
Balas Dendam Elegan Sang Parasit
Sarah Jihan|Bersambung
- Jumlah kata
- 102.8K
- Popular
- 217
- Subscribe
- 58
- Jumlah kata
- 102.8K
- Popular
- 217
- Subscribe
- 58
Sinopsis
Alden Knox disiksa dan dibakar hidup-hidup oleh empat pewaris tahta kota. Namun, kematiannya justru membangkitkan System of Absolute Domination. Selamat dari maut, ia kembali bukan untuk menuntut keadilan, melainkan memaksa keempat wanita kaya yang dulu menindasnya untuk berlutut dan bersumpah menjadi istrinya di bawah kendali mutlaknya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Pengorbanan di Atas Tungku Pembuangan
"Patahkan tulang rusuk kirinya dulu, biarkan dia merasakan paru-parunya tertusuk sebelum mati! Aku ingin dia mati secara perlahan!"
Krak!
Darah kental menyembur deras dari mulut Alden Knox, membasahi lantai baja Sektor-9 yang berkarat dan dingin. Hantaman martil bertenaga pneumatic itu menghancurkan dada kirinya tanpa ampun. Suara retakan tulang beradu tajam dengan bunyi dengung mesin industri yang membakar udara malam.
Rasa sakit yang membakar menjalar cepat ke seluruh saraf tubuhnya. Alden terkapar tak berdaya di tengah kegelapan Pabrik Pengolahan Limbah Sektor-9. Efek racun saraf Aether-Numb yang disuntikkan sejam lalu membuat seluruh ototnya lumpuh total. Ia bahkan tidak bisa berteriak, hanya sanggup mengerang tertahan.
Di atas podium baja yang bersih dari ceceran oli, empat sosok berdiri menyaksikan penderitaannya. Di bawah pijaran sinar bulan merah dalam Festival Gerhana Merah tahun 3088, wajah Althea Quinn terlihat begitu elegan namun dingin. Gaun sutra putihnya sedikit pun tak ternoda oleh jelaga pabrik yang kotor ini.
"Kau hanyalah tikus limbah yang tidak tahu diri, Alden," ucap Althea dengan nada jijik yang begitu kental. "Kau pikir dengan memegang salinan dokumen rahasia formula Aether-Core, kau bisa menawar posisi di keluarga Quinn?"
Alden mencoba mendongak, matanya yang kabur menatap wanita kaya yang sangat dihormatinya itu. Tubuhnya gemetar hebat saat rasa dingin lantai baja meresap hingga ke sumsum. Ia sama sekali tidak pernah mencuri formula tersebut. Seseorang telah menjebaknya, menjadikannya kambing hitam atas kebocoran data internal perusahaan.
Para algojo berbadan tegap kembali mendekat, menggenggam jarum panjang berkilau perak. Itu adalah Aether-needle, senjata penyiksa yang dirancang khusus untuk merusak jalur energi jiwa dan saraf pusat manusia secara permanen.
"Tusuk saraf pusatnya," perintah Althea datar kepada dua eksekutor di sampingnya. "Jangan biarkan dia mati terlalu cepat sebelum formula itu benar-benar terhapus dari ingatannya."
Dua pria bertubuh besar itu langsung menancapkan Aether-needle tepat ke tengkuk dan pinggang Alden. Rasa sakit luar biasa menghantam otak Alden seketika. Tubuhnya berguncang hebat, tetapi racun saraf menahannya untuk bergerak. Penglihatannya meredup perlahan, berubah menjadi rona merah pekat yang menyiksa.
Di sekelilingnya, deru mesin tungku pembuangan limbah Aether-Plasma makin menderu kencang. Suara hembusan angin panas bertekanan tinggi terdengar bagaikan raungan iblis yang siap menelan mangsanya. Pabrik tua di batas kota Aetheria-Vane ini memang kerap dijadikan tempat penghilangan jejak bagi kaum elit Upper-Vane.
"Proses pembersihan dokumen selesai, Nona Althea," ujar salah satu algojo seraya mencabut jarum berdarah itu dari leher Alden.
Althea melangkah mendekat, ujung sepatu hak tingginya menepuk pipi Alden yang berdarah dengan sangat hina. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan di matanya. Yang ada hanyalah pandangan jijik terhadap sesosok manusia yang dianggapnya tak lebih dari sampah kota.
"Dunia ini tidak membutuhkan orang miskin yang tidak tahu tempatnya," berbisik Althea tepat di telinga Alden. "Selamat tinggal, Alden Knox."
Atas isyarat tangan Althea, dua algojo melangkah maju lalu mencengkeram pakaian kotor Alden. Tanpa ragu sedikit pun, mereka melempar tubuh Alden yang sudah hancur itu ke dalam lubang tungku kremasi Aether-Plasma yang menyala membara.
