

Malam itu, Jakarta diguyur hujan badai yang seolah ingin mencuci dosa-dosa yang tersembunyi di balik gemerlap lampu kota. Arjuna Pratama, pria yang dikenal sebagai "Tangan Dewa" di bursa saham, berdiri di depan pintu kamar utama penthouse mewahnya. Di tangannya, sebuah kotak beludru merah berisi kalung berlian senilai milyaran rupiah berkilau redup.
Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Lima tahun yang Arjuna pikir adalah surga, lima tahun di mana ia memberikan segalanya—harta, waktu, dan hatinya—kepada Sonia Anindita.
Namun, keheningan rumah malam itu terasa ganjil. Tidak ada sambutan hangat, tidak ada aroma makan malam romantis. Hanya ada suara tawa kecil yang merambat dari balik pintu megah yang sedikit terbuka. Suara yang sangat Arjuna kenali, namun dalam nada yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Nada penuh gairah yang bukan ditujukan untuknya.
Dengan jantung yang berdegup kencang hingga terasa menyakitkan, Arjuna mendorong pintu itu.
Pemandangan di depannya menghancurkan seluruh dunianya seketika. Di atas ranjang sutra yang ia beli dengan kerja kerasnya, istrinya, Sonia, sedang berada dalam dekapan pria lain. Dan pria itu bukan orang asing. Dia adalah Reno Iskandar, sahabat karib Arjuna sejak masa kuliah, orang yang hidupnya ditanggung sepenuhnya oleh Arjuna, dari cicilan rumah hingga posisi mentereng di perusahaannya.
"Sonia... Reno..." suara Arjuna tercekat, kotak perhiasan di tangannya jatuh ke lantai dengan bunyinya yang memecahkan keheningan.
Sonia menoleh, namun tidak ada raut terkejut atau ketakutan di wajah cantiknya. Ia justru menghela napas panjang, seolah-olah kehadiran Arjuna hanyalah interupsi kecil yang membosankan. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya dengan santai, sementara Reno duduk di tepi ranjang sambil menyalakan cerutu mahal milik Arjuna.
"Kau pulang lebih cepat dari jadwal, Juna," ucap Reno dingin, mengembuskan asap cerutu ke udara. "Padahal aku berharap bisa menyelesaikannya sebelum kau datang."
"Apa... apa maksud semua ini?! Reno, kau sahabatku! Sonia, aku suamimu!" Arjuna berteriak, air mata kemarahan mulai mengalir.
Sonia tertawa, suara tawa yang terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca. Memekakan telinga. "Suami? Arjuna, lihat dirimu. Kau hanya mesin pencetak uang bagiku. Kau pikir aku benar-benar mencintaimu? Kau terlalu membosankan, terlalu sibuk dengan grafik-grafik sahammu yang tidak berguna itu, dengan obrolan soal analisa-analisamu yang membuat aku ngantuk mendengarnya."
"Aku melakukan semuanya untukmu! Untuk masa depan kita!"
"Masa depanmu sudah berakhir, Juna," potong Reno sambil tersenyum sinis. Ia melemparkan seikat dokumen ke arah Arjuna. "Terima kasih atas tanda tanganmu di dokumen pelimpahan aset minggu lalu. Kau pikir itu berkas audit internal? Tidak, itu adalah surat pemalsuan kuasa mutlak. Sekarang, seluruh sahammu di Iscariot Holdings, penthouse ini, hingga rekening pribadimu, sudah berpindah tangan ke namaku dan Sonia."
Arjuna terbelalak. Ia teringat saat itu Reno memberinya tumpukan berkas saat ia sedang sangat lelah setelah penutupan pasar saham yang kacau. Ia percaya pada Reno. Ia menandatanganinya tanpa curiga sedikit pun.
"Kalian... kalian iblis!" Arjuna menerjang ke depan, namun Reno lebih cepat. Ponsel di tangannya langsung terhubung ke seseorang saat tombolnya ditekan. Seketika Reno memberikan arahan.
Dalam hitungan detik, tiga orang pria berbadan besar dengan pakaian hitam legam merangsek masuk ke dalam kamar. Mereka adalah preman bayaran yang sengaja disiapkan. Tanpa peringatan, sebuah hantaman keras mendarat di perut Arjuna, membuatnya tersungkur dan memuntahkan cairan pahit.
"Bawa dia ke gudang tua di pinggiran pelabuhan," perintah Reno tanpa perasaan. "Aku tidak ingin darah sialannya mengotori karpet mahal ini."
-------
Gudang itu berbau busuk, campuran antara amis laut dan karat besi. Arjuna diseret seperti karung beras, tangannya terikat rantai kasar yang menguliti pergelangan tangannya. Tubuhnya sudah hancur; tulang rusuknya kemungkinan patah setelah dipukuli habis-habisan di dalam van.
Reno dan Sonia berdiri di depannya, menatapnya seolah ia adalah sampah yang menunggu dibuang. Hujan masih menderu di luar, bocor melalui celah-celah atap seng, menetes ke wajah Arjuna yang bengkak.
"Kenapa, Reno? Aku kuliahkan kau, aku beri kau posisi CEO di anak perusahaanku, aku bayar semua hutang judi keluargamu!" rintih Arjuna, darah menyumbat tenggorokannya.
Reno berlutut, menjambak rambut Arjuna dengan kasar. "Itulah masalahnya, Juna! Kau terlalu baik, dan itu membuatku muak! Setiap kali aku melihatmu, aku diingatkan bahwa aku hanyalah parasit yang hidup dari belas kasihanmu. Aku membencimu karena kau memiliki segalanya. Sekarang, aku yang akan memiliki semuanya, dan kau... kau akan mati sebagai pecundang."
Sonia melangkah maju, sepatu hak tingginya berbunyi klak-klak di lantai beton. Ia menatap Arjuna dengan tatapan jijik. "Jangan salahkan kami, Juna. Salahkan kenaifanmu. Kau spekulan handal di pasar modal, tapi kau buta di kehidupan nyata."
"Habisi dia," ucap Sonia singkat pada para preman itu sebelum ia berbalik pergi bersama Reno.
Penyiksaan yang sebenarnya dimulai. Pipa besi menghantam kaki Arjuna, suara tulang yang patah terdengar renyah di dalam gudang yang sepi. Arjuna meraung, namun suaranya diredam oleh deru badai. Setiap pukulan membawa rasa sakit yang menjalar hingga ke saraf pusatnya. Pandangannya mulai mengabur, dipenuhi warna merah darahnya sendiri.
Hanya berjarak beberapa jam setelah kesadarannya menurun, kini ia diseret ke tepi jurang. Suara jangkrik malam itu seolah ingin menghibur Arjuna yang kini berlumuran darah, berlutut di hadapan Sonia dan Reno, dua orang yang sebelumnya selalu ia jadikan sandaran dan tempat pulang.
Tanpa aba-aba, Reno mengeluarkan senjata dari saku celananya. Dan dengan satu tarikan, peluru itu mendarat di jantungnya. Tubuh Arjuna terhempas ke belakang, sementara dari saku celananya terlempar sebuah koin perak dengan ukiran klasik. Koin yang ia beli di sebuah acara lelang barang antik dan selalu ia bawa ke mana pun ia pergi, baginya, koin ini adalah jimat keberuntungan.
Dalam kondisi nyawa di ujung tenggorokan,
tidak terasa darah segar dari luka di tubuhnya mengalir deras, jatuh tepat di atas permukaan koin kuno tersebut.
Tiba-tiba, suhu di sekitarnya turun drastis hingga ke titik beku. Waktu seolah melambat. Arjuna merasakan koin di sampingnya menghangat sampai-sampai mengalirkan kehangatan ke tubuhnya. Cahaya perak yang redup mulai memancar dari koin itu, menyerap darah Arjuna seolah-olah benda itu haus akan nyawanya.
‘Apakah kau ingin mengulang semuanya?’
Sebuah suara tanpa wujud berbisik langsung ke dalam jiwanya, memecah kebisingan rasa sakitnya.
‘Harta harus dibayar dengan harta. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Gunakan koin ini untuk membeli waktu yang telah hilang...’
Arjuna tidak bisa berbicara, namun seluruh jiwanya berteriak: Iya! Aku ingin mereka menderita! Aku ingin mereka merasakan neraka yang sepuluh kali lipat lebih menyakitkan dari ini!
Cahaya perak itu mendadak meledak, menjadi sangat terang hingga menelan seluruh kegelapan gudang. Rasa sakit yang luar biasa hebat menghilang, digantikan oleh sensasi jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar.
Suara tawa Reno dan langkah kaki Sonia memudar. Suasana gudang yang pengap menghilang. Dunia Arjuna menjadi putih bersih, sebelum akhirnya semua menjadi gelap total.
Lalu, sebuah tarikan gravitasi yang kasar menghantamnya.
"Hah... Hah...!"
Arjuna tersentak bangun. Paru-parunya mendadak menghirup udara dengan rakus, seolah-olah ia baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam selama berjam-jam. Ia mencoba berteriak, namun yang keluar dari tenggorokannya hanyalah suara serak yang kering. Seluruh tubuhnya berkeringat dingin, membasahi kaos oblong tipis yang ia kenakan.
"Di mana... ini?" bisiknya lirih.