Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SALAKA DOMAS : PERANG DI BALIK LANGIT

SALAKA DOMAS : PERANG DI BALIK LANGIT

syaf barq/ Zhep barq | Bersambung
Jumlah kata
48.1K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / SALAKA DOMAS : PERANG DI BALIK LANGIT
SALAKA DOMAS : PERANG DI BALIK LANGIT

SALAKA DOMAS : PERANG DI BALIK LANGIT

syaf barq/ Zhep barq| Bersambung
Jumlah Kata
48.1K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
18+FantasiSci-FiPahlawanTeknologiPerang
Sadra Audria Geni, anak miskin dan yatim piatu yang dibuang dan hidup di Desa Salaka Domas. Saat kelaparan hampir merenggut nyawanya dan tetangga menutup pintu, langit bukan memberi hujan, melainkan mengirim cahaya biru yang menariknya keluar dari Bumi. Di atas sana, Sadra menyaksikan kebenaran yang menyakitkan: Para pemimpin dunia, jenderal perang, dan raja politik yang ia lihat di TV... bukanlah manusia. Mereka adalah ras alien penghisap sumber daya yang berkamuflase sempurna. Mereka menciptakan perang, memicu permusuhan, dan menyebarkan doktrin kematian agar manusia sibuk saling membunuh, sementara mereka menguras habis kekayaan alam planet ini. Tanpa sistem cheat. Tanpa kekuatan dewa instan. Sadra hanya memiliki satu hal: Ketabahan. Dia direkrut oleh Pasukan Perdamaian Alam Semesta—organisasi yang terikat aturan untuk menjadi satu-satunya harapan. Dia harus menjatuhkan raksasa politik galaksi dan melindungi manusia.
BAB 1: HUJAN RASA SAKIT DI SALAKA DOMAS

Langit di atas lereng Gunung Sangga Buana tidak pernah sekadar berwarna biru. Di Desa Salaka Domas, langit adalah kanvas bagi para suci yang suka mengganti mood—pagi ini cerah ceria seperti wajah anak desa yang belum mengenal kekecewaan, namun siangnya mendung gulita, seolah-olah langit sedang menahan tangis yang berkepanjangan.

Tapi bagi Sadra Audria Geni, warna langit tidak ada artinya. Satu-satunya warna yang dia pedulikan sekarang adalah hitam. Hitam pekat yang mengganggu pandangannya karena perutnya berkeriuh keras, menuntut diisi dengan sesuatu—apa saja—selama itu bisa menenangkan api yang menjilat dinding lambungnya.

Sadra terbaring di lantai bambu parit gubuk reotnya, sebuah bangunan yang tampak seperti akan ambruk jika seekor kucing liar memutus tali pengikatnya. Udara dingin khas dataran tinggi Jawa Barat menembus celah-celah dinding bambu, menusuk kulitnya yang kurus kering. Dia sudah tiga hari tidak makan. Bukan karena malas memanjat tebing curam di belakang desa untuk mencari umbi-umbuhan, atau menyeberangi sungai berbatu untuk memancing ikan.

Dia tidak makan karena desa ini sudah memvonisnya sebagai hantu.

"Anak sialan! Pembawa sial! Pergi jauh-jauh dari sini!"

Kalimat itu terus berputar di kepala Sadra seperti sebuah rekaman rusak. Kalimat yang dilontarkan Mbah Ganda, tetangga yang dulunya pernah memberinya sepotong tape singkong busuk, namun sekarang melemparinya batu ketika Sadra mencoba meminta sedikit beras sisa panen raya kemarin.

Sadra memaksa tubuhnya untuk bangkit. Sendi-sendinya berteriak protes. Dia merapikan kaos oblongnya yang sudah berubah warna dari putih menjadi abu-abu kusam, lalu melangkah keluar dari gubuknya.

Pemandangan di depan matanya seharusnya mampu menenangkan siapa saja. Desa Salaka Domas. Nama itu sendiri terdengar magis, membawa kenangan akan legenda keemasan tanah Sunda kuno. Sawah-sawah terasering membentuk tangga hijau yang menghijau mengikuti kontur tanah, dihiasi air yang memantulkan cahaya matahari yang sesekali menembus awan. Di kejauhan, hutan pinus berdiri tegak seperti barisan prajurit kuno yang menjaga perbukitan.

Namun, keindahan itu adalah tipuan belaka. Bagi Sadra, Salaka Domas adalah penjara yang indah tapi kejam.

Dia berjalan menyusuri jalan setapak tanah liat, berharap tidak bertemu siapa pun. Dia hanya ingin ke alun-alun desa, mencari sisa buah jatuhan di pohon rambut atau mungkin menemukan orang yang punya hati lebih lembut dari Mbah Ganda.

Tapi nasib sepertinya sedang bercanda.

