
Penjaga Makam yang Dibenci Dunia
RKamila|Bersambung
- Jumlah kata
- 64.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 12
- Jumlah kata
- 64.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 12
Sinopsis
300 tahun yang lalu Aren (28), dituduh mengkhianati kerajaan dan dikutuk menjadi penjaga makam. Saat seorang gadis kerajaan bernama Elara (23), datang untuk menikah dengannya, segel makam mulai retak. Aren terpaksa kembali menghunuskan pedang dan mengungkap kebenaran masa lalunya. Ternyata, pengkhianatan yang membuatnya dibenci hanyalah sebuah kebohongan besar.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1. Pengantin dari Gunung Aruna
Hujan turun sejak sore hari di Gunung Aruna, di antara kabut yang menutupi lereng gunung, ada seorang pria yang sedang berdiri sendirian di depan sebuah makam tua.
Namanya Aren.
Selama tiga ratus tahun, hanya ada dua hal yang menjadi teman hidupnya. Yaitu pedang hitam yang tergantung di pinggang dan ribuan makam yang harus dijaganya.
Aren menancapkan cangkulnya ke tanah.
Duk!
Sebuah batu kecil terlempar, lalu ia mengangkat wajahnya.
Di hadapannya berdiri lebih dari seribu batu nisan yang tersusun rapi di sepanjang lereng, tidak ada satu pun makam yang boleh rusak.
Itulah tugas yang diberikan kepadanya, yaitu menjaga mereka dan memastikan sesuatu yang berada jauh di bawah gunung tidak pernah bangun.
Aren berbalik hendak pergi ketika terdengar suara langkah dari balik kabut, suara langkah kaki yang terdengar bukan hanya satu orang.
Aren mengerutkan keningnya karena selama puluhan tahun ini, tidak ada seorang pun yang berani datang ke tempat ini.
Tangannya perlahan menyentuh gagang pedang, dari balik kabut muncul lima orang berkuda.
Di tengah mereka terdapat sebuah kereta, beberapa saat kemudian ada seorang pria tua yang turun dari kudanya.
“Apakah kamu Aren?” ucapnya.
Aren menatapnya datar. “Siapa yang mengizinkan kalian naik ke gunung?”
Pria tua itu tidak menjawabnya, ia justru mengeluarkan sebuah gulungan dan membukanya.
“Kami membawa perintah dari kerajaan!” kata pria itu.
Aren langsung terdiam. ‘Kerajaan?’
Sudah tiga ratus tahun tidak ada seorang pun yang berani menyebut kata itu di hadapannya.
Kemudian pria tua itu membaca isi suratnya. “Atas nama keluarga kerajaan Arkhaven, kami menyerahkan seorang wanita kepadamu,”
Aren mengernyit dahinya. “Untuk apa?”
Pria tua itu menoleh ke arah kereta. “Untuk menjadi istrimu,”
Suasana mendadak sunyi!
Aren menatap kereta tersebut dengan wajah yang tanpa ekspresi. “Bawa dia kembali,”
“Maaf kami tidak bisa, ini perintah!” ucap pria itu.
“Kalau begitu tinggalkan dia dan segeralah pergi,” ucap Aren.
Pria tua itu tampak ragu untuk sesaat, kemudian pintu kereta terbuka. Seorang wanita muda turun secara perlahan.
Rambut hitam panjangnya basah terkena hujan, ia mengenakan jubah putih yang sangat sederhana, tetapi lambang emas berbentuk burung bersayap tiga terlihat jelas di dadanya.
Aren yang awalnya tidak tertarik tiba-tiba membeku dan tatapannya berubah tajam, sebuah lambang Asteria.
Lambang dari keluarga kerajaan lama, keluarga yang telah dimusnahkan selama tiga ratus tahun yang lalu.
Wanita itu berjalan mendekat dan menunduk untuk memberi hormat. “Aku Elara Asteria,”
Aren menatapnya sangat lama. “Siapa ayahmu?”
Elara tidak langsung menjawabnya. “Kenapa kamu ingin tahu?”
“Jawab!” perintah Aren.
Nada suara Aren tetap tenang, tetapi tekanan aneh tiba-tiba memenuhi udara. Kelima pengawal langsung memegangi senjata mereka.
Elara mengangkat tangannya kepada para pengawal.
“Tidak apa-apa,” lalu Elara menatap Aren. “Ayahku bernama Kael Asteria,”
Seketika mata Aren menyipit, karena nama itu… Dia mengenalnya. Kael Asteria adalah putra mahkota yang seharusnya mati bersama seluruh keluarganya.
‘Tidak mungkin!’ Aren melangkah mendekat.
“Kamu bohong?!”
“Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya! Untuk apa aku berbohong?” ucap Elara.
