

Bagas adalah definisi nyata dari "nasib kurang gizi". Di usianya yang baru saja lulus SMA - gelar yang sebenarnya tidak terlalu berguna karena ijazahnya masih ditahan sekolah akibat tunggakan SPP - Bagas sudah mencicipi paket lengkap penderitaan hidup. Orang tuanya berpisah (mungkin karena bosan saling melihat wajah satu sama lain dalam kemiskinan), dan kini ia tinggal sendirian di sebuah gubuk yang kalau angin kencang sedikit, posisinya bergeser dua meter.
Sore itu, perut Bagas sudah memainkan simfoni keroncongan yang cukup merdu untuk masuk ajang pencarian bakat. Karena di lemari makannya hanya ada oksigen dan harapan kosong, ia memutuskan untuk pergi ke sungai ujung kampung.
Sungai itu sebenarnya indah. Airnya jernih, sejernih air mata Bagas saat melihat harga nasi padang. Masalahnya cuma satu: Angker.
"Katanya sih di sini tempat kumpulnya para dedemit yang lagi burnout," gumam Bagas sambil memasang cacing di kailnya.
Warga kampung sering bercerita tentang penampakan tangan tanpa badan yang suka menarik kaki pemancing, atau tawa kuntilanak yang hobi melakukan stand-up comedy di atas pohon beringin. Tapi bagi Bagas, hantu itu urusan nomor dua. Urusan nomor satu adalah lambung yang sudah mulai melakukan demo anarkis.
"Permisi ya, Mbah Kunti, Mas Pocong," ucap Bagas pelan sambil melempar kail ke tengah pusaran air. "Kalau mau nampakin diri, tolong bawain sambal terasi atau kecap sekalian. Soalnya saya cuma punya modal niat sama cacing kurus ini doang."
Ia duduk di atas batu besar, menatap riak air dengan waspada. Antara menunggu pelampungnya tenggelam ditarik ikan, atau pundaknya ditepuk oleh sesuatu yang kuku jarinya belum pernah kenal salon kecantikan. Bagas nekad. Karena baginya, dikejar setan itu menakutkan, tapi mati kelaparan itu memalukan.
Sinar matahari sore itu jatuh tepat di atas permukaan air, menciptakan pendaran cahaya keemasan yang bikin sungai itu tampak seperti lokasi syuting video klip lagu galau. Rumpun bambu di pinggir sungai melambai tertiup angin, suaranya kretek-kretek merdu, kalau saja kamu tidak ingat bahwa itu adalah suara favorit para dedemit untuk muncul.
“Indah sih, tapi kok bau melatinya mulai ngalahin bau badan gue yang belum mandi dari pagi ya?” batin Bagas waspada.
Tiba-tiba, pelampung plastiknya menari-nari. Jleb! Tenggelam. Dengan sigap, Bagas menyentak jorannya. Seekor ikan nila sebesar telapak tangan mendarat dengan sukses di rerumputan.
"YES! Akhirnya, perut, kita makan malam pakai protein, bukan cuma harapan!" Bagas bersorak kecil. Semangatnya membara. Dia merasa hari ini adalah hari keberuntungannya. Dia pun melemparkan kail untuk kedua kalinya.
Namun, baru beberapa menit, senar pancingnya mendadak kencang. Tidak ada tarikan khas ikan, melainkan beban mati yang sangat berat.
"Waduh, nyangkut di akar pohon atau di daster siapa nih?" umpatnya. Bagas mencoba menarik pelan, tapi kailnya tetap bergeming.
Panik mulai menyerang. Pancingan itu adalah harta karun satu-satunya, lebih berharga daripada kenangan bareng mantan. Kalau putus, besok dia harus kembali makan nasi garam. Dengan berat hati dan doa yang bercampur aduk antara doanya dan lagu Laskar Pelangi, Bagas melepas baju dan nyebur ke air yang sedingin es itu.
“Aduh, kalau tiba-tiba ada tangan pucat megang kaki aku gimana? Tenang, Gas. Setan di sini pasti gengsi mau gangguin orang yang rupiahnya dikit. Kita ini sesama makhluk astral yang nggak kelihatan di mata bank,” pikirnya sambil menahan napas dan menyelam.
Di dalam air yang jernih itu, Bagas melihat pemandangan yang aneh. Kailnya tidak menyangkut di akar. Kail itu tersangkut pada sebuah benda logam di dasar sungai. Di sana, di antara bebatuan berlumut, ada sebuah cahaya keemasan yang membentuk lingkaran sempurna. Cahayanya lembut tapi terang, seolah-olah ada lampu disko yang sengaja ditaruh di sana oleh jin yang lagi pesta.
Bagas kehabisan napas. Dia melesat ke permukaan, menghirup udara sebanyak-banyaknya sampai paru-parunya penuh.
"Gila... itu tadi apaan?" gumamnya, matanya melotot. "Koin emas peninggalan kerajaan? Atau jangan-jangan itu portal ke dunia lain yang kalau aku masuk, aku bakal jadi raja dan nggak perlu mikirin SPP lagi?"
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Bau melati dan suara bambu tadi jadi tidak relevan lagi dibandingkan lingkaran cahaya itu. Bagas mengambil napas dalam-dalam, lalu kembali menyelam, menembus dinginnya air demi melihat apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kilau emas tersebut.
Bagas kembali menyelam. Kali ini dia tidak memedulikan ikan nila yang mungkin sedang menertawakan kebodohannya di dalam ember. Matanya terpaku pada cahaya itu. Semakin dekat, bentuknya semakin jelas: sebuah gelang logam tebal, berwarna emas kusam dengan ukiran kuno yang terlihat sangat mahal - atau sangat terkutuk.
“Oke, Gas. Kalau ini emas asli, besok kamu nggak cuma makan nasi padang pakai rendang, kamu beli sekalian sama gerobaknya!” batin Bagas penuh ambisi.
Tangannya menjulur, jemarinya hampir menyentuh permukaan logam dingin itu. Namun, tepat saat ujung jarinya bersentuhan dengan lingkaran cahaya, fenomena aneh terjadi. Gelang itu tidak diam menunggu diambil. Seolah memiliki nyawa dan radar pencari inang, benda itu melesat secepat kilat.
Wush!
Dalam sekejap mata, gelang itu sudah berpindah dari dasar sungai dan melingkar di lengan kanan Bagas.
“Eh, buset! Ini gelang apa asuransi pinjol? Kok langsung main klaim aja?!”
Bagas kaget setengah mati. Dia segera mengayunkan kakinya, berniat melesat ke permukaan untuk menghirup oksigen yang sudah menipis di paru-parunya. Namun, kejutan belum berakhir. Rasa sakit yang luar biasa mendadak meledak di lengannya. Gelang yang lebarnya hampir sepuluh sentimeter itu mendadak mengerut, mencengkeram kulit dan otot lengannya dengan kekuatan yang tidak masuk akal.
"Hmmph?!" Bagas mencoba berteriak, tapi yang keluar hanyalah gelembung udara berharga.
Rasanya seperti lengannya sedang dipelintir oleh tangan raksasa tak kasat mata. Sakitnya menjalar sampai ke tulang, panas membara seolah gelang itu baru saja keluar dari kawah candradimuka.
“Aduh, aduh! Sakit banget! Tolong, Mbah Kunti, Mas Pocong, siapa aja deh! Aku tarik ucapanku tadi, aku nggak butuh harta karun kalau lengan aku harus putus begini! Aku belum nikah, lengan ini masih berguna buat banyak hal!”
Pandangan Bagas mulai mengabur. Oksigen di paru-parunya sudah habis, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Cahaya keemasan dari gelang itu semakin terang, menyilaukan matanya di dalam air. Tubuhnya terasa berat, ditarik oleh rasa sakit yang melumpuhkan koordinasi geraknya.
Bagas terus berjuang, tangannya yang kiri berusaha menarik gelang itu sekuat tenaga, tapi benda itu seolah sudah menyatu dengan dagingnya. Permukaan air hanya tinggal dua meter lagi, namun rasanya sejauh jarak Jakarta ke Pluto.
“Ya Tuhan... masa aku mati di sini? Gara-gara gelang emas sasetan? Malu-maluin banget headline beritanya nanti: 'Seorang Pemuda Tewas Tenggelam karena Rebutan Perhiasan Sama Penunggu Sungai'.”
Kesadaran Bagas mulai tipis. Di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti pandangannya.
***
Bagas terbangun dengan paru-paru yang terasa seperti baru saja dicuci pakai detergen murah. Dia terbatuk hebat, memuntahkan air sungai yang jernih tapi rasanya sedikit amis itu ke atas pasir. Matanya berair, dadanya naik-turun memburu oksigen.
"Uhuk! Uhuk! Hampir saja... hampir saja aku jadi tumbal permanen di sini," rintihnya sambil memegangi lehernya yang perih.
Ingatan terakhirnya adalah rasa sakit yang menghimpit lengan dan cahaya emas yang menyilaukan. Dengan panik, Bagas segera memeriksa lengan kanannya. Dia mencari benda logam lebar yang tadi nyaris mematahkan tulangnya.
Namun, lengannya kosong.
Hanya ada bekas kemerahan samar, tapi tidak ada gelang emas sepuluh sentimeter, tidak ada logam kuno, tidak ada apa-apa. Bagas mengucek matanya berulang kali, bahkan sampai mencubit kulit lengannya sendiri.
“Lah? Mana itu barang? Apa tadi aku halusinasi gara-gara kelamaan nahan napas ya? Atau jangan-jangan itu gelang versi trial, kalau mau yang permanen harus bayar pake nyawa?” pikirnya heran.
Dia merasa sedikit kecewa. Padahal dalam bayangannya, dia sudah siap menjual gelang itu dan pensiun jadi orang miskin. Tapi melihat lengannya yang bersih, Bagas hanya bisa menghela napas pasrah. Mungkin itu memang hanya taktik halus dari penghuni sungai untuk mengusirnya.
Dia bangkit dengan kaki gemetar, lalu menoleh ke arah seberang sungai. Di sana, di atas batu tempatnya semula duduk, joran pancingnya masih tergeletak manis. Ikan nila hasil tangkapan pertamanya juga masih menggelepar di dalam ember kecil.
"Sialan. Niat hati cari harta, yang ada malah hampir mati. Tapi itu pancingan sama ikan nggak boleh ditinggal. Mubazir," gumamnya.
Bagas pun terpaksa nyebur lagi. Kali ini dia tidak menyelam, melainkan berenang cepat menyeberangi bagian sungai yang mengalir tenang dengan mata yang waspada ke arah dasar air.
“Tenang, Gas. Setannya mungkin lagi istirahat habis narik lengan kamu tadi. Jangan nengok bawah, jangan nengok belakang. Anggap aja kamu lagi jalan di pasar selasa, meskipun pasar-nya banyak hantu dasteran,” batinnya berusaha menghibur diri sendiri.
Setelah berhasil mengambil pancingan dan ikannya, Bagas tidak menunggu lama lagi. Dia segera mengenakan kaos oblongnya yang sudah robek di bagian ketiak, menyambar sandalnya, dan melangkah seribu menjauhi sungai itu.
Baginya, urusan dengan sungai angker ini sudah selesai. Dia ingin segera sampai di gubugnya, membakar ikan nila itu, dan tidur. Namun, dia tidak menyadari satu hal. Di bawah permukaan kulit lengan kanannya, tepat di tempat gelang itu tadi mencengkeramnya, muncul guratan tipis berwarna emas yang berdenyut pelan mengikuti detak jantungnya.
Bagas belum tahu, bahwa gelang itu tidak hilang. Benda itu hanya sedang "mengendap" di dalam darahnya, menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.