
Hasrat Yanto Kuli
Bagus Effendik|Bersambung
- Jumlah kata
- 147.2K
- Popular
- 5.4K
- Subscribe
- 1.1K
- Jumlah kata
- 147.2K
- Popular
- 5.4K
- Subscribe
- 1.1K
Sinopsis
Yanto hannyalah seorang kuli bangunan miskin dicap tak berguna oleh istrinya sendiri. Hidupnya hancur setelah memergoki Santi berselingkuh dengan Pak Camat. Bahkan dirinya dipukuli dan dihina di depan para wanita cantik yang menjadi teman Santi. Namun malam itu, sebuah keajaiban terjadi. Saat mengaca Yanto melihat sosok lain yang memiliki wajah serupa dengannya di dalam cermin. Lebih tampan, lebih kuat dan jauh lebih kejam. ”Biar aku yang membalaskan semua penghinaan mereka.” Sejak saat itu, Yanto berubah. Dari kuli miskin menjadi pria berotot, berkuasa dan penuh pesona. Para wanita yang dahulu menertawakannya kini justru mulai mendekat. Tetapi Yanto belum puas. Ia akan merebut semuanya dari Pak Camat. Kekayaan, jabatan, kehormatan, bahkan orang-orang yang paling berharga baginya. Dari kuli yang dihina, Yanto akan menjadi pria yang membuat seluruh kecamatan bertekuk lutut!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bayangan di Cermin
Matahari siang terasa begitu terik ketika Yanto mengayuh sepeda ontelnya menuju kantor kecamatan. Keringat membasahi kening dan punggungnya. Sementara kedua tangannya tetap kuat menggenggam setang sepeda yang sudah tua dan penuh karat.
Terlihat di bagian belakang sepeda itu terdapat sebuah rantang makanan yang dibungkus kain. Yanto sengaja membawakan makan siang untuk Santi, istrinya. Karena pagi tadi Santi berangkat kerja tanpa sempat sarapan.
"Semoga dia suka," gumam Yanto sambil tersenyum kecil.
Hari itu Yanto sebenarnya baru saja selesai bekerja sebagai kuli bangunan. Tubuhnya lelah setelah sejak pagi mengangkat pasir, semen dan batu bata. Tetapi rasa lelah itu sedikit hilang karena ia ingin membuat istrinya senang.
Setelah beberapa menit mengayuh, akhirnya Yanto sampai di halaman kantor kecamatan. Ia memarkirkan sepeda ontelnya di dekat pohon. Lalu mengambil rantang makanan dengan hati-hati.
Beberapa pegawai yang sedang berada di depan kantor sempat melirik kepadanya. Yanto hanya tersenyum dan mengangguk sopan sebelum masuk ke dalam gedung.
"Permisi, Mbak. Santi ada?" tanyanya kepada seorang pegawai perempuan.
"Ada di dalam," jawab wanita itu singkat.
Yanto kemudian berjalan menuju ruangan tempat Santi biasanya bekerja. Namun, meja istrinya kosong. Ia mencoba bertanya kepada pegawai lain.
"Mbak Santi ke mana?"
"Katanya ke pantry."
Yanto mengangguk lalu berjalan menuju pantry yang berada di bagian belakang kantor. Langkahnya santai, bahkan senyum masih terlihat di wajahnya. Karena membayangkan Santi akan senang mendapatkan makanan darinya.
Namun ketika sampai di depan pintu pantry, langkah Yanto mendadak berhenti. Pintu itu tidak tertutup rapat. Dari celah pintu, Yanto melihat Santi sedang berdiri sangat dekat dengan seorang pria.
Pria itu adalah Pak Camat. Tangan Pak Camat berada di pinggang Santi, sementara Santi justru tersenyum manja kepadanya.
Bahkan ketika Pak Camat mendekatkan wajahnya, Santi sama sekali tidak menjauh. Rantang yang dibawa Yanto hampir terlepas dari tangannya.
"Santi?"
Suara Yanto membuat kedua orang di dalam pantry tersentak. Santi langsung melepaskan diri dari Pak Camat. Wajahnya berubah pucat sesaat, tetapi hanya beberapa detik kemudian ekspresinya kembali tenang.
"Yanto?"
Yanto menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca, "Apa yang kalian lakukan?"
Tidak ada jawaban. Yanto melangkah masuk sambil meletakkan rantang makanan di atas meja.
"Aku datang jauh-jauh setelah kerja. Aku bahkan belum makan karena ingin mengantarkan ini untukmu."
Santi justru menghela napas panjang, "Yanto, jangan membuat keributan di sini."
"Jangan membuat keributan?" suara Yanto bergetar.
"Aku suamimu, Santi. Aku berhak tahu kenapa kau bersama Pak Camat seperti ini."
Pak Camat maju selangkah, "Jaga bicaramu."
Yanto menatapnya dengan marah, "Pak Camat, saya tidak pernah mengganggu urusan Bapak. Tapi ini istri saya."
Tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi Yanto.
Plak!
Yanto terdiam yang menamparnya adalah Santi, "Kamu sudah keterlaluan!" bentak Santi.
Yanto memegang pipinya sambil menatap istrinya tidak percaya, "Kau menamparku?"
"Iya."
"Karena aku melihatmu bersama pria lain?"
Santi menggeleng dengan wajah dingin, "Aku sudah tidak tahan hidup bersamamu."
Yanto terdiam, "Apa maksudmu?"
"Aku mau cerai," Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan tadi.
"Kita sudah menikah bertahun-tahun, Santi."
"Aku tahu."
"Aku selalu bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu."
"Aku tahu."
"Aku tidak pernah menyakitimu."
Santi menatap Yanto dari atas sampai bawah, "Tapi kau miskin, Yanto. Apa yang bisa kau berikan kepadaku?"
Beberapa pegawai mulai keluar dari ruangan setelah mendengar keributan. Tak lama kemudian, beberapa teman dekat Santi datang. Mereka adalah para pegawai perempuan yang sering menghabiskan waktu bersama Santi.
Bukannya membela Yanto, mereka justru tertawa kecil, "Sudahlah, Santi. Memang lebih cocok dengan Pak Camat."
"Pak Camat punya jabatan, punya uang, dan masa depan jelas."
Salah seorang dari mereka menatap Yanto sambil tersenyum mengejek, "Daripada sama kuli bangunan kurus seperti kamu."
Tawa kecil terdengar. Yanto menundukkan kepala. Santi malah berdiri di samping Pak Camat.
"Kamu seharusnya sadar diri, Yanto."
Pak Camat ikut tersenyum, "Pria sepertimu tidak pantas berdiri di sini dan membuat keributan."
Yanto mengepalkan tangan, "Aku tidak akan membuat keributan kalau kalian tidak mengkhianatiku."
Pak Camat tiba-tiba mendorong dada Yanto, "Keluar!"
Yanto tidak bergerak. Dorongan kedua membuat tubuhnya mundur. Kemudian sebuah tendangan menghantam perutnya.
Bruk!
Yanto terjatuh, beberapa orang berteriak kaget, tetapi tidak ada yang benar-benar menolongnya. Pak Camat yang ternyata memiliki kemampuan bela diri terus maju. Satu pukulan mengenai wajah Yanto, disusul pukulan lain ke bagian tubuhnya.
"Jangan pernah datang lagi ke sini!"
Yanto mencoba melindungi wajahnya, "Pak... cukup..."
Namun sebuah tendangan kembali mengenai tubuhnya. Santi hanya berdiri melihat tanpa ekspresi.
"Sudah, Pak. Biarkan dia pergi."
Yanto bangkit dengan susah payah. Bibirnya terasa perih, pipinya mulai membengkak, dan tubuhnya terasa sakit di berbagai tempat.
Ia mengambil rantang yang tadi dibawanya. Namun kali ini ia tidak memberikannya kepada Santi. Yanto berjalan keluar kantor dengan kepala tertunduk.
Tidak ada satu pun orang yang menghentikannya. Ia mengambil sepeda ontel miliknya, lalu mulai mengayuh pulang.
Setiap kayuhan terasa menyakitkan. Namun rasa sakit di tubuhnya masih kalah dibandingkan luka di hatinya.
Sesampainya di rumah, Yanto meletakkan sepedanya di samping rumah. Ia masuk dengan langkah berat, kemudian berdiri di depan cermin tua yang tergantung di dinding.
Wajahnya babak belur. Mata kirinya sedikit membengkak.
Yanto menyentuh pipinya, "Kenapa hidupku seperti ini?"
Ia menatap bayangannya. Tetapi beberapa detik kemudian, Yanto membeku.
Bayangan di dalam cermin tidak mengikuti gerakannya. Yanto mundur satu langkah. Bayangan itu tetap berdiri.
Kemudian perlahan bayangan tersebut mengangkat wajahnya. Wajahnya sangat mirip dengan Yanto, tetapi jauh lebih tampan. Tatapannya tajam, senyumnya tipis, dan ada sesuatu yang mengerikan di matanya.
"Siapa kau?"
Bayangan itu tersenyum, "Aku adalah dirimu."
"Bukan."
"Benar."
Yanto semakin ketakutan. Bayangan itu mendekat ke permukaan cermin.
"Kau sudah terlalu lama menjadi orang lemah."
"Apa maumu?"
"Balas dendam."
Yanto terdiam bayangan itu kembali tersenyum, "Kita bertukar posisi. Biarkan aku mengendalikan tubuh ini."
"Kenapa aku harus percaya padamu?"
"Karena aku akan melakukan sesuatu yang tidak sanggup kau lakukan."
Bayangan itu mengepalkan tangan, "Aku akan membuat mereka semua menyesal telah menghina kita."
Kepala Yanto tiba-tiba terasa sangat sakit.
"Aaaakh!"
Ia memegangi kepalanya sambil terhuyung. Suara bayangan terdengar semakin jauh.
"Beristirahatlah, Yanto. Serahkan semuanya kepadaku."
Tubuh Yanto akhirnya jatuh ke lantai. Gelap, entah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Ketika membuka mata, rasa sakit yang tadi memenuhi tubuhnya sudah menghilang.
Yanto perlahan bangkit. Ia menyentuh wajahnya. Tidak ada lagi rasa sakit. Ia berlari menuju cermin.
Yanto terdiam wajah yang terlihat di sana bukan lagi wajah seorang kuli bangunan kurus yang penuh memar. Tubuhnya kini jauh lebih besar dan berotot. Bahunya lebar, wajahnya terlihat lebih tegas, rahangnya kuat, dan matanya memiliki sorot yang berbeda.
Yanto menatap dirinya sendiri cukup lama. Kemudian ia tersenyum tipis.
"Jadi ini yang kau berikan kepadaku?"
Bayangan di dalam cermin ikut tersenyum. Yanto mengepalkan tangannya.
Ia teringat tamparan Santi. Ia teringat tendangan Pak Camat. Ia teringat tawa para pegawai perempuan dan semua hinaan yang diterimanya.
Tatapan Yanto berubah dingin, "Mulai sekarang, semuanya akan berubah."
Ia mendekati cermin, "Aku akan membalas mereka."
Senyumnya semakin lebar, "Dan kali ini..."
Yanto mengepalkan tangan, "Tidak akan ada seorang pun yang bisa menginjak-injakku lagi."
Daftar bab
135 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
135 bab