Aren tidak menjawabnya, tapi ia menatap wajah Elara. Entah mengapa, wajah wanita itu terasa sangat familiar baginya.
Bukan karena kecantikannya, melainkan karena matanya. Tatapan itu mengingatkan Aren pada seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang telah mati selama tiga ratus tahun yang lalu.
Aren segera mengalihkan pandangan. “Pernikahan ini tidak akan terjadi!”
Elara terdiam. “Aku tidak datang ke sini karena menginginkannya,”
“Baguslah,” ucap Aren.
“Aku datang karena keluargaku akan dibunuh jika aku tidak menikah denganmu!” sahut Elara kembali.
Aren menatapnya kembali. “Siapa yang mengancammu?”
Elara menggigit bibirnya lalu menunduk. “Orang-orang yang sekarang menguasai kerajaan,”
Untuk pertama kalinya, Aren menunjukkan sedikit perubahan di wajahnya. “Kerajaan?”
Elara pun mengangguk. “Mereka sedang mencari sesuatu!”
“Apa?” tanya Aren.
Kemudian Elara mengeluarkan sebuah benda berukuran kecil dari balik jubahnya, yaitu sebuah pecahan batu berwarna hitam.
Begitu Aren melihatnya, wajahnya langsung berubah. Karena ia tahu bahwa baru tersebut dari retakan Makam, dan benda itu hanya bisa berasal dari satu tempat yang sama saja.
Yaitu berasal dari makam terdalam dari Gunung Aruna, Aren segera mengambilnya dari tangan Elara. Tiba-tiba saja tanah yang ada di bawah kakinya bergetar dengan pelan.
Grrr!
Suara rendah itu pun terdengar dari dalam gunung, hingga membuat semua orang terdiam..Kemudian kembali terdengar suara retakan.
Krak!
Salah satu dari batu nisan yang ada di belakang Aren tiba-tiba saja langsung pecah, hingga serpihannya berhamburan tak karuan.
Elara sontak mundur karena ketakutan. “A– aapa itu?”
Aren menatap makam yang mulai retak tersebut, wajahnya langsung berubah menjadi dingin. Karena selama tiga ratus tahun ini….tidak pernah ada satu pun makam yang retak sejak ia menjaganya.
Aren segera menghunuskan pedangnya dan bersiap menyerang, pedang hitam itu mengeluarkan suara dengungan yang rendah.
Para pengawal langsung pucat, hingga Aren berjalan menuju ke makam tersebut. Sebelum ia mencapai makam, dia berhenti.
Dari celah tanah terdengar suara seperti sebuah bisikan. “Aren…,”
Matanya langsung membesar, karena suara itu sudah tiga ratus tahun tidak pernah dia dengar.
Suara seseorang yang seharusnya telah mati.
Aren menggenggam pedangnya lebih erat, lalu ia mendengar bisikan kedua.
“Kami sudah menunggumu!”
Gunung Aruna kembali bergetar dan untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun, sebuah makam yang ia jaga akhirnya terbuka.
Pedang berwarna hitam yang berada di pinggang Aren pun tiba-tiba saja ikut bergetar, untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun.
Aren mencabut pedangnya.
Wung!
Seketika aura hitam menyelimuti seluruh tubuhnya, hingga membuat kelima pengawal langsung berlutut tanpa sadar.
Elara menatap Aren dengan sangat ketakutan sekaligus kebingungan. “S– ssiapa sebenarnya dirimu?”
Aren tidak menjawabnya.
Justru tatapan Aren tertuju pada makam yang kini mulai terbuka, kemudian tiba-tiba saja.
Brakk!
Salah satu peti mati yang ada di dalam makam itu terlempar keluar, kabut berwarna hitam pun berhamburan menyembur ke udara.
Para pengawal langsung ketakutan dan berusaha menjaga Elara, tidak pernah mereka lihat kejadian seperti ini sebelumnya.
Aren menggenggam pedangnya lebih erat lagi, bahkan wajahnya yang selama tiga ratus tahun ini tidak pernah menunjukkan emosinya. Kini justru berubah menjadi dingin.
“T– ttidak mungkin…?” gumam Aren kebingungan.
Tiba-tiba saja sebuah tangan pucat muncul dari dalam makam, kemudian di susul dengan suara tawa rendah yang terdengar.
“Tiga ratus tahun, Aren!” bunyi suara itu.
“Akhirnya kamu kembali,”
Aren menatap makam itu dengan sangat lama dan untuk pertama kalinya setelah tiga abad, dia menyadari satu hal yang paling dia takutkan.
Yaitu makam-makam itu tidak lagi menunggu untuk dijaga, melainkan mereka sedang menunggu waktunya untuk bangkit.
Daftar bab
63 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








