Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pewaris Jantung Serigala Bintang

Pewaris Jantung Serigala Bintang

Rahmat_Ry | Bersambung
Jumlah kata
63.2K
Popular
148
Subscribe
63
Novel / Pewaris Jantung Serigala Bintang
Pewaris Jantung Serigala Bintang

Pewaris Jantung Serigala Bintang

Rahmat_Ry| Bersambung
Jumlah Kata
63.2K
Popular
148
Subscribe
63
Sinopsis
18+FantasiIsekaiHaremSihirReinkarnasi
Dikhianati hingga tewas, Siron bangkit sebagai Vardans, pewaris Kerajaan Darion yang terkutuk dan mustahil memiliki penerus. Di tengah intrik istana dan tekanan dewan, Raja menempatkan empat wanita di sisinya, masing-masing membawa sihir, ambisi, dan niat tersembunyi. Mereka tidak sekadar melindungi. Mereka menguji batas, mengguncang kesetiaan, dan perlahan menggerogoti mahkota dari dalam.Ketika Vardans membangkitkan Kristal Jantung Serigala Bintang, dunia merespons. Kutukan melemah, sihir bangkit, dan hasrat berbahaya menyelimuti hubungan mereka. Racun, rayuan, dan konspirasi berjalin di antara ranjang dan ruang takhta. Untuk bertahan, Vardans harus memilih siapa yang ia percaya, sebelum ambisi mereka menguburnya untuk kedua kalinya.
Bab 1: Di Balik Tirai Putih

Siron sudah terbiasa dengan bau darah dan antiseptik yang menyatu di ruang operasi. Baginya, aroma itu bukan sesuatu yang menggelikan, melainkan sebagai penanda tanggung jawabnya. Ia berdiri di sisi kiri meja operasi, mengenakan setelan khusus berwarna hijau dan steril, wajahnya tertutup oleh masker, hanya terlihat sepasang mata yang tenang. Sebagai seorang asisten dokter bedah di salah satu rumah sakit ternama di ibu kota, Siron dikenal cekatan, fokus, dan sulit dipengaruhi emosi. Ia bukan sosok yang banyak bicara, tetapi setiap instruksi darinya selalu tepat sasaran.

Di belakangnya, berdiri seorang dokter profesional yang menghadap ke arah pasien yang sudah terbaring pingsan untuk di operasi. Beliau mengulurkan tangannya ke Siron dengan tatapan fokus pada luka pasien yang sudah terbuka.

“Retraktor,” ucap dokter bedah itu dengan suara yang tertahan maskernya.

Siron segera menyerahkan alat itu, tangannya stabil tanpa getaran. Monitor di samping meja menunjukkan denyut jantung pasien yang masih konsisten.

Operasi malam itu adalah prosedur berat, bagian dari program kerja sama medis dengan investor besar yang baru beberapa bulan terakhir berjalan. Program itu menjanjikan peralatan canggih, dana riset yang melimpah, dan nama besar bagi rumah sakit. Namun sejak awal, Siron merasakan ada sesuatu yang tidak beres di balik proyek ini.

Ia sempat membaca sekilas dokumen medis proyek tersebut. Metode, target pasien, dan alur pendanaan terasa terlalu agresif dan instan. Beberapa prosedur berada di batas abu-abu etika medis, membuatnya semakin samar dan tidak jelas. Sebagai seorang tenaga medis, Siron tidak menyukai area abu-abu yang akan mengotori area yang bersih.

Baginya, hidup manusia bukan untuk bahan kompromi yang merugikan.

Operasi selesai menjelang dini hari. Pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Siron melepas sarung tangannya, mencuci tangan lebih lama dari biasanya menggunakan sabun antiseptik yang terletak di sudut wastafel, lalu keluar dari ruang operasi. Lorong rumah sakit sudah sepi dan kosong, hanya terdengar suara langkah kaki perawat jaga malam dan dengungan mesin pendingin.

Ia melangkah menuju lantai administrasi. Lampu masih menyala di beberapa ruangan yang penuh oleh beberapa kursi dan meja kerja. Dari balik kaca buram, Siron melihat sosok yang sangat dikenalnya, yaitu Gena.

Gena adalah kekasih Siron. Mereka telah menjalin hubungan selama hampir dua tahun, berawal dari pertemuan singkat di rumah sakit yang sama. Gena bekerja di bagian administrasi, menangani arsip keuangan, kontrak investor, dan laporan proyek. Ia cerdas, rapi, dan tahu bagaimana berbicara dengan orang-orang penting. Di mata banyak orang, Gena adalah pasangan ideal bagi Siron.

Siron mengetuk pintu dari luar, lalu ketika pintu sudah terbuka, Gena mendongak dan tersenyum saat melihatnya masuk.

“Kamu belum selesai juga sayang…?” tanya Gena sambil menutup map di hadapannya.

“Ada Operasi tambahan tadi, dan aku harus berada disana untuk menemani Dokter Hendra” jawab Siron, yang langkahnya berhenti di sudut meja dengan tangannya menyentuh bagian ujung meja yang tumpul.

“Apa mungkin ini proyek investor lagi?.”

Lanjut Siron menatap ke tangan Gena yang seperti menyembunyikan map dokumen itu.

Gena mengangguk pelan, sedikit senyuman yang dipaksakan.

“Proyek itu memang menyita banyak waktuku. Tapi hasilnya akan sangat besar, sayang.” meletakkan dokumen itu ke samping kirinya.

Siron tidak langsung duduk. Matanya melirik beberapa berkas lain di meja Gena. Logo investor asing tercetak jelas di sana.

“Kamu yang menangani semua ini?” Siron menatap acak ke bagian beberapa dokumen lain itu yang terletak di meja seberangnya.

“Sebagian besar,” jawab Gena ringan. “Kenapa?”

“Tidak ada,” kata Siron. “Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan sesuai prosedur.”

Gena tersenyum lagi, senyum yang terlihat wajar, tenang, dan meyakinkan. “Rumah sakit ini tidak akan main-main dengan hukum, Sayang.”

Jawaban itu terdengar logis. Siron mengangguk, meski perasaan ganjil di dadanya belum hilang.

" Aku tahu, semua orang juga tahu itu Gena. Tapi aku ingin kamu tetap selalu berhati-hati dalam menangani Proyek ini"

Nadanya sedikit khawatir, bukan karena khawatir tentang sesuatu yang merugikan Gena, melainkan kekhawatiran terhadapnya yang mungkin menjadi pelaku utama.

Siron memutar tubuhnya ke arah pintu, lalu berkata.

"Aku pulang duluan ya, ini sudah terlalu larut, kamu juga harus segera kembali, jangan dipaksakan". Kakinya melangkah keluar pintu. Gena hanya mengangguk kepalanya dari arah belakang Siron.

Ia pamit, meninggalkan Gena kembali pada pekerjaannya.

Di luar rumah sakit, udara malam terasa dingin. Siron masuk ke mobilnya, namun tidak langsung menyalakan mesin. Pikirannya kembali pada proyek kerja sama itu. Investor besar, dana besar, dan tekanan besar. Ia tahu, dalam dunia medis modern, kepentingan bisnis sering berjalan beriringan dengan layanan kesehatan. Namun tetap ada batas yang tidak boleh dilewati.

Keesokan harinya, Siron menghadiri rapat internal medis. Beberapa dokter senior membahas perkembangan proyek investor. Presentasi ditampilkan di layar besar, penuh grafik dan angka yang menjanjikan. Siron duduk diam, mendengarkan, sesekali mencatat hal-hal penting.

“Dengan dukungan dana ini, kita bisa mempercepat banyak prosedur,” ujar salah satu manajer proyek.

“Dan meningkatkan reputasi rumah sakit,” sambung yang lainnya.

Siron mengangkat tangannya, mengajukan sebuah pertanyaan bersifat kecurigaan.

“Bagaimana dengan seleksi pasiennya?”

Ruangan menjadi sedikit sunyi.

Manajer proyek tersenyum dengan cara yang diplomatis.

“Sesuai standar yang telah disepakati semua pihak”

Jawaban itu tidak menjawab pertanyaannya. Siron tidak melanjutkan, memilih menyimpan keraguannya sendiri.

Sore harinya, ia menerima pesan singkat dari Gena, menanyakan jam pulangnya. Nada pesan itu tetap sama seperti biasanya, penuh perhatian. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Namun Siron tidak tahu bahwa di balik ketenangan itu, Gena telah lama menjalin hubungan lain dengan Marin.

Marin adalah seorang pemilik sebuah Bar malam di kawasan pinggiran kota. Secara resmi, ia hanya pengusaha hiburan.

Namun di balik pintu bar yang remang, Marin dikenal sebagai perantara berbagai transaksi keuangan gelap. Ia pandai membangun jaringan, termasuk dengan pihak-pihak yang ingin mencuci dana atau menyamarkan aliran uang ilegal.

Gena mengenal Marin bukan sebagai kekasih Siron, melainkan sebagai bagian dari pekerjaannya. Awalnya hanya perantara investor lokal. Namun hubungan itu berkembang, melampaui urusan profesional. Marin menawarkan solusi cepat, koneksi luas, dan keuntungan pribadi yang sulit ditolak.

Gena, yang setiap hari bergelut dengan angka dan kekuasaan, perlahan terjerat.

Kerja sama proyek medis besar itu tidak sepenuhnya bersih. Ada dana yang dialihkan, laporan yang dimanipulasi, dan prosedur yang sengaja dipercepat. Gena mengetahui semuanya. Marin adalah salah satu penghubung utama aliran dana tersebut.

Ironisnya, Siron berada tepat di tengah pusaran itu, tanpa menyadarinya sepenuhnya.

Malam itu, Siron dan Gena makan bersama di apartemen Siron.

Percakapan berjalan normal. Tentang pekerjaan, tentang lelah, tentang rencana akhir pekan. Siron menatap wajah Gena yang tenang, cantik, dan terlihat tulus. Ia tidak tahu bahwa senyum itu menyimpan rahasia yang suatu hari akan menghancurkan segalanya.

"Aku akan pulang, tadi aku lupa mengangkat jemuran pakaian ku di balkon" Gena berdiri setelah sedikit makan dan mengobrol dengannya.

" Aku akan mengantarmu". Ucap Siron yang ikut berdiri.

"Tidak perlu Sayang… aku membawa mobilku. Kamu istirahat saja, besok masih banyak kerjaan kan?". Balas Gena mengambil tasnya yang ditaruh di atas meja makan, mengeluarkan kunci mobilnya.

"Baiklah, kalau begitu hati-hati ya, Gena, jangan terburu-buru." Siron mendekati Gena dengan menyodorkan wajahnya diam dengan senyuman yang manis.

Dan Gena membalasnya dengan mengecup kening dan kedua pipi Siron dengan lembut.

Akhirnya Gena pergi melangkah keluar rumah Siron. Menekan tombol yang ada di remot kunci mobilnya. Dia masuk kedalam mobil, lampu menyala dengan cahaya merah di kedua sisi samping.

Suara mesin yang tenggelam dan mulai menghilang di tikungan jalan yang gelap.

Siron masih terpaku di ambang pintu, memikirkan kekhawatiran yang dalam, tentang proyek itu dan keterkaitannya dengan Gena.

Lanjut membaca
Lanjut membaca