

Ternyata ucapan orang bahwa ibukota itu kejam memang benar. Bagas menyadarinya sejak kakinya menginjak aspal terminal yang retak.
Panasnya gila-gilaan, sanggup membuat otak mendidih. Dia berdiri dengan tinggi hampir 185 cm, bahunya yang lebar membuat tas keril di punggungnya terlihat kecil.
Di kampung, dia terbiasa memanggul kayu jati; di sini, dia hanya memanggul harapan orang tuanya yang sudah tua.
Wajahnya yang tegas dan rahang yang kaku menarik perhatian beberapa orang, tapi Bagas tidak peduli. Dia hanya butuh satu hal, yaitu tempat berteduh yang murah.
"Nggak ada yang kosong, Mas. Coba ke arah gang itu, tapi hati-hati saja," ucap seorang tukang ojek sambil menunjuk area parkir yang remang di belakang deretan ruko tua.
Bagas mengangguk singkat. "Makasih, Bang."
"Mau saya anter nyari? Gak apa deh, 150 aja."
Mendengar jumlah itu Bagas langsung menggeleng, uang sebanyak itu bisa dia gunakan membeli makan beberapa hari, pikirnya.
"Gak usah, Bang. Makasih, saya gak ada duit."
Tatapan pria itu langsung berubah, seperti sedang mengejek. "Oalah, kere toh," gumamnya.
Meski lirih, Bagas bisa mendengarnya. Mau marah? Untuk apa? Toh, ucapan pria itu memang benar.
Dia segera beranjak dan pergi menuju arah yang ditunjukan oleh pria tadi.
Namun, langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara bentakan dan tarikan napas pendek yang tertahan.
Di balik sebuah sedan hitam, tiga orang pria lokal dengan bau alkohol yang menyengat sedang menyudutkan seorang wanita.
Wanita itu mengenakan gaun merah yang kontras dengan dinding kusam di belakangnya. Dia cantik—tipe wanita kota yang matang dan berkelas—tapi saat itu, wajahnya terlihat kesal.
"Lepas ah, kalian bau banget!"
"Ayo ikut sebentar, Mbak Siska. Udah lama gak dibelai, pasti kedinginan," ejek pria yang paling besar sambil mencengkeram lengan wanita itu keras-keras.
Wanita itu menggeliat kala salah satu dari mereka mencoba memeluknya. "Lepasin gak?! Lepas!"
Darah Bagas mendidih. Dia tidak suka penindasan, apalagi pada wanita. Dia melepas tas kerilnya, menjatuhkannya ke tanah dengan bunyi dentum yang berat, lalu melangkah maju.
"Lepasin tangan kalian dari dia," suara Bagas rendah, berat, dan penuh ancaman.
Ketiga pria itu menoleh. Mereka melihat seorang pemuda tinggi besar dengan kemeja batik lusuh berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh.
"Siapa lu? Jangan sok jagoan, bocah!" Pria yang paling besar melayangkan pukulan liar ke arah wajah Bagas.
Bagas tidak menghindar jauh. Dia hanya menggeser kepalanya sedikit, lalu membalas dengan sebuah tonjokan kanan yang telak ke rahang lawan.
Krak.
Pria itu terjungkal. Dua temannya yang lain maju bersamaan. Salah satunya berhasil mendaratkan pukulan di sudut bibir Bagas. Perih, asin darah langsung terasa di lidah Bagas. Tapi itu justru memicu adrenalinnya.
Bagas menangkap kerah baju lawan keduanya, lalu menghantamkan lututnya ke perut pria itu hingga dia terkapar memegangi ulu hatinya.
Melihat teman-temannya tumbang dengan cepat oleh pemuda 'orang asing' ini, pria ketiga memilih mundur dan menarik teman-temannya pergi sambil mengumpat.
Bagas mengatur napas. Dadanya yang bidang naik-turun, kemeja batiknya kini sobek di bagian bahu karena perkelahian tadi. Dia menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu menoleh pada wanita itu.
"Tante... baik-baik aja?" tanya Bagas singkat.
Matanya yang tajam kini melembut saat menatap wanita bernama Siska itu.
Siska terpaku. Dia melihat sosok pemuda yang luar biasa tampan tapi terlihat 'berbahaya' sekaligus polos di saat yang sama.
Luka di bibir Bagas dan kemejanya yang kotor membuat Siska merasa bersalah sekaligus iba. Pemuda ini baru saja berkelahi demi dirinya tanpa tanya kenapa.
"Kamu...luka," Siska melangkah mendekat. Jari-jarinya yang halus gemetar saat menyentuh lengan Bagas yang kokoh untuk memastikan pemuda itu tidak apa-apa. "Kenapa kamu nekat sekali?"
Bagas hanya mengangkat bahu. "Insting, Tante."