"Hei, lihat siapa yang bangun dari kuburannya," teriak suara nyaring dari arah warung kopi.

Sadra menunduk, mempercepat langkah. Dia mengenali suara itu. Itu Ujang, anak pemilik warung yang sama sekandang Mbah Ganda.

"Wah, Sadra! Mau apa ke sini? Mau minta duit buat beli kafan? Kalian kan keluarga sial, pantas saja orangtuamu meninggal meninggalkanmu!" canda Ujang, disambung tawa ramai dari para pengunjung warung yang kebanyakan beristirahat setelah bekerja di sawah.

Sadra menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Rasa malu itu lebih menyakitkan daripada rasa lapar. Dia memang sampah di mata mereka. Anak yatim piatu yang konon membawa kutukan, karena setiap kali dia lahir, hujan badai selalu mengguyur desa—sekadar mitos bodoh yang dibuat orang-orang bodoh untuk menutupi rasa kasih sayang mereka yang pupus.

Dia berbalik, ingin lari kembali ke gubuknya. Tapi saat berbalik, dia menabrak bahu seseorang.

"Inikah adat desa kita? Menertawakan anak kecil yang lapar?"

Sadra menatap ke atas. Itu bukan Mbah Ganda. Itu adalah seorang perempuan tua, wajahnya penuh keriput namun matanya tajam. Bi Siti, dukun beranak desa yang jarang keluar rumah.

Bi Siti menatap Sadra dalam-dalam, lalu menarik sesuatu dari kantung kebaya bajunya. Sebuah bungkusan daun pisang kecil. Di dalamnya ada sepotong tahu bakar dingin dan sedikit sambal.

"Makanlah, Nak," bisik Bi Siti pelan. "Jangan dengarkan mereka."

Sadra menatap bungkusan itu di tangannya. Tangannya gemetar bukan karena lapar, tapi karena rasa haru yang campur aduk dengan amarah diri sendiri. Mengapa dia harus merasa bersyukur hanya karena mendapatkan makanan sisa?

"Terima kasih, Bi," kata Sadra pelan.

Dia lari menjauh dari keramaian. Dia melarikan diri ke tebing belakang gubuknya, tempat di mana dia bisa melihat lembah cembung di bawahnya tanpa dilihat siapa pun. Dia duduk di atas batu besar yang dingin, membuka bungkusan daun pisang itu. Tahu itu dingin dan hambar, tapi baginya itu adalah makanan paling enak di dunia saat ini.

Saat menelan potongan terakhir tahu itu, langit di atas Gunung Sangga Buana berubah.

Awan yang tadinya putih bergerak cepat, membentuk pusaran raksasa yang menggelapkan seluruh desa Salaka Domas. Angin berhenti bertiup. Suara jangkrik, ayam, bahkan debu yang terbang berhenti seketika. Hening. Hening yang mencekam seperti sebelum gempa bumi terjadi.

Sadra mendongak. Matanya yang tajam menatap pusaran awan itu. Dia merasakan getaran aneh di tanah tempatnya duduk. Bukan gempa. Ini getaran energi yang menusuk tulang.

Dari balik pusaran awan tebal yang kelabu, sebuah cahaya menyucurkan ke bawah vertikal. Bukan kilat petir yang putra dan tak tentu arah. Ini adalah sinar energi yang solid, berwarna biru elektrik yang begitu terang hingga membutakan Sadra. Suaranya bukan ledakan thunder, melainkan dengungan frekuensi tinggi,

ZZZZZT,

yang menusuk gendang telinga hingga membuat Sadra meringkes kesakitan.

"Ini apa?" bisiknya, suara tertelan oleh dengungan itu.

Cahaya itu melesat lurus ke bawah, menuju satu titik. Dan titik itu adalah... tempat dia berdiri.

Cahaya itu melesat lurus ke bawah, menuju satu titik. Dan titik itu adalah... tempat dia berdiri.

Sadra ingin lari. Insting binatangnya berteriak untuk lari, bersembunyi, menggali lubang. Tapi kakinya terasa terpaku ke batu seolah-olah magnet bumi raksasa sedang menariknya dari atas.

BOOM!

Cahaya itu menghantam tanah tepat di depannya, lima meter dari tempat duduknya. Tanah liat yang keras hancur berkeping-keping, terlempar ke segala arah. Debu tebal dan asap bercampur gumpalan energi biru membentuk kawah sedalam dua meter.

Sadra terlempar terduduk ke belakang, melindungi kepalanya dengan tangan. Napasnya tercekat. Dia menunggu hancurnya tubuhnya. Dia menunggu kematian.

Namun, tidak ada ledakan kedua.

Debu perlahan mereda. Dari dalam kawah berasap itu, tiga sosok bangkit perlahan.

Sadra membelalakkan matanya, tak percaya. Mereka bukan manusia.

