Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
TINJU PENGGETAR LANGIT

TINJU PENGGETAR LANGIT

Bang Regar | Bersambung
Jumlah kata
207.1K
Popular
1.3K
Subscribe
88
Novel / TINJU PENGGETAR LANGIT
TINJU PENGGETAR LANGIT

TINJU PENGGETAR LANGIT

Bang Regar| Bersambung
Jumlah Kata
207.1K
Popular
1.3K
Subscribe
88
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPedangPertualanganBalas Dendam
Surya kencana, pemuda yang tersakiti dan terbuang. Putus asa, dan ingin mati, tapi sesuatu yang besar mengubah dirinya. Surya kencana, pemuda yang terbuang menjadi pilihan yang tak tertandingi. Bagaimana Surya menjadi hebat dan kuat?
Surya kencana

Kota Kobra kota yang penuh dengan segala kemewahan dunia, kota yang begitu menujukkan segala keangkuhan dunia ada pada kota itu.

"Aku harus cepat! Jika tidak mereka akan kembali memberikan aku luka!"

Ucapan itu keluar dari mulut seorang pemuda tanggung yang melarikan diri dari kejaran beberapa orang pemuda.

"Hey Surya! Jangan lari!"

Beberapa pemuda yang seusia dengan Surya mengejar dengan langkah kaki yang jauh lebih cepat dengan Surya.

"Tidak! Ini tidak boleh terjadi lagi padaku!" ucap Surya saat dia sampai di tengah kota. Kota yang ramah bagi penduduk tapi tidak untuk keluarga Surya.

"Hei .. itu pemuda yang membawa bibit penyakit itu! Lempar!"

Seperti sebuah komando puluhan batu kerikil melayang ke arah Surya. Tidak hanya itu berbagai benda berat yang melukai tubuh juga melayang pada Surya.

"Sialan! Apa salah keluargaku, sehingga aku merasakan hal ini!" maki Surya dan kembali melarikan diri.

Surya dan orang tuanya, dalam beberapa purnama didera penyakit aneh, penyakit yang membuat tubuh mereka gatal-gatal dan penuh dengan bau busuk.

Dengan napas yang ngos-ngosan, Surya Kencana pemuda yang berusia sebelas tahun itu sampai di depan rumahnya, tapi yang pertama Surya saksikan adalah pemandangan yang membuat seluruh tubuhnya berdesir hebat.

"Apa yang kalian lakukan pada orangtuaku?" teriak Surya dan melompat menendang seorang lelaki yang memukuli ayahnya.

"Iblis kecil! Seharusnya kau tidak usah datang!" kata lelaki itu dan berbalik menatap Surya.

Surya mundur, dia tak percaya dengan apa yang dia saksikan saat ini.

"Paman! Paman Jumadi?" ucap Surya tak percaya.

Orang yang dipanggil Jumadi itu, mendekat ke arah Surya.

Plakkkkkk!!

Satu tamparan menghantam wajah kecil Surya, dan membuat pemuda itu terpelanting bergulingan ditanah.

"Kenapa kalau aku?" kata Jumadi dan jongkok di samping Surya.

Aaaarrrrgggghhhhhhh!!

Surya menjerit keras saat tangan Jumadi menjambak dengan kasar rambutnya, memaksa Surya untuk berdiri.

Tubuh mungil Surya dibawa paksa kehadapan ayah dan ibunya yang baru saja mendapatkan siksaan dari Jumadi.

"Keluarga pembawa penyakit," kata Jumadi.

Cuihhhhh!!

Surya yang dalam amarahnya, meludahi wajah Jumadi, dan itu membuat Jumadi semakin tidak terkendali.

"Dasar anak tidak kurang ajar!"

Tangan kekar Jumadi kembali memberikan pukulan pada Surya, yang jelas kembali melukai tubuh anak muda itu.

"Kau tidak akan aku maafkan!" kata Surya.

Tangan Surya mengambil satu kayu kecil yang berada tidak jauh dari tempat dia jatuh, dan memegang erat kayu itu.

"Ayo lakukan! Aku ingin lihat, apa yang bisa dilakukan bocah kecil penyakitan seperti dirimu!" ejek Jumadi.

Surya yang sudah emosi, memegang erat kayu kecil itu, kayu yang tidak sampai sebesar lengan orang dewasa.

Saat Surya ayunkan kayu itu, Jumadi dengan mudah menangkap kayu itu, dan dalam satu sentakan saja kayu itu sudah lepas dari tangan Surya.

"Aku mau tahu, bagaimana cara memukul?" ucap Jumadi dan berjalan ke arah Surya.

Surya mundur ketakutan, dia tahu jika pamannya itu bukan orang yang bisa diajak bicara.

"Surya! lari anakku! Lari!" teriak ibunya, nyai Selasih.

Tapi jawaban untuk ucapan nyai Selasih adalah injakan keras punggungnya, injakan dari adik suaminya.

Akkkhhhhhhhhhhh!!

Nyai Selasih tidak mungkin tidak menjerit, injakan itu meremukkan rusuknya dan melepaskan nyawanya kembali ke penciptanya.