Pintu tungku baja tebal langsung tertutup rapat dengan dentuman keras. Gelombang panas bersuhu ribuan derajat celsius langsung menyambar tubuh Alden yang tak berdaya. Dagingnya mulai terbakar, kulitnya memerah dan melepuh dalam hitungan detik. Udara di dalam paru-parunya habis menguap berganti asap beracun.
'Apakah ini takdirku?' batin Alden di tengah rasa sakit melumpuhkan yang meremukkan kesadarannya. 'Mati sebagai kambing hitam di dalam tungku sampah ini?'
Rasa benci yang luar biasa membakar benaknya melebihi panasnya api plasma. Rasanya ia ingin sekali mengubah takdir ini menjadi takdir yang baik untuknya.
'Jika saja aku memiliki kekuatan, jika saja aku memiliki kekayaan, pastinya aku tidak akan pernah membiarkan para manusia elit itu menginjak-injak harga diriku seperti ini! Kalian tidak bisa membunuhku seperti ini!' batinnya dengan dendam yang membara tajam di detik-detik terakhir hidupnya.
Kesadaran Alden mulai memudar sepenuhnya, detak jantungnya melemah tajam mendekati garis datar. Kematian sudah berada tepat di depan matanya. Namun, di saat sel-sel tubuhnya hampir hancur menjadi abu, sebuah suara mekanis yang dingin dan bergema tiba-tiba terdengar berdering langsung di dalam kesadarannya.
[Peringatan: Vitalitas pengguna berada di level 0.01%.]
[Dendam ekstrem terdeteksi. Jiwa memenuhi syarat mutlak penyerapan energi puncak.]
[Mengaktifkan System of Absolute Domination.]
[Memulai protokol restrukturisasi tubuh menggunakan energi Aether-Plasma.]
Cahaya ungu yang sangat terang tiba-tiba memancar dari dada Alden yang hancur, menahan laju api pembakaran yang hendak menghanguskan organ vitalnya. Rasa sakit yang berkali-kali lipat lebih hebat dari sebelumnya menghantam seluruh kesadaran Alden. Tulang rusuknya yang patah mulai menyatu kembali secara paksa dengan suara gemertak yang mengerikan.
Darah kotor di dalam pembuluh darahnya menguap, digantikan oleh cairan energi murni berawarna emas keunguan. System mulai merekonstruksi susunan genetika Alden dari dasar, mengubah sel-sel rapuh seorang buruh menjadi struktur fisik yang jauh lebih sempurna dan mematikan.
[Proses penyatuan inti energi berhasil.]
[Membuka hadiah pertama: Eye of Valuation dan Unlimited Liquid Wealth.]
[Tingkat kepatuhan target utama: Althea Quinn (0%). Mulai alur penundukan.]
Alden membuka matanya lebar-lebar di dalam gulungan api plasma. Warna matanya yang semula cokelat biasa kini telah berubah menjadi warna ungu menyala yang sangat tajam dan mengerikan. Rasa sakit luar biasa itu tidak lagi membuatnya menjerit, melainkan menempa tekadnya menjadi sekeras baja.
Luka bakar di punggungnya berangsur pulih, meninggalkan pola salur-salur emas yang berkilau di balik kulit barunya. Kekuatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya mengalir deras di setiap sudut pembuluh darahnya. Ia bukan lagi Alden Knox si buruh limbah yang lemah dan mudah dibodohi.
"Apa yang terjadi denganku?" gumamnya lirih kebingungan.
Di luar tungku pembakaran, Althea Quinn dan para pengawalnya sudah berjalan menjauh, menganggap tugas mereka telah selesai secara sempurna. Mereka yakin Alden Knox telah hancur menjadi abu yang tak berbekas di dalam tungku industri tersebut.
Namun, di balik dinding baja tebal bernomor Sektor-9 itu, sesosok penguasa baru telah lahir dari pembakaran hidup-hidup. Alden menggepal jarinya kuat-kuat, meremukkan sisa-sisa jeruji besi di dalam tungku dengan dengan satu sentuhan ringan.
Sistem di dalam kepala Alden terus memancarkan antarmuka biru transparan, menampilkan seluruh data finansial dan rahasia terkelam dari keluarga Quinn secara lengkap. Kekayaan tanpa batas kini berada di dalam genggamannya, siap digunakan kapan saja untuk meruntuhkan kekuasaan para penguasa kota Aetheria-Vane.
"Kalian membakarku sebagai sampah," bisik Alden dengan suara rendah yang dipenuhi aura dominasi mematikan. "Maka aku akan kembali sebagai neraka bagi kalian semua."
"Perjalanan pembalasan dendam ini baru saja dimulai, Althea Quinn."
Daftar bab
79 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