Tinggi mereka hampir mencapai tiga meter, proporsi tubuhnya sempurna namun asing. Mereka mengenakan semacam baju zirah yang tampak seperti cairan logam hidup, bergerak perlahan di atas permukaan kulit mereka, berwarna perak tua dan hitam pekat. Wajah mereka tidak memiliki ekspresi manusia, lebih mirip patung porselen yang halus, tanpa pori-pori, namun memiliki mata yang menakutkan—mata kiri emas padat, mata kanan perak mengkilap.

Satu di antara mereka maju selangkah. Sadra merasakan tekanan udara menurun drastis di sekitar makhluk itu.

Makhluk itu tidak membuka mulutnya. Suara itu bergema langsung di dalam kepala Sadra, jernih seperti kristal, namun berat seperti gunung.

"Kami mendeteksi frekuensi ketabahan yang langka," suara itu berbunyi. "Spesies Bumi menyebutnya... 'Nyali'?"

Sadra terduduk lemas, punggungnya menempel di batu di belakangnya. Dia ingin berteriak, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. "Si... siapa... kalian...?"

"Kami adalah Pengamat," jawab suara itu lagi, tanpa emosi. "Dan kami lapar."

Kata "lapar" membuat Sadra merinding. Dia mengkeret, memeluk lututnya sendiri. "K... kalian mau mem... memakan aku?"

Makhluk itu mencondongkan badan ke depan. Wajah patung yang indah itu berada hanya beberapa inci dari wajah Sadra. Sadra bisa mencium bau aneh dari mereka—bau seperti ozon setelah hujan deras, bau samudra yang kering, dan logam.

"Tidak," kata makhluk itu pelan. "Kami tidak lapar pada dagingmu. Kami lapar akan keadilan."

Dia berdiri tegak lagi.

"Planet ini sedang dimangsa oleh pemangsa yang tak terlihat. Kami membutuhkan seorang manusia yang mampu menahan rasa sakit fisik dan batin, tanpa hancur. Kami menemukanmu. Seorang yatim piatu yang dibenci oleh kaumnya, yang kelaparan namun masih bertahan hidup. Kau adalah wadah yang sempurna."

Tiba-tiba, cahaya biru dari zirah makhluk itu membesar, menyelimuti kawah, lalu menyerang Sadra.

"ARGGHH!"

Sadra menjerit. Bukan karena panas, tapi karena berat.

Tubuhnya terangkat ke udara, melayang tiga meter dari tanah. Dia merasakan beban yang luar biasa mencekam tulang-tulangnya. Rasanya seperti seluruh Gunung Sangga Buana, seluruh sawah terasering di Salaka Domas, dan seluruh kekecewaan hidupnya dipikulkan di punggungnya sekaligus. Persendian nyeri berteriak, otot-ototnya terasa sobek.

"Ini ujian, Sadra Audria Geni," bisik suara di kepalanya. "Jika kau pingsan, kami akan mengembalikanmu ke lumpur ini untuk mati kelaparan. Tapi jika kau bertahan... jika kau bisa memikul beban seluruh alam semesta ini... maka kau akan melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik langit tempat kau memandang."

Sadra memejamkan mata erat-erat. Air matanya bercucuran, bukan karena sedih, tapi karena rasa sakit yang tak tertahankan.

Bayang-bayang wajah Mbah Ganda yang mengejeknya. Wajah Ujang yang menghina. Rasa lapar yang menggerogoti perutnya. Rasa sendiri menjadi tidak berharga.

Semua itu berubah menjadi bahan bakar. Amarah yang dingin.

"Aku..." Sadra menggigit bibirnya sampai darah segar mengalir ke rongga mulutnya. Asin dan besi. "Aku... tidak... akan... mati... di... sini!"

Tubuhnya yang gemetar berhenti bergetar sejenak. Dia memaksakan otot lehernya yang menunduk untuk memaksa dirinya melihat ke atas, menatap mata makhluk alien itu.

"Aku tidak mau jadi sampah!"

Mata emas dan perak makhluk itu berkedip synchronously. "Menarik," suara itu terdengar agak terkejut. "Spesies ini... sangat ganas saat terpojok. Resiliensi level Alpha."

Sadra merasakan kakinya tidak lagi menyentuh tanah Salaka Domas. Gubuk reotnya, sawah terasering, hutan pinus, dan Gunung Sangga Buana semakin menjauh dengan cepat.

Dia sedang ditarik ke atas. Menembus pusaran awan. Menembus lapisan udara tipis. Dan saat dia melihat ke bawah satu kali terakhir, dia melihat bumi yang membulat, indah, dan rapuh.

Namun di atas sana, menunggunya kegelapan yang bertabur bintang dan rahasia yang akan mengubah nasibnya selamanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca