Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Klenting Mungil Pemikat Wanita

Klenting Mungil Pemikat Wanita

Little Fox | Bersambung
Jumlah kata
21.0K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / Klenting Mungil Pemikat Wanita
Klenting Mungil Pemikat Wanita

Klenting Mungil Pemikat Wanita

Little Fox| Bersambung
Jumlah Kata
21.0K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSpiritualZero To HeroMisteri
apa jadinya jika seorang yang selalu gagal dalam menjalin hubungan, tiba-tiba menjadi pusat perhatian para wanita sejak memiliki sebuah kendil kecil bernama klenting mungil? bagaimana kisahnya? yuk ikutin.
Kata Putus

Musik akustik berirama lambat mengambang di udara, menyatu dengan aroma kopi dan roti panggang yang menghangatkan cafe kecil bernama “Cinta Kedua”. Lampu gantung bertangkai kayu menerangi ruangan dengan cahaya keemasan yang lembut, sementara pelanggan lain sibuk dengan percakapan rendah atau buku di tangan mereka.

Billy menjentikkan jari di atas meja kayu yang sedikit kusam, matanya mengikuti gerakan tetesan embun di gelas jus jeruk yang sudah mulai hangat. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin dari kipas berdiri di pojok, tapi dia tidak peduli. Setiap beberapa detik, pandangannya melesat ke arah pintu kaca – menunggu sosok perempuan dengan rambut panjang yang selalu mengenakan gelang warna biru di tangan kirinya.

Satu jam sudah lewat. Dua jam.

Gelas jus sudah separuh kosong, tapi pintu tetap saja hanya masuk keluar orang asing. Dia menghela napas panjang, udara keluar dari mulutnya membentuk sedikit kabut di udara yang agak dingin. Jempolnya menggosok-gosok tepi meja berulang kali, membuat suara gesekan yang pelan.

Tiba-tiba, nada dering ponsel yang dia ciptakan sendiri – nada kunci gitar yang lembut – membangunkan dia dari pelukan keputusasaan. Dia meraih ponsel dengan cepat, mata membesar saat melihat nama “Ra ❤️” muncul di layar. Senyum lebar melintas di wajahnya, mengangkat sudut bibir yang sebelumnya menurun.

“Hallo, Ra! Kamu dimana sekarang? Aku sudah duduk di sudut kanan, seperti yang kita janjian kemarin kan?” Suaranya penuh semangat, bahkan sedikit terdengar terlalu keras di cafe yang tenang. Dia menutup mulut dengan telapak tangan sebentar, minta maaf dengan senyum pada pelayan yang melihatnya.

Di seberang saluran, hanya terdengar hembusan napas panjang yang berat. Lalu suara Rara terdengar, lemah dan gemetar sedikit: “Billy… maafkan aku. Sebaiknya… kita akhiri saja hubungan kita ini.”

Senyum di wajah Billy langsung menghilang, digantikan oleh wajah yang membeku. Jari-jari yang memegang ponsel menjadi kaku, kuku menusuk sedikit ke dalam kulit telapak tangannya. Dia membuka mulut seolah ingin berkata apa-apa, tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya bisikan pelan yang terdengar: “Apa maksudmu, Ra?”

“Aku mau kita putus.”

Sebelum Billy bisa merespons, suara klik terdengar jelas, diikuti oleh nada bip yang menunjukkan panggilan sudah terputus. Dia menekan tombol telpon kembali dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi saat ini…” Suara mekanis operator membuat hatinya terasa seperti tertusuk duri kecil-kecil. Dia mencoba lagi. Dan lagi. Sampai sepuluh kali klik, tapi hasilnya sama saja.

Tangan kanannya mengepal erat, membuat tulang jari terlihat jelas di bawah kulit. Dia menatap gelas jus yang sekarang sudah hangat total, bibirnya menggigil.

“Kenapa? Kenapa selalu seperti ini?” ucapnya pelan, tapi cukup keras untuk terdengar di sekitar meja. “Kenapa aku tidak pernah bisa mempertahankan cinta?”

Ini sudah yang kesekian kalinya dalam tiga tahun terakhir. Hubungan dengan Rara baru saja berjalan seminggu – bahkan belum sempat mereka makan malam bersama untuk yang kedua kalinya.

Dia sudah hampir tiga puluh tahun, tapi setiap kali ada wanita yang dia sayangi, selalu ada sesuatu yang membuat mereka pergi. Entah karena alasan sepele, atau tanpa alasan sama sekali. Seolah ada tirai tak terlihat yang selalu memisahkan dia dari kebahagiaan yang dia inginkan.

Saat dia sedang menunduk, melihat bayangan wajahnya yang pucat di permukaan jus jeruk, sebuah tangan kecil menepuk bahunya dengan lembut. Wangi parfum lavender yang akrab menyebar di sekitarnya. Dia mengangkat kepala, melihat wajah Zara, sahabatnya sejak SMP, dengan alis yang terkepal dan mata penuh kesedihan.

“Hei, kenapa lo kayak gitu?” Zara menarik kursi di sebelahnya, duduk dengan lembut sambil menepuk tempat di sebelahnya. “Muka kamu kayak orang yang baru kehilangan uang juta-an lho.” Dia mencoba bercanda dengan suara rendah, tapi ekspresinya menunjukkan dia sudah tahu ada yang salah.

Billy menunduk lagi, menyaksikan jari-jarinya bermain dengan gelang karet hitam di pergelangan tangannya. Suaranya terdengar seperti bisikan, “Aku gagal lagi, Ra.”

Zara mengerutkan kening, sedikit mengangkat alisnya, “Gagal apa? Kamu baru bilang kemarin kamu mau ajak dia jalan ke taman kota bukan?”

“Aku baru saja putus dengan Rara,” katanya dengan suara yang semakin lemah, pandangannya tetap terpaku pada gelas jus yang kini terlihat sangat membosankan baginya.

Zara terdiam sejenak, bibirnya sedikit terbuka. Dia menggeser kursinya lebih dekat ke Billy, tangan kanannya mengulurkan pelan ke arah bahunya tapi kemudian menariknya kembali – tidak tahu apakah sentuhan akan membantu atau justru membuatnya lebih sedih.

Lalu dia mendekatkan kursinya lebih jauh, mengambil gelas jus jeruk yang hampir kosong di depan teman laki-laki itu. Dia memutar gelas perlahan dengan jari jemari yang kecil, mata melihat langsung ke dalam mata Billy yang penuh dengan kesedihan.

“Ly… aku tahu kamu sudah berusaha sekuat tenaga untuk setiap hubungan yang kamu jalani.” Suaranya lembut, seperti menyusun kata demi kata dengan hati-hati.

Dia menepuk bahu Billy pelan-pelan, gerakan penuh perhatian. “Tapi mungkin saja, apa yang kamu dapatkan sekarang bukan yang terbaik untukmu. Kadang alam semesta punya cara sendiri untuk memberikan hal yang lebih baik daripada yang kita harapkan.”

Billy menarik napas dalam-dalam, dadanya mengembang lalu menyusut perlahan. Tangan kanannya mengepal erat, membuat ujung jari menjadi sedikit kebiruan. Dia menoleh ke arah jendela, melihat hujan mulai menetes perlahan di kaca, membentuk jalur air yang menyilang pandangannya.

“Ra, kamu tahu kan? Ini sudah yang kesekian kalinya! Setiap kali aku merasa ada yang benar-benar cocok, selalu saja berakhir dengan kata PUTUS.” Dia mengangkat tangan, menunjuk-nunjuk ke arah langit-langit cafe yang penuh dengan dekorasi bunga palsu. “Sepertinya ada kutukan atau apa, aku memang ditakdirkan untuk sendirian selamanya.”

Zara meraih tangan Billy yang masih mengepal, menekannya dengan lembut. Matanya merah menyipit, seolah sedang menahan air mata.

“Jangan berkata begitu. Takdir bukan sesuatu yang bisa kita tebak begitu saja.” Dia mengulurkan jari untuk menyisir rambut Billy yang berantakan dari dahinya.

“Mungkin saja jodohmu sedang dalam perjalanan, hanya saja dia butuh waktu lebih lama untuk sampai padamu. Kamu harus sabar, ya?”

Billy mengangkat bahu dengan nada menyerah. Dia meraih sebuah kotak kecil berwarna coklat tua yang terletak di bawah kursinya, permukaannya diberi hiasan renda putih dan pita merah muda yang rapi. Dia memberikan kotaknya ke tangan Zara, mata tidak berani melihat wajah sahabatnya.

“Sudahlah. Aku mau pulang saja," kata Billy pelan saat dia berdiri, tubuhnya terlihat lebih bungkuk dari biasanya.

Dia berjalan menuju pintu tanpa melihat ke belakang, meninggalkan Zara yang masih terdiam dengan kotak di tangannya. Zara menyentuh permukaan kotak dengan jari telunjuknya, merasakan tekstur kertas yang halus.

Sudah bertahun-tahun mereka berteman sejak bangku SMP, dia tahu setiap ekspresi, setiap cara Billy berbicara, bahkan tahu bahwa kotak itu pasti berisi coklat kacang yang dia buat sendiri untuk Rara. Hatinya terasa sesak melihat sahabatnya begitu terpuruk.

Lanjut membaca
Lanjut membaca