Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
KARENA NAFSU

KARENA NAFSU

nengalfiani | Bersambung
Jumlah kata
89.1K
Popular
2.7K
Subscribe
452
Novel / KARENA NAFSU
KARENA NAFSU

KARENA NAFSU

nengalfiani| Bersambung
Jumlah Kata
89.1K
Popular
2.7K
Subscribe
452
Sinopsis
18+PerkotaanAksiKonglomerat
Zona 21+ harap bijak dalam membaca! Joe berusaha menyeimbangkan tubuhnya, mengatur langkahnya agar dia tidak tersandung kakinya sendiri saat bejalan menuju toilet. Joe benar-benar kalut setelah memergoki calon istrinya tidur dengan pria lain. Padahal bulan depan, Joe dan tunangannya akan menikah, tapi malah orang lain yang lebih dulu menikmati malam pertama mereka. Karena mabuk, Joe hendak ke toilet malah salah masuk ke sebuah ruangan kecil dimana ada seorang wanita tengah duduk sendirian di sana. Wanita berseragam office girl itu sontak kaget dan berusaha untuk pergi dari sana. Tapi sayangnya dia terlambat, hingga hal buruk terjadi padanya.
Salah masuk kamar.

"DIAM!" perintah Jeo yang langsung membekap mulut wanita yang sudah dia peluk dari belakang. Wanita bertubuh kecil dan mungil itu hanya bisa menangis saat telapak tangan Joe yang besar menutup mulutnya, memaksanya untuk diam.

"Siapa namamu, hah?" tanya Joe sambil memeriksa nama yang tertulis di seragam wanita itu.

"NAYARA... nama yang cantik, secantik orangnya." puji Joe sambil mengangkat dagu Nayara. Joe tidak bohong karena Nayara benar-benar cantik.

Nayara memiliki mata bulat yang indah, bulu mata yang lentik, juga bibir tipis berwarna merah ditambah Nayara juga harum. Aroma tubuh Nayara manis seperti buah melon, buah kesukaan Joe. Hingga membuat Joe semakin terangsang saat menciumnya.

"Tuan.. Saya, mohon."

"Kenapa terus memohon?" Joe bertanya sambil terus menciumi tengkuk Nayara yang wangi.

"Tuan!" Nayara berusaha berontak, tapi tidak bisa. Nayara hanya terus berusaha memalingkan wajahnya dari Joe yang terus berusaha meraih bibirnya.

"Berhenti memanggilku, Tuan!" suara Joe terdengar berat akibat dorongan nafsu yang memuncak.

"Namaku, Joe. Joe Artur Johnston. Nama yang bagus, bukan?" Joe tersenyum getir setelah bertanya. Jika tadi Nayara yang memalingkan wajah, sekarang Joe yang langsung memalingkan wajahnya saat menyadari Nayara melihat senyuman itu, senyuman penuh kesakitan dan kepahitan di dirinya. Tapi Nayara tidak tahu apa yang membuat pria yang terlihat kokoh itu begitu rapuh.

"Tolong lepaskan, Saya." Nayara terus memohon dengan suara gemetar dan pipi yang sudah basah oleh air mata. Tapi Joe seolah tidak perduli karena dia malah memeluk Nayara semakin erat.

"Kenapa? Kenapa semua orang ingin lepas dariku? Apa aku, sememuakkan itu?" tanya Joe getir.

Pertanyaan Joe membuat Nayara mendongak untuk menatap Joe, bahkan tanpa sadar mata Nayara menelusuri setiap inci tubuh Joe.

Joe memiliki tubuh yang atletis, wajah yang tampan, rahang yang tegas dan juga tatapan mata yang tajam dan jangan lupakan tonjolan urat tangannya yang terlihat jelas saat Joe memeluknya.

"Tu... Tuan. Saya mohon, tolong lepaskan Saya." pinta Nayara lagi.

Bukannya melepaskan pelukannya pada Nayara, Joe malah memeluk Nayara lebih erat sampai Nayara kesulitan untuk bernafas.

"Sssuuttt...Diam, Nay! Diam!" pinta Joe. Joe masih memeluk Nayara, meletakan dagunya di pundak Nayara.

"Nyaman, rasanya begitu Nyaman. Apa karena ini, orang-oreng suka dipeluk?" tanya Joe.

Nayara semakin tidak mengerti dengan tingkah Joe. Tapi saat ada kesempatan, Nayara langsung menginjak kaki Joe dengan keras hingga Joe memekik kesakitan dan tanpa sadar melepaskan pelukannya pada Nayara.

Merasa mendapatkan kesempatan, Nayara berusaha untuk keluar dari ruangan itu. Tapi sebelum tangannya menyentuh knop pintu, rambut Nayara sudah dijambak oleh Joe, hingga tubuh Nayara tertarik ke belakang.

"Mau pergi kemana, sayang?" tanya Joe.

Nayara mencengkram tangan Joe, berusaha untuk melepaskan pegangan Joe pada rambutnya. Tapi tangannya yang berotot dan tenaganya yang kuat bukanlah tandingan Nayara, karena setelah itu Nayara malah jatuh duduk dilantai.

"Jangan... Tuan, saya mohon." Nayara bergerak mundur mencoba menjauh dari Joe saat pria itu terus melangkah maju.

Biasanya Joe selalu merasa iba saat melihat wanita menangis dihadapannya. Tapi kali ini hati Joe benar-benar sudah tertutup oleh amarah. Hingga Joe terus melangkah mendekati Nayara.

Sambil melangkah maju, Joe membuka jasnya melemparkannya kesembarang arah, kemudian Joe melepaskan simpul dasinya dengan kasar menggunakan sebelah tangannya.

"Tuannn... Saya mohon. Jangan sakiti Saya." Nayara melipatkan kedua tangannya memohon pada Joe agar Joe mau membiarkannya pergi. Tapi permohonan Nayara malah membuat gairah Joe semakin membara.

Setelah melepaskan Jas dan dasinya, Joe mulai membuka satu demi satu kancing kemeja yang dia kenakan, membuat tato di tangan dan tengkuknya terlihat oleh Nayara.

Sekarang Joe sudah sangat dekat dengan Nayara. Wanita cantik itu duduk di lantai, sedangkan Joe berdiri di hadapannya, menatapnya tajam seperti seekor Srigala yang sedang menatap mangsanya.

Tangan Joe yang panjang meraih knop pintu, kemudian menutupnya lalu menguncinya dari dalam.

"Aku akan membayarmu setelah ini, Aku janji." ucap Joe sebelum berjongkok didepan Nayara.

"TIDAK!" Nayara berteriak sekuat mungkin berharap ada orang yang mendengar suaranya. Tapi suara dentuman musik mengalahkan suaranya.

Sekencang apapun Nayara berteriak minta tolong tidak ada satu orang pun yang mendengarnya, sekuat apapun Nayara berusaha lepas dari Joe. Nayara tetap tidak bisa, hingga akhirnya wanita itu hanya bisa menangis meratapi nasib buruk yang menimpanya.

"Sial! Kenapa sulit sekali? Jangan bilang ini yang pertama kalinya untukmu, Nayara." ucap Joe sambil menyeka keringatnya sambil terus berusaha menyatukan diri mereka.

Joe benar-benar berubah menjadi iblis dimalam itu, karena Joe sama sekali tidak perduli dengan rintihan, tangisan bahkan permohonan Nayara. Hingga Nayara tidak sandarkan diri disusul oleh Joe yang jatuh tumbang disebelah Nayara.

Beberapa jam kemudian.

"Sial! Kenapa kepalaku sakit sekali?" tanya Joe setelah bangun dari tidurnya.

Untuk sesaat Joe terdiam, karena sekarang Joe sudah berada di rumahnya, dikamarnya yang luas dan diatas tempat tidurnya yang empuk. Padahal seingat Joe, semalam dia berada di bar.

Joe menyingkirkan selimutnya sambil perlahan turun dari tempat tidurnya sebelah tangannya mengambil kemejanya yang berada di lantai.

Tanpa pergi ke kamar mandi lebih dulu, Joe langsung turun ke lantai bawah, di mana ruangan makan berada.

"Selamat pagi, Sayang." sapa Selena Ibu Joe.

Sena tersenyum manis pada Joe. Tapi Joe tidak perduli, karena Joe langsung duduk di kursinya.

"Ambilkan aku obat penghilang nyeri." pinta Joe pada salah atau pelayannya yang langsung dengan sigap membawakan obat yang Sang Tuan minta.

"Ibu sudah bilang padamu untuk tidak mabuk lagi, tapi kenapa kau malah mabuk?" tanya Selena berusaha ramah pada putranya. Tapi lagi-lagi Joe tidak perduli.

"Bukannya hari ini kau ada rapat?" tanya Artur Ayah Joe yang sedang sibuk membaca berkas sebelum menandatanganinya.

"Ya, satu jam lagi Aku ada rapat dengan investor penting." jawab Joe melihat jam tangannya.

"Seharusnya kau bisa lebih dewasa lagi, Joe. Kau bukan anak kecil yang harus pulang diantar sopir taksi karena mabuk." ucap Artur.

Ternyata bukan hanya ucapan Selena yang tidak Joe dengar. Tapi juga ucapan Ayahnya sendiri.

"Joe! Apa kau dengar apa kata Ayah?" Artur sedikit membentak Joe. Karena Joe malah terlihat santai mengupas teluar rebus di depannya.

"Apa Ayah pernah mendengar ucapanku?" tanya Joe yang malah terdengar seperti tantangan oleh Artur.

Artur sudah berdiri didepan Joe dengan sebelah tangannya terangkat bersiap untuk memukul putra satu-satunya itu.

"Pukul saja! Kau pikir, aku akan diam? Aku bukan anak kecil lagi yang hanya bisa diam saat kau menyiksaku," tantang Joe.

Mendengar ucapan Joe, Artur perlahan menurunkan tangannya. Karena Artur tidak ingin ada keributan di rumah mereka, terlebih di pagi hari.

"Aku hanya mabuk, lagipula aku masih bisa bekerja meskipun semalam aku berpesta. Kalian tenang saja, aku tidak akan membuat kalian rugi." sarkas Joe.

"Joe!" panggil Selena penuh penekanan, mengingatkan Joe agar bicara lebih sopan pada Ayahnya.

"Aku bicara apa adanya. Aku tahu yang kalian khawatirkan bukan kondisi ku, tapi kalian takut apakah aku bisa mendapatkan proyek besar ini atau tidak, benar bukan?" kali ini Joe bicara sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya dengan wajah Ayahnya.

"JOE!" suara Selena semakin meninggi saat memanggil putranya. Karena Joe benar-benar sudah sangat keterlaluan.

"Oke! Aku akan mandi sekarang, karena sebentar lagi Joe Artur Jhonson ini harus membawa keuntungan yang besar untuk perusahaan kalian." ucap Joe meledek sambil berdiri dan berjalan ke arah tangga untuk kembali ke kamarnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca