteksi oleh para pengkhianat Alam Dewa yang telah membantai klannya.
"Masih berani menatapku dengan mata liar itu?" Bayu menyipitkan matanya. Niat membunuh meluap dari tubuhnya.
Whosh!
Hawa murni berwarna biru kehijauan meledak dari telapak tangan Bayu. Tingkat Pemurnian Lapis Kedelapan! Angin tajam berputar di sekitar lengannya.
"Jika kau begitu suka menatap, akan kubuat kau buta selamanya.
Telapak Pemecah Nadi!"
Bayu menghantamkan telapak tangannya lurus ke perut Surya.
BOOM!
Ledakan hawa murni menghancurkan lantai di bawah punggung Surya.
Arghhh!
Untuk pertama kalinya, Surya tak mampu menahan jeritannya. Hantaman itu menembus kulitnya, menghancurkan titik akupuntur utama di pusat tenaga dalam-nya. Sisa-sisa hawa kehidupan di dalam tubuhnya terkuras habis. Pandangannya menggelap. Kematian terasa begitu dekat, sedingin es yang merayap di lehernya.
"Cukup, Tuan Muda Bayu," sebuah suara berat terdengar dari balik bayangan pilar.
Hasan, kepala pengawal elit klan, melangkah maju dan menunduk hormat.
"Jika anak ini mati di dalam area kediaman utama, Tetua Penegak Hukum mungkin akan mempermasalahkannya. Reputasi Anda bisa tercoreng hanya karena membunuh seekor tikus kotor."
Bayu menarik kakinya dengan kasar. Ia meludah tepat di samping wajah Surya yang setengah sadar.
"Kau benar, Hasan. Membunuhnya di sini hanya akan mengotori lantai pualamku," Bayu tertawa dingin. Ia melirik ke arah luar paviliun, ke arah kegelapan pekat yang menganga di balik tebing kediaman. "Seret tikus ini ke Jurang Kematian. Biar monster kabut di dasar sana yang mengunyah tulang-tulangnya."
"Baik, Tuan Muda!"
Tanpa membuang waktu, Hasan mencengkeram kerah baju Surya dan menyeretnya layaknya menyeret karung rongsokan. Darah Surya meninggalkan jejak merah panjang di sepanjang lantai paviliun.
Surya tak lagi memiliki tenaga untuk meronta. Napasnya tersengal. Namun, di dalam dadanya, kebencian membakar kewarasannya.
Bayu... Klan Mahameru...
Mata Surya terbuka sedikit, merekam tawa arogan Bayu dan wajah dingin Hasan.
Jika para dewa membiarkanku hidup... Aku bersumpah... Aku akan mencabut jantung kalian dari dada kalian sendiri!
Hasan berhenti di bibir tebing. Angin malam yang buas melolong dari dasar Jurang Kematian, membawa aroma belerang dan bau busuk bangkai. Kabut ungu beracun bergulung-gulung di bawah sana. Selama ratusan tahun, tak ada satu pun kultivator yang pernah kembali hidup-hidup setelah jatuh ke tempat terkutuk itu.
"Nikmati nerakamu, Anak Pungut."
Hasan melepaskan cengkeramannya. Ia menendang tubuh Surya tepat di dada.
Bungkam!
Tubuh Surya terlempar ke udara, lalu ditarik oleh gravitasi dengan kecepatan mengerikan.
Gelap. Dingin. Angin merobek-robek pakaian dan kulitnya layaknya pisau cukur. Surya meluncur jatuh menembus kabut ungu tebal. Kesadarannya mulai memudar. Otot-ototnya mati rasa.
Apakah ini akhirnya? Apakah garis keturunan Kaisar Naga Azhura benar-benar akan punah di tempat sampah ini?
Kematian tinggal menunggu detik. Dasar bebatuan karang yang setajam tombak telah terlihat samar di balik kabut.
Namun, tepat di saat putus asa menelan segalanya, sebuah keajaiban purba terjadi.
Luka robek di dada Surya menyemprotkan setetes darah segar. Darah itu tidak berwarna merah biasa, melainkan memancarkan kilau emas yang sangat redup darah murni keturunan Naga Azhura!
Tetesan darah itu jatuh merembes tepat ke atas liontin giok hitam di balik bajunya.
Sssshhh!
Liontin yang selama belasan tahun sedingin es itu mendadak mendidih. Panasnya menembus kulit Surya, memompa gelombang energi misterius langsung ke jantungnya.
Seberkas cahaya merah darah meledak dari liontin tersebut, menyilaukan mata dan membelah lautan kabut ungu di jurang.
Di dasar jurang, bebatuan karang raksasa mendadak bergetar hebat. Garis-garis pola formasi penyegelan kuno yang telah tertidur selama ribuan tahun menyala satu per satu secara beruntun, merespons darah dewa yang menetes dari langit!
BUMMM!
Ruang dan waktu di dasar jurang terdistorsi. Sebuah pusaran lubang hitam seukuran gerbang kota terbuka lebar. Gaya tarik yang luar biasa kuat menyedot tubuh Surya dalam sekejap mata, tepat sebelum punggungnya menghantam bebatuan tajam.
Ruang spasial tertutup kembali, menyisakan kesunyian mematikan di dasar Jurang Kematian. Seolah Surya tidak pernah ada di sana.
Surya membuka matanya dengan susah payah. Nyeri yang menghancurkan tulang-tulangnya lenyap. Angin beracun telah berganti menjadi aroma herbal spiritual yang begitu pekat dan manis. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan pil dewa, membuat sel-sel darahnya berdenyut gembira.
Ia terbaring di atas hamparan rumput hijau yang memancarkan cahaya giok. Di sekelilingnya, tumbuh ribuan tanaman obat tingkat tinggi yang bahkan tak pernah tercatat di buku kuno Klan Mahameru. Air terjun energi murni mengalir dari tebing-tebing bercahaya.
Sebuah dimensi tersembunyi!
Sebelum Surya mampu mencerna di mana ia berada, hembusan angin lembut membelai pipinya. Sentuhan itu... sangat familiar. Terasa seperti pelukan yang ia rindukan di dalam mimpi-mimpi kecilnya.
Detik berikutnya, sebuah suara wanita bergemuruh.
Suaranya merdu dan lembut, namun memancarkan otoritas penakluk yang mampu membuat miliaran bintang bergetar ketakutan. Suara itu menggema langsung menembus lautan kesadaran Surya.
"Tiga ribu tahun segel ini membeku..." suara agung itu bergetar, sarat akan kerinduan yang mendalam. "...akhirnya, darah dari garis keturunan sejatiku tiba ditempat ini
Daftar bab
183 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
183 bab