Siska menghela napas panjang, menatap Bagas dari ujung kaki ke ujung kepala. Ada sesuatu pada pria muda ini yang membuatnya merasa aman."Nama kamu siapa?""Saya Bagas, Tante"
"Kita ke klinik gimana? Biar diobati dulu."
Bagas menolak dengan halus, "Terima kasih, Tante. Saya gak apa-apa kok. Lagipula ini udah mulai sore, saya harus buru-buru."
"Buru-buru ke mana?"
"Cari kosan."
"Cari kosan?" Siska bertanya sambil merogoh kunci mobil dari tasnya. "Ikut saya. Di rumah saya ada kamar kosong di lantai atas. Saya nggak mungkin membiarkan pahlawan saya tidur di emperan dengan luka seperti itu."
Bagas sempat ragu, tapi melihat ketulusan di mata Siska—dan rasa lelah yang menghujam sendi-sendinya—dia akhirnya mengangguk.
Pinggul Siska yang lebar berayun dengan ritme mematikan. Gaun merah itu seolah hampir robek karena harus menampung lekuk tubuh Siska yang sangat padat.
Jakun Bagas naik turun. Darahnya yang baru saja panas karena berkelahi, kini berpindah fokus ke bawah. Bagian di balik celana jinsnya mulai terasa sesak.
***
Rumah itu terlihat modern, minimalis, dan jelas mahal. Aksen batu alam dan kaca-kaca lebar mendominasi fasadnya. Jauh berbeda dengan rumah kayu milik orang tuanya di kampung yang atapnya sering bocor saat musim hujan.
"Turun, Gas. Jangan bengong aja," suara Siska memecah lamunan Bagas.Bagas turun, memanggul kembali tas kerilnya. Saat berjalan di belakang Siska menuju pintu utama, pandangan Bagas sulit untuk tidak turun ke bawah.
Mereka masuk ke ruang tamu. Wangi aromaterapi mahal langsung menyergap indra penciuman Bagas, bercampur dengan aroma parfum Siska yang sudah sejak tadi mengacaukan sarafnya.
"Rumah ini punya empat kamar," Siska berbalik, meletakkan tas tangannya di atas meja marmer. Dia menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menatap Bagas yang masih berdiri kaku. "Kamar utama itu punya saya. Dua lagi untuk anak-anak saya, mereka sebentar lagi pulang dari kampus. Dan ada satu kamar kosong di lantai atas."
Bagas mengangguk, berusaha menjaga matanya tetap setinggi mata Siska, meski bayangan garis leher wanita itu sangat menggoda untuk dilirik. "Kamar itu... berapa sebulannya, Tante?"
Siska terdiam sejenak, tapi matanya tertuju pada otot-otot Bagas yang kokoh. "Saya kasih gratis, soalnya kamu udah nolong saya, Gas."
Bagas tertegun. "Gratis? Tante, saya menolong bukan buat cari tumpangan gratis."
"Saya tahu. Tapi anggap saja saya lagi minta tolong sama kamu," Siska berdiri tegak, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu lengan.
Bagas bisa merasakan hawa hangat yang menguar dari tubuh wanita itu. Aroma parfumnya yang manis dan pekat mulai mengacaukan logika Bagas.
Bagas bisa merasakan hawa hangat dari tubuh wanita itu. "M-minta tolong apa, Tan?"
"Saya lihat kamu cukup kuat. Dan saya butuh pria yang... tangguh di rumah ini, Gas."
Bagas menelan ludah. Dia merasakan tatapan Siska yang lapar, tapi dia berusaha tetap tenang. Dia menatap balik mata Siska dengan tatapan yang dalam.
"Tangguh dalam hal apa maksudnya?" tanya Bagas dengan suara rendah yang sedikit serak. "Saya takut... kekuatan saya malah bikin Tante repot nanti."
Siska tersentak kecil, tidak menyangka anak kampung ini bisa membalas dengan kata-kata seperti itu.
Dia tersenyum menggoda, mendekatkan wajahnya ke dada Bagas. "Repot? Kamu terlalu mandang remeh saya loh, Gas."
"Wah, kayaknya emang Tante gak bisa diremehin ini. Tapi maaf, saya juga lawan yang tangguh."
Bagas sebenarnya hanya asal ucap, agar tidak terus terdesak oleh godaan wanita di hadapannya saat ini.
Siska tertawa kecil, suara yang terdengar sangat provokatif. Dia menyentuh luka di bibir Bagas dengan ibu jarinya. "Saya suka pria yang percaya diri kayak kamu. Ayo ke atas. Saya tunjukkan kamarmu."
"Oke, Tante–"
Siska tersenyum tipis, lalu berbalik menuju tangga. "Ayo, kita naik."
Bagas menarik napas dalam, mencoba menahan gejolak di bawah perutnya yang semakin tidak terkendali.
"Uh… mana tahan," desisnya, saat tiba-tiba saja dia terbayang bisa menyentuh dua bongkah daging yang seolah memang meminta untuk diremas.