"Ibu ...!!!"

Surya menjerit keras melihat orang yang sudah melahirkan dirinya dibunuh oleh pamannya sendiri.

Hahahahaha!!

"Kenapa bocah bodoh? Apa kau ingin membunuhku? Lakukan?" bentak Jumadi.

"Kau akan mati!"

Surya berlari ke arah Jumadi, dan memukul ke segala arah, memukul dengan hanya menggunakan kekuatan, tanpa teknik, dan tanpa dasar-dasar beladiri.

Jumadi terus tertawa saat menghadapi Surya, keponakannya sendiri, dia hanya menggeser tubuhnya sedikit ke kanan, atau kiri, dan setiap pukulan Surya sudah dapat dia hindari.

"Apa kau pikir itu sudah cukup membuatku mati?"

Tangan Jumadi dengan cepat menangkap leher Surya, mengangkat pemuda tanggung itu ke atas.

Tapi sebelum Surya terangkat ke atas, dengan lebih cepat pula, Surya berikan satu gigitan kuat ke tangan kekar Jumadi.

"Kurang ajar! Kau ternyata ingin cepat mati!" bentak Jumadi.

Jumadi lemparkan tubuh Surya hingga bocah itu menabrak dinding rumah. Jumadi mendekati Surya, dengan wajah yang diselimuti amarah.

"Jangan lukai putraku!"

Ayah Surya, Ki Segoro, tidak terima perlakuan adiknya pada keponakannya. Dan menyerang adiknya itu.

Tapi satu tangan Jumadi dengan cepat mengambil sesuatu dari balik bajunya.

Crasssssss!!

Satu tusukan dari belati merobek perut Ki Segoro, ayah Surya. Itu membuat Ki Segoro melotot menahan sakit di sekujur tubuhnya.

"Kau ... kau ...!!

Ki Segoro bicara gantung, dan jatuh dengan bersimbah merah di perutnya.

Hahahaha!

"Katakan! Ayo katakan apa yang ingin kau katakan!" kata Jumadi sambil menendang tubuh Ki Segoro.

"Ayah! Ayah!"

Mata Surya merah, air mata tidak mungkin tidak jatuh dari kedua pelupuk matanya, dia menatap pamannya dengan tatapan dendam, Dendam yang seharusnya dimiliki anak sekecil Surya.

Jumadi mendekati Surya, dan menyeret anak muda itu ke tengah kota.

"Ini dia pembawa bibit penyakit di kota ini! Kita habisi dia!" teriak Jumadi pada penduduk kota.

Penduduk kota berdatangan, dan yang terjadi adalah, Surya menjadi bulan-bulanan dari lemparan batu dari berbagai ukuran.

Tubuh Surya kini penuh dengan luka, penuh dengan bercak merah dari tubuhnya sendiri.

"Inikah yang kalian inginkan dari kami? Ini balasan untuk semua kebaikan yang sudah ayah berikan pada kalian selama ini?" teriak Surya Kencana.

Bocah kecil itu berdiri dan melihat ke seluruh arah, seperti melihat wajah-wajah kejam dari penduduk kota Kobra.

"Aku pastikan, kalian semua akan mati ditanganku!!!" teriak Surya Kencana.

Hahahaha!!

Setia penduduk yang mendengarkan teriakan Surya hanya menanggapi dengan tawa yang mengejek.

"Dengan apa?"

Seorang pemuda mendekati Surya, dan bogeman keras kembali menghantam pemuda bernasib sial itu.

"Aku hanya inginkan ketenangan!!" teriak Surya kencana.

Tapi teriakan Surya kembali dijawab dengan satu pukulan ke arah wajahnya. Tak ayal pukulan itu membuat gigi Surya kencana tanggal.

"Tapi kau tidak memberikan kami ketenangan! Kau penyebar penyakit di kota ini!"

"Sudah! Bunuh saja dia! Dan buang mayatnya beserta mayat orang tuanya ke bukit Menjangan!" teriak warga kota.

Teriakan itu menjadi titik akhir dari hidup Surya, satu persatu penduduk yang mengepung dia mendekat, dan niat membunuh sudah ada pada tiap orang yang ada di sekitar Surya.

"Apa aku sungguh akan mati?" gumam Surya pasrah pada apa yang akan di alaminya.

Tapi saat semuanya akan terjadi, awan di langit berubah menjadi gelap gulita, seperti hujan besar akan datang di kota Kobra.

Jledaaarrrrrrr!!

Petir biru menyambar tubuh Surya, menyambar dengan kekuatan listrik yang mungkin akan membakar hangus tubuh pemuda itu.

"Apa dia sudah mati?" ucap seorang warga.

Tubuh Surya terlentang ditanah dengan kondisi hitam terbakar petir dan satupun warga tak ada yang mendekati Surya yang menurut mereka sudah jadi mayat.

Tapi saat warga kota akan tinggalkan Surya, sesuatu terjadi pada tubuh Surya. Reaksi tubuh yang tidak akan disangka oleh siapapun.

"Ada apa dengan Surya?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca