

Di sekolahan, Rehan duduk sendiri di kelas. Teman-temannya sudah pulang ke rumah. Dia merenung sambil menatap jam dinding yang tepat menunjukkan pukul 3. Jam itu sudah lama tergantung di sana, warnanya kusam, jarumnya kadang bunyi kadang tidak. Rehan merasa jam itu menatap balik ke arahnya, walaupun itu cuma perasaannya saja.
Badannya capek seharian belajar sampai-sampai pikirannya penuh. Kepalanya pusing, matanya perih, dan perutnya keroncongan dari siang tadi. Hingga dia mempunyai pikiran bahwa dunia ini sangatlah tidak adil. Kenapa harus dia yang mikirin hal-hal berat seperti ini, sementara anak-anak lain bisa pulang, main, dan tertawa tanpa mikir apa-apa.
Saat sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba Rehan kepikiran kata gurunya, “Besok biaya sekolah harus lunas.” Kata-kata itu muter-muter di kepalanya, seperti suara yang diputar ulang dan gak bisa dimatiin. Dalam hati dia berkata, “Uang dari mana? Orang tuaku aja buat cari makan susah, sedangkan aku juga gak punya pekerjaan.” Tangannya mengepal tanpa sadar. “Kalau besok tidak lunas, apa aku dikeluarkan? Aku takut kalau ibuku sedih dengar hal itu.”
Rehan menunduk. Lantai kelas terlihat dingin dan kotor. Ada bekas sepatu, ada coretan kecil yang entah siapa yang bikin. Coretan itu gak jelas, cuma garis-garis acak, tapi Rehan tiba-tiba kepikiran kalau hidupnya juga kayak coretan itu. Gak rapi. Gak jelas. Waktu terus berlalu hingga pukul 4. Tapi anehnya, saat Rehan melihat jam lagi, jarumnya masih di angka yang sama. Rehan mengerjap beberapa kali. “Rusak kali,” pikirnya.
Suasana kelas makin sunyi. Detak jam makin terdengar, tik… tok… tik… tok… Padahal tadi Rehan merasa jam itu jarang bunyi. Sekarang malah seakan sengaja berisik. Ketika Rehan menatap kursi-kursi yang kosong, ia merasa sendirian. Benar-benar sendirian. Seolah-olah dunia cuma tersisa dia dan ruangan itu, dan jam.
Hatinya pengen segera pulang, tapi Rehan bingung mau bilang apa ke ibunya nanti. Dia takut ibunya tanya macam-macam. Takut ibunya pura-pura kuat padahal sebenarnya sedih. Rehan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Napasnya terasa berat.
Di rumah, ibunya Rehan mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. Jam dinding di rumah sudah menunjukkan sore. “Rehan ke mana ya, sampai sore kok belum pulang-pulang?” gumamnya. Tangannya gemetar saat merapikan meja yang sebenarnya sudah rapi. “Apa terjadi sesuatu?” Ia duduk sebentar, lalu berdiri lagi. “Ah, mungkin dia lagi belajar kelompok.” Tapi perasaan itu tidak mau pergi. Ibunya sangat khawatir karena Rehan belum pulang tanpa alasan yang jelas.
Sementara itu, Rehan masih duduk di kelas. Rasanya waktu berhenti, tapi pikirannya jalan terus, gak mau berhenti. Karena Rehan sudah lama duduk di kelas, ia kepikiran ibu pasti khawatir menunggunya. Perasaan bersalah pelan-pelan datang, nempel di dada. Rehan dengan sangat terpaksa berdiri dari tempat duduk.
Saat kakinya melangkah satu langkah, tiba-tiba angin masuk dari jendela. Kertas-kertas bekas di lantai bergerak sendiri, berputar pelan. Lalu ada suara bisikan yang entah dari mana sumbernya.
“Berhenti.”
Rehan langsung berhenti. Jantungnya berdetak kencang. Tangannya dingin. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat sekeliling ruangan yang kosong. Bangku-bangku diam, papan tulis kosong, pintu tertutup. Rehan merinding. Angin dari jendela berhembusan lebih kencang dari tadi, padahal jendelanya cuma kebuka sedikit.
“Siapa itu?” teriak Rehan, suaranya gemetar dan agak pecah.
Tidak ada jawaban. Tapi jam dinding tiba-tiba berbunyi lebih keras. Tik… tok… tik… tok… Bunyi itu seperti langkah kaki yang pelan tapi mendekat. Rehan berjalan pelan ke arah pintu. Saat ia menoleh ke jam dinding, ia merasa jarum jam itu bergerak mundur sedikit. Hanya sedikit, tapi cukup membuat dadanya sesak, kayak ada yang ditekan dari dalam.
Rehan membuka pintu. Lorong sekolah kosong. Lampu sebagian mati. Tidak ada siapa pun. Sekolah itu terasa berbeda, lebih panjang, lebih gelap, dan lebih sunyi dari biasanya. Langkah kakinya terdengar terlalu jelas.
“Aneh,” gumam Rehan.
Ia menutup pintu lagi dan bersandar sebentar. “Ah, mungkin cuma perasaanku aja. Aku kecapekan,” katanya ke diri sendiri, tapi suaranya gak yakin. Rehan mengusap wajahnya. “Aku pulang aja, buat istirahat.”
Saat ia melangkah lagi, suara itu muncul lagi. Kali ini lebih dekat, lebih berat.
“Kalau kamu keluar sekarang, waktumu habis.”
Rehan terdiam. “Waktu apa?” tanyanya pelan, tanpa sadar suaranya hampir hilang.
Jam dinding tiba-tiba berhenti berbunyi. Semua jadi hening. Bahkan angin pun berhenti. Rehan menoleh. Jam itu sekarang menunjukkan pukul 3 tepat. Padahal tadi sudah pukul 4. Dadanya makin sesak.
“Waktumu untuk memilih,” suara itu terdengar lagi, tapi kali ini seperti datang dari dalam kepala Rehan sendiri, bukan dari ruangan.
Rehan menutup telinga, tapi suara itu tetap ada. Kepalanya pusing. Ia teringat ibunya. Terbayang wajah ibunya yang cemas, yang menunggu di depan pintu. “Aku cuma mau pulang,” katanya lirih.
Jam dinding berbunyi keras sekali. Tik… TOK… Tik… TOK… Jarumnya berputar cepat. Dinding kelas bergetar sedikit. Rehan ketakutan. Air matanya keluar tanpa dia sadari.
“Tolong…” katanya, hampir gak bersuara.
Tiba-tiba semuanya berhenti. Jam kembali diam. Kelas kembali seperti biasa. Rehan terengah-engah, keringat dingin membasahi punggungnya. Tidak ada suara. Tidak ada angin. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Rehan tidak mau berpikir lagi. Ia berlari keluar kelas, menyusuri lorong, menuruni tangga, dan keluar dari gerbang sekolah. Ia berlari sekuat yang ia bisa, seolah-olah sesuatu mengejarnya dari belakang, walaupun ia tidak tahu apa.
Akhirnya Rehan sampai di depan rumahnya sambil napas terengah-engah. Dadanya naik turun. Kakinya gemetar. Ibunya yang sudah menunggunya di depan pintu langsung berdiri dan berlari kecil ke arahnya.
“Rehan!” panggil ibunya.
Ibunya memeluk Rehan erat. Tangannya hangat. Pelukan itu nyata. Rehan merasa sedikit tenang, walaupun kepalanya masih penuh. Sambil mata berkaca-kaca, ibunya berkata, “Kamu dari mana saja, Nak?”
Rehan diam sebentar. Ia ingin cerita, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Semua kejadian itu terasa aneh kalau diucapkan. “Gak ke mana-mana, Bu,” katanya akhirnya. “Cuma di sekolah.”
Ibunya mengelus kepala Rehan. “Lain kali bilang ya kalau pulang telat.”
Rehan mengangguk pelan.
Malam itu rumah terasa lebih sempit dari biasanya. Rehan duduk di lantai kamar, punggungnya menempel ke dinding. Lampu sengaja dimatikan, cuma cahaya dari ruang tengah yang masuk sedikit lewat celah pintu. Jam dinding masih terdengar. Tik… tok… pelan tapi jelas. Seperti sengaja mengingatkan.
Rehan menutup mata. Dia coba menghitung napas. Satu… dua… tiga… tapi selalu berhenti di angka tiga. Dadanya sesak lagi. “Kenapa aku,” gumamnya. “Kenapa bukan orang lain aja.”
Jam berdetak sedikit lebih keras. Rehan membuka mata cepat. Tidak ada apa-apa. Tapi perasaan itu ada. Seperti ada yang berdiri di belakangnya, tapi saat ditoleh kosong. Rehan berdiri, berjalan ke arah jam. Tangannya hampir menyentuh, tapi berhenti di udara. Takut. Bukan takut rusak, tapi takut kalau jam itu beneran hidup.
“Kalau aku rusak jamnya, selesai gak semua ini?” katanya pelan, setengah bercanda, setengah putus asa.
Jam itu berhenti berdetak. Sunyi.
“Kamu gak bisa kabur,” suara itu muncul lagi, pelan tapi jelas.
Rehan tertawa kecil, aneh. “Aku juga gak tahu mau kabur ke mana,” katanya. Suaranya bergetar. “Aku cuma mau besok lewat.”
Jam kembali berdetak. Pukul 3 lewat sedikit. Selalu itu. Rehan terduduk lagi. Kepalanya penuh bayangan. Sekolah. Gurunya. Ibunya. Jam. Kelas kosong. Lorong panjang. Semua campur jadi satu, gak jelas mana mimpi mana nyata.
Di luar, motor lewat. Suara dunia nyata. Rehan sedikit lega. “Aku masih di sini,” katanya pada dirinya sendiri. “Belum hilang.”
Tapi jauh di dalam hatinya, ada rasa aneh. Seperti besok bukan cuma soal uang sekolah. Seperti ada sesuatu yang menunggu di jam tiga berikutnya. Entah apa. Entah di mana.
Rehan memejamkan mata. Kali ini dia tidak berdoa. Tidak berharap. Dia cuma capek.
Dan jam terus berdetak.