
Diam - Diam Aku Menyimpannya
Rona Malam|Bersambung
- Jumlah kata
- 12.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 12.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1

Rona Malam|Bersambung
Nadira, seorang mahasiswi, diam-diam mengagumi Raka sejak pertemuan pertama mereka di kampus. Ia menyimpan perasaannya rapat-rapat, mengamati Raka dari kejauhan dan menikmati setiap momen kecil yang melibatkan laki-laki itu. Namun, kebahagiaan Nadira mulai terusik ketika Raka semakin dekat dengan Alya, teman sekelas mereka. Nadira merasa cemburu, tetapi ia tetap memilih untuk diam, meyakini bahwa diam adalah cara terbaik untuk melindungi hatinya. Seiring berjalannya waktu, Raka mulai menunjukkan perhatian lebih pada Nadira. Hal ini membuat Nadira bimbang, antara mengungkapkan perasaannya atau tetap menyimpannya. Akhirnya, Nadira memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Raka, namun terlambat, karena Raka sudah menjalin hubungan dengan Alya. Nadira patah hati, tetapi ia belajar untuk menerima kenyataan dan melepaskan Raka. Nadira kemudian bertemu dengan Fajar, seorang mahasiswa baru yang membuatnya nyaman dan bisa menjadi dirinya sendiri. Nadira belajar untuk mencintai tanpa rasa takut, tanpa membandingkan dengan masa lalu, dan tanpa harus memiliki. Ia menyadari bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam dirinya sendiri, dan cinta hanyalah pelengkap kebahagiaan itu. Nadira dan Fajar pun menjalin hubungan yang sehat dan saling mendukung. Suatu hari, Nadira mendapat tawaran magang di kota lain. Ia bimbang, karena harus meninggalkan Fajar dan semua kenyamanan yang telah ia bangun. Namun, Nadira akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran itu, karena ia ingin mengembangkan dirinya dan meraih impiannya. Fajar mendukung keputusan Nadira, dan mereka berjanji untuk tetap menjaga hubungan mereka meski terpisah jarak. Nadira pun memulai hidup baru di kota lain, dengan hati yang lebih dewasa, lebih mandiri, dan lebih siap menghadapi segala kemungkinan. Ia belajar untuk mencintai diri sendiri, menghargai setiap momen, dan menjalani hidup dengan penuh keberanian.
Pagi itu, udara kampus terasa segar meskipun mentari baru saja menampakkan sinarnya. Nadira melangkah pelan di antara barisan pohon yang membatasi trotoar menuju fakultasnya. Suara daun yang bergesekan dengan angin seakan menenangkan kegelisahan kecil yang ada di hatinya. Tangannya menggenggam buku catatan tipis, sementara di sisi lain tasnya yang berwarna krem bergoyang perlahan mengikuti langkahnya.
Sejak pagi, Nadira sudah merasakan denyut jantungnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan karena ada ujian atau tugas yang menumpuk, tetapi karena sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum sepenuhnya ia mengerti, tetapi cukup membuat hatinya bergetar.
Dan kemudian, di persimpangan jalan menuju aula utama, ia melihatnya.
Raka.
Nadira berhenti sejenak, menyembunyikan napasnya yang tiba-tiba terasa berat. Ia menatap laki-laki itu dari jarak beberapa meter. Rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan terkena cahaya matahari, menimbulkan kilau yang tak disengaja. Sorot matanya yang fokus menatap layar laptop di tangannya menampilkan keseriusan, tapi senyumnya—ya, senyumnya yang tipis itu—memberikan kesan hangat, seolah dunia di sekitarnya tiba-tiba mengecil dan hanya menyisakan Raka.
Nadira menelan ludah, perlahan melanjutkan langkahnya, tapi matanya tak lepas dari sosok itu. “Kenapa aku begitu… terpaku?” pikirnya diam-diam. Hatinya seolah ingin berteriak, tapi bibirnya tetap terkatup rapat. Ia selalu tahu, rasa kagum seperti ini harus disimpan. Diam.
Saat Raka menatap ke arah seberang jalan, Nadira tersentak. Apakah ia sempat melihatnya? Tidak. Nadira mencoba menenangkan diri, menarik napas panjang, dan melanjutkan langkah. Namun, ada sesuatu yang berubah di dalam hatinya. Rasa kagum itu berubah menjadi rasa hangat yang samar-samar—rasa yang ia tak pernah ingin akui bahkan pada dirinya sendiri.
Di aula utama, kampus sudah mulai ramai. Mahasiswa lalu-lalang dengan buku, laptop, dan tumpukan tugas. Nadira menunduk, mencoba melebur di antara keramaian, tapi bayangan Raka terus menghantui. Ia duduk di bangku pojok, membuka buku catatan, menulis hal-hal rutin tentang kuliah hari itu. Namun, setiap beberapa menit, matanya menatap pintu masuk, berharap… atau takut akan melihat Raka lagi.
Sementara itu, Raka menutup laptopnya, berjalan keluar dari aula. Nadira yang duduk jauh di pojok, hampir menahan napas. Apakah ia hanya ingin melihatnya dari jauh? Atau ada dorongan lain yang tak bisa ia jelaskan? Nadira menekankan hatinya untuk tetap tenang, namun setiap kali Raka tersenyum pada teman-temannya, dada Nadira terasa sesak.
Beberapa hari berikutnya, Nadira memperhatikan kehadiran Raka di kelas. Ia duduk di barisan yang agak jauh, mencoba tidak terlihat terlalu memperhatikan. Tapi setiap gerakan Raka, setiap kali ia menulis di papan tulis, atau bahkan saat ia tertawa kecil bersama teman-temannya, Nadira merasakan denyut jantungnya meningkat. Ia tidak ingin mengakuinya. Tidak pada siapa pun. Bahkan pada dirinya sendiri, Nadira mencoba menolak perasaan yang diam-diam tumbuh itu.
Ia mengingat kata-kata ibunya suatu hari: “Terkadang, jika kita terlalu cepat menunjukkan rasa suka, itu hanya akan membuat hati terluka. Belajarlah melihat dari jauh dulu.” Dan Nadira menerapkan itu. Menyimpan perasaannya, menatap dari kejauhan, mengagumi tanpa bicara. Ia belajar diam, karena diam adalah perlindungan terbaik.
Suatu siang, saat istirahat, Nadira duduk di taman kampus sambil makan siang. Matahari menyorot lembut di wajahnya. Ia menatap langit biru yang cerah, tetapi pikirannya tetap tertuju pada Raka. Dari jauh, ia melihat Raka berjalan sambil tertawa dengan teman-temannya, membawa beberapa buku di tangan. Nadira tersenyum tipis, seakan senyum itu adalah bagian dari ritual diamnya sendiri.
“Kenapa aku… selalu merasa nyaman melihatnya?” bisik hati Nadira. Ia menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan diri. Namun, kenyataan itu terlalu jelas: ia menyukai Raka. Tapi rasa suka itu bukan seperti yang sering dilihat di film atau novel. Tidak ada pengakuan dramatis, tidak ada pesan cinta yang berapi-api. Hanya… rasa kagum yang diam-diam menempel di setiap harinya, di setiap langkahnya, di setiap detik ia melihat Raka dari kejauhan.
Hari demi hari berlalu. Nadira mulai mengenal kebiasaan-kebiasaan Raka. Ia melihat bagaimana Raka selalu menyiapkan catatan sebelum kuliah dimulai, bagaimana ia menolong teman yang kesulitan memahami materi, dan bagaimana ia tertawa kecil saat gurunya membuat lelucon. Semua hal itu, meski sepele, menjadi bagian dari dunia kecil Nadira. Dunia yang ia ciptakan sendiri, di mana Raka adalah pusatnya, meski ia tidak pernah mengatakannya.
Suatu sore, Nadira berjalan pulang melewati koridor fakultas. Raka berdiri di dekat pintu kelas, tampak kebingungan dengan tumpukan buku di tangannya. Nadira berhenti, ingin menolong, tapi rasa gugupnya terlalu kuat. Ia berdiri di tempatnya, memperhatikan Raka mencoba menyeimbangkan buku-bukunya. “Kenapa aku tidak bisa berkata apa-apa?” pikirnya frustasi. Akhirnya, Raka tersenyum, menyusun bukunya sendiri, dan berjalan pergi. Nadira menghela napas panjang, merasakan campuran kagum, frustasi, dan… sesuatu yang hangat di hati.
Malam harinya, Nadira menulis di buku diarynya, mencurahkan semua perasaan yang ia simpan. Setiap kata adalah rahasia, setiap kalimat adalah cermin hatinya. Ia menulis tentang senyum Raka, tawa kecilnya, cara ia menatap papan tulis, bahkan gerakan tangannya saat menulis. Tidak ada yang ia kirimkan, tidak ada yang ia tunjukkan. Semua untuk dirinya sendiri.
Dan malam itu, sebelum tidur, Nadira menatap langit dari jendela kamarnya. Bintang-bintang bersinar lembut, dan ia tersenyum tipis. “Mungkin… diam ini bukan hal yang buruk,” pikirnya. “Mungkin… ini hanya awal dari sesuatu yang belum aku mengerti.”
Perasaan itu, yang ia simpan diam-diam, menjadi rahasia kecilnya. Rahasia yang hangat, yang membuat hatinya berdetak lebih kencang, tetapi juga memberi kedamaian. Nadira sadar, ini adalah rasa suka pertama yang benar-benar membuatnya merasa hidup. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tetapi ia siap menikmati setiap detiknya, dari kejauhan, dalam diam.
Dan begitulah, pertemuan pertama itu bukan hanya soal tatapan dan senyum. Itu adalah awal dari perjalanan panjang—perjalanan Nadira memahami rasa yang tidak pernah ia ungkapkan, rasa yang ia simpan diam-diam, tetapi perlahan membentuk bagian dari dirinya sendiri.
20 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.