
Kang Vila Tampan
Langit Berawan|Bersambung
- Jumlah kata
- 109.1K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 328
- Jumlah kata
- 109.1K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 328
Sinopsis
Maman Suherman (25), seorang terapis pijat profesional yang baru saja kehilangan pekerjaannya di panti pijat kelas atas Jakarta karena efisiensi karyawan. Dengan pesangon yang hanya 3,5 juta rupiah dan tabungan yang menipis, Maman terpaksa menerima tawaran Om Darma untuk menjaga sebuah vila di Puncak. Awalnya, Maman hanya ingin mencari tempat untuk "healing" sambil menunggu panggilan kerja, apalagi hanya digaji 2 juta per bulan. Rupanya villa itu sangat sepi, mungkin karena villa lama, dan harga sewa villanya pun murah mulai 1,5 juta weekday. Sang pemilik Villa bernama Burhan minta Maman mempromosikan villanya di medsos. Akhirnya, wajah Kang Maman yang oriental, sering disebut mirip oppa-oppa Korea, menjadi daya tarik luar biasa saat ia mulai mempromosikan vila itu di media sosial. Strategi marketing "Pijat Gratis" yang ia tawarkan pun berubah menjadi bisnis terselubung yang jauh lebih menguntungkan daripada gajinya sebagai penjaga vila. Namun, upaya Kang Maman untuk meramaikan vilanya mulai mendapat tentangan dari warga.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1. Akhir dari Seragam Putih
Aroma minyak esensial lavender dan musik instrumental kecapi bambu yang biasanya menenangkan, hari ini terdengar seperti lagu pemakaman di telinga Maman Suherman.
Pemuda berusia 25 tahun itu menatap selembar kertas di tangannya dengan pandangan kosong. Di bagian atas kertas, tertulis dengan huruf tebal yang kaku: SURAT PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA.
"Maafkan kami, Man. Kamu terapis terbaik kami selama lima tahun ini. Tapi manajemen memutuskan untuk mengurangi tiga puluh persen karyawan demi efisiensi," ucapan sang manajer spa mewah di kawasan Jakarta Selatan tadi pagi masih terngiang-ngiang.
Maman melepas seragam putih bersihnya, melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam loker untuk terakhir kali. Di cermin loker, wajah orientalnya terpantul.
Kulitnya bersih karena selalu berada di ruangan ber-AC, dengan mata sipit dan rahang tegas yang sering kali membuat pelanggan wanita salah fokus dan mengiranya sebagai model atau oppa-oppa Korea yang tersesat menjadi tukang pijat.
Maman menghela napas berat. Ibu jarinya mengusap sudut loker yang agak berdebu. Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Di tempat inilah ia belajar mengenali setiap titik saraf manusia, meredakan stres para bos besar, hingga menghafal aroma minyak terapi termahal.
Sekarang, semua itu menguap begitu saja dalam selembar kertas fotokopi berstempel basah.
Ia menutup pintu besi loker dengan dentangan keras yang menggema di ruangan kosong itu. Langkah kakinya terasa berat saat melewati koridor lobi luar yang dilapisi karpet tebal bergaya Eropa.
Beberapa resepsionis menatapnya dengan tatapan kasihan, tetapi Maman memilih menunduk, mengencangkan pegangan pada tali tas ranselnya yang terasa kempis.
Maman berjalan gontai menuju ATM di seberang jalan. Terik matahari Jakarta Selatan langsung menyengat kulit lehernya, kontras dengan hawa dingin spa tempatnya bekerja selama ini. Ia mengusap peluh di dahi dengan punggung tangan sebelum mendorong pintu kaca boks ATM yang pengap.
Begitu kartu plastik biru itu dimasukkan dan angka di layar muncul setelah bunyi klik yang lambat, jantungnya serasa copot.
Saldo Anda: Rp 3.500.000
Maman menepuk dahi, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding mesin ATM yang dingin. "Tiga juta setengah," gumamnya lirih. Suaranya serak.
Itu adalah uang pesangon sekaligus sisa seluruh tabungannya. Di Jakarta, uang segitu hanya cukup untuk menyambung nyawa satu bulan, itu pun jika ia hanya makan mi instan dua kali sehari, menahan diri tidak nongkrong, dan menghemat air kontrakan sampai batas paling ekstrem.
Maman keluar dari boks ATM sambil meremas resi kecil di tangannya, lalu membuangnya ke tong sampah terdekat. Ia mencoba mencari pelarian. Sambil berjalan menyusuri trotoar yang penuh dengan lubang, ia mengambil ponsel dari saku celana jinsnya. Jempolnya dengan cepat mencari nama 'Tari' di daftar kontak, lalu menekan tombol telepon.
Nada sambung berbunyi. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tetap tidak diangkat hingga terputus otomatis.
Maman menggeram pelan. Ia menghentikan langkah di bawah pohon peneduh yang daunnya meranggas, lalu mengetik pesan WhatsApp dengan cepat.
“Yang, aku baru aja di-PHK. Kamu ada waktu keluar bentar? Aku stres banget.”
Satu jam berlalu saat Maman sudah sampai di warung tegal dekat kontrakannya. Jangankan balasan, centang dua di pojok bawah pesan itu pun tidak kunjung berubah menjadi biru.
Maman tersenyum kecut, nyaris tertawa menertawakan nasibnya sendiri. Ia mengaduk-aduk es teh manis di gelas plastik menggunakan sedotan hingga es batunya berdenting-denting.
Sejak seminggu lalu, saat ia mulai sering mengeluh tentang pengurangan sif dan bonus yang dipotong di tempat kerja, Tari memang mendadak menjelma menjadi manusia paling sibuk di muka bumi. Diajak jalan selalu ada alasan, ditelepon selalu sedang 'membantu ibu di dapur'.
Maman menghela napas sambil menatap jalanan yang macet. Ia sadar diri, di kota sekejam Jakarta, cinta tanpa modal finansial akan langsung kedaluwarsa dan membusuk di pinggir jalan.
Seminggu berikutnya berubah menjadi mimpi buruk bagi Maman. Saban pagi, ia duduk di depan laptop pinjaman milik tetangga kontrakan hingga matanya berair dan merah. Ia mengirim puluhan lamaran kerja ke berbagai spa, panti pijat refleksi, hotel berbintang, bahkan sampai ke klinik kesehatan alternatif.
"Maaf, Mas Maman, kami sedang tidak menerima karyawan baru. Malah ini mau kurangi orang," ujar seorang pemilik panti pijat di daerah Kebayoran saat Maman nekat datang langsung membawa map cokelatnya. Pria gemuk itu menolak tanpa bahkan melihat isi bundel CV milik Maman.
"Saya bisa pijat urat, refleksi, sampai totok wajah kelas atas, Pak. Sertifikat saya lengkap," bujuk Maman, mencoba menawarkan keahlian terbaiknya dengan memajukan badannya ke meja.
Pria itu hanya mengibaskan tangan, kembali sibuk dengan kalkulatornya. "Sertifikat tidak bisa dipakai buat bayar sewa ruko saya yang naik, Mas. Maaf ya."
Hasilnya selalu sama: nihil. Persaingan terlalu ketat, dan banyak tempat yang justru gulung tikar karena ekonomi sedang lesu.
Malam itu, di dalam kamar kontrakannya yang pengap berukuran 3x3 meter, Maman telentang menatap langit-langit berjamur. Kaos kutangnya sudah basah kuyup oleh keringat. Kipas angin dinding kecil di sudut ruangan hanya berputar malas, mengeluarkan suara berderit yang mengganggu telinga.
Tit... tit... tit...
Suara token listrik yang mulai berbunyi berkala seolah menjadi musik latar yang mempertegas penderitaannya. Maman mendengus, menutup mukanya dengan bantal yang baunya sudah tidak karuan.
"Apalagi ini, Gusti..." rintihnya dari balik bantal.
Ia bangkit berdiri, berjalan ke arah dapur kecil yang menyatu dengan kamar mandi. Ia membuka kardus mi instan di bawah kompor gas satu tungku. Kosong. Hanya ada remah-remah bumbu yang tersisa. Ia beralih membuka tudung saji plastik di atas meja kecil. Di sana hanya ada satu mangkuk berisi kuah mi instan sisa kemarin siang yang sudah dingin dan mulai mengental.
Perut Maman berkeroncongan keras, seolah memprotes pemiliknya yang tidak becus mencari makan. Ia mengusap perutnya, lalu berjalan ke arah jendela, menatap keluar. Di luar, hujan gerimis mulai turun, membasahi jemuran tetangga yang belum diangkat.
Biaya kontrakan jatuh tempo tiga hari lagi. Pemilik kontrakan, Bu Neneng, adalah tipe wanita yang suaranya bisa terdengar sampai ujung gang kalau ada yang telat bayar sewa setengah hari saja. Maman membayangkan wajah ketus wanita itu sambil bergidik ngeri.
Maman kembali ke kasur tipisnya tanpa sepiring nasi pun di perut. Ia mengambil ponsel, berharap ada keajaiban berupa pesan balasan dari Tari atau barangkali surel panggilan kerja. Layarnya bersih dari notifikasi penting. Yang ada hanya pesan siaran dari operator seluler yang menawarkan paket internet murah.
Ia melempar ponselnya ke samping kasur, lalu kembali menatap langit-langit kamar yang suram. Masa depannya saat ini terlihat sama persis seperti kuah mi instan dingin di atas mejanya: keruh, kaku, dan sama sekali tidak ada selera untuk dinikmati.
Maman memejamkan mata, mencoba tidur demi melupakan rasa lapar yang mulai melilit lambungnya, berharap besok pagi ada keajaiban yang mengetuk pintu kontrakannya.
Daftar bab
100 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
100 bab